إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ

Sesungguhnya Kami memurnikan mereka dengan suatu kemurnian: mengingat negeri akhirat.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍinnaa akhlashnaahum bi-khaalishatinsesungguhnya Kami memurnikan mereka dengan suatu kemurnian
  2. ذِكْرَى الدَّارِdzikraa d-daarimengingat negeri akhirat

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. أَخْلَصْنَاهُمْakhlashnaahumKami menyucikan mereka
  3. بِخَالِصَةٍbi-khaalishatindengan sifat khusus
  4. ذِكْرَىdzikraaperingatan
  5. الدَّارِd-daarinegeri

Inti bacaan

Kata (ذِكْرَى, dzikraa) muncul 15 kali di Al-Qur'an (6:69, 6:90, 7:2, 11:114, 11:120, 21:84, 26:209, 29:51, 38:43, 38:46, 39:21, 40:54, 50:8, 50:37, 74:31), dan hanya di 38:46 ia langsung disusul nama tempat, (الدَّارِ, d-daari).

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ, innaa akhlashnaahum) yang berarti "sesungguhnya Kami memurnikan mereka". Bentuk ini terdiri dari innaa yang berarti "sesungguhnya Kami", kata kerja akhlash- yang berarti "memurnikan" dari akar خ-ل-ص, dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Akhiran -hum menunjuk tiga nama di 38:45, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub, yang di sana disebut "hamba-hamba Kami". Bentuk akhlashnaahum hanya muncul di 38:46. Kata kerja dari akar yang sama dengan pelaku manusia ada di 4:146, (وَأَخْلَصُوا, wa-akhlashuu) yang berarti "dan memurnikan", dan pelakunya orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, serta berpegang teguh kepada Allah. Di 38:46 arahnya berbalik, karena pemurninya Kami dan yang dimurnikan manusia. Bentuk "yang dimurnikan" ada di 37:40 dan 38:83, yaitu (الْمُخْلَصِينَ, l-mukhlashiina) yang berarti "yang dimurnikan". Terjemahan memakai "memurnikan" dan "dimurnikan" di ketiga ayat itu, yaitu 4:146, 37:40, dan 38:83.

Kata (بِخَالِصَةٍ, bi-khaalishatin) yang berarti "dengan suatu kemurnian" tersusun dari huruf bi- yang berarti "dengan" dan khaalishatin, bentuk perempuan tunggal dari akar yang sama dengan akhlash-. Dalam korpus morfologi kata ini ditandai sebagai bentuk pelaku dari kata kerja, sehingga artinya "yang murni", dan di ayat ini dipakai sebagai benda, yaitu sesuatu yang murni. Kata ini ada di lima ayat, yaitu 2:94, 6:139, 7:32, 33:50, dan 38:46. Di empat ayat yang lain terjemahan memakai "khusus" atau "kekhususan". Di 2:94, (خَالِصَةً, khaalishatan) disusul (مِنْ دُونِ النَّاسِ, min duuni n-naasi) yang berarti "bukan untuk manusia lain", dan di 33:50 kata itu disusul (مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ, min duuni l-mu'miniina) yang berarti "bukan untuk orang-orang mukmin lainnya". Kedua ayat itu menyebut pihak yang tidak termasuk. Di 38:46 tidak ada pihak yang dikecualikan sesudah kata itu, sedangkan di kalimat yang sama sudah ada kata kerja akhlashnaahum dari akar yang sama. Karena itu terjemahan memakai "kemurnian", supaya kata kerja dan kata bendanya terbaca serumpun seperti di Arabnya.

Kata (ذِكْرَى, dzikraa) yang berarti "peringatan" berakar ذ-ك-ر dan muncul 15 kali di 11 surah, yaitu 6:69, 6:90, 7:2, 11:114, 11:120, 21:84, 26:209, 29:51, 38:43, 38:46, 39:21, 40:54, 50:8, 50:37, dan 74:31. Di 12 ayat di antaranya kata itu langsung disusul huruf li- yang menyebut siapa yang diingatkan, misalnya (لِأُولِي الْأَلْبَابِ, li-ulii l-albaabi) di 38:43, 39:21, dan 40:54. Dua ayat lain, 6:69 dan 26:209, tidak menyebut penerima dengan li-. Di 38:46 kata itu disusul langsung oleh (الدَّارِ, d-daari) tanpa li-, sehingga kata sesudahnya menyebut isi ingatan, bukan penerima peringatan. Susunan (ذِكْرَى الدَّارِ, dzikraa d-daari) hanya ada di sini. Terjemahan menjadikannya kata kerja, "mengingat negeri akhirat". Kata benda "peringatan negeri akhirat" akan terbaca ganda, sebagai peringatan tentang negeri itu atau peringatan dari negeri itu, dan kata kerja "mengingat" menyingkirkan kemungkinan kedua.

Kata (الدَّارِ, d-daari) yang berarti "negeri" berakar د-و-ر, dan di ayat ini tidak diikuti kata "akhirat". Kata "akhirat" ditambahkan oleh terjemahan dan tidak ada di Arab 38:46. Dasarnya tiga rujukan dalam Al-Qur'an sendiri. Di 2:94, (الدَّارُ الْآخِرَةُ, d-daaru l-aakhiratu) yang berarti "negeri akhirat" ditulis bersama khaalishatan, sama dengan pasangan kata di 38:46. Di 13:22, (عُقْبَى الدَّارِ, 'uqbaa d-daari) yang berarti "tempat kesudahan" disebut bagi orang-orang yang bersabar, dan ayat berikutnya, 13:23, langsung menyebut (جَنَّاتُ عَدْنٍ, jannaatu 'adnin) yang berarti "taman-taman Adn". Di 38:49 sampai 38:50, tempat kembali yang baik dirinci sebagai (جَنَّاتِ عَدْنٍ, jannaati 'adnin), dan 38:46 berada di rangkaian yang sama. Ketiga rujukan itu membuat "negeri" di 38:46 terbaca sebagai tempat yang sama dengan yang dirinci di 38:50.

Antara bi-khaalishatin dan dzikraa tidak ada kata penghubung. Terjemahan memakai tanda titik dua untuk menjaga kedekatan itu, tanpa menambahkan "yaitu" yang tidak ada di Arabnya.

Tafsiran

Ayat ini memberi isi pada pujian di 38:45. Ayat 38:45 menyebut Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub sebagai hamba-hamba Kami yang mempunyai tangan-tangan dan penglihatan, lalu 38:46 menyatakan apa yang Kami kerjakan pada mereka, yaitu memurnikan, dan apa isi pemurnian itu, yaitu mengingat negeri. Pemurnian itu tidak diterangkan sebagai hasil kerja mereka, karena pelaku kata kerjanya Kami.

Pembicara Kami di rangkaian ini dapat dibaca sebagai Tuhan yang sama dengan yang diseru Ayyub. Di 38:41 Ayyub disebut hamba Kami dan menyeru Tuhannya, lalu 38:43 dan 38:44 yang menjawab seruan itu memakai Kami: "Kami anugerahkan kepadanya keluarganya" dan "Kami dapati ia seorang yang sabar". Pergantian pembicara tidak ditandai di antara ayat-ayat itu, sehingga Kami di 38:46 menyambung suara yang sama.

Letak ayat ini terlihat dari akar ذ-ك-ر. Di sembilan ayat dari 38:41 sampai 38:49 akar itu muncul enam kali: tiga perintah (وَاذْكُرْ, wa-dzkur) di 38:41, 38:45, dan 38:48, dua kali (ذِكْرَى, dzikraa) di 38:43 dan 38:46, dan sekali (ذِكْرٌ, dzikrun) di 38:49. Perintah mengingat ditujukan kepada penerima ayat. Di 38:46 giliran para hamba itu yang diberi ingatan, dan isinya adalah negeri itu. Dapat dibaca bahwa penerima ayat diminta mengingat orang-orang yang kemurniannya terletak pada ingatan mereka sendiri.

Ayat ini menjadi mata rantai tengah dalam urutan tiga ayat. Ayat 38:45 memuat sifat, 38:46 memuat pemurnian, dan 38:47 memuat kedudukan di sisi Kami. Tanpa 38:46, pujian atas sifat dan pujian atas kedudukan berdiri berdampingan tanpa sebab; dengan 38:46, kedudukan itu didahului sebuah perbuatan Kami. Ayat ini juga tidak menyatakan apakah kemurnian serupa diberikan kepada orang lain. Sebutan "yang dimurnikan" di 38:83 dipakai untuk kelompok tanpa nama, dan teks tidak menyebut apakah tiga nama di 38:46 termasuk di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja di ayat ini berpelaku Kami, dan yang dimurnikan adalah tiga hamba yang namanya baru disebut di 38:45. Di 4:146 kata kerja serumpun berpelaku manusia: orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, dan berpegang teguh kepada Allah memurnikan pertanggungjawaban mereka. Kedua ayat itu tidak menjelaskan pembagian bagian antara pelaku yang satu dan yang lain. Keduanya memberi pembaca yang menghitung kemurnian dirinya dua sisi untuk memandangnya: sebagai sesuatu yang dikerjakannya sendiri, sebagai sesuatu yang Allah kerjakan padanya, atau keduanya. Bagian mana dari kemurnian itu yang pernah diterimanya tanpa merasa memintanya?
  • Ayat ini menyebut satu isi bagi pemurnian itu, yaitu mengingat negeri, dan tidak menyebut daftar amal ataupun cara. Pembaca yang terbiasa menilai kemurnian dengan banyak ukuran, seperti kerapian ibadah atau kehalusan tutur, mendapati bahwa ayat ini memakai ukuran yang jauh lebih sedikit. Ayat lain berbicara panjang tentang amal, jadi ayat ini tidak menyatakan ukuran lain tidak berarti. Ayat ini mencatat isi kemurnian tiga hamba itu menurut sebutan Dia sendiri, tanpa tambahan lain. Ke arah mana perhatian pembaca paling sering pergi ketika tidak ada yang menanyainya?
  • Ayat 38:45 memuji tangan-tangan dan penglihatan, dan 38:46 sesudahnya berbicara tentang pemurnian oleh Kami. Teks tidak menyatakan bahwa tangan-tangan atau penglihatan itu yang memurnikan mereka, dan tidak pula menyatakan sebaliknya. Urutan ayat menaruh pujian atas kecakapan lebih dulu dan pemurnian sesudahnya, tanpa kata sebab di antaranya, dan hal itu patut dicatat oleh siapa pun yang memiliki kecakapan, entah tenaga, entah pandangan yang tajam. Apakah kecakapannya sendiri sudah dianggapnya cukup, atau masih ada yang ditunggunya dari Tuhan yang memurnikan?
  • Ayat 38:41 sampai 38:44 menuturkan seruan, perintah, dan jawaban dalam kisah Ayyub. Ayat 38:46 menyebut pemurnian tiga orang tanpa peristiwa apa pun: tidak ada tempat, tidak ada waktu, dan tidak ada ucapan yang dikutip. Allah menyatakan perbuatan-Nya di sini dengan satu kata kerja dan satu isi. Kemurnian yang disebut ayat ini tidak bergantung pada adanya kisah, dan hal itu berarti bagi pembaca yang hidupnya tidak punya cerita yang pantas dituturkan. Cerita apa yang sebenarnya dibutuhkannya agar merasa dirinya dimurnikan?
  • Kata khaalishah di ayat ini berbentuk tunggal dan tak tentu, "suatu kemurnian", padahal yang dimurnikan tiga orang dengan nama berbeda. Tiga kemurnian yang berbeda bagi tiga watak yang berbeda tidak ada di sini. Satu kata dipakai untuk ketiganya, padahal pembaca yang biasa membandingkan dirinya dengan orang lain cenderung memakai ukuran yang berlainan untuk tiap orang. Cara ketiganya mencapai kemurnian itu tidak dinyatakan sama ataupun berbeda. Dalam kemurnian yang disebut Allah di sini, apa yang sama di antara tiga orang yang berbeda itu?
  • Ayat ini berbicara dengan kata mereka, dan kata engkau tidak ada. Allah berbicara tentang tiga hamba kepada pembaca, dan pembaca berada di posisi pendengar. Pendengar pujian tentang orang lain dapat mengamati reaksinya sendiri: mengagumi dari jauh, merasa tersisih, atau mengukur diri. Ayat 38:49 kemudian membuka kalimat yang lebih luas tentang orang-orang yang bertakwa, tetapi 38:46 sendiri belum memuat kata untuk pembaca. Sesudah mendengar apa yang Tuhan nyatakan tentang tiga orang itu, apa yang dilakukannya dengan perasaan yang muncul?