قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ ۖ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan; dan tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Esa, Sang Penakluk,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌqul innamaa anaa mundzirunkatakanlah, sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan
- وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُwa-maa min ilaahin illaa llaahu l-waahidu l-qahhaarudan tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Esa, Sang Penakluk
Terjemahan per kata (11 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanya
- أَنَاanaaaku
- مُنْذِرٌmundzirunpemberi peringatan
- وَمَاwa-maadan tidaklah
- مِنْmindari
- إِلَٰهٍilaahintuhan
- إِلَّاillaakecuali
- اللَّهُllaahuAllah
- الْوَاحِدُl-waahiduYang Maha Esa
- الْقَهَّارُl-qahhaaruYang Mahaperkasa
Inti bacaan
Bentuk (الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, l-waahidu l-qahhaaru) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:39, 13:16, 38:65, dan 39:4.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah". Perintah itu muncul tiga kali di surah 38, yaitu di 38:65, 38:67, dan 38:86. Perintah ini ditujukan kepada satu orang, dan ayat ini tidak menyebut namanya.
Pembatas dalam terjemahan ayat ini berasal dari (إِنَّمَا, innamaa) yang berarti "sesungguhnya hanya". Sesudahnya ada (أَنَا, anaa) yang berarti "aku" dan (مُنْذِرٌ, mundzirun) yang berarti "pemberi peringatan", dengan akar ن-ذ-ر. Susunan (إِنَّمَا أَنَا, innamaa anaa) muncul delapan kali di delapan surah, yaitu 18:110, 19:19, 22:49, 27:92, 29:50, 38:65, 41:6, dan 67:26. Keterangan yang menyusulnya berbeda-beda: (بَشَرٌ مِثْلُكُمْ, basyarun mitslukum) yang berarti "manusia seperti kalian" di 18:110 dan 41:6, (رَسُولُ رَبِّكِ, rasuulu rabbiki) yang berarti "utusan Tuhanmu" di 19:19, (مِنَ الْمُنْذِرِينَ, mina l-mundziriina) yang berarti "salah seorang pemberi peringatan" di 27:92, dan (نَذِيرٌ, nadziirun) yang berarti "pemberi peringatan" di 22:49, 29:50, dan 67:26. Bentuk (إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ, innamaa anaa mundzirun) hanya ada di 38:65.
Kata (مُنْذِرٌ, mundzirun) muncul empat kali, yaitu di 13:7, 38:4, 38:65, dan 50:2. Di 38:4 dan 50:2 kalimatnya sama, (جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ, jaa'ahum mundzirun minhum) yang berarti "datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka", dan keduanya berada dalam kalimat tentang keheranan orang-orang yang menolak. Di 13:7, (إِنَّمَا أَنْتَ مُنْذِرٌ, innamaa anta mundzirun) yang berarti "sesungguhnya engkau pemberi peringatan", kata itu ditujukan kepada orang lain dengan kata engkau. Di 38:65 kata yang sama diucapkan dengan kata aku. Dalam surah ini kata itu muncul dua kali, di 38:4 sebagai bahan keheranan orang lain dan di 38:65 sebagai sebutan bagi diri pembicara. Bentuk (نَذِيرٌ, nadziirun) dari akar yang sama muncul di 38:70, dan terjemahan memakai "pemberi peringatan" untuk keduanya.
Kalimat kedua, (وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ, wa-maa min ilaahin illaa llaahu), berarti "dan tidak ada tuhan kecuali Allah". Susunan ini muncul tiga kali, yaitu di 3:62, 5:73, dan 38:65. Di 3:62 kalimatnya berhenti pada nama Allah. Di 5:73 kalimatnya berlanjut ke (إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ, illaa ilaahun waahidun) yang berarti "kecuali Tuhan Yang Esa". Di 38:65 kalimatnya berlanjut ke dua sebutan, (الْوَاحِدُ, l-waahidu) yang berarti "Yang Esa" dan (الْقَهَّارُ, l-qahhaaru) yang berarti "Sang Penakluk". Kata waahid sudah muncul di awal surah, yaitu di 38:5, (أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَٰهًا وَاحِدًا, a-ja'ala l-aaliha ilaahan waahidan) yang berarti "apakah ia menjadikan tuhan-tuhan sebagai Tuhan Yang Esa?", dan ayat itu melanjutkan ucapan orang-orang yang menolak di 38:4.
Kata (الْقَهَّارُ, l-qahhaaru) berakar ق-ه-ر dan muncul enam kali di enam surah, yaitu 12:39, 13:16, 14:48, 38:65, 39:4, dan 40:16. Di keenamnya kata itu langsung didahului kata waahid. Bentuk (الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, l-waahidu l-qahhaaru) muncul empat kali, yaitu di 12:39, 13:16, 38:65, dan 39:4, sedangkan di 14:48 dan 40:16 kedua kata itu berakhiran lain. Di 39:4 bunyinya (هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, huwa llaahu l-waahidu l-qahhaaru) yang berarti "Dialah Allah Yang Esa, Sang Penakluk". Terjemahan memakai "Sang Penakluk" di keenam tempat itu.
Koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat berlanjut ke 38:66, yang dibuka tanpa kata sambung.
Tafsiran
Ayat ini menyebut dua hal dengan ukuran yang jauh berbeda dalam satu kalimat: pembicara menyebut dirinya pemberi peringatan, lalu Allah disebut Yang Esa dan Sang Penakluk. Urutan ini sama dengan urutan di awal surah. Di 38:4 orang-orang yang menolak heran karena datang seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka, dan di 38:5 mereka bertanya apakah tuhan-tuhan dijadikan satu Tuhan. Di 38:65 sebutan pertama kembali, disusul sebutan kedua. Dapat dibaca bahwa ayat ini mengulang dua pokok keheranan itu, tetapi kini sebagai kalimat yang diucapkan oleh pihak yang dahulu mereka herankan. Ayat ini sendiri tidak menyatakan bahwa pembicaranya adalah orang yang dimaksud di 38:4.
Sebutan pemberi peringatan menunjuk pihak yang menyampaikan kabar kepada pendengarnya, dan 38:64 baru saja menyatakan bahwa adegan penghuni api benar-benar terjadi. Ayat 38:65 tidak menghubungkan keduanya dengan kata sambung, sehingga hubungan itu hanya dapat dibaca dari urutannya.
Urutan serupa tampak di 3:62. Ayat itu memuat (لَهُوَ الْقَصَصُ الْحَقُّ, la-huwa l-qashashu l-haqqu) yang berarti "benar-benar kisah yang hak", lalu (وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا اللَّهُ, wa-maa min ilaahin illaa llaahu), lalu (الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ, l-'aziizu l-hakiimu) yang berarti "yang digdaya lagi penuh hikmah". Di 38:64 sampai 38:66 urutannya sama: pernyataan tentang yang benar, kalimat tentang tidak ada tuhan kecuali Allah, lalu sebutan yang memuat Sang Digdaya. Perbedaannya, di 38:65 ada perintah qul di tengah, dan sebutan penutupnya Sang Pengampun, sedangkan di 3:62 Sang Penuh Hikmah. Kedua kelompok ayat tidak disamakan, sebab 3:62 berbicara tentang kisah dan 38:64 tentang pertengkaran.
Ayat ini belum selesai. Kalimatnya berlanjut ke 38:66 tanpa jeda. Ucapan yang sejenis menutup bagian ini di 38:70, (أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ, annamaa anaa nadziirun mubiinun) yang berarti "bahwa aku pemberi peringatan yang nyata", sehingga pembicara menyebut dirinya dengan sebutan yang berakar sama di awal dan di akhir bagian ini.
Renungan dan Hikmah
- Kata pemberi peringatan muncul di 38:4 sebagai bahan keheranan orang-orang yang menolak, dan di 38:65 sebagai sebutan yang diucapkan pembicara tentang dirinya sendiri. Kata yang dahulu terdengar seperti keluhan kini berfungsi sebagai pengenalan diri, tanpa dibela dan tanpa dibantah. Pembaca dapat mengingat julukan yang pernah diberikan orang kepadanya dengan nada mengeluh, misalnya terlalu cerewet atau terlalu keras, lalu menimbang apakah ada julukan itu yang sebenarnya cocok dengan tugasnya. Julukan mana yang dapat diterima tanpa merasa dihina?
- Ayat ini menaruh pembicara dan Allah dalam satu kalimat dengan ukuran yang jauh berbeda: pembicara berhenti pada sebutan pemberi peringatan, sedangkan Allah disebut Yang Esa dan Sang Penakluk. Tidak ada kata yang membandingkan keduanya, dan jarak itu terlihat dari perbedaan sebutan saja. Pembaca yang terbiasa mengukur penting tidaknya diri dari pengaruh yang dimiliki mendapati contoh seseorang yang menyebut tugasnya lebih dulu, lalu menyebut Allah tanpa tambahan apa pun tentang dirinya. Ketika memperkenalkan diri, sebutan apa yang pertama kali dipilih, dan apakah Allah ikut disebut sesudahnya?
- Di 12:39 sebutan Yang Esa dan Sang Penakluk dipakai dalam sebuah pertanyaan: apakah tuhan-tuhan yang berpecah-pecah lebih baik, ataukah Allah Yang Esa, Sang Penakluk. Ayat itu ditujukan kepada dua penghuni penjara, sehingga konteksnya berbeda dari 38:65. Pembaca dapat menghitung pegangan dalam hidupnya yang menarik ke arah berbeda, misalnya tuntutan pekerjaan, pandangan kelompok, dan keinginan sendiri, lalu bertanya pegangan mana yang akan ditinggalkan lebih dulu bila harus memilih satu. Berapa banyak pegangan yang pada saat yang sama menuntut kesetiaan penuh, dan di urutan berapa Allah disebut di antaranya?
- Ayat 40:16 memuat pertanyaan, "Milik siapakah kerajaan pada hari ini?", dan jawabannya memakai sebutan yang sama dengan ayat ini, "Milik Allah Yang Esa, Sang Penakluk." Jawaban itu tidak disertai uraian. Pertanyaan tersebut dapat dibawa ke hal-hal yang dalam kehidupan sehari-hari terasa dimiliki, seperti jabatan, rumah, dan nama baik, lalu dijawab dengan jujur lebih dulu. Ayat 40:16 menempatkan pertanyaan itu pada hari ketika mereka tampak jelas dan tidak ada sesuatu pun dari mereka yang tersembunyi dari Allah. Bila jawabannya satu pada hari itu, apakah jawaban yang diberikan hari ini sama?
- Di ayat lain sebutan pemberi peringatan diberi batas. Di 13:7 sebutan itu disusul pernyataan bahwa bagi setiap kaum ada pemberi petunjuk, dan di 79:45 sebutan itu dikhususkan bagi siapa yang takut kepadanya. Ayat 38:65 memasang batas dengan kata hanya di dalam kalimatnya sendiri, tanpa menambahkan siapa penerimanya. Pembaca yang sering mengambil peran menegur dapat bertanya sejauh mana tugasnya berhenti pada menyampaikan, dan apakah ia ikut menentukan hasilnya. Teguran terakhir yang disampaikannya berhenti di mana?
- Ayat 38:64 menutup adegan pertengkaran penghuni api, dan 38:65 langsung berbicara tentang pemberi peringatan dan Allah Yang Esa, tanpa kata sambung di antaranya. Pembaca yang baru saja mendengar adegan itu dibawa langsung ke sebutan bagi Allah, dan urutan itu tidak diterangkan di 38:64 maupun di 38:65. Pembaca dapat memperhatikan ke mana pikirannya bergerak setelah mendengar kabar tentang pertengkaran seperti itu. Ke arah mana pikiran bergerak lebih dulu, kepada Tuhan, kepada lawan bicara, atau kepada diri sendiri?