هَٰذَا ۚ وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍ

Ini. Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar ada tempat kembali yang buruk,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. هَٰذَاhaadzaaini
  2. وَإِنَّ لِلطَّاغِينَ لَشَرَّ مَآبٍwa-inna li-th-thaaghiina la-syarra ma'aabindan sesungguhnya bagi orang-orang yang melampaui batas benar-benar ada tempat kembali yang buruk

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. هَٰذَاhaadzaaini
  2. وَإِنَّwa-innadan sungguh
  3. لِلطَّاغِينَli-th-thaaghiinabagi orang-orang yang melampaui batas
  4. لَشَرَّla-syarrasungguh seburuk-buruk
  5. مَآبٍma'aabintempat kembali

Inti bacaan

Bentuk pelaku jamak dari akar ط-غ-ي, (طَاغِينَ, thaaghiina) dan padanannya, muncul enam kali di enam surah, yaitu 37:30, 38:55, 51:53, 52:32, 68:31, dan 78:22.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini", dan kata itu berdiri tanpa kata benda sesudahnya. Di ayat-ayat sekitarnya haadzaa disusul sesuatu: (ذِكْرٌ, dzikrun) di 38:49, (مَا تُوعَدُونَ, maa tuu'aduuna) di 38:53, dan (فَلْيَذُوقُوهُ, fa-l-yadzuuquuhu) di 38:57. Di 38:55 sesudah haadzaa langsung ada tanda jeda baca, dan rangkaian haadzaa yang disusul (وَإِنَّ, wa-inna) yang berarti "dan sesungguhnya" hanya ada di ayat ini. Terjemahan menuliskan haadzaa sebagai kalimat tersendiri, supaya jeda itu terbaca.

Kata (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiina) yang berarti "bagi orang-orang yang melampaui batas" berakar ط-غ-ي dan merupakan bentuk pelaku jamak. Bentuk pelaku jamak dari akar ini muncul enam kali di enam surah, yaitu 37:30, 38:55, 51:53, 52:32, 68:31, dan 78:22. Terjemahan memakai "melampaui batas" di keenamnya. Pemakai kata itu berbeda-beda. Di 68:31, (إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ, innaa kunnaa thaaghiina) yang berarti "sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas" diucapkan para pelakunya tentang diri mereka sendiri. Di 37:30, (بَلْ كُنْتُمْ قَوْمًا طَاغِينَ, bal kuntum qawman thaaghiina) yang berarti "bahkan, kalianlah kaum yang melampaui batas" diucapkan kepada pihak lain. Di 78:22, (لِلطَّاغِينَ مَآبًا, li-th-thaaghiina ma'aaban) yang berarti "bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali" memakai susunan yang sama dengan ayat ini, tanpa kata penegas.

Kata (لَشَرَّ, la-syarra) tersusun dari (لَ, la), penegas yang diterjemahkan "benar-benar", dan syarr yang berarti "buruk". Bentuk persis la-syarra hanya muncul di 38:55. Susunannya sejajar dengan (لَحُسْنَ, la-husna) di 38:49, sehingga terjemahan memakai "yang baik" di 38:49 dan "yang buruk" di 38:55 untuk menjaga keseimbangan itu. Bentuk persis (مَآبٍ, ma'aabin) ada lima kali di dua surah, yaitu 13:29 dan empat ayat di surah 38: 38:25, 38:40, 38:49, dan 38:55. Di 38:25 dan 38:40 kata itu didahului (لَزُلْفَىٰ وَحُسْنَ, la-zulfaa wa-husna) yang berarti "benar-benar kedudukan yang dekat dan kebaikan", di 38:49 oleh la-husna, dan di 38:55 oleh la-syarra.

Kata (مَآبٍ, ma'aabin) yang berarti "tempat kembali" berakar أ-و-ب dan muncul sembilan kali di empat surah, yaitu 3:14, 13:29, 13:36, 38:25, 38:40, 38:49, 38:55, 78:22, dan 78:39. Terjemahan memakai "tempat kembali" di delapan ayat, sedangkan 78:39 memakai "jalan kembali". Akar yang sama dipakai untuk (أَوَّابٌ, awwaabun) yang berarti "selalu kembali" di 17:25, 38:17, 38:19, 38:30, 38:44, dan 50:32. Delapan di antara lima belas kemunculan itu ada di surah 38 ini: awwaab di 38:17, 38:19, 38:30, 38:44, dan ma'aab di 38:25, 38:40, 38:49, 38:55. Kata ma'aab menyebut tempat yang dituju, sedangkan awwaab menyebut orang yang berulang kali kembali, dan ayat ini memakai yang pertama.

Tafsiran

Ayat 38:55 membalik arah gambaran. Ayat 38:49 sampai 38:54 membicarakan orang-orang bertakwa, dan 38:55 memakai kerangka kalimat yang sama untuk orang-orang yang melampaui batas: haadzaa, tanda jeda, wa-inna li-pihak la-sifat ma'aabin. Di 38:49 pihaknya adalah l-muttaqiina dan sifatnya husna, sedangkan di 38:55 pihaknya th-thaaghiina dan sifatnya syarra. Dua ayat itu menjadi pembuka dua bagian dengan susunan kembar, sehingga pembaca yang baru selesai membaca enam ayat tentang taman langsung dihadapkan pada kalimat yang bentuknya dikenal tetapi isinya berlawanan.

Ayat ini menutup sesuatu yang dibuka sejak 38:17. Delapan kata dari akar أ-و-ب di surah 38 menyusun dua pola. Empat kata awwaab, yaitu 38:17, 38:19, 38:30, dan 38:44, menyebut mereka yang selalu kembali. Empat kata ma'aab menyebut tujuan kembali: di 38:25 dan 38:40 tempat kembali yang baik di sisi Kami, di 38:49 tempat kembali yang baik bagi orang bertakwa, dan di 38:55 tempat kembali yang buruk. Dari empat kata ma'aab itu, hanya 38:55 yang diberi sifat buruk. Tujuan kembali disebut berulang dalam surah ini, dan ayat ini menaruh satu di antaranya di sisi yang berlawanan.

Ayat 38:55 tidak menyebut apa isi tempat kembali yang buruk itu. Ayat 38:56 menjawabnya dengan satu kata, Jahanam, yang diletakkan tepat sesudah ayat ini sehingga terbaca sebagai isi dari tempat kembali tadi. Kata haadzaa yang berdiri sendiri di awal ayat berfungsi sebagai jeda antara dua bagian: bagian pertama selesai, dan bagian kedua belum dimulai.

Renungan dan Hikmah

  • Di 13:36 pembicara berkata bahwa ia diperintah menyembah Allah, menyeru kepada-Nya, dan menaruh tempat kembalinya pada-Nya. Kata ma'aab di ayat itu dipakai untuk satu orang yang menaruh tujuan akhirnya pada Allah, sedangkan di 38:49 dan 38:55 kata yang sama dipakai untuk dua kelompok. Ketiga ayat itu menaruh kata tempat kembali pada pihak yang berbeda: seorang pembicara, orang-orang bertakwa, dan orang-orang yang melampaui batas. Tidak satu pun dari mereka digambarkan tanpa tujuan kembali. Pembaca yang memikirkan tempat kembalinya dapat bertanya, ke mana arah kembali yang sedang dilatihnya setiap hari, dan apakah arah itu pernah dibandingkan dengan arah yang disebut di tiga ayat ini?
  • Surah 38 memakai akar kembali sebanyak delapan kali dalam dua bentuk. Daud disebut selalu kembali di 38:17, kata yang sama dipakai untuk burung-burung di 38:19, lalu untuk dua hamba lain di 38:30 dan 38:44 sesudah sebutan sebaik-baik hamba. Empat ayat itu berbicara tentang kebiasaan kembali. Empat kata ma'aab berbicara tentang tujuan kembali. Ayat 38:55 menaruh tujuan yang buruk di dalam surah yang di empat tempat lain menyebut kebiasaan kembali. Dua bentuk itu tidak dicampur, karena satu menyebut pelaku dan yang lain menyebut tempat. Bila kebiasaan kembali dan tujuan kembali disebut dalam satu surah, mana yang lebih dulu dilatih dalam diri pembaca, kebiasaannya atau pandangannya tentang tujuan?
  • Di 68:31 para pelaku mengucapkan, "Celaka kita! Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas," lalu 68:32 melanjutkan ucapan yang sama dengan harapan agar Tuhan mereka menggantinya dengan yang lebih baik, karena mereka mengharap kepada Tuhan mereka. Di 37:30 kata yang sama diucapkan kepada pihak lain, "bahkan, kalianlah kaum yang melampaui batas." Dalam dua ayat itu kata tersebut berpindah tangan: dipakai tentang diri sendiri dan tentang orang lain. Di 38:55 kata itu dipakai tanpa pembicara, sebagai nama kelompok. Pembaca dapat menimbang kapan kata itu diucapkannya tentang orang lain, dan kapan tentang dirinya sendiri. Apa yang berubah pada kata itu sesudah diucapkan tentang diri sendiri?
  • Ayat 38:49 dan 38:55 memakai kerangka yang sama sampai ke penegas la- dan kata ma'aab, dan yang berbeda hanya pihak dan sifatnya. Pembaca yang menerima kalimat pertama dengan lapang dapat memeriksa apakah kalimat kedua, yang bentuknya persis sama, diterima dengan kelapangan yang sama. Kedua kalimat memakai penegas yang sama, sehingga tidak ada yang lebih ringan secara tata bahasa. Bila penegasan pada kabar baik terasa mudah dan penegasan pada kabar buruk terasa berat, perbedaan itu tumbuh di dalam pembaca, tidak di dalam kalimat. Apa yang membuat dua kalimat berbentuk sama terasa berbeda bobotnya?
  • Kata haadzaa di awal 38:55 berdiri sendiri sebelum tanda jeda, dan tidak ada kata benda yang menjelaskan apa yang ditunjuk. Pembaca yang membaca keras dapat berhenti di situ, lalu mulai lagi dengan wa-inna. Jeda itu jatuh di antara dua bagian yang berlawanan, sehingga pembaca berhenti di antara taman dan Jahanam. Ayat ini tidak menyuruh memilih dan hanya menyediakan jeda itu. Ketika sebuah bacaan memberi ruang antara dua keadaan, apa yang terlintas di ruang itu, dan ke arah mana kecenderungan pertama pembaca bergerak?
  • Ayat 38:55 menyebut tempat kembali yang buruk dengan huruf li, "bagi orang-orang yang melampaui batas", dan tidak menyebut siapa yang menyediakannya. Ayat 96:6 dan 96:7 menyebut manusia benar-benar melampaui batas ketika melihat dirinya serba cukup, lalu 96:8 menutup dengan bahwa kepada Tuhanmulah tempat kembali. Ayat 96:8 memakai akar kata yang berbeda untuk kembali, sehingga tidak disamakan dengan ma'aab, tetapi urutannya terbaca: saat melampaui batas disebut lebih dulu, lalu tujuan kembali. Seberapa sering perasaan serba cukup terasa seperti tanda aman, padahal ayat 96:6 menyebutnya sebagai saat manusia melampaui batas?