قَالُوا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِ
Mereka berkata, “Tuhan kami, siapa yang mendatangkan ini bagi kami, tambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam api.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالُوا رَبَّنَا مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَٰذَاqaaluu rabbanaa man qaddama lanaa haadzaamereka berkata, Tuhan kami, siapa yang mendatangkan ini bagi kami
- فَزِدْهُ عَذَابًا ضِعْفًا فِي النَّارِfa-zid-hu 'adzaaban dhi'fan fii n-naaritambahkanlah kepadanya azab yang berlipat ganda di dalam api
Terjemahan per kata (11 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- مَنْmanorang yang
- قَدَّمَqaddamamendahulukan
- لَنَاlanaabagi kami
- هَٰذَاhaadzaaini
- فَزِدْهُfa-zid-humaka tambahkanlah baginya
- عَذَابًا'adzaabanazab
- ضِعْفًاdhi'fankelemahan
- فِيfiidi dalam
- النَّارِn-naariapi
Inti bacaan
Susunan (عَذَابًا ضِعْفًا, 'adzaaban dhi'fan) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:38 dan 38:61.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالُوا رَبَّنَا, qaaluu rabbanaa) yang berarti "mereka berkata, Tuhan kami". Kata (رَبَّنَا, rabbanaa) tersusun dari rabb yang berarti "Tuhan" dan akhiran -naa yang berarti "kami". Susunan qaaluu rabbanaa ada juga di 23:106 dan 40:11, tempat yang berseru adalah penghuni api: di 23:107 mereka meminta (أَخْرِجْنَا, akhrijnaa) yang berarti "keluarkanlah kami", dan di 40:11 mereka bertanya (فَهَلْ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ, fa-hal ilaa khuruujin min sabiilin) yang berarti "maka, adakah jalan untuk keluar". Di 38:61 seruan yang sama dipakai untuk permintaan yang lain, dan terjemahan "Tuhan kami" sama dengan terjemahan kedua ayat itu.
Bagian (مَنْ قَدَّمَ لَنَا هَٰذَا, man qaddama lanaa haadzaa) yang berarti "siapa yang mendatangkan ini bagi kami" memakai kata kerja qaddama dalam bentuk satu pelaku. Di 38:60, (قَدَّمْتُمُوهُ, qaddamtumuuhu) menunjuk banyak pelaku lewat akhiran -tum yang berarti "kalian", sedangkan di sini pelakunya hanya dinyatakan dengan man yang berarti "siapa yang", dan tidak dinamai. Benda yang di 38:60 ditunjuk oleh -hu di sini dinyatakan oleh (هَٰذَا, haadzaa) yang berarti "ini", juga tanpa nama. Padanan "mendatangkan" mengikuti alasan di 38:60: penerimanya adalah lanaa yang berarti "bagi kami", pihak yang berbeda dari pelaku, sehingga yang ditaruh di muka sampai kepada mereka.
Kata (فَزِدْهُ, fa-zid-hu) tersusun dari fa yang berarti "maka", zid yang berarti "tambahkanlah", dan akhiran -hu yang berarti "-nya" yang menunjuk man. Bentuk fa-zid-hu hanya muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 38:61. Perintah dengan kata kerja yang sama kepada Tuhan ada di 20:114, (رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا, rabbi zidnii 'ilman) yang berarti "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku". Kata kerja itu dipakai untuk dua permintaan yang arahnya berlawanan, ilmu bagi diri sendiri di 20:114 dan azab bagi orang lain di 38:61. Permintaan serupa di 7:38 dan 33:68 memakai kata kerja lain, (فَآتِهِمْ, fa-aatihim) yang berarti "maka datangkanlah kepada mereka" dan (آتِهِمْ ضِعْفَيْنِ, aatihim dhi'fayni) yang berarti "timpakanlah kepada mereka dua kali lipat".
Susunan (عَذَابًا ضِعْفًا, 'adzaaban dhi'fan) yang berarti "azab yang berlipat ganda" muncul dua kali, yaitu di 7:38 dan 38:61. Kata dhi'f yang berkasrah berarti "lipatan", dan ada juga di 2:265, 17:75, 33:30, 33:68, dan 34:37. Bentuk ganda (ضِعْفَيْنِ, dhi'fayni) di 2:265, 33:30, dan 33:68 diterjemahkan "dua kali lipat", sedangkan (جَزَاءُ الضِّعْفِ, jazaa'u dh-dhi'fi) di 34:37 diterjemahkan "balasan yang berlipat ganda". Di 38:61 tidak ada penanda ganda dan tidak ada kata bilangan, sehingga terjemahan memakai "berlipat ganda" dan tidak menyebut angka. Kata dengan huruf yang sama tetapi berfathah, (ضَعْفًا, dha'fan) di 8:66, diterjemahkan "kelemahan". Kata itu berbeda dari dhi'fan di 38:61, dan "lemah" tidak dipakai di sini.
Kata (فِي النَّارِ, fii n-naari) yang berarti "di dalam api" memakai fii, sedangkan susunan yang sama di 7:38, (عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ, 'adzaaban dhi'fan mina n-naari), memakai min dan diterjemahkan "azab berlipat ganda dari api". Terjemahan menjaga perbedaan itu: "di dalam api" untuk fii dan "dari api" untuk min.
Tafsiran
Ayat ini mengubah arah ucapan. Di 38:59 dan 38:60 kata-kata berjalan dari satu pihak kepada pihak lain, dan di 38:61 kata-kata ditujukan kepada Tuhan lewat seruan rabbanaa. Isinya dua bagian: sebuah pernyataan tentang siapa yang mendatangkan keadaan ini, lalu permintaan agar azabnya ditambah. Tuduhan yang di 38:60 diarahkan kepada kelompok "kalian" menyempit di sini menjadi satu pelaku, dan teks tidak menamainya.
Permintaan serupa tercatat di 7:38 dan 33:67 sampai 33:68, dan perbandingannya memperlihatkan apa yang tidak ada di 38:61. Di 7:38 permintaan datang bersama alasan, (رَبَّنَا هَٰؤُلَاءِ أَضَلُّونَا, rabbanaa haa'ulaa'i adhalluunaa) yang berarti "Tuhan kami, mereka ini telah menyesatkan kami", dan disusul jawaban (قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَٰكِنْ لَا تَعْلَمُونَ, qaala li-kullin dhi'fun wa-laakin laa ta'lamuuna) yang berarti "Dia berfirman, bagi masing-masing ada lipatan, tetapi kalian tidak mengetahui". Di 33:67 alasannya adalah menaati para pemimpin dan pembesar, (سَادَتَنَا وَكُبَرَاءَنَا, saadatanaa wa-kubaraa'anaa). Ayat 38:61 menyebut alasan yang lebih sempit, yaitu "siapa yang mendatangkan ini bagi kami", tanpa kata menyesatkan dan tanpa nama pihak, dan ayat ini tidak memuat jawaban.
Permintaan di 23:107, 40:11, dan 40:49 mengarah ke diri sendiri: keluar, jalan keluar, dan keringanan sehari. Ayat 38:61 sejalan dengan 7:38 dan 33:68 dalam meminta tambahan bagi orang lain, dan tidak meminta apa pun bagi yang berseru. Di surah yang sama, 38:16 memuat seruan yang sama dengan arah yang lain, (رَبَّنَا عَجِّلْ لَنَا قِطَّنَا, rabbanaa 'ajjil lanaa qiththanaa) yang berarti "Tuhan kami, segerakanlah untuk kami bagian kami", dan permintaan itu menyangkut bagian milik yang berseru.
Sesudah 38:61, percakapan antara dua pihak itu tidak berlanjut. Ayat 38:62 membuka ucapan baru dengan pertanyaan tentang orang-orang yang tidak terlihat, dan ayat 38:64 menamai seluruhnya pertengkaran penghuni api.
Renungan dan Hikmah
- Penghuni api di 23:107 meminta dikeluarkan, di 40:11 bertanya adakah jalan keluar, dan di 40:49 meminta keringanan sehari. Di 38:61 permintaan mengarah ke orang lain, dan tidak ada kalimat yang meminta sesuatu bagi yang berseru. Seruan kepada Tuhan, yang bisa dipakai untuk apa saja, di sini dipakai untuk menambah beban orang lain. Pembaca dapat memperhatikan isi permintaan yang paling sering diajukannya dalam doanya sendiri, dan berapa banyak di antaranya menyangkut orang lain. Bila permintaan-permintaan itu dituliskan berurutan, apa yang terbaca dari isinya?
- Surah ini memuat seruan rabbanaa di dua tempat yang berjauhan. Di 38:16 seruan itu meminta agar bagian milik si penyeru disegerakan sebelum hari perhitungan, dan di 38:61 seruan itu meminta tambahan azab bagi orang lain. Teks tidak menyebut bahwa penyeru di kedua tempat itu pihak yang sama, jadi keduanya tidak disambung. Isi permintaannya dapat dicatat: permintaan pertama menyangkut bagian sendiri sebelum hari itu datang, dan permintaan kedua menyangkut bagian orang lain sesudahnya. Apa yang diminta pembaca dari Tuhan sebelum sebuah keadaan terjadi, dan apa yang akan diminta bila keadaan itu sudah terjadi?
- Permintaan di 38:61 diarahkan kepada "siapa yang mendatangkan ini", dan ayat tidak menamai orangnya. Permintaan itu menempel pada peran, yaitu pelaku sebuah perbuatan, dan tidak pada nama tertentu. Ruang untuk mengisi nama pelaku dibiarkan kosong oleh ayat. Pembaca dapat memeriksa nama siapa yang spontan muncul ketika menyebut "yang membuat keadaan ini terjadi". Bila nama itu ditanya alasannya, bukti apa yang dapat ditunjuk?
- Permintaan serupa di 7:38 mendapat jawaban yang tercatat: Dia berfirman bahwa bagi masing-masing ada lipatan, tetapi mereka tidak mengetahui. Ayat 38:61 tidak mencatat jawaban apa pun, jadi jawaban di 7:38 tidak dipindahkan ke sini. Kalimat di 7:38 memperlihatkan bahwa permintaan menambah beban orang lain dijawab dengan keterangan bahwa lipatan ada bagi masing-masing, dan bahwa pihak yang meminta tidak mengetahui hal itu. Apa yang tersisa dari sebuah permintaan atas orang lain bila pihak yang meminta ternyata belum mengetahui seluruh keadaan?
- Kata dhi'f, lipatan, dipakai di 38:61 untuk azab dan di 34:37 untuk balasan orang yang beriman dan beramal saleh: "balasan yang berlipat ganda atas apa yang mereka kerjakan". Kata itu sendiri tidak membawa nilai baik atau buruk, karena isi lipatannya ditentukan oleh apa yang dilipatkan. Ayat 34:37 menambahkan bahwa lipatan itu atas apa yang mereka kerjakan, sehingga ukuran lipatan terikat pada perbuatan. Pembaca dapat memikirkan perbuatan apa dalam hidupnya yang, bila dilipatkan, akan menjadi beban atau balasan. Perbuatan mana yang sudah diperiksanya dari sudut itu?
- Ayat 33:68 meminta dua kali lipat, dan 38:61 meminta lipatan tanpa menyebut angka. Permintaan tanpa bilangan tidak punya titik berhenti, sebab tidak ada ukuran yang bisa dipenuhi lalu dianggap cukup. Di 7:38 jawabannya menyebut bahwa bagi masing-masing sudah ada lipatan, sehingga ukuran tidak ditetapkan oleh yang meminta. Pembaca dapat mengamati tuntutannya sendiri terhadap orang yang dianggap bersalah: apakah ada angka yang dipegangnya, atau tuntutan itu akan terus bertambah selama orangnya tidak kunjung berubah? Seberapa banyak yang cukup?