وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub, yang mempunyai tangan-tangan dan penglihatan.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَwa-dzkur 'ibaadanaa ibraahiima wa-ishaaqa wa-ya'quubaingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub
  2. أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِulii l-aydii wa-l-abshaariyang mempunyai tangan-tangan dan penglihatan

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَاذْكُرْwa-dzkurdan sebutlah
  2. عِبَادَنَا'ibaadanaahamba-hamba Kami
  3. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  4. وَإِسْحَاقَwa-ishaaqadan Ishaq
  5. وَيَعْقُوبَwa-ya'quubadan Yaqub
  6. أُولِيuliipemilik
  7. الْأَيْدِيl-aydiitangan-tangan
  8. وَالْأَبْصَارِwa-l-abshaaridan penglihatan

Inti bacaan

Susunan (أُولِي الْأَيْدِي, ulii l-aydii) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:45.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (وَاذْكُرْ عِبَادَنَا, wa-dzkur 'ibaadanaa) yang berarti "ingatlah hamba-hamba Kami". Kata (عِبَادَنَا, 'ibaadanaa) adalah bentuk jamak dari 'abd yang berarti "hamba", dengan akhiran -naa yang berarti "Kami". Bentuk persis ini muncul satu kali, yaitu di 38:45, sedangkan bentuk tunggal (عَبْدَنَا, 'abdanaa) dipakai di 38:17 untuk Daud dan di 38:41 untuk Ayyub. Perintah (وَاذْكُرْ, wa-dzkur) muncul empat kali di surah ini, yaitu di 38:17, 38:41, 38:45, dan 38:48. Di 38:48 perintah itu membuka daftar lain, (وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ, wa-dzkur ismaa'iila) yang berarti "dan ingatlah Ismail", tanpa kata 'abd.

Tiga nama berurutan (إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ, ibraahiima wa-ishaaqa wa-ya'quuba) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:38 dan 38:45. Di 12:38 ketiganya disebut sebagai leluhur dalam ucapan Yusuf, dan di 38:45 mereka disebut sebagai hamba. Ismail tidak ada di ayat ini. Ia disebut di 38:48 bersama Ilyasa dan Zulkifli.

Kata (أُولِي, ulii) yang berarti "yang mempunyai" membuka beberapa rangkaian di Al-Qur'an. Rangkaian (أُولِي الْأَلْبَابِ, ulii l-albaabi) sudah diuraikan di 38:43. Rangkaian (أُولِي الْأَبْصَارِ, ulii l-abshaari) yang berarti "yang mempunyai penglihatan" muncul tiga kali, yaitu di 3:13, 24:44, dan 59:2. Di 3:13 dan 24:44 bunyinya (لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ, la-'ibratan li-ulii l-abshaari) yang berarti "pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan", dan di 59:2 rangkaian itu mengikuti perintah (فَاعْتَبِرُوا, fa-'tabiruu) yang berarti "maka ambillah pelajaran", yaitu (يَا أُولِي الْأَبْصَارِ, yaa ulii l-abshaari). Rangkaian (أُولِي الْأَيْدِي, ulii l-aydii) hanya ada di 38:45. Kata (الْأَبْصَارِ, l-abshaari) sendiri muncul di enam belas ayat di tiga belas surah, yaitu di 3:13, 6:103, 10:31, 14:42, 16:78, 22:46, 23:78, 24:37, 24:43, 24:44, 32:9, 33:10, 38:45, 38:63, 59:2, dan 67:23.

Kata (الْأَيْدِي, l-aydii) yang berarti "tangan-tangan" adalah bentuk jamak dari yad yang berarti "tangan", menurut catatan morfologi, dan berakar ي-د-ي. Bentuk jamak yang sama menyebut tempat perbuatan di ayat lain, misalnya (بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, bi-maa qaddamat aydiihim) yang berarti "karena apa yang telah dilakukan tangan-tangan mereka" di 2:95 dan (كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ, kasabat aydiikum) yang berarti "perbuatan tangan kalian" di 42:30. Frasa (قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ, qaddamat aydiihim) muncul enam kali, yaitu di 2:95, 4:62, 28:47, 30:36, 42:48, dan 62:7, dan (قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ, qaddamat aydiikum) muncul dua kali, yaitu di 3:182 dan 8:51. Kata (ذَا الْأَيْدِ, dzaa l-aydi) di 38:17 yang berarti "yang mempunyai kekuatan" berbeda: catatan morfologi mencatatnya sebagai bentuk dari akar أ-ي-د, akar yang sama dengan (أَيْدٍ, aydin) yang berarti "kekuatan" di 51:47, tempat kata itu didahului huruf bi-, dan ejaannya tanpa huruf ya di ujung. Karena itu terjemahan memakai "kekuatan" di 38:17 dan 51:47, dan "tangan-tangan" di 38:45. Apa yang dikerjakan tangan-tangan itu dan apa yang dilihat penglihatan itu tidak diterangkan di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari tiga kisah yang dituturkan ke satu daftar. Daud, Sulaiman, dan Ayyub masing-masing mendapat beberapa ayat, sedangkan tiga nama di 38:45 disebut tanpa cerita dan hanya diberi satu sifat berpasangan. Sifat itu menjadi seluruh isi sebutannya.

Ayat sesudahnya memberi alasan dan tempat. Di 38:46 bunyinya (أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ, akhlashnaahum bi-khaalishatin dzikraa d-daari) yang berarti "Kami memurnikan mereka dengan suatu kemurnian: mengingat negeri akhirat". Di 38:47 bunyinya (وَإِنَّهُمْ عِنْدَنَا, wa-innahum 'indanaa) yang berarti "dan sesungguhnya mereka di sisi Kami", dengan kata 'indanaa yang sama dengan 38:40.

Akar ذ-ك-ر muncul enam kali dari 38:41 sampai 38:49, yaitu di 38:41, 38:43, 38:45, 38:46, 38:48, dan 38:49. Ayat ini adalah yang ketiga dalam deretan itu. Perintah di 38:41 disusul kata benda di 38:43, perintah di ayat ini disusul kata benda di 38:46, perintah di 38:48 disusul kata benda di 38:49 pada (هَٰذَا ذِكْرٌ, haadzaa dzikrun) yang berarti "ini adalah suatu peringatan". Pola bergantian antara perintah dan kata benda itu membuat daftar nama di 38:45 terbaca sebagai isi dari ingatan yang diperintahkan. Ayat 38:49 menutup deretan itu dengan pernyataan tempat kembali yang baik bagi orang bertakwa, yaitu rumusan yang juga menutup kisah Sulaiman di 38:40, sehingga daftar hamba ini berakhir pada kata yang sama dengan salah satu kisah di depannya.

Renungan dan Hikmah

  • Tiga nama disebut dalam satu ayat dengan satu rumusan yang sama dan tanpa pembeda di antara mereka. Allah tidak menyusun mereka menurut besarnya kisah masing-masing, dan tidak ada pembeda yang ditambahkan di antara nama-nama itu. Pembaca yang terbiasa meranking tokoh yang dikaguminya dapat memperhatikan bahwa ayat ini memberi satu rumusan yang sama bagi ketiganya. Tokoh mana dalam pikiran pembaca yang mendapat peringkat lebih tinggi karena kisahnya lebih panjang, dan sifat apa yang tertinggal dari penimbangan itu?
  • Dua sifat disebut berpasangan, yaitu tangan-tangan dan penglihatan. Di ayat lain tangan-tangan menjadi tempat perbuatan, seperti pada 2:95 dan 42:30, dan penglihatan dihubungkan dengan pelajaran, seperti pada 3:13 dan 24:44. Pembaca yang pandai bekerja tetapi jarang berhenti untuk melihat, atau yang banyak melihat tetapi lambat bergerak, dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyebut keduanya dalam satu rangkaian. Mana di antara dua sifat itu yang lebih sering ditinggalkan pembaca, dan bagaimana pembaca merasakan kekurangannya?
  • Allah menyebut ketiganya "hamba-hamba Kami" dan tidak memakai sebutan lain untuk membedakan nama-nama itu. Sebutan yang sama dipakai untuk Daud di 38:17 dan untuk Ayyub di 38:41, dan tidak ada nama yang diberi sebutan yang berbeda dari sebutan itu. Pembaca yang mengejar gelar dapat memperhatikan sebutan yang dipilih Allah di sini. Gelar apa yang paling ingin pembaca dengar dari Allah, dan apakah sebutan di ayat ini sudah termasuk di dalamnya?
  • Ayat ini memerintahkan mengingat tiga nama dan tidak menuturkan kejadian apa pun dalam hidup mereka. Penjelasan tentang apa yang diingat baru muncul di 38:46, yaitu mengingat negeri akhirat. Pembaca yang sudah hafal kisah para tokoh itu dapat memperhatikan bahwa perintah mengingat di sini tidak menambah cerita. Perintah itu bekerja dengan memanggil kembali yang sudah diketahui. Apa yang masih bisa ditambahkan oleh perintah mengingat pada orang yang sudah mengenal semua ceritanya?
  • Di 12:38 ketiga nama itu disebut oleh Yusuf sebagai leluhurnya, dan di 38:45 Allah menyebut mereka dengan sifat. Satu rangkaian nama dipakai untuk dua keperluan, yaitu menyatakan garis keturunan dan menyatakan mutu. Pembaca yang menyebut para pendahulunya dengan nama dapat memperhatikan bahwa Allah di sini memilih menyebut sifat mereka. Bagaimana pembaca menyebut orang-orang yang mendahuluinya, dengan nama dan gelar, atau dengan sifat yang dilihatnya?
  • Rangkaian yang dipakai untuk ketiganya, yang mempunyai penglihatan, di 3:13, 24:44, dan 59:2 dihubungkan dengan pelajaran. Dapat dibaca bahwa orang-orang yang diperintahkan untuk diingat di 38:45 digambarkan Allah dengan kata yang biasa dipakai untuk pengambil pelajaran. Pembaca yang hanya menjadikan para tokoh sebagai contoh dapat memperhatikan sisi lainnya, yaitu bahwa mereka dilukiskan sebagai pihak yang melihat. Apa yang dilihat pembaca dari hidupnya sendiri sebagai bahan pelajaran, dan siapa yang melihatnya bersama pembaca?