إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ

Sesungguhnya ini benar-benar rezeki dari Kami yang tidak akan habis.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. إِنَّ هَٰذَا لَرِزْقُنَاinna haadzaa la-rizqunaasesungguhnya ini benar-benar rezeki dari Kami
  2. مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍmaa lahu min nafaadinyang tidak akan habis

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. هَٰذَاhaadzaaini
  3. لَرِزْقُنَاla-rizqunaasungguh rezeki Kami
  4. مَاmaatidaklah
  5. لَهُlahubaginya
  6. مِنْmindari
  7. نَفَادٍnafaadinhabis

Inti bacaan

Kata (نَفَادٍ, nafaadin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:54, sedangkan akarnya ن-ف-د muncul lima kali di empat surah, yaitu 16:96, 18:109 dua kali, 31:27, dan 38:54.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya" dan (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini". Tidak ada kata benda yang mengikuti haadzaa, sehingga penunjuknya dapat dibaca mengarah ke gambaran yang baru dipaparkan sejak 38:49. Kata (لَرِزْقُنَا, la-rizqunaa) yang berarti "benar-benar rezeki dari Kami" tersusun dari tiga bagian: (لَ, la), penegas yang diterjemahkan "benar-benar", kata rizq yang berarti "rezeki" dan berakar ر-ز-ق, dan akhiran (نَا, -naa) yang berarti "Kami". Penegas la dipakai juga pada la-husna di 38:49 dan la-syarra di 38:55, dan terjemahan memakai "benar-benar" di ketiganya.

Bentuk rizqunaa muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:54. Rezeki dengan pemilik lain tertulis (رِزْقُكُمْ, rizqukum) yang berarti "rezeki kalian" di 51:22 dan (رِزْقُهُمْ, rizquhum) yang berarti "rezeki mereka" di 19:62. Di 20:132 pemberinya disebut lewat kata kerja, (نَحْنُ نَرْزُقُكَ, nahnu narzuquka) yang berarti "Kamilah yang memberi rezeki kepadamu". Terjemahan 38:54 memakai "rezeki dari Kami" dengan akhiran -naa dibaca sebagai pemilik sekaligus sumber, selaras dengan 20:132. Dalam surah 38, akar ر-ز-ق hanya ada di ayat ini.

Bagian kedua ayat adalah (مَا لَهُ مِنْ نَفَادٍ, maa lahu min nafaadin) yang berarti "yang tidak akan habis". Kata (مَا, maa) menandai penolakan, (لَهُ, lahu) berarti "baginya", dan (نَفَادٍ, nafaadin) berarti "kehabisan". Kata nafaad muncul satu kali, yaitu di 38:54. Akarnya ن-ف-د muncul lima kali di empat surah, yaitu (يَنْفَدُ, yanfadu) di 16:96, (لَنَفِدَ, la-nafida) dan (تَنْفَدَ, tanfada) di 18:109, (نَفِدَتْ, nafidat) di 31:27, dan nafaadin di 38:54. Di 18:109 dan 31:27 terjemahan memakai "habis", sedangkan 16:96 memakai "lenyap" untuk yanfadu, dan 38:54 mengikuti "habis". Kerangka (مَا لَهُ مِنْ, maa lahu min) muncul dua belas kali di sembilan surah, yaitu 13:33, 22:18, 24:40, 38:54, 39:23, 39:36, 39:37, 40:33, 42:44, 42:46, 52:8, dan 86:10. Di ayat-ayat lain, yang ditolak keberadaannya antara lain pemberi petunjuk di 39:36, (مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ, maa lahu min daafi'in) yang berarti "tidak ada yang menolaknya" di 52:8, dan kekuatan di 86:10. Di 38:54 kerangka itu menolak kehabisan.

Di antara ayat-ayat lain, rezeki disebut sebagai bagian dari balasan di taman, dan tiap ayat menambahkan sifat yang berbeda. Di 2:25 rezeki itu serupa dengan yang pernah diberikan, di 19:62 datang (بُكْرَةً وَعَشِيًّا, bukratan wa-'asyiyyan) yang berarti "pada pagi dan petang", di 37:41 berupa (رِزْقٌ مَعْلُومٌ, rizqun ma'luumun) yang berarti "rezeki yang sudah ditentukan", dan di 40:40 diberikan (بِغَيْرِ حِسَابٍ, bi-ghayri hisaabin) yang berarti "tanpa perhitungan". Sifat di 38:54 berbeda dari keempatnya, yaitu tidak habis. Terjemahan "yang tidak akan habis" memakai kata "akan" karena kalimat Arabnya tidak memuat kata kerja dan dibaca sebagai pernyataan yang berlaku ke depan, dan terjemahan tidak menambahkan "selama-lamanya".

Tafsiran

Ayat 38:54 menutup sisi pertama dari dua sisi yang dipaparkan sejak 38:49. Sisi itu dibuka dengan wa-inna li-l-muttaqiina di 38:49, dan sisi kedua dibuka dengan wa-inna li-th-thaaghiina di 38:55. Di antara keduanya, 38:49 sampai 38:53 menyebut tempat kembali, taman, sikap duduk, makanan, pendamping, dan janji, lalu 38:54 menyebut rezeki dengan satu sifat saja, tidak habis. Ayat ini menjadi kalimat terakhir yang didengar tentang orang bertakwa sebelum pembicaraan berpindah ke orang yang melampaui batas.

Suara ayat berubah di sini. Ayat 38:46 memuat (إِنَّا أَخْلَصْنَاهُمْ, innaa akhlashnaahum) yang berarti "sesungguhnya Kami memurnikan mereka", dan 38:47 memuat (عِنْدَنَا, 'indanaa) yang berarti "di sisi Kami". Ayat 38:48 sampai 38:53 tidak memuat kata ganti Kami sama sekali. Ayat 38:54 memuatnya lagi lewat la-rizqunaa. Enam ayat berturut-turut, 38:48 sampai 38:53, berbicara dengan perintah, kata mereka, kata kalian, dan bentuk pasif, lalu ayat ini menaruh pemilik pada rezeki yang dipaparkan. Janji di 38:53 tidak menyebut siapa yang menjanjikan, dan dapat dibaca bahwa 38:54 memberi pemilik pada isi janji itu. Ayat ini sendiri tidak menyatakan hubungan itu sebagai jawaban.

Kata haadzaa juga bergeser fungsinya. Di 38:53 kata itu menunjuk sesuatu yang dijanjikan, dan di 38:54 menunjuk sesuatu yang dimiliki dan diberikan. Pertanyaan pembaca ikut bergeser: dari apa yang akan terjadi, ke seberapa lama apa yang terjadi itu bertahan. Ayat ini menjawab bagian kedua dengan satu kalimat negatif dan tidak menjelaskan bentuk rezeki itu atau jumlahnya. Dalam rangkaian 38:49 sampai 38:54, satu sifat itu menggantikan rincian yang sudah dipaparkan di ayat-ayat sebelumnya, sehingga rangkaian ditutup oleh ukuran waktu.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 16:96 berkata bahwa apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang di sisi Allah kekal. Ayat 38:54 memakai kata lain, tidak habis, untuk rezeki yang disebut milik Kami, dan tidak membandingkannya dengan sesuatu yang lenyap. Konteks dua ayat itu berbeda: 16:96 menyebut pahala bagi orang yang bersabar, sedangkan 38:54 menutup gambaran taman. Keduanya sama-sama menaruh sifat bertahan pada pemberian yang berasal dari sisi Allah. Pembaca dapat mencatat apa saja dari miliknya hari ini yang suatu ketika habis, lalu menimbang bagaimana kebiasaan menyimpan dan menghitung berubah bila yang dipegang adalah pemberian yang tidak habis. Adakah kebiasaan menimbun yang berhenti masuk akal di hadapan rezeki seperti itu?
  • Ayat 18:109 mengukur kalimat Tuhanku dengan lautan yang menjadi tinta, dan lautan itu habis lebih dulu. Ayat 31:27 mengukur kalimat Allah dengan pohon-pohon yang menjadi pena dan tujuh laut tambahan, dan kalimat itu tetap tidak habis. Dua ayat ini memberi skala untuk membayangkan sesuatu yang tak habis. Ayat 38:54 memakai akar yang sama tetapi tidak memberi skala apa pun, sehingga pembaca menimbang rezeki yang tak habis itu dengan ukurannya sendiri. Dua ayat tadi menyangkut kalimat dan 38:54 menyangkut rezeki, jadi ketiganya tidak disamakan. Dengan ukuran apa pembaca menimbang cukup hari ini, dan apa jadinya ukuran itu di hadapan sesuatu yang tak habis?
  • Ayat 20:131 melarang menujukan pandangan kepada kenikmatan dunia yang Kami berikan kepada beberapa golongan, lalu menutup dengan bahwa rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal. Ayat itu menyapa satu orang dengan kata engkau, sedangkan 38:54 tidak menyapa siapa pun dan menyatakan sifat rezekinya. Konteks dua ayat itu berbeda, dan keduanya menyebut kekalnya rezeki dengan dua kata berlainan, tidak habis dan lebih kekal. Pembaca yang menimbang rezeki Tuhannya dapat bertanya mana yang lebih sering dipandangi, kenikmatan yang ada di tangan orang lain atau sifat bertahan yang disebut kedua ayat itu?
  • Kerangka maa lahu min dipakai di 52:8 untuk menutup kemungkinan adanya yang menolak, di 86:10 untuk menutup kemungkinan adanya kekuatan dan penolong, dan di 39:36 untuk menutup kemungkinan adanya pemberi petunjuk. Di tiga tempat itu pintu yang tertutup membawa kabar buruk bagi yang dibicarakan. Di 38:54 kerangka yang sama menutup pintu yang lain, yaitu kemungkinan habis, dan kabarnya baik. Satu bentuk kalimat dapat menyampaikan dua kabar berlawanan hanya karena kata yang ditutupnya berbeda. Pembaca yang pernah mendengar kalimat berbentuk sama dari dua orang dengan maksud berlawanan dapat bertanya, kata mana yang sebenarnya menentukan arah kalimat itu?
  • Di 2:25 orang-orang yang diberi rezeki buah-buahan di taman menyebut buah itu sebagai yang dahulu diberikan kepada mereka, dan mereka diberi yang serupa dengannya. Ayat 38:54 memakai kata ini lagi, tetapi dari sisi pemberinya: ini rezeki Kami. Sisi penerima di 2:25 dan sisi pemilik di 38:54 menunjuk rezeki dengan kata yang sama. Dua ayat itu berasal dari konteks berbeda, tetapi keduanya memperlihatkan bahwa rezeki dikenali dengan menunjuknya. Apakah pembaca pernah mengenali pemberian yang diterimanya dengan cara menunjuk, sebelum sempat bertanya dari siapa pemberian itu datang?
  • Ayat 38:39 menyebut ini anugerah Kami lalu memerintahkan memberi atau menahan tanpa perhitungan. Ayat 38:54 menyebut ini rezeki Kami dan menolak kehabisan padanya. Dua ayat itu berada di surah yang sama, tetapi 38:39 bukan bagian dari gambaran taman, sehingga keduanya tidak dicampur. Pemberian dalam dua ayat itu sama-sama disebut milik Kami, dan sama-sama dibicarakan tanpa ukuran yang menghitung: satu menolak perhitungan, satu menolak kehabisan. Pembaca dapat bertanya, bagian mana dari kebiasaan menghitung yang tumbuh karena takut habis, dan bagian mana yang tumbuh karena memang diperlukan?