فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَ
Maka, Kami tundukkan kepadanya angin yang berembus lembut dengan perintahnya ke mana saja yang ia tuju,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَfa-sakhkharnaa lahu r-riihamaka, Kami tundukkan kepadanya angin
- تَجْرِي بِأَمْرِهِ رُخَاءً حَيْثُ أَصَابَtajrii bi-amrihi rukhaa'an haytsu ashaabayang berembus lembut dengan perintahnya ke mana saja yang ia tuju
Terjemahan per kata (8 kata)
- فَسَخَّرْنَاfa-sakhkharnaamaka Kami menundukkan
- لَهُlahubaginya
- الرِّيحَr-riihaangin
- تَجْرِيtajriimengalir
- بِأَمْرِهِbi-amrihidengan keputusan-Nya
- رُخَاءًrukhaa'andengan lembut
- حَيْثُhaytsudi mana saja
- أَصَابَashaabamenimpa
Inti bacaan
Kata (رُخَاءً, rukhaa'an) hanya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:36, sehingga artinya dibaca dari pertentangannya dengan (عَاصِفَةً, 'aashifatan) di 21:81.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيحَ, fa-sakhkharnaa lahu r-riiha) yang berarti "maka Kami tundukkan kepadanya angin". Awalan fa- berarti "maka" dan menyambung ayat ini ke doa di 38:35 sebagai kelanjutan urutan. Kata kerja sakhkharnaa berakar س-خ-ر dan berarti "Kami tundukkan". Dengan atau tanpa kata ganti di ujungnya, bentuk ini ada empat kali, yaitu di 21:79, 22:36, 38:18, dan 38:36, dan pelakunya selalu Kami. Di 21:79 dan 38:18 yang ditundukkan gunung-gunung, di 22:36 unta-unta, dan di 38:36 angin. Susunan sakhkharnaa lahu, "Kami tundukkan kepadanya", hanya ada di 38:36. Gunung-gunung ditundukkan bagi Daud dengan kata ma'a, "bersama", yaitu (سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ, sakhkharnaa l-jibaala ma'ahu) di 38:18 yang berarti "Kami tundukkan gunung-gunung bersamanya", dan (وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ, wa-sakhkharnaa ma'a daawuuda l-jibaala) di 21:79. Untuk Sulaiman, angin disebut dengan huruf li, "untuk" atau "kepada", yaitu lahu di 38:36 dan (وَلِسُلَيْمَانَ الرِّيحَ, wa-li-sulaymaana r-riiha) di 34:12. Kata (الرِّيحَ, r-riiha) bersandang al- ini muncul lima kali, yaitu di 21:81, 34:12, 38:36, 42:33, dan 51:41, dan tiga yang pertama tentang Sulaiman.
Bunyi (تَجْرِي بِأَمْرِهِ, tajrii bi-amrihi) yang berarti "berembus dengan perintahnya" hanya ada dua kali, yaitu di 21:81 dan 38:36, dan keduanya tentang angin Sulaiman. Kata kerja tajrii dipakai juga untuk kapal, (وَالْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ, wa-l-fulka tajrii fii l-bahri bi-amrihi) yang berarti "dan kapal yang berlayar di laut dengan perintah-Nya" di 22:65. Arabnya memakai kata kerja yang sama untuk kapal dan angin, dan terjemahan memilih "berlayar" untuk kapal dan "berembus" untuk angin. Kata (بِأَمْرِهِ, bi-amrihi) dengan akhiran -hi ada di 2:109, 7:54, 9:24, 14:32, 16:12, 21:27, 21:81, 22:65, 30:25, 30:46, 38:36, dan 45:12. Di 22:65 akhiran -hi menunjuk Allah karena pelaku kalimatnya Allah, dan terjemahan menulis "perintah-Nya" dengan huruf besar. Di 38:36 pelaku kalimatnya Kami, dan akhiran -hi sejalan dengan -hu pada lahu, sehingga terjemahan menulis "perintahnya" dengan huruf kecil, seperti di 21:81 yang didahului "untuk Sulaiman". Pembacaan yang menunjuk Allah pada -hi tidak dibantah teks. Terjemahan memilih pembacaan yang memakai satu pelaku untuk semua kata ganti orang ketiga di ayat ini.
Kata (رُخَاءً, rukhaa'an) yang berarti "dengan lembut" berakar ر-خ-و dan hanya muncul di 38:36. Akar itu tidak ada di ayat lain, sehingga korpus tidak punya pembanding langsung. Satu jalur bukti masih ada, yaitu ayat lain yang melukiskan angin yang sama dengan sifat berbeda. Di 21:81 angin Sulaiman disebut (عَاصِفَةً, 'aashifatan) yang berarti "sangat kencang". Bentuk tunggal kata sifat dari akar ع-ص-ف ada di tiga ayat, yaitu 10:22, (رِيحٌ عَاصِفٌ, riihun 'aashifun) yang berarti "angin yang sangat kencang", 14:18, (فِي يَوْمٍ عَاصِفٍ, fii yawmin 'aashifin) yang berarti "pada hari yang berangin kencang", dan 21:81. Karena 21:81 dan 38:36 sama-sama memakai tajrii bi-amrihi, sifat "sangat kencang" dan "lembut" terbaca sebagai dua sifat yang berlawanan bagi angin yang sama. Padanan "lembut" bertumpu pada pertentangan itu dan pada kata kerja yang mengiringinya; pembanding langsung tidak ada. Kapan angin itu kencang dan kapan lembut tidak dijelaskan.
Bunyi (حَيْثُ أَصَابَ, haytsu ashaaba) yang berarti "ke mana saja yang ia tuju" hanya muncul di 38:36. Kata haytsu, "di mana", ada 29 kali, dan kata kerja ashaaba ada 28 kali. Pada 27 kemunculan lain, pihak yang terkena disebut langsung dengan kata ganti atau kata benda di 25 tempat, misalnya (فَأَصَابَهُ وَابِلٌ, fa-ashaabahu waabilun) di 2:264 yang berarti "lalu hujan lebat menimpanya", (وَأَصَابَهُ الْكِبَرُ, wa-ashaabahu l-kibaru) di 2:266 yang berarti "dan ketuaan menimpanya", dan (مَا أَصَابَكَ, maa ashaabaka) di 4:79 yang berarti "apa yang menimpamu". Di dua tempat sisanya, 57:22 dan 64:11, kata kerja itu dipakai untuk musibah yang mengenai. Di 38:36 tidak ada pihak yang terkena, yang ada hanya tempat, haytsu. Terjemahan karena itu memakai "yang ia tuju", yang berpijak pada arti "mengenai sasaran", dan tidak memakai "yang menimpa". Pelaku ashaaba di sini laki-laki tunggal, sedangkan tajrii perempuan tunggal, sehingga pelakunya bukan angin. Terjemahan membacanya Sulaiman, yang disebut lewat lahu dan -hi pada bi-amrihi. Kata amr, "perintah", juga laki-laki tunggal dan dapat menjadi pelaku itu. Ayat tidak memilih, dan terjemahan mengikuti pembacaan dengan satu pelaku. Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 38:37.
Tafsiran
Ayat ini membuka rangkaian 38:36 sampai 38:39, dan huruf fa- menyambungnya ke doa di 38:35 sebagai urutan. Rangkaian itu menyebut tiga hal yang diletakkan di bawah Sulaiman, yaitu angin, setan-setan yang bekerja, dan yang lain yang terikat, lalu menamainya anugerah Kami di 38:39. Ayat 38:36 sendiri tidak menyebut doa, sehingga hubungannya dengan permintaan kerajaan di 38:35 tertulis sebagai urutan dan dapat dibaca sebagai jawaban.
Angin Sulaiman dituturkan tiga kali dengan tiga bahan yang berbeda. Di 21:81 angin itu sangat kencang dan tujuannya ditentukan, (تَجْرِي بِأَمْرِهِ إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا, tajrii bi-amrihi ilaa l-ardhi llatii baaraknaa fiihaa) yang berarti "berembus dengan perintahnya ke tanah yang telah Kami beri berkah padanya". Di 34:12 ayat itu menyebut jarak, (غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَرَوَاحُهَا شَهْرٌ, ghuduwwuhaa syahrun wa-rawaahuhaa syahrun) yang berarti "perjalanan paginya sebulan dan perjalanan sorenya sebulan". Di 38:36 ayat menyebut sifat lembut dan arah yang mengikuti tujuan Sulaiman. Ketiga ayat itu tidak digabung menjadi satu gambar, sebab teks tidak menyebut kapan masing-masing berlaku.
Daud dan Sulaiman dituturkan dengan dua cara. Di 38:18 gunung-gunung yang ditundukkan bersama Daud (يُسَبِّحْنَ, yusabbihna) yang berarti "bertasbih", jadi benda-benda itu melakukan sesuatu bersamanya. Di 38:36 angin yang ditundukkan bagi Sulaiman bergerak menurut perintahnya, jadi benda itu bekerja untuknya. Dua ayat itu menyangkut dua orang dan dua penundukan yang berbeda, sehingga tidak ditimbang sebagai lebih tinggi atau lebih rendah.
Renungan dan Hikmah
- Permintaan di 38:35 berbunyi kerajaan, dan hal pertama yang disebut sesudahnya adalah angin. Bentuk permintaan dan bentuk yang menyusul tidak sama: yang pertama kata yang luas, yang kedua sesuatu yang bergerak di udara. Pembicara ayat ini memakai kata Kami, yaitu Allah, dan menyebut perbuatan-Nya dengan kata kerja menundukkan. Pembaca yang sedang menunggu jawaban atas permintaannya dapat bertanya, dalam bentuk apa jawaban itu mungkin datang lebih dulu, dan apakah bentuk itu akan dikenali bila tidak seperti yang diminta?
- Angin Sulaiman disebut sangat kencang di 21:81 dan lembut di 38:36, dua sifat yang berlawanan bagi gerak yang sama. Kapan masing-masing berlaku tidak tertulis, dan salah satu sifat tidak membatalkan yang lain. Dari dua ayat itu terlihat bahwa kekuatan yang satu dapat dilukiskan dengan dua cara. Pembaca dapat memeriksa kemampuan yang dimilikinya: di bagian mana kemampuan itu biasa dipakai dengan keras, di bagian mana pernah dipakai dengan lembut, dan siapa yang menentukan pilihan di antara keduanya?
- Di 21:81 tujuan angin ditentukan, yaitu tanah yang telah Kami beri berkah padanya, sedangkan di 38:36 arahnya mengikuti tujuan Sulaiman sendiri. Karena konteks 21:81 dan 38:36 berbeda, angin di keduanya tidak disamakan. Kebebasan memilih arah di 38:36 datang dari kata kerja Kami menundukkan, sehingga pemberinya Allah. Pembaca yang pernah diberi keleluasaan memilih arah dapat bertanya, ke mana keleluasaan itu dipakai, dan apakah Allah, yang menurut ayat ini menundukkan angin itu, ikut menjadi bahan pertimbangan ketika arah dipilih?
- Dalam satu kalimat ada dua pihak: Kami yang menundukkan dan Sulaiman yang memerintah menurut terjemahan, sementara pembacaan yang menunjuk Allah pada kata perintah juga mungkin. Dengan pembacaan mana pun, penundukan itu ada di tangan Allah. Pembaca dapat melihat pembagian itu pada kemampuan yang dipegangnya: bagian mana yang diterima dan bagian mana yang diperintahkan sendiri dengan kemampuan itu, dan apakah kedua bagian itu dapat dibedakan dalam keseharian?
- Gunung-gunung ditundukkan bersama Daud dan ikut bertasbih di 38:18, sedangkan angin ditundukkan bagi Sulaiman dan bergerak menurut perintahnya di 38:36. Dalam kedua ayat itu pelaku penundukannya Kami, yaitu Allah, dan perbedaannya terletak pada kedudukan penerimanya terhadap benda yang ditundukkan: berdampingan atau memerintah. Pembaca yang memegang wewenang atas orang atau benda dapat memeriksa apakah dirinya lebih sering berada di samping atau di depan, dan kedudukan mana yang lebih sering dipilih tanpa disadari?
- Ayat 38:36 dibuka dengan kata maka, dan tidak ada kata yang mengukur jarak antara permintaan di 38:35 dan penundukan angin. Teks mencatat urutan, dan lamanya menunggu tidak dicatat. Dua ayat yang berdampingan di mushaf dapat menyembunyikan jeda, pendek maupun panjang. Bagaimana pembaca yang masih menunggu menimbang sebuah kisah yang menaruh doa dan jawabannya di dua ayat berurutan tanpa menyebut jeda di antaranya?