قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي ۖ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Dia berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorang pun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah Sang Pemberi.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيqaala rabbi ghfir liidia berkata, wahai Tuhanku, ampunilah aku
  2. وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِيwa-hab lii mulkan laa yanbaghii li-ahadin min ba'diidan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak patut bagi seorang pun sesudahku
  3. إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُinnaka anta l-wahhaabusesungguhnya Engkaulah Sang Pemberi

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. رَبِّrabbiTuhan
  3. اغْفِرْghfirampunilah
  4. لِيliibagiku
  5. وَهَبْwa-habdan anugerahkanlah
  6. لِيliibagiku
  7. مُلْكًاmulkankerajaan
  8. لَاlaatidak
  9. يَنْبَغِيyanbaghiipantas
  10. لِأَحَدٍli-ahadinbagi seorang pun
  11. مِنْmindari
  12. بَعْدِيba'diisesudahku
  13. إِنَّكَinnakasesungguhnya Engkau
  14. أَنْتَantaEngkau
  15. الْوَهَّابُl-wahhaabuYang Maha Pemberi

Inti bacaan

Bentuk (مُلْكًا, mulkan) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 4:54, 38:35, dan 76:20, dan hanya di 38:35 kata itu dibatasi keterangan tentang orang lain, (لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي, li-ahadin min ba'dii).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قَالَ رَبِّ, qaala rabbi) yang berarti "dia berkata, wahai Tuhanku". Susunan yang sama membuka doa Zakaria di 3:38, Musa di 7:151, dan Nuh di 71:5, di antara tempat lain. Arabnya tidak memuat kata seruan; kata rabbi sendiri sudah berupa panggilan, dan "wahai" ditambahkan terjemahan supaya panggilan itu terbaca.

Kata (اغْفِرْ لِي, ghfir lii) yang berarti "ampunilah aku" berakar غ-ف-ر. Bunyi ini ada lima kali, yaitu di 7:151, 14:41, 28:16, 38:35, dan 71:28. Dengan rabbi di depannya, (رَبِّ اغْفِرْ لِي, rabbi ghfir lii) muncul tiga kali: di 7:151, 38:35, dan 71:28. Di 7:151 permohonan itu langsung meluas, (رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِأَخِي, rabbi ghfir lii wa-li-akhii) yang berarti "Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku", dan di 71:28 juga meluas, (رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ, rabbi ghfir lii wa-li-waalidayya) yang berarti "Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku". Di 38:35 permohonan itu tidak meluas ke siapa pun dan bersambung dengan permintaan lain untuk diri yang sama. Di 28:16 permohonan itu didahului pengakuan, (إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي, innii zhalamtu nafsii) yang berarti "sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri". Di 38:35 pengakuan semacam itu tidak ada, dan kesalahan yang diampuni tidak disebut. Terjemahan memakai "ampunilah aku" tanpa menambahkan dosa apa pun.

Kata (وَهَبْ لِي, wa-hab lii) yang berarti "dan anugerahkanlah kepadaku" berakar و-ه-ب. Bentuk perintah (هَبْ لِي, hab lii) ada lima kali: 3:38, 19:5, 26:83, 37:100, dan 38:35. Yang diminta berbeda-beda: keturunan yang baik di 3:38, seorang wali di 19:5, putusan di 26:83, sebagian dari orang saleh di 37:100, dan kerajaan di 38:35. Hanya di 38:35 bunyi itu diawali wa-, sehingga permintaan ini menempel pada permohonan ampun dalam satu ucapan. Di 19:5, (فَهَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ, fa-hab lii min ladunka) yang berarti "maka anugerahilah aku dari sisi-Mu", permintaan itu menyebut asal pemberiannya, sedangkan di 38:35 frasa asal itu tidak ada.

Kata (مُلْكًا, mulkan) yang berarti "kerajaan" berakar م-ل-ك. Bentuk ini muncul tiga kali, yaitu di 4:54, 38:35, dan 76:20. Di dua tempat lain kata itu disusul sifat, (مُلْكًا عَظِيمًا, mulkan 'azhiiman) yang berarti "kerajaan yang agung" di 4:54, dan (وَمُلْكًا كَبِيرًا, wa-mulkan kabiiran) yang berarti "dan kerajaan yang besar" di 76:20. Di 38:35 pembatasnya berupa keterangan lain, (لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي, laa yanbaghii li-ahadin min ba'dii) yang berarti "yang tidak patut bagi seorang pun sesudahku". Di surah yang sama, (مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ, mulku s-samaawaati wa-l-ardhi) di 38:10 dan (وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ, wa-syadadnaa mulkahu) di 38:20 juga diterjemahkan dengan "kerajaan".

Kata kerja (يَنْبَغِي, yanbaghii) berarti "patut" atau "pantas" dan muncul enam kali di lima surah, yaitu 19:92, 25:18, 26:211, 36:40, 36:69, dan 38:35. Bunyi persis (لَا يَنْبَغِي, laa yanbaghii) hanya ada di 38:35; empat ayat lain memakai maa, misalnya (وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ, wa-maa yanbaghii li-r-rahmaani) di 19:92 yang berarti "dan tidak sepantasnya bagi Ar-Rahman", dan 36:40 memakai laa di depan pelaku. Di 26:211, (وَمَا يَنْبَغِي لَهُمْ وَمَا يَسْتَطِيعُونَ, wa-maa yanbaghii lahum wa-maa yastathii'uuna) yang berarti "dan tidak pantas bagi mereka, dan mereka pun tidak sanggup", kepatutan dan kesanggupan disebut sebagai dua hal yang terpisah. Karena itu terjemahan 38:35 memakai "tidak patut" dan membatasi diri pada kepatutan. Apakah orang lain sanggup menerima kerajaan seperti itu, atau dilarang, tidak dikatakan ayat ini.

Kata (لِأَحَدٍ, li-ahadin) yang berarti "bagi seorang pun" muncul dua kali, yaitu di 38:35 dan di 92:19, (وَمَا لِأَحَدٍ, wa-maa li-ahadin) yang berarti "dan tidak ada bagi seorang pun". Kalimat di keduanya menafikan, sehingga terjemahan 38:35 memakai "seorang pun". Kata (مِنْ بَعْدِي, min ba'dii) yang berarti "sesudahku" ada empat kali, yaitu di 2:133, 7:150, 38:35, dan 61:6. Di 2:133, (مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي, maa ta'buduuna min ba'dii) yang berarti "apa yang kalian sembah sepeninggalku", dan di 7:150, (خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي, khalaftumuunii min ba'dii) yang berarti "kalian menggantikanku sepeninggalku", pembicara sedang menyebut saat ketika ia tidak ada, dan terjemahan memakai "sepeninggalku". Di 61:6, (يَأْتِي مِنْ بَعْدِي, ya'tii min ba'dii), yang berarti "datang setelahku". Di 38:35 tidak ada kata tentang kepergian atau kematian, sehingga terjemahan memakai "sesudahku", dan apakah yang dimaksud sesudah masa pemerintahannya atau sesudah hidupnya tidak dinyatakan.

Kata (الْوَهَّابُ, l-wahhaabu) yang berarti "Sang Pemberi" berasal dari akar yang sama dengan hab, yaitu و-ه-ب, dan muncul tiga kali: di 3:8, 38:9, dan 38:35. Bunyi (إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ, innaka anta l-wahhaabu) yang berarti "sesungguhnya Engkaulah Sang Pemberi" ada dua kali, yaitu di 3:8 dan 38:35. Di 3:8, (وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً, wa-hab lanaa min ladunka rahmatan) yang berarti "dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu", permintaan itu langsung disusul alasan yang sama. Jadi 3:8 dan 38:35 sama-sama memakai kata kerja memberi di dalam permintaan dan nama Sang Pemberi di dalam alasan. Di 38:9, (خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ, khazaa'inu rahmati rabbika l-'aziizi l-wahhaabi) yang berarti "perbendaharaan rahmat Tuhanmu, Sang Digdaya, Sang Pemberi", nama itu muncul dalam pertanyaan kepada orang-orang yang menolak. Terjemahan memakai "Sang" karena kata ini bersandang al-, sejalan dengan "Sang Pengampun" di 39:53.

Tafsiran

Ayat ini memuat ucapan Sulaiman yang pertama berbentuk panggilan kepada Tuhannya. Di 38:32 Sulaiman sudah menyebut Tuhannya, tetapi dalam bentuk orang ketiga, (عَنْ ذِكْرِ رَبِّي, 'an dzikri rabbii) yang berarti "dari mengingat Tuhanku", yaitu hal yang sempat terlewat. Di 38:35 kata rabb yang sama menjadi panggilan langsung. Di antara kedua ayat itu ada ujian di 38:34, dan tidak ada kata teguran yang tertulis. Doanya berisi dua permintaan yang disambung wa-, ampunan lalu kerajaan, dan ditutup alasan, "sesungguhnya Engkaulah Sang Pemberi". Alasan itu berada di ujung doa sehingga dapat dibaca meliputi kedua permintaan.

Pertanyaan di 38:9 dan 38:10 ditujukan kepada orang-orang yang menolak, apakah (خَزَائِنُ رَحْمَةِ رَبِّكَ, khazaa'inu rahmati rabbika) "perbendaharaan rahmat Tuhanmu" dan kerajaan langit dan bumi ada pada mereka. Doa Sulaiman dapat dibaca berada di sisi lain dari pertanyaan itu: kerajaan diminta dari Sang Pemberi dan tidak dinyatakan sebagai miliknya sendiri. Kerajaan Daud pun disebut dikuatkan oleh Kami, seperti di 38:20.

Jawaban dituturkan sesudahnya. Ayat 38:36 sampai 38:39 menyebut angin, setan-setan, dan yang terikat, lalu menyebut anugerah Kami, yang dapat dibaca meliputi semuanya, sehingga bagian kedua doa dapat dibaca terjawab. Bagian pertama, ampunan, tidak dijawab dengan kata kerja mengampuni di rangkaian itu. Di 38:25 Daud mendapat (فَغَفَرْنَا لَهُ ذَٰلِكَ, fa-ghafarnaa lahu dzaalika) yang berarti "maka Kami mengampuni hal itu baginya", sedangkan rangkaian Sulaiman ditutup di 38:40 dengan kedekatan dan tempat kembali yang baik. Apakah pemberian di 38:36 sampai 38:39 sekaligus berarti pengampunan tidak dinyatakan teks.

Renungan dan Hikmah

  • Sulaiman menyebut ampunan lebih dulu, lalu kerajaan, padahal permintaan kedua tampak lebih besar. Keduanya disambung wa- dalam satu ucapan dan ditujukan kepada Tuhan yang sama. Di 38:32 Sulaiman mengaku kesenangannya membuatnya lalai mengingat Tuhannya, dan di 38:35 permintaan pertamanya menyangkut dirinya di hadapan Tuhan itu, sebelum menyangkut apa pun yang ada di tangannya. Pembaca yang punya daftar permintaan dapat memeriksa urutannya: mana yang disebut paling awal, dan apakah yang paling awal itu terasa paling mendesak atau paling mudah diucapkan?
  • Permohonan di 38:35 tidak disertai pengakuan atas kesalahan tertentu, sedangkan di 28:16 pengakuan itu tertulis, (إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي, innii zhalamtu nafsii) yang berarti "sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri", lalu disusul "maka Dia mengampuninya". Dua ayat itu menyangkut orang yang berbeda dan keadaan yang berbeda, sehingga tidak ditimbang satu sama lain. Dari 38:35 tampak bahwa permohonan ampun dapat tercatat tanpa daftar kesalahan. Pembaca yang merasa harus merinci semua kekeliruannya dulu sebelum berani meminta dapat bertanya, apa sebenarnya yang ditunggunya sebelum mengucapkan kata pertama kepada Tuhannya?
  • Dalam doanya Sulaiman menyebut sendiri batas permintaannya, yaitu kerajaan yang tidak patut bagi seorang pun sesudahnya. Di 26:211 kepatutan dan kesanggupan disebut sebagai dua hal yang terpisah, sehingga kalimat ini menyangkut kepatutan dan tidak menyatakan bahwa orang lain mustahil mendapatkannya. Permintaan itu diletakkan di hadapan Tuhan lengkap dengan hubungannya terhadap orang lain. Pembaca yang meminta sesuatu yang besar dapat menimbang, bagaimana permintaan itu berubah bila kepada Tuhan disebut siapa saja yang tidak ikut menerimanya, dan apakah ada kesediaan untuk menyebutnya?
  • Kata kerja pada permintaan, hab, dan nama pada alasan, al-wahhaab, berasal dari akar yang sama. Sulaiman memanggil Tuhan dengan nama perbuatan yang sedang diminta. Di 3:8 susunan yang sama menutup sebuah doa, dan di 38:9 nama itu muncul dalam pertanyaan kepada orang-orang yang menolak, apakah perbendaharaan rahmat Tuhanmu ada pada mereka. Pembaca yang berdoa dapat memperhatikan sifat Allah mana yang disebut di ujung permintaannya, dan apakah sifat itu sesuai dengan apa yang baru saja diminta?
  • Di 38:32 Sulaiman mengaku bahwa kesenangannya pada yang baik membuatnya lalai mengingat Tuhannya, (عَنْ ذِكْرِ رَبِّي, 'an dzikri rabbii). Tiga ayat kemudian Sulaiman berkata (قَالَ رَبِّ, qaala rabbi), dan di antara kedua ucapan itu tidak ada kata teguran yang tertulis. Kata rabb yang pertama menjadi hal yang terlewat, dan yang kedua menjadi seruan. Pembaca yang lama tidak menyapa sesuatu yang penting baginya dapat membayangkan seperti apa kalimat pertama sesudahnya, dan apakah kalimat itu memerlukan pembukaan yang panjang?
  • Tiga dari empat ayat yang memuat min ba'dii berbicara tentang apa yang akan dilakukan atau datang sesudah pembicara: apa yang akan disembah di 2:133, cara mereka menggantikan pembicara di 7:150, dan seorang rasul yang akan datang di 61:6. Di 38:35 kata itu menyangkut apa yang tidak akan dimiliki orang lain. Sulaiman, dalam doa tentang dirinya sendiri, memikirkan orang-orang yang datang sesudahnya. Pembaca dapat bertanya siapa yang ikut terpikir dalam doa-doanya, hanya dirinya sendiri atau juga orang yang belum dikenal dan baru akan datang?