وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Dan ingatlah hamba Kami, Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya, “Sesungguhnya setan telah menyentuhku dengan kepayahan dan azab.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَwa-dzkur 'abdanaa ayyuubadan ingatlah hamba Kami, Ayyub
  2. إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُidz naadaa rabbahuketika ia menyeru Tuhannya
  3. أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍannii massaniya sy-syaythaanu bi-nushbin wa-'adzaabinsesungguhnya setan telah menyentuhku dengan kepayahan dan azab

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَاذْكُرْwa-dzkurdan sebutlah
  2. عَبْدَنَا'abdanaahamba Kami
  3. أَيُّوبَayyuubaAyyub
  4. إِذْidzketika
  5. نَادَىٰnaadaamenyeru
  6. رَبَّهُrabbahuTuhannya
  7. أَنِّيanniibahwa Aku
  8. مَسَّنِيَmassaniyamenimpaku
  9. الشَّيْطَانُsy-syaythaanusetan
  10. بِنُصْبٍbi-nushbindengan kepayahan
  11. وَعَذَابٍwa-'adzaabindan azab

Inti bacaan

Bentuk (بِنُصْبٍ, bi-nushbin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:41.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَاذْكُرْ عَبْدَنَا, wa-dzkur 'abdanaa) yang berarti "dan ingatlah hamba Kami". Kata (وَاذْكُرْ, wa-dzkur) berakar ذ-ك-ر dan berbentuk perintah untuk satu orang yang diajak bicara. Perintah dengan bentuk ini muncul empat kali di surah 38, yaitu di 38:17, 38:41, 38:45, dan 38:48. Rangkaian (وَاذْكُرْ عَبْدَنَا, wa-dzkur 'abdanaa) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:17 untuk Daud dan di 38:41 untuk Ayyub, sedangkan 38:45 memakai bentuk jamak (عِبَادَنَا, 'ibaadanaa). Kata (عَبْدَنَا, 'abdanaa) tersusun dari 'abd yang berarti "hamba" dan akhiran -naa yang berarti "Kami"; di luar kedua ayat itu kata ini muncul sekali, di 54:9. Nama (أَيُّوبَ, ayyuuba) muncul empat kali di empat surah, yaitu di 4:163, 6:84, 21:83, dan 38:41.

Kata (إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ, idz naadaa rabbahu) yang berarti "ketika ia menyeru Tuhannya" muncul empat kali di tiga surah, yaitu di 19:3, 21:83, 21:89, dan 38:41. Dua kemunculannya milik Zakaria, yaitu di 19:3 dan 21:89, dan dua lagi milik Ayyub, yaitu di 21:83 dan 38:41. Di 21:83 kalimat itu disusul (أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ, annii massaniya dh-dhurru), dan di 38:41 disusul kalimat yang hampir sama dengan pelaku yang berbeda.

Kata kerja (مَسَّنِيَ, massaniya) yang berarti "telah menyentuhku" berakar م-س-س dan tersusun dari massa yang berarti "menyentuh" dan akhiran -nii yang berarti "aku". Bentuk persis ini muncul empat kali di empat surah, yaitu di 7:188, 15:54, 21:83, dan 38:41, dan pelaku sentuhannya berbeda di tiap ayat: (مَسَّنِيَ السُّوءُ, massaniya s-suu'u) di 7:188, (مَسَّنِيَ الْكِبَرُ, massaniya l-kibaru) di 15:54, (مَسَّنِيَ الضُّرُّ, massaniya dh-dhurru) di 21:83, dan (مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ, massaniya sy-syaythaanu) di 38:41. Terjemahan memakai "menyentuh" karena arti dasar massa tetap terbaca bila kata kerjanya dilepas dari pelakunya.

Kata (بِنُصْبٍ, bi-nushbin) tersusun dari huruf (بِ, bi-) yang berarti "dengan" dan (نُصْبٍ, nushbin) yang berarti "kepayahan". Bentuk nushbin muncul satu kali, di 38:41. Kata yang paling dekat bentuknya, (نَصَبٌ, nashabun), muncul empat kali, yaitu di 9:120, 15:48, 18:62, dan 35:35, dan di keempatnya menyebut letih atau payah pada tubuh: payah karena lapar dan haus di jalan Allah pada 9:120, dan letih karena perjalanan pada 18:62. Di 15:48 dan 35:35 kata itu bertemu kata kerja massa, yaitu (لَا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ, laa yamassuhum fiihaa nashabun) di 15:48 dan (لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ, laa yamassunaa fiihaa nashabun) di 35:35, dan kedua ayat menyatakan kepayahan itu tidak menyentuh penghuni taman dan tempat kediaman yang kekal. Di 38:41 kata kerja yang sama dan kata benda yang sekerabat bertemu dalam kalimat yang menyatakan sentuhan itu terjadi. Pasangan ini menjadi alasan terjemahan memakai "kepayahan" untuk nushb.

Kata (وَعَذَابٍ, wa-'adzaabin) tersusun dari huruf sambung (وَ, wa) yang berarti "dan" dan (عَذَابٍ, 'adzaabin) yang berarti "azab". Padanan yang lazim dipakai terjemahan ini untuk kata 'adzaab adalah "azab". Di 38:41 azab bergandengan dengan kepayahan lewat huruf wa, dan keduanya disebut sebagai isi sentuhan setan menurut ucapan Ayyub. Ayat ini tidak menyebut kesalahan siapa pun sebagai sebab azab itu.

Ucapan Ayyub dibuka dengan (أَنِّي, annii) yang berarti "sesungguhnya aku" dan tidak memuat kata kerja perintah. Seruan Ayyub di 21:83 juga tidak memuat kata kerja perintah, dan berakhir dengan (وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ, wa-anta arhamu r-raahimiina) yang berarti "dan Engkau yang paling banyak memberi rahmat di antara para pemberi rahmat". Seruan di 38:41 tidak memuat kalimat semacam itu.

Tafsiran

Ayat 38:41 membuka kisah ketiga dari tiga kisah hamba di surah ini, sesudah Daud di 38:17 sampai 38:26 dan Sulaiman di 38:30 sampai 38:40. Dua kisah pertama dibuka dengan pujian, yaitu (إِنَّهُ أَوَّابٌ, innahu awwaabun) di 38:17 dan (نِعْمَ الْعَبْدُ, ni'ma l-'abdu) di 38:30. Kisah ketiga dibuka dengan keluhan yang dikutip penuh, dan pujian atas Ayyub baru datang di 38:44. Perintah "ingatlah" menunjuk saat Ayyub menyeru, bukan saat Ayyub sembuh atau dipuji.

Ayat ini tidak memuat keterangan tentang keadaan Ayyub di luar ucapannya sendiri. Penuturan di 21:83 sampai 21:84 menyusulkan dua kalimat sesudah seruan, yaitu (فَاسْتَجَبْنَا لَهُ, fa-stajabnaa lahu) yang berarti "maka Kami mengabulkan doanya" dan (فَكَشَفْنَا مَا بِهِ مِنْ ضُرٍّ, fa-kasyafnaa maa bihi min dhurrin) yang berarti "lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya". Surah 38 tidak memuat dua kalimat itu. Jawaban atas seruan langsung berupa perintah di 38:42, tanpa kata penghubung, lalu keluarga yang dianugerahkan di 38:43, lalu pujian di 38:44.

Ayyub menyebut setan sebagai pelaku sentuhan. Ayat 38:42 menjawab tanpa membahas penyebab itu, dan 38:44 memuji Ayyub tanpa menyinggungnya. Keluhan dan pujian berada dalam satu kisah dengan jarak tiga ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Seruan Ayyub di 38:41 melaporkan keadaan, yaitu setan menyentuhnya dengan kepayahan dan azab, dan tidak memuat kata permintaan. Allah mengutip seruan itu utuh dan menjawabnya di 38:42. Orang yang menunggu doanya tersusun rapi sebelum berani berbicara dapat memperhatikan bahwa seruan yang dikutip Allah di sini berbentuk laporan. Apa yang berubah pada pembaca bila menyebutkan keadaannya kepada Tuhannya, tanpa permintaan yang tersusun, sudah dianggap satu bentuk seruan?
  • Allah menyebut Ayyub "hamba Kami" sebelum keluhannya dikutip, dan di 38:44 menyatakan bahwa Dia mendapatinya sabar sesudah keluhan itu. Keluhan berada di antara dua sebutan itu. Pembaca yang menyangka bahwa mengeluh berarti kehilangan kesabaran dapat melihat susunan ini. Dalam catatan Allah, apakah sabar sama dengan tidak menyebut sakit, atau sama dengan terus kembali kepada-Nya sambil menyebutnya?
  • Dalam seruan di 38:41 Ayyub menyebut setan sebagai pelaku sentuhan, sedangkan di 21:83 Ayyub menyebut kemudaratan. Kedua kalimat dikutip, dan tidak ada yang disanggah. Pembaca yang berbicara tentang penyebab kesusahannya dapat memperhatikan bahwa kisah ini menyimpan dua cara menyebutnya. Ayat 38:42 menjawab tanpa membahas penyebab, dan jawabannya berupa perintah yang dapat dikerjakan. Siapa atau apa yang disebut pembaca sebagai pelaku kesusahannya ketika berbicara kepada Tuhannya, dan apakah pembaca menunggu jawaban atas sebutan itu sebelum bergerak?
  • Ayat 38:41 menyebut satu alamat bagi ucapan Ayyub, yaitu Tuhannya. Tidak ada pendengar lain yang dicatat, dan tidak ada nama orang yang diminta menolong. Keluhannya sampai kepada Tuhannya dalam satu kalimat, dan jawabannya datang di ayat berikutnya. Pembaca yang menceritakan sakitnya kepada banyak telinga lebih dulu dapat memperhatikan urutan yang tertulis di sini. Kepada siapa pembaca lebih dulu menyebutkan keadaannya, dan apa yang terjadi pada ceritanya bila Tuhannya yang lebih dulu mendengar?
  • Perintah di ayat ini berbunyi "ingatlah hamba Kami, Ayyub, ketika ia menyeru Tuhannya". Allah memilih saat Ayyub menyeru untuk diingat. Kisah ini dibuka pada saat Ayyub mengeluh, sedangkan pujian dan keluarga yang dianugerahkan baru tertulis di ayat-ayat sesudahnya. Pembaca yang berusaha menampilkan bagian hidupnya yang terbaik dapat memperhatikan pilihan itu. Bagian mana dalam hidup pembaca yang tidak ingin ia tampilkan, dan apa yang tersisa dari ceritanya bila bagian itu dihapus?
  • Dalam satu ayat dua sebutan bertemu. Ayyub menyebut dirinya dengan kata "aku" di tengah keluhan, sedangkan Allah menyebutnya "hamba Kami" di awal ayat. Sebutan pertama menyatakan keadaan, sebutan kedua menyatakan kedudukan, dan keduanya tertulis berdampingan tanpa saling membantah. Pembaca yang hanya sanggup berkata "aku" di hadapan Allah dapat memperhatikan bahwa sebutan Allah untuk Ayyub sudah ada sebelum keluhannya dimulai. Kata apa yang dipakai Allah untuk pembaca pada saat pembaca hanya sanggup menyebut keadaannya?