وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman, dan Kami letakkan di atas kursinya sebuah tubuh; kemudian, ia bertobat.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَwa-la-qad fatannaa sulaymaanadan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman
  2. وَأَلْقَيْنَا عَلَىٰ كُرْسِيِّهِ جَسَدًاwa-alqaynaa 'alaa kursiyyihi jasadandan Kami letakkan di atas kursinya sebuah tubuh
  3. ثُمَّ أَنَابَtsumma anaabakemudian, ia bertobat

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. فَتَنَّاfatannaaKami menguji
  3. سُلَيْمَانَsulaymaanaSulaiman
  4. وَأَلْقَيْنَاwa-alqaynaadan Kami melemparkan
  5. عَلَىٰ'alaaatas
  6. كُرْسِيِّهِkursiyyihikursi-Nya
  7. جَسَدًاjasadanjasad
  8. ثُمَّtsummakemudian
  9. أَنَابَanaabakembali

Inti bacaan

Bentuk (أَنَابَ, anaaba) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:27, 31:15, 38:24, dan 38:34, dan dua yang terakhir menuturkan seorang hamba Allah yang diuji lalu bertobat.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ, wa-la-qad fatannaa sulaymaana) yang berarti "dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman". Kata kerja (فَتَنَّا, fatannaa) berakar ف-ت-ن dan berarti "Kami menguji". Dengan atau tanpa kata ganti di ujungnya, bentuk ini muncul tujuh kali di lima surah, yaitu 6:53, 20:40, 20:85, 29:3, 38:24, 38:34, dan 44:17. Pembuka (وَلَقَدْ فَتَنَّا, wa-la-qad fatannaa) ada tiga kali, yaitu di 29:3, 38:34, dan 44:17. Objek di 29:3 orang-orang sebelum mereka, di 44:17 kaum Firaun, dan di 38:34 satu orang yang disebut namanya. Objek satu orang juga ada di 20:40, (وَفَتَنَّاكَ, wa-fatannaaka) yang berarti "dan Kami telah mengujimu", dan di 38:24, (أَنَّمَا فَتَنَّاهُ, annamaa fatannaahu) yang berarti "bahwa Kami hanya mengujinya". Terjemahan memakai "menguji" di ketujuh tempat itu. Dalam kisah Sulaiman di 27:40, ucapan yang dikutip memakai akar lain untuk ujian, yaitu (لِيَبْلُوَنِي, li-yabluwanii) yang berarti "untuk mengujiku"; akar itu tidak dipakai di 38:34.

Kata (جَسَدًا, jasadan) yang berarti "sebuah tubuh" berakar ج-س-د dan muncul empat kali di empat surah, selalu dalam bentuk yang sama, yaitu 7:148, 20:88, 21:8, dan 38:34. Di 7:148 bunyinya (عِجْلًا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ, 'ijlan jasadan lahu khuwaarun) yang berarti "anak sapi berbentuk tubuh yang bersuara melenguh", dan 20:88 memakai susunan yang sama. Di 21:8 bunyinya (جَسَدًا لَا يَأْكُلُونَ الطَّعَامَ, jasadan laa ya'kuluuna th-tha'aama) yang berarti "jasad yang tidak memakan makanan". Pada ketiga tempat itu ada keterangan sesudah jasadan yang menyebut macam tubuhnya. Di 38:34 keterangan itu tidak ada, sebab sesudah jasadan langsung datang kata "kemudian". Karena itu terjemahan menulis "sebuah tubuh" tanpa sifat tambahan apa pun. Siapa pemilik tubuh itu dan apakah tubuh itu hidup tidak dikatakan ayat ini. Kata lain untuk tubuh, jism dari akar ج-س-م, ada di 2:247, (وَالْجِسْمِ, wa-l-jismi), dan di 63:4, (أَجْسَامُهُمْ, ajsaamuhum) yang berarti "tubuh mereka". Kata itu tidak dipilih di 38:34.

Kata kerja (وَأَلْقَيْنَا, wa-alqaynaa) yang berarti "dan Kami letakkan" berakar ل-ق-ي dan berpelaku Kami. Bentuk ini muncul empat kali, yaitu di 5:64, 15:19, 38:34, dan 50:7. Di 15:19 dan 50:7 Kami meletakkan gunung-gunung di bumi, dan terjemahan memakai "pancangkan" karena bendanya gunung. Susunan meletakkan sesuatu di atas sesuatu dengan (عَلَىٰ, 'alaa) ada di 12:93, (فَأَلْقُوهُ عَلَىٰ وَجْهِ أَبِي, fa-alquuhu 'alaa wajhi abii) yang berarti "maka letakkanlah ia pada wajah ayahku", dan terjemahan di sana juga memakai "letakkan". Terjemahan 38:34 mengikuti pemakaian itu.

Kata (كُرْسِيِّهِ, kursiyyihi) yang berarti "kursinya" berakar ك-ر-س dan tersusun dari kursiyy, "kursi", dan akhiran -hi, "-nya". Akar ini hanya ada di dua ayat, yaitu 2:255, (وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ, wasi'a kursiyyuhu s-samaawaati wa-l-ardha) yang berarti "Kursi-Nya meliputi langit-langit dan bumi", dan 38:34. Di 2:255 pemiliknya Allah, sehingga terjemahan memakai huruf besar. Di 38:34 akhiran -hi menunjuk Sulaiman, nama yang berdiri tepat sebelumnya, sehingga terjemahan menulis "kursinya" dengan huruf kecil. Kata "singgasana" tidak dipakai di sini karena terjemahan menyimpannya untuk 'arsy milik manusia, misalnya (عَلَى الْعَرْشِ, 'alaa l-'arsyi) di 12:100 dan (عَرْشٌ, 'arsyun) di 27:23. Dengan begitu dua kata Arab itu tidak tertukar.

Kata terakhir ayat ini, (ثُمَّ أَنَابَ, tsumma anaaba), tersusun dari (ثُمَّ, tsumma) yang berarti "kemudian" dan (أَنَابَ, anaaba) yang berarti "ia kembali", dari akar ن-و-ب. Bentuk anaaba muncul empat kali, yaitu di 13:27, 31:15, 38:24, dan 38:34. Di 31:15 kata ini bersambung dengan tujuannya, (مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ, man anaaba ilayya) yang berarti "orang yang kembali kepada-Ku", dan bentuk jamaknya di 39:17 juga begitu, (وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ, wa-anaabuu ilaa llaahi) yang berarti "dan kembali kepada Allah". Di 38:34 tujuan itu tidak ditulis. Terjemahan memakai "bertobat", seperti di 13:27 dan 38:24. Di 38:24 kata ini menyusul permohonan ampun, (فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ, fa-staghfara rabbahu wa-kharra raaki'an wa-anaaba) yang berarti "maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya dan tersungkur dalam keadaan merendah serta bertobat", dan di 38:34 permohonan ampun datang di ayat berikutnya. Arti dasar "kembali" tetap terbaca di balik "bertobat". Kata tsumma menandai urutan antara peletakan tubuh dan kembalinya Sulaiman.

Tafsiran

Ayat ini menuturkan satu ujian atas Sulaiman dalam tiga gerak. Dua gerak dikerjakan oleh Kami, yaitu menguji dan meletakkan sebuah tubuh di atas kursinya, dan satu gerak dikerjakan oleh Sulaiman, yaitu kembali. Tidak ada kutipan ucapan di dalamnya; ucapan Sulaiman baru muncul di 38:35. Kata penyambung antara menguji dan meletakkan hanya wa-, "dan", sehingga ayat ini dapat dibaca dengan dua cara: tubuh itu adalah ujiannya, atau tubuh itu peristiwa lain yang menyertai ujian. Teksnya tidak memilih.

Ayat ini dibuka dengan wa-laqad, "dan sungguh", tidak dengan fa-, "maka". Karena itu hubungannya dengan kuda-kuda di 38:31 sampai 38:33 tidak ditulis; ayat ini tidak menyatakan bahwa ujian itu akibat dari peristiwa kuda. Hubungan yang tertulis ada pada urutan di dalam surah. Di 38:30 Sulaiman dipuji, (نِعْمَ الْعَبْدُ, ni'ma l-'abdu) yang berarti "sebaik-baik hamba", dan disebut (أَوَّابٌ, awwaabun) yang berarti "selalu kembali". Ayat 38:34 memperlihatkan kembalinya itu dalam satu peristiwa tertentu, sehingga sifat yang disebut di 38:30 dapat dibaca punya contoh di ayat ini.

Kisah Daud di 38:24 memuat unsur yang sama dalam urutan yang berbeda. Di 38:24 Daud meyakini bahwa Kami hanya mengujinya, lalu memohon ampun, tersungkur, dan kembali. Di 38:25 ujian itu ditutup dengan (فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ, fa-ghafarnaa lahu dzaalika) yang berarti "maka Kami mengampuni hal itu baginya". Untuk Sulaiman, ayat ini langsung mencatat kembalinya, tanpa kata tentang keyakinannya dan tanpa sujud, sedangkan permohonan ampunnya ditaruh di 38:35. Kedua urutan itu dicatat tanpa perbandingan nilai.

Pembuka yang sama diteruskan dengan hal yang berbeda di tiap tempat. Di 29:3 pembuka itu disusul (فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا, fa-la-ya'lamanna llaahu lladziina shadaquu) yang berarti "Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar", dan di 44:17 disusul (وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ, wa-jaa'ahum rasuulun kariimun) yang berarti "dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia". Di 38:34 hal yang menyusul adalah kembalinya orang yang diuji itu sendiri. Pihak yang diuji dan keadaannya berbeda di tiap ayat, sehingga ketiganya dibaca sendiri-sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Di 38:34 kata "menguji" muncul lebih dulu, dan isi ujiannya, sebuah tubuh di atas kursi, baru menyusul. Pembaca ayat ini sudah tahu namanya sebelum tahu bentuknya. Di 29:2 Allah bertanya apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata sudah beriman, (وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ, wa-hum laa yuftanuuna) padahal mereka tidak diuji, dan 29:3 menunjuk orang-orang sebelum mereka. Ayat 38:34 menambahkan satu nama ke barisan itu, seorang yang punya kursinya sendiri. Kejadian apa dalam hidup pembaca yang baru disebut ujian setelah lewat, dan bagaimana kejadian itu terasa seandainya namanya sudah diketahui sejak awal?
  • Kata tubuh di 38:34 berdiri tanpa keterangan, padahal di 7:148, 20:88, dan 21:8 kata yang sama selalu disusul keterangan tentang macamnya. Bagian ayat yang menyebut peletakan itu tidak menerangkan tubuh siapa, hidup atau tidak, dan apa hubungannya dengan Sulaiman. Pembaca yang menemukan lubang seperti ini dapat mendapati dirinya ingin mengisinya dengan cerita yang pernah didengar. Ayat berikutnya tidak kembali menerangkan tubuh itu dan langsung memuat doa Sulaiman kepada Tuhannya. Apa yang terjadi pada pembaca bila bagian yang kosong dibiarkan tetap kosong, sebagaimana teks membiarkannya?
  • Tubuh itu diletakkan di atas kursi yang menurut ayat ini milik Sulaiman, tempat yang dapat dibaca sebagai pusat wewenangnya. Dalam 2:255 Kursi milik Allah meliputi langit-langit dan bumi, sedangkan di 38:34 kursi milik Sulaiman memuat sebuah tubuh. Dua ayat itu berbeda konteksnya dan tidak disamakan, tetapi keduanya memperlihatkan bahwa kata kursi dapat menjadi tempat yang ukurannya sangat berbeda. Di bagian hidup mana pembaca merasa paling berkuasa, dan bagaimana ayat ini terbaca olehnya bila sesuatu yang tak dikenalnya tiba tepat di tempat itu?
  • Di antara tubuh itu dan doa Sulaiman, ayat ini hanya mencatat satu kata kerja, yaitu kembali. Ucapan baru dimulai di 38:35, dan sujud tidak disebut. Di 38:24 urutannya lain: Daud lebih dulu memohon ampun kepada Tuhannya, tersungkur, lalu kembali. Kedua urutan itu ditulis tanpa dinilai mana yang lebih sempurna. Pembaca dapat mengamati urutan pada dirinya, apakah arah hati lebih dulu atau kata-kata lebih dulu ketika kembali kepada Tuhannya, dan apakah pernah kata-katanya baru datang setelah hatinya sudah berbalik?
  • Sebelum ujian di 38:34, Allah sudah memuji Sulaiman di 38:30 sebagai sebaik-baik hamba. Pujian itu ada di depan, dan ujian menyusul tanpa pujian itu dicabut. Teks mencatat urutannya saja, tanpa menyatakan pujian menjadi sebab kebebasan dari ujian atau ujian menjadi pembatal pujian. Bagaimana seorang pembaca yang baru menerima pujian membaca kejadian berat yang datang sesudahnya, sebagai pencabutan pujian atau sebagai kelanjutan dari hubungan yang sama?
  • Pembuka yang sama di 29:3, 44:17, dan 38:34 disusul tiga hal berbeda: Allah mengetahui siapa yang benar dan siapa yang berdusta, datang seorang rasul yang mulia, dan orang yang diuji itu kembali. Sesudah ujian dapat menyusul pengetahuan, kabar, atau langkah pulang, sesuai pihak yang diuji. Pembaca dapat memeriksa ujian yang pernah dilaluinya dan melihat apa yang menyusul sesudahnya, kabar baru, pengetahuan tentang dirinya sendiri, atau sebuah langkah pulang, dan siapa yang pertama bergerak sesudah ujian itu?