مَا كَانَ لِيَ مِنْ عِلْمٍ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ إِذْ يَخْتَصِمُونَ
Aku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang majelis yang tertinggi ketika mereka berbantah-bantahan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا كَانَ لِيَ مِنْ عِلْمٍ بِالْمَلَإِ الْأَعْلَىٰmaa kaana liya min 'ilmin bi-l-mala'i l-a'laaaku tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang majelis yang tertinggi
- إِذْ يَخْتَصِمُونَidz yakhtashimuunaketika mereka berbantah-bantahan
Terjemahan per kata (9 kata)
- مَاmaatidaklah
- كَانَkaanaadalah
- لِيَliyabagiku
- مِنْmindari
- عِلْمٍ'ilminpengetahuan
- بِالْمَلَإِbi-l-mala'itentang majelis
- الْأَعْلَىٰl-a'laayang tertinggi
- إِذْidzketika
- يَخْتَصِمُونَyakhtashimuunamereka bertengkar
Inti bacaan
Gabungan al-mala'i l-a'laa muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 37:8 dan 38:69.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (مَا كَانَ لِيَ, maa kaana liya) yang berarti "tidak ada bagiku". Kata maa menolak, kaana menyatakan adanya, dan liya tersusun dari li yang berarti "bagi" dan -ya yang berarti "-ku". Terjemahan memakai "Aku tidak mempunyai" karena sesuatu yang ada bagi seseorang menjadi miliknya. Rangka yang sama terbaca di 14:22, (وَمَا كَانَ لِيَ عَلَيْكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ, wa-maa kaana liya 'alaykum min sulthaanin) yang berarti "dan tidak ada bagiku atas kalian suatu keterangan". Dua ayat itu memakai rangka yang sama untuk pembicara dan perkara yang berbeda: di 14:22 setan berbicara sesudah perkara diputuskan dan keterangan atas orang lain ditiadakan, sedangkan di 38:69 pengetahuan tentang sebuah majelis ditiadakan.
Sesudah itu datang (مِنْ عِلْمٍ, min 'ilmin) yang berarti "pengetahuan sedikit pun". Kata min di depan kata benda tak tentu setelah penolakan menjadi "sedikit pun" dalam terjemahan. Rangka penolakan pengetahuan seperti ini juga dipakai untuk pihak lain. Bentuk (مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ, maa lahum bihi min 'ilmin) yang berarti "mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentangnya" muncul tiga kali, yaitu di 4:157, 18:5, dan 53:28. Bentuk (مَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ, maa lahum bi-dzaalika min 'ilmin) yang berarti "mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang itu" muncul dua kali, yaitu di 43:20 dan 45:24. Di 4:157, 43:20, dan 45:24 pihak "mereka" itu disebut mengucapkan sesuatu di ayat yang sama. Di 38:69 penolakan yang sama dikenakan pada pembicara sendiri, dan perkaranya berupa kejadian di sebuah majelis.
Kata (بِالْمَلَإِ, bi-l-mala'i) yang berarti "tentang majelis" memuat awalan bi- yang berarti "tentang", sama seperti bi- pada bihi dan bi-dzaalika di lima ayat tadi. Kata mala' dipakai untuk kelompok manusia di 38:6, (وَانْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ, wa-nthalaqa l-mala'u minhum) yang berarti "dan pergilah para pemuka di antara mereka", dan di 2:246, (إِلَى الْمَلَإِ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ, ilaa l-mala'i min banii israa'iila) yang berarti "kepada para pemuka dari Bani Israil". Terjemahan memakai "para pemuka" untuk kelompok manusia itu dan "majelis" untuk (الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, l-mala'i l-a'laa) di 37:8 dan 38:69, tempat kata itu bergandeng dengan sifat "yang tertinggi". Teks tidak merinci siapa saja anggotanya.
Sifat (الْأَعْلَىٰ, l-a'laa) yang berarti "yang tertinggi" diterjemahkan demikian antara lain di 16:60, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, dan 92:20. Di 79:24 terjemahannya "yang paling tinggi". Di 20:68, (إِنَّكَ أَنْتَ الْأَعْلَىٰ, innaka anta l-a'laa) yang berarti "sesungguhnya engkaulah yang paling unggul", padanannya "yang paling unggul" karena yang dibandingkan di sana ialah kemenangan atas para penyihir. Gabungan (الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, l-mala'i l-a'laa) muncul dua kali, yaitu di 37:8 dan 38:69. Di 37:8, (لَا يَسَّمَّعُونَ إِلَى الْمَلَإِ الْأَعْلَىٰ, laa yassamma'uuna ila l-mala'i l-a'laa) yang berarti "mereka tidak dapat mendengar ke arah majelis yang tertinggi", majelis itu menjadi arah yang tidak terdengar oleh pihak yang disebut "mereka". Di 38:69 majelis yang sama menjadi perkara yang pengetahuannya ditiadakan dari pembicara. Perkaranya berbeda, mendengar di satu ayat dan mengetahui di ayat lain.
Kata kerja (يَخْتَصِمُونَ, yakhtashimuuna) yang berarti "mereka berbantah-bantahan" berakar خ-ص-م. Bentuk persis ini muncul empat kali di empat surah, yaitu 3:44, 26:96, 27:45, dan 38:69, dan pelakunya jamak di keempatnya. Di 27:45 pelaku itu dirinci, (فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ, fariiqaani yakhtashimuuna) yang berarti "dua golongan yang bertengkar", sehingga bantahan di sana punya dua pihak yang disebut. Di 38:69 pihak-pihaknya tidak disebut, begitu pula pokok bantahannya, dan terjemahan tidak menambahkan keduanya.
Kata (إِذْ, idz) yang berarti "ketika" mengikat pengetahuan yang ditiadakan itu pada saat bantahan berlangsung. Kalimat penolakan di 3:44 ditutup dengan susunan yang sama, (وَمَا كُنْتَ لَدَيْهِمْ إِذْ يَخْتَصِمُونَ, wa-maa kunta ladayhim idz yakhtashimuuna) yang berarti "dan engkau tidak berada di sisi mereka ketika mereka bersengketa". Di 3:44 kehadiran yang ditiadakan, dan di 38:69 pengetahuan. Pada keduanya pembicara berada di luar peristiwa yang disebut.
Tafsiran
Ayat ini menempatkan pembicaranya di luar sebuah peristiwa yang tidak disaksikannya. Ayat 38:67 membuka ucapan dengan perintah "Katakanlah" dan menyebut berita yang agung, lalu 38:68 menyebut pendengar yang berpaling darinya. Sesudah itu 38:69 memuat pengakuan batas: tidak ada pengetahuan pada pembicara tentang bantahan di majelis yang tertinggi. Ayat 38:70 menyusul dengan menyebut isi wahyu, sehingga kedua ayat dibaca berpasangan, yang pertama menutup satu jalan pengetahuan dan yang kedua menyebut jalan yang lain.
Pengakuan batas seperti ini muncul di beberapa ucapan "Katakanlah". Di 6:50, (وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ, wa-laa a'lamu l-ghayba) yang berarti "dan aku tidak mengetahui yang gaib", pembicara menolak mengaku mengetahui yang gaib, dan 46:9 memuat (وَمَا أَدْرِي مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ, wa-maa adrii maa yuf'alu bii wa-laa bikum) yang berarti "dan aku tidak tahu apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadap kalian". Di 67:26, (الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ, l-'ilmu 'inda llaahi) yang berarti "ilmu itu ada di sisi Allah", ilmu ditaruh pada Allah. Tiga ayat itu menyebut cakupan luas, yaitu yang gaib, nasib, dan ilmu secara umum. Ayat 38:69 menunjuk satu peristiwa tertentu dan menyebut waktunya.
Ayat 3:44 memperlihatkan bagaimana penolakan semacam ini terhubung dengan wahyu. Di sana (ذَٰلِكَ مِنْ أَنْبَاءِ الْغَيْبِ نُوحِيهِ إِلَيْكَ, dzaalika min anbaa'i l-ghaybi nuuhiihi ilayka) yang berarti "itu termasuk berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepadamu" mendahului penolakan kehadiran pada saat pihak-pihak itu bersengketa. Hubungan serupa terbaca di sini: 38:69 meniadakan pengetahuan dari penyaksian, 38:70 menyebut wahyu, dan 38:71 langsung memuat (قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ, qaala rabbuka li-l-malaa'ikati) yang berarti "Tuhanmu berfirman kepada para malaikat". Teks tidak menyatakan bahwa penuturan 38:71 memuat isi bantahan di 38:69, dan tidak menyebut apa pun tentang pokok bantahan itu. Dapat dibaca bahwa penuturan yang mulai di 38:71 termasuk yang diwahyukan, sehingga pembicara mengetahuinya lewat wahyu. Pembacaan ini tidak dinyatakan oleh ayat.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 38:69 memuat penolakan yang dikenakan pada pembicaranya sendiri, di tengah ucapan yang dibuka dengan perintah "Katakanlah" di 38:67. Pembicara tidak diminta menutupi batasnya, dan tidak diminta mengisinya dengan dugaan tentang apa yang dibantahkan di majelis itu. Pembaca yang pernah diminta menjelaskan sesuatu yang tidak disaksikannya, misalnya rapat yang tidak dihadirinya atau perselisihan keluarga yang didengarnya dari pihak ketiga, dapat membandingkan jawabannya dengan jawaban di ayat ini. Apakah kalimat "aku tidak mempunyai pengetahuan tentang itu" termasuk kalimat yang biasa ia ucapkan?
- Di 67:26 ilmu disebut berada di sisi Allah, dan di 38:69 pembicara menyatakan tidak memegang ilmu tentang majelis yang tertinggi. Ayat 67:26 tidak menyebut majelis itu, jadi kedua ayat tidak disamakan. Keduanya dapat dibaca berdampingan: ketidaktahuan yang diakui tidak berhenti sebagai ruang kosong, karena ada ayat yang menunjuk ke mana ilmu itu ditaruh. Pembaca yang gelisah ketika ada hal yang tidak dapat dipastikannya dapat bertanya, apa yang berubah bila ketidaktahuannya dibaca sebagai batas yang diakui, sementara ayat lain menyebut ilmu itu berada di sisi Allah?
- Ayat 38:69 menyebut bantahan yang sedang berlangsung tanpa menyebut siapa berhadapan dengan siapa dan apa yang dipersoalkan. Di 27:45 bantahan serupa disertai dua golongan yang disebut, tetapi di sini kerangkanya ada dan isinya kosong. Kabar yang sampai kepada pembaca dapat berbentuk sama: ada perselisihan, ada pihak-pihak, tetapi pokoknya samar. Pembaca dapat memperhatikan dorongan dalam dirinya untuk mengisi kekosongan itu dengan tebakan. Bila pembicara di ayat ini berhenti pada "aku tidak mempunyai pengetahuan", apa yang terlewatkan, dan apa yang terselamatkan?
- Di 6:50 pembicara menolak mengatakan bahwa perbendaharaan Allah ada padanya dan menolak mengaku mengetahui yang gaib. Penolakan di 38:69 lebih sempit karena menunjuk satu majelis dan satu peristiwa. Dua penolakan itu berbeda cakupan, yang satu luas dan yang lain tertentu, tetapi keduanya menaruh batas pada diri pembicara sebelum menyampaikan apa pun. Pembaca yang diminta pendapat tentang urusan rumit dapat menimbang apakah kalimat "bagian ini aku tidak tahu" menolong pendengarnya lebih baik daripada jawaban yang menutup semua celah.
- Ayat 38:71 memuat firman Tuhan kepada para malaikat, dan pembaca yang membacanya tidak hadir di tempat firman itu diucapkan. Pembaca itu berada dalam posisi yang sama dengan pembicara di 38:69, yaitu menerima tuturan tentang percakapan yang tidak disaksikannya. Pembicara di 38:69 menyatakan batasnya terlebih dahulu, sedangkan pembaca dapat saja langsung menyimpan tuturan itu sebagai sesuatu yang diketahuinya. Bagaimana rasanya membaca kisah yang dibuka dengan "ketika Tuhanmu berfirman" sambil mengingat bahwa ayat sebelumnya memuat pengakuan pembicaranya tidak memiliki pengetahuan tentang majelis yang tertinggi?
- Ayat 38:68 menyebut pendengar yang berpaling dari berita yang agung, dan ayat berikutnya memuat batas pengetahuan, tanpa tambahan bukti atau ancaman. Pembaca yang menghadapi lawan bicara yang berpaling dari sesuatu yang dianggapnya penting dapat memperhatikan apa yang ditambahkannya pada saat itu, entah nada yang lebih keras, klaim yang lebih besar, atau cerita yang lebih lengkap. Apakah tambahan itu pernah melampaui apa yang diketahuinya sendiri?