هَٰذَا عَطَاؤُنَا فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Ini anugerah Kami; maka, berikanlah atau tahanlah tanpa perhitungan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- هَٰذَا عَطَاؤُنَاhaadzaa athaa'unaaini anugerah Kami
- فَامْنُنْ أَوْ أَمْسِكْ بِغَيْرِ حِسَابٍfa-mnun aw amsik bi-ghayri hisaabinmaka, berikanlah atau tahanlah tanpa perhitungan
Terjemahan per kata (7 kata)
- هَٰذَاhaadzaaini
- عَطَاؤُنَاathaa'unaapemberian Kami
- فَامْنُنْfa-mnunmaka berikanlah
- أَوْawatau
- أَمْسِكْamsiktahanlah
- بِغَيْرِbi-ghayritanpa
- حِسَابٍhisaabinperhitungan
Inti bacaan
Frasa (بِغَيْرِ حِسَابٍ, bi-ghayri hisaabin) muncul tujuh kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:212, 3:27, 3:37, 24:38, 38:39, 39:10, dan 40:40, dan hanya di 38:39 frasa itu berdiri tepat sesudah dua kata kerja perintah.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (هَٰذَا عَطَاؤُنَا, haadzaa athaa'unaa) yang berarti "ini anugerah Kami". Kata (هَٰذَا, haadzaa) berarti "ini" dan menunjuk sesuatu yang dekat. Ayat ini tidak memuat kata benda yang dapat dipasangkan dengan "ini". Rangkaian 38:36 sampai 38:38 dan kerajaan yang diminta di 38:35 paling dekat di depannya, dan teks tidak merinci yang mana. Kata benda athaa' dari akar ع-ط-و, "pemberian", ada di empat ayat, yaitu 11:108, 17:20, 38:39, dan 78:36. Di 11:108 bunyinya (عَطَاءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ, athaa'an ghayra majdzuudzin) yang berarti "pemberian yang tidak putus-putus", di 17:20 (عَطَاءُ رَبِّكَ, athaa'u rabbika) yang berarti "pemberian Tuhanmu", dan di 78:36 (عَطَاءً حِسَابًا, athaa'an hisaaban) yang berarti "pemberian yang cukup". Hanya di 17:20 dan 38:39 pemberi langsung dilekatkan pada kata itu, lewat rabbika dan lewat akhiran -naa, "Kami". Terjemahan 38:39 memakai "anugerah" untuk akar ini, sebagaimana akar lain, hab, di 38:35 diterjemahkan "anugerahkanlah". Kedua akar berbeda, dan ayat 38:39 tidak menyatakan bahwa athaa'unaa menjawab permintaan hab.
Kata (فَامْنُنْ, fa-mnun) yang berarti "maka berikanlah" berakar م-ن-ن, dan bentuk perintah ini hanya ada di 38:39. Kata kerja manna berarti memberi karunia dalam satu arah dan mengungkit pemberian dalam arah lain. Arah pertama ada di ayat-ayat yang berpelaku Allah, misalnya 3:164, 6:53, 28:5, dan 52:27. Arah kedua ada di 2:264, (بِالْمَنِّ, bi-l-manni) yang berarti "dengan menyebut-nyebutnya", di 26:22, (تَمُنُّهَا, tamunnuhaa) yang berarti "yang engkau ungkit", dan di 49:17, (يَمُنُّونَ, yamunnuuna) yang berarti "mereka merasa berjasa". Pasangan kata ini di 38:39 menentukan arahnya. Kata (أَمْسِكْ, amsik) yang berarti "tahanlah" berakar م-س-ك dan ada dua kali, yaitu di 33:37 dan 38:39. Lawan menahan di sini memberi, sehingga terjemahan memakai "berikanlah" dan tidak memakai "ungkitlah".
Akar م-س-ك dipakai juga untuk menahan pemberian. Di 17:100, (لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ, la-amsaktum khasyyata l-infaaqi) yang berarti "niscaya kalian tahan karena takut habis", pelakunya manusia dan alasannya takut habis. Di 35:2, (وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ, wa-maa yumsik fa-laa mursila lahu) yang berarti "dan apa saja yang ditahan-Nya, tidak ada yang sanggup melepaskannya", dan di 67:21, (إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ, in amsaka rizqahu) yang berarti "jika Dia menahan rezeki-Nya", pelakunya Allah. Di 38:39 menahan disebut tanpa alasan apa pun.
Frasa (بِغَيْرِ حِسَابٍ, bi-ghayri hisaabin) yang berarti "tanpa perhitungan" ada tujuh kali, yaitu di 2:212, 3:27, 3:37, 24:38, 38:39, 39:10, dan 40:40. Di enam ayat lain frasa itu menempel pada pemberian oleh Allah, misalnya (يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ, yarzuqu man yasyaa'u bi-ghayri hisaabin) di 2:212 dan 24:38 yang berarti "memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan", dan (يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ, yuwaffaa sh-shaabiruuna ajrahum bi-ghayri hisaabin) di 39:10 yang berarti "orang-orang yang sabar disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan". Di 38:39 frasa itu berdiri sesudah dua perintah. Urutan kata membuka dua pembacaan: frasa itu menerangkan perintah memberi atau menahan, atau menerangkan anugerahnya. Terjemahan menempelkannya pada kedua perintah. Kata hisaab ada juga di 38:16, (يَوْمِ الْحِسَابِ, yawmi l-hisaabi), dan di 38:26, (يَوْمَ الْحِسَابِ, yawma l-hisaabi), yang berarti "hari perhitungan"; 38:39 tidak menyebut hari itu.
Awalan fa- pada fa-mnun berarti "maka" dan menaruh perintah sebagai akibat dari pernyataan "ini anugerah Kami". Kedua perintah ditujukan kepada satu orang laki-laki. Nama penerimanya tidak ditulis, dan urutan 38:34 sampai 38:40 membuatnya terbaca sebagai Sulaiman.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian pemberian di 38:36 sampai 38:38 dengan satu pernyataan dan satu perintah. Pernyataan menaruh kepemilikan pada pemberi, dan perintah menyerahkan wewenang memakai kepada penerima. Pernyataan datang lebih dulu, dan perintah menyusul dengan fa-, "maka". Susunan itu membuat wewenang memberi atau menahan terbaca sebagai akibat dari sebuah pemberian.
Kerajaan diminta di 38:35 dari Sang Pemberi, dan di 38:39 hal yang diberikan disebut anugerah Kami. Kedua ayat memakai akar yang berbeda, hab dan athaa', dan ayat 38:39 tidak menyatakan bahwa yang satu menjawab yang lain. Teks menuliskan kesejajaran: permintaan memberi di ujung rangkaian doa, dan pernyataan memberi di ujung rangkaian jawaban.
Ungkapan tanpa perhitungan tidak berdiri sendiri dalam surah ini. Di 38:26 Daud diberi tahu bahwa orang yang menyimpang dari jalan Allah mendapat azab karena melupakan (يَوْمَ الْحِسَابِ, yawma l-hisaabi) "hari perhitungan". Kata hisaab di 38:39 dan di 38:26 dipakai untuk hal yang berbeda: yang pertama menyangkut cara memberi atau menahan, yang kedua menyangkut hari pertanggungjawaban. Ayat 38:39 tidak menyatakan bahwa Sulaiman bebas dari hari itu, dan tidak menyatakan sebaliknya.
Ayat ini juga tidak mencatat pilihan Sulaiman. Perintah memberi atau menahan dibiarkan sebagai kebebasan, dan penuturan berlanjut di 38:40 dengan kedekatan dan tempat kembali yang baik, lalu di 38:41 beralih ke Ayyub. Hasil pilihan itu, memberi atau menahan, tidak ada di teks.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 38:39 menyebut sumbernya lebih dulu, ini anugerah Kami, dan baru sesudah itu menyerahkan wewenang memberi atau menahan. Urutannya menaruh kata Kami, yaitu Allah, di depan kata kerja pertama. Pembaca yang memegang sesuatu dapat memeriksa kalimat mana yang biasanya mendahului keputusannya memakai barang itu: ini milikku, atau ini diberikan kepadaku? Apa yang berubah pada keputusan memberi atau menahan bila kalimat pertama diganti dengan kalimat kedua?
- Menahan disebut sejajar dengan memberi dalam satu perintah, tanpa celaan atas salah satunya. Di 17:100 menahan dikaitkan dengan takut habis, (لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ, la-amsaktum khasyyata l-infaaqi), sedangkan di 38:39 menahan tidak disertai alasan apa pun. Dua ayat itu menyangkut orang dan keadaan yang berbeda, sehingga tidak ditimbang satu sama lain. Pembaca dapat memeriksa kapan terakhir menahan sesuatu, apa alasan yang diberikan kepada diri sendiri waktu itu, dan apakah alasan itu takut habis atau hal yang lain?
- Akar kata kerja berikanlah di 38:39 juga membentuk (بِالْمَنِّ, bi-l-manni) di 2:264, kata untuk menyebut-nyebut pemberian, yang di sana disebut membatalkan sedekah. Di 38:39 kata dari akar itu bersanding dengan frasa tanpa perhitungan, dan kedua ayat dibaca sendiri-sendiri. Pembaca yang pernah memberi dapat memeriksa apakah ada hitungan yang ikut serta tanpa diucapkan, bagaimana pemberian itu terasa bagi penerimanya bila hitungan itu terdengar, dan siapa yang lebih dulu merasakannya, pemberi atau penerima?
- Kata kerja menahan di 38:39 dipakai juga untuk Allah di 35:2 dan 67:21. Dua ayat itu menyangkut rahmat dan rezeki, tidak menyangkut kerajaan, sehingga tidak disamakan dengan 38:39. Pembaca yang diberi wewenang menahan dan memberi dapat bertanya, bagaimana wewenang itu terasa bila diingat bahwa pasangan kata kerjanya dalam ayat lain dipegang Allah, dan apakah ukuran yang dipakai Allah dalam ayat-ayat itu menjadi bahan pertimbangan?
- Ayat 38:39 tidak mencatat apakah Sulaiman memberi atau menahan, dan penuturan langsung berlanjut ke 38:40. Kebebasan disebut tanpa hasil pilihannya. Pembaca yang terbiasa menilai sebuah kewenangan dari apa yang akhirnya dipilih dapat bertanya, apa yang tinggal bila hanya kebebasannya yang terlihat, dan apakah kebebasan itu sendiri sudah termasuk pemberian Allah yang layak disebut, terlepas dari apa yang dipilih?
- Dalam rangkaian 38:34 sampai 38:39 kata Kami, yaitu Allah, memegang kata kerja menguji dan meletakkan di 38:34, menundukkan di 38:36, dan penamaan anugerah di 38:39. Pelaku ujian dan pelaku pemberian disebut dengan kata yang sama, dan kisah ini tidak memisahkan keduanya menjadi dua pihak. Pembaca yang pernah melalui ujian lalu menerima sesuatu dapat bertanya, apakah keduanya pernah dikaitkan pada pelaku yang sama, dan bagaimana urutan itu terasa bila dibaca sebagai satu rangkaian?