رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, Sang Digdaya, Sang Pengampun.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاrabbu s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaaTuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya
  2. الْعَزِيزُ الْغَفَّارُal-'aziizu l-ghaffaaruSang Digdaya, Sang Pengampun

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. رَبُّrabbuTuhan
  2. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  3. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  4. وَمَاwa-maadan apa yang
  5. بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
  6. الْعَزِيزُal-'aziizuSang Digdaya
  7. الْغَفَّارُl-ghaffaaruMaha Pengampun

Inti bacaan

Bentuk (الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ, l-'aziizu l-ghaffaaru) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 38:66 dan 39:5.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (رَبُّ, rabbu) yang berarti "Tuhan", dengan akar ر-ب-ب, dan tidak ada kata penghubung yang mengikatnya ke 38:65; terjemahan memakai koma. Frasa (رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا, rabbu s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa) yang berarti "Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya" muncul empat kali, yaitu di 19:65, 26:24, 37:5, dan 38:66. Dalam bentuk (رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا, rabbi s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa) frasa itu muncul dua kali lagi, di 44:7 dan 78:37, sehingga jumlahnya enam kali di enam surah. Di 26:24 frasa itu menjadi jawaban atas pertanyaan Firaun tentang Tuhan seisi alam di 26:23.

Bagian terakhir frasa itu, (وَمَا بَيْنَهُمَا, wa-maa baynahumaa), muncul dua puluh satu kali di enam belas surah, dan tiga di antaranya ada di surah 38, yaitu 38:10, 38:27, dan 38:66. Di 38:10, (أَمْ لَهُمْ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا, am lahum mulku s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa) yang berarti "ataukah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya?", wilayah itu disebut dalam pertanyaan tentang kepemilikan. Di 38:27, (وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا, wa-maa khalaqnaa s-samaa'a wa-l-ardha wa-maa baynahumaa baathilan) yang berarti "dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya dengan sia-sia", wilayah itu disebut dalam pernyataan tentang penciptaan. Di 38:66 wilayah yang sama disebut bersama Tuhan. Tiga ayat itu menaruh tiga hubungan berbeda pada wilayah yang sama, yaitu kepemilikan, penciptaan, dan ketuhanan.

Kata (الْعَزِيزُ, al-'aziizu) yang berarti "Sang Digdaya" berakar ع-ز-ز. Akar ini muncul lima kali di surah 38, yaitu di 38:2, 38:9, 38:23, 38:66, dan 38:82. Di 38:2, (فِي عِزَّةٍ, fii 'izzatin) yang berarti "dalam kedigdayaan" menyebut keadaan orang-orang yang kufur. Di 38:82, (فَبِعِزَّتِكَ, fa-bi-'izzatika) yang berarti "maka demi kedigdayaan-Mu" diucapkan dalam sumpah yang ditujukan kepada Tuhan, sesudah panggilan (رَبِّ, rabbi) yang berarti "Tuhanku" di 38:79. Bentuk bertakrif dengan arti "Sang Digdaya" muncul dua kali di surah ini, yaitu (الْعَزِيزِ الْوَهَّابِ, l-'aziizi l-wahhaabi) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Pemberi" di 38:9, dan di ayat ini. Terjemahan memakai "digdaya" untuk keempat tempat itu, sedangkan 38:23 memakai "mengalahkan" karena di sana akar itu menjadi kata kerja.

Kata (الْغَفَّارُ, l-ghaffaaru) yang berarti "Sang Pengampun" berakar غ-ف-ر. Akar ini muncul empat kali di surah 38, dan tiga kemunculan pertamanya berupa kata kerja: (فَاسْتَغْفَرَ, fa-staghfara) yang berarti "maka ia memohon ampun" di 38:24, (غَفَرْنَا, ghafarnaa) yang berarti "Kami mengampuni" di 38:25, dan (اغْفِرْ, ghfir) yang berarti "ampunilah" di 38:35. Kemunculan keempat, di 38:66, berupa nama. Dalam bentuk bertakrif nama itu muncul tiga kali, yaitu di 38:66, 39:5, dan 40:42, dan di ketiganya langsung mengikuti kata al-'aziiz. Dua bentuk tanpa kata sandang ada di 20:82, (لَغَفَّارٌ, la-ghaffaarun), dan di 71:10, (غَفَّارًا, ghaffaaran). Terjemahan memakai "Sang Pengampun" tanpa "Maha" untuk bentuk bertakrif.

Pasangan nama di ayat ini, Sang Digdaya dan Sang Pengampun, berada sesudah pasangan Yang Esa dan Sang Penakluk di 38:65, dan urutan itu terulang di 39:4 dan 39:5. Di 39:4 bunyinya (هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, huwa llaahu l-waahidu l-qahhaaru), dan di 39:5 bunyinya (أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ, alaa huwa l-'aziizu l-ghaffaaru) yang berarti "ketahuilah, Dialah Sang Digdaya, Sang Pengampun". Bentuk (الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ, l-'aziizu l-ghaffaaru) muncul dua kali, yaitu di 38:66 dan 39:5.

Tafsiran

Ayat ini menyelesaikan kalimat yang dibuka di 38:65. Bersama ayat itu, 38:66 memuat lima sebutan bagi Allah: Yang Esa, Sang Penakluk, Tuhan langit dan bumi dan apa yang di antara keduanya, serta Sang Digdaya dan Sang Pengampun.

Dua ayat di awal surah memuat pertanyaan yang isinya sejajar. Di 38:9 orang-orang yang menolak ditanya apakah di sisi mereka ada perbendaharaan rahmat Tuhan, Sang Digdaya, Sang Pemberi, dan di 38:10 apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya. Ayat 38:66 memakai sebutan Sang Digdaya dan frasa langit, bumi, dan apa yang di antaranya yang sama, tetapi sebagai pernyataan. Dapat dibaca bahwa ayat ini menjawab kedua pertanyaan itu dengan menyebut siapa Tuhan wilayah itu, meskipun ayat ini sendiri tidak menyinggung pertanyaan di awal surah. Sebutan keduanya berbeda: di 38:9 Sang Pemberi, di 38:66 Sang Pengampun.

Urutan nama berulang di 39:4 dan 39:5, sehingga dua surah menyusun nama-nama itu dengan urutan yang sama: Yang Esa, Sang Penakluk, lalu Sang Digdaya, Sang Pengampun. Di 39:5 pasangan terakhir menutup uraian tentang penciptaan langit dan bumi, siang dan malam, matahari dan bulan, dan di 38:66 pasangan itu menutup frasa langit dan bumi. Kedua kali, Sang Pengampun menjadi nama yang terdengar paling akhir.

Teksnya tidak menghubungkan sebutan pengampun itu dengan para penghuni api di 38:59 sampai 38:63. Adegan itu dan sebutan ini berdampingan tanpa penjelas, dan hubungan keduanya, bila ada, tidak ditulis. Ayat 38:67 kemudian dibuka dengan perintah baru, (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah".

Renungan dan Hikmah

  • Di 38:10 orang-orang yang menolak ditanya apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi serta apa yang di antara keduanya, lalu disuruh menaiki tangga-tangga bila memang demikian. Di 38:66 frasa yang sama muncul sebagai sebutan bagi Tuhan. Pertanyaan tentang siapa yang memiliki dijawab dengan pernyataan tentang siapa Tuhannya, tidak dengan daftar pemilik. Pembaca dapat memeriksa urusan yang dianggapnya miliknya sepenuhnya, misalnya waktu, nama baik, atau hasil kerja, dan bertanya seberapa jauh semua itu berada di wilayah yang disebut ayat ini. Siapa yang dianggapnya Tuhan atas hal-hal itu?
  • Ayat 38:27 menyatakan bahwa ciptaan tidak dijadikan sia-sia, lalu menyebut anggapan sebaliknya sebagai dugaan orang-orang yang kufur, disusul celaka karena api. Ayat 38:66 menyebut ciptaan yang sama sebagai wilayah Tuhan yang Digdaya dan Pengampun. Dua ayat itu menaruh anggapan sia-sia dan sebutan Tuhan pada wilayah yang sama. Pembaca dapat memperhatikan hari-hari yang terasa sia-sia dan bertanya siapa yang menurut ayat-ayat itu memiliki urusan atas hari-hari itu. Apakah rasa sia-sia itu datang dari pengamatan atau dari dugaan?
  • Kata kedigdayaan dipakai di 38:2 untuk keadaan orang-orang yang kufur, dan di 38:66 sebagai sebutan bagi Tuhan, Sang Digdaya. Akar yang sama menunjuk dua pemilik yang berbeda dalam satu surah. Pembaca dapat bertanya kedigdayaan macam apa yang diandalkannya, misalnya jabatan, jaringan, atau kekayaan, dan kepada siapa ayat-ayat ini menaruh kata itu pada akhirnya. Di 38:66 kedigdayaan itu disebut berdampingan dengan pengampunan. Apakah kedigdayaan yang diandalkan itu pernah disebut bersama pengampunan?
  • Pembaca yang menempuh surah ini dari awal sudah melihat pengampunan bekerja tiga kali sebelum nama Sang Pengampun disebut: Daud memohon ampun kepada Tuhannya di 38:24, Kami mengampuni di 38:25, dan sebuah doa meminta "Wahai Tuhanku, ampunilah aku" di 38:35. Nama di 38:66 dengan demikian menamai sesuatu yang sudah tampak dalam cerita-cerita sebelumnya. Pembaca dapat memeriksa kata-kata yang tersedia baginya ketika ingin meminta ampun, dan membandingkannya dengan kata-kata di 38:24 dan 38:35. Apakah kata-kata itu terasa dekat dengan kata-katanya sendiri?
  • Sang Digdaya dan Sang Pengampun disebut berdampingan tanpa kata penghubung. Pembaca yang membayangkan kekuasaan sebagai kemampuan menghukum mendapati kekuasaan yang sama disebut bersama pengampunan. Sebutan itu juga muncul sesudah adegan di 38:59 sampai 38:63, tempat para penghuni api meminta tambahan azab. Bagi pembaca yang memegang kuasa atas orang lain, dalam urusan kecil sekalipun, sebutan mana yang lebih sering dipakainya, digdaya atau pengampun?
  • Di 39:5 pasangan Sang Digdaya dan Sang Pengampun menutup uraian tentang penciptaan langit dan bumi, siang dan malam, matahari dan bulan, dan di 38:66 pasangan itu menutup frasa langit dan bumi dan apa yang di antaranya. Kedua kali, gambaran yang luas berakhir pada nama yang terdengar paling akhir, Sang Pengampun. Pembaca dapat memperhatikan nama mana yang biasanya diingat dari sebuah uraian panjang, nama yang pertama atau yang terakhir. Setelah melihat sesuatu yang sangat luas, apa yang paling dulu diharapkan dari Tuhan atas semua itu?