أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ
Apakah dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan, ataukah penglihatan menyimpang dari mereka?”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّاa-ttakhadznaahum sikhriyyanapakah dahulu kami menjadikan mereka olok-olokan
- أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُam zaaghat 'anhumu l-abshaaruataukah penglihatan menyimpang dari mereka
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَتَّخَذْنَاهُمْa-ttakhadznaahumapakah kami menjadikan mereka
- سِخْرِيًّاsikhriyyanolok-olokan
- أَمْamataukah
- زَاغَتْzaaghatmenyimpang
- عَنْهُمُ'anhumudari mereka
- الْأَبْصَارُl-abshaarupenglihatan
Inti bacaan
Kata (سِخْرِيًّا, sikhriyyan) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 23:110 dan 38:63.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَتَّخَذْنَاهُمْ, a-ttakhadznaahum) yang berarti "apakah kami menjadikan mereka". Bentuk ini tersusun dari (أَ, a-) yang berarti "apakah", kata kerja ittakhadza yang berakar أ-خ-ذ, akhiran -naa yang berarti "kami", dan akhiran -hum yang berarti "mereka". Bentuk a-ttakhadznaahum muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:63. Kata kerja yang sama bersambung dengan sikhriyyan di 23:110, (فَاتَّخَذْتُمُوهُمْ سِخْرِيًّا, fa-ttakhadztumuuhum sikhriyyan) yang berarti "lalu kalian menjadikan mereka bahan ejekan". Perbedaannya ada pada yang berbicara: di 23:110 ucapan itu ditujukan kepada orang yang menjadikan, dengan "kalian", sedangkan di 38:63 orang yang menjadikan sendiri yang bertanya, dengan "kami".
Kata (سِخْرِيًّا, sikhriyyan) yang berarti "olok-olokan" muncul dua kali, yaitu di 23:110 dan 38:63. Kata dengan huruf yang sama tetapi berdhammah, (سُخْرِيًّا, sukhriyyan), ada di 43:32 dan diterjemahkan "mempekerjakan", sehingga bentuk berkasrah di 38:63 tidak dibaca dengan arti itu. Kata "olok-olokan" baku dalam bahasa Indonesia dan berarti ejekan. Terjemahan memakainya tanpa tambahan "bahan" atau "sasaran", karena tidak ada kata Arab di ayat ini yang melahirkan keduanya.
Kata (أَمْ, am) yang berarti "ataukah" menyambung dua pilihan, dan pilihan pertama diawali (أَ, a-) di depan kata kerja. Pola yang sama ada di 38:75, (أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ, astakbarta am kunta mina l-'aaliina) yang berarti "apakah engkau menyombongkan diri ataukah termasuk golongan yang tinggi", dan di 27:40, (أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ, a-asykuru am akfuru) yang berarti "apakah aku bersyukur ataukah berbuat kufur". Di keduanya terjemahan memakai "apakah" dan "ataukah" tanpa kata "karena". Terjemahan 38:63 mengikuti pola itu dan tidak menambahkan "karena" pada salah satu pilihan, sehingga hubungan kedua pilihan dengan pertanyaan di 38:62 terbaca dari letak ayat dan tidak dari kata tambahan.
Kata (زَاغَتْ, zaaghat) yang berarti "menyimpang" berakar ز-ي-غ. Untuk penglihatan, akar ini dipakai juga di 33:10, (زَاغَتِ الْأَبْصَارُ, zaaghati l-abshaaru) yang berarti "penglihatan menyimpang", dan di 53:17, (زَاغَ الْبَصَرُ, zaagha l-basharu) yang berarti "penglihatan menyimpang" dalam kalimat yang meniadakannya. Bentuk zaaghat muncul satu kali, yaitu di 38:63. Kata (الْأَبْصَارُ, l-abshaaru) yang berarti "penglihatan" muncul enam kali, yaitu di 6:103, 14:42, 22:46, 24:37, 33:10, dan 38:63. Di 38:63 kata kerja itu bersambung dengan (عَنْهُمُ, 'anhumu) yang berarti "dari mereka", sehingga penglihatan digambarkan berpaling dari orang-orang yang dicari dan tidak dari sasaran lain. Di 33:10 tidak ada kata penunjuk arah semacam itu.
Tanda tanya dan tanda kutip penutup di ujung terjemahan menutup ucapan yang dibuka di 38:62.
Tafsiran
Ayat ini menutup ucapan yang dibuka di 38:62 dengan dua pertanyaan pilihan, dan tidak memuat jawaban. Pertanyaan di 38:62 mencari lelaki yang tidak terlihat, lalu 38:63 mengajukan dua dugaan tentang sebabnya. Kedua dugaan menunjuk diri para pembicara sendiri: pilihan pertama menyangkut apa yang dahulu mereka lakukan, yaitu menjadikan orang-orang itu olok-olokan, dan pilihan kedua menyangkut penglihatan mereka. Tidak ada pilihan yang menyatakan bahwa orang-orang itu tidak ada atau berada di tempat lain. Ayat ini juga tidak menjelaskan bagaimana pilihan pertama menerangkan ketidakhadiran mereka, dan hubungan itu terbaca dari letak ayat sesudah 38:62.
Ayat 23:109 sampai 23:111 memuat peristiwa yang berhubungan, tetapi suaranya berbeda. Di 23:109 digambarkan sekelompok hamba yang berseru kepada Tuhan mereka dengan iman, di 23:110 kelompok lain dikatakan menjadikan mereka bahan ejekan sampai lupa mengingat Dia, dan di 23:111 pihak yang berbicara menyebut balasan bagi mereka yang bersabar. Kata sikhriyyan hanya ada di 23:110 dan 38:63. Di 23:110 pihak yang mengejek diberi tahu tentang perbuatannya, dan di 38:63 pihak yang mengejek menanyakannya kepada diri sendiri. Ayat 38:62 tidak menyatakan bahwa lelaki yang dicari adalah kelompok di 23:109, sehingga keduanya tidak disamakan.
Surah ini sudah menyebut penglihatan di 38:45, (أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ, ulii l-aydii wa-l-abshaari) yang berarti "yang mempunyai kekuatan dan penglihatan", dalam kalimat tentang hamba-hamba yang diingat. Kata yang sama muncul di 38:63 sebagai penglihatan yang menyimpang. Dua ayat itu berbicara tentang pihak yang berlainan dan tidak saling menjelaskan.
Sesudah 38:63, ayat 38:64 menutup seluruh pertukaran dengan satu penegasan bahwa semuanya adalah pertengkaran penghuni api.
Renungan dan Hikmah
- Kedua dugaan di 38:63 menunjuk para pembicara sendiri: perbuatan mereka yang dahulu, atau penglihatan mereka sekarang. Tidak ada dugaan bahwa orang-orang yang dicari memang berada di tempat lain atau memang tidak ada. Ketika orang yang dahulu dinilai tidak ditemukan di tempat yang diharapkan, dugaan pertama yang muncul di ayat ini mengarah ke dalam. Pembaca dapat memperhatikan dugaan mana yang lebih dulu datang ketika orang yang telah dinilainya ternyata tidak seperti dugaannya. Apakah dugaan itu menyalahkan orangnya, atau lebih dulu memeriksa penilaiannya sendiri?
- Di 23:110 Dia berfirman kepada orang-orang yang tinggal di api bahwa mereka menjadikan sekelompok hamba bahan ejekan, sampai itu membuat mereka lupa mengingat-Ku, dan mereka menertawakan kelompok itu. Di 38:63 pihak yang mengolok-olok bertanya apakah mereka dahulu melakukannya. Dua ayat itu berbicara dari dua suara yang berlainan, dan keduanya menyebut mengolok-olok sebagai perbuatan yang punya akibat. Menurut 23:110, akibatnya menyangkut ingatan akan Dia. Pembaca dapat bertanya apa yang tergeser dari ingatannya selama sibuk menertawakan orang lain. Apa yang sempat terlupa tanpa disadari?
- Kata penglihatan muncul di 38:63 sebagai sesuatu yang bisa menyimpang. Di 6:103 kata yang sama dipakai dalam kalimat bahwa Dia tidak dapat dijangkau oleh penglihatan, sedangkan Dia menjangkau segala penglihatan. Dua ayat itu berbicara tentang hal yang berlainan, tetapi keduanya menaruh penglihatan sebagai alat yang punya batas. Di 38:63 batas itu muncul sebagai kemungkinan keliru, dan di 6:103 sebagai sesuatu yang tidak menjangkau-Nya. Pembaca yang memutuskan sesuatu karena sudah melihatnya dapat menimbang apa yang tidak tercakup oleh penglihatannya. Seberapa jauh pembaca mengizinkan kemungkinan bahwa matanya yang salah?
- Di 27:40 pelaku kisah yang melihat sesuatu tersedia di sisinya berkata bahwa itu karunia Tuhannya untuk mengujinya, apakah pelaku itu bersyukur ataukah kufur. Dua pilihan itu diajukan sebelum jalan dipilih, selagi pilihan masih bisa ditentukan. Di 38:63 dua kemungkinan diajukan sesudah keadaan terjadi, dan teks tidak memuat tanda bahwa jawabannya masih dapat mengubah sesuatu. Bentuk kalimatnya sama, apakah dan ataukah, tetapi waktunya berlawanan. Pembaca dapat memperhatikan pertanyaan pilihan apa yang diajukannya kepada diri sendiri hari ini, dan pertanyaan apa yang baru diajukannya sesudah terlambat. Pertanyaan mana yang lebih sering ditunda?
- Pilihan kedua di 38:63, penglihatan menyimpang dari mereka, memuat kemungkinan bahwa orang-orang yang dicari sebenarnya hadir dan tidak terlihat. Ayat tidak mengatakan bahwa kemungkinan itu benar. Kemungkinan itu cukup untuk membuat pertanyaan di 38:62 berubah arah, dari mencari yang hilang menjadi memeriksa pencari. Pembaca dapat memikirkan orang-orang yang ada di sekitarnya dan tidak pernah dipandang cukup lama untuk dikenali. Siapa yang sehari-hari lewat di depannya dan tidak pernah benar-benar terlihat?
- Di 83:29 orang-orang yang berbuat dosa dahulu menertawakan orang-orang yang beriman, dan di 83:34 sampai 83:35 orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kufar sambil memandang dari atas dipan. Di 38:63 tidak ada tawa, hanya pertanyaan yang diajukan oleh pihak yang dahulu mengolok-olok. Tiga ayat itu menyangkut peristiwa dan pihak yang berlainan. Dua ayat di Surah 83 memuat pembalikan itu dengan tegas, dan 38:63 memuat bagian awalnya: pihak yang dahulu menilai kini bertanya tentang penilaiannya. Pembaca dapat bertanya, bila tawa dan pandangan itu berpindah tangan, di tangan mana pembaca ingin berada, dan bagaimana orang lain diperlakukannya hari ini?