إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Tidaklah diwahyukan kepadaku kecuali bahwa aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ إِلَّا أَنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌin yuuhaa ilayya illaa annamaa anaa nadziirun mubiinuntidaklah diwahyukan kepadaku kecuali bahwa aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata
Terjemahan per kata (8 kata)
- إِنْintidaklah
- يُوحَىٰyuuhaadiwahyukan
- إِلَيَّilayyakepadaku
- إِلَّاillaakecuali
- أَنَّمَاannamaabahwa hanya
- أَنَاanaaaku
- نَذِيرٌnadziirunpemberi peringatan
- مُبِينٌmubiinunyang nyata
Inti bacaan
Kalimat anaa nadziirun mubiinun muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:50, 38:70, dan 67:26.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنْ يُوحَىٰ إِلَيَّ, in yuuhaa ilayya) yang berarti "tidaklah diwahyukan kepadaku". Kata in di sini menolak, sama seperti maa. Kata kerja (يُوحَىٰ, yuuhaa) tidak menyebut pelakunya, sehingga ayat ini tidak menyebut siapa yang mewahyukan. Susunan (يُوحَىٰ إِلَيَّ, yuuhaa ilayya) muncul delapan kali di delapan surah, yaitu 6:50, 7:203, 10:15, 18:110, 21:108, 38:70, 41:6, dan 46:9. Di 6:50, 10:15, dan 46:9 susunan itu mengikuti (إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ, in attabi'u illaa maa yuuhaa ilayya) yang berarti "aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku", dan di sana isi wahyu dibiarkan terbuka. Di 7:203 sumbernya disebut, (مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي, maa yuuhaa ilayya min rabbii) yang berarti "apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku". Di 18:110, 21:108, dan 41:6 kata kerja itu disusul bahwa Tuhan itu satu, dan di 38:70 isinya berbeda lagi, yaitu peran pembicara. Terjemahan membiarkan 38:70 tanpa pelaku, seperti Arabnya.
Dua kata berikutnya, (إِلَّا أَنَّمَا, illaa annamaa) yang berarti "kecuali bahwa", muncul bersama hanya di 38:70. Kata illaa mengecualikan, dan annamaa memuat pembatasan yang disusul kalimat berisi isi wahyu. Ayat 38:70 memuat dua pembatas, dan 21:108 juga memuat dua, yaitu (إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا, innamaa yuuhaa ilayya annamaa) yang berarti "sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku ialah bahwa". Perbedaannya, di 21:108 kalimat sesudahnya menyatakan Tuhan kalian satu, sedangkan di 38:70 kalimat sesudahnya menyatakan peran pembicara. Terjemahan menandai pembatasan itu dengan satu kata pembatas sesudah "aku".
Kata (نَذِيرٌ, nadziirun) yang berarti "pemberi peringatan" berakar ن-ذ-ر, akar yang sama dengan (مُنْذِرٌ, mundzirun) di 38:65, yaitu (إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ, innamaa anaa mundzirun) yang berarti "sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan". Bentuk mundzirun muncul empat kali di tiga surah, yaitu 13:7, 38:4, 38:65, dan 50:2, dan terjemahan memberinya padanan yang sama dengan nadziir.
Kata (مُبِينٌ, mubiinun) yang berarti "yang nyata" berakar ب-ي-ن dan menerangkan peran itu. Kalimat (أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ, anaa nadziirun mubiinun) yang berarti "aku seorang pemberi peringatan yang nyata" muncul tiga kali, yaitu di 29:50, 38:70, dan 67:26. Di 29:50 kalimat itu berbentuk (وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ, wa-innamaa anaa nadziirun mubiinun) yang berarti "dan sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata". Pasangan dua kata (نَذِيرٌ مُبِينٌ, nadziirun mubiinun) muncul sebelas kali di sepuluh surah, yaitu 7:184, 11:25, 22:49, 26:115, 29:50, 38:70, 46:9, 51:50, 51:51, 67:26, dan 71:2. Surah 51 memuatnya dua kali.
Di lima ayat dari sebelas itu kata lakum yang berarti "bagi kalian" menyertai pasangan tersebut, yaitu 11:25, 22:49, 51:50, 51:51, dan 71:2. Salah satunya (إِنَّمَا أَنَا لَكُمْ نَذِيرٌ مُبِينٌ, innamaa anaa lakum nadziirun mubiinun) yang berarti "sesungguhnya aku bagi kalian seorang pemberi peringatan yang nyata". Ayat 38:70 tidak memuat lakum, dan terjemahan tidak menambahkan "bagi kalian" ataupun penerima lain, karena ayat tidak menyebut kepada siapa peringatan itu ditujukan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian ucapan yang dibuka dengan perintah "Katakanlah" di 38:65. Di antara pembuka dan penutup itu ada empat ayat dengan isi yang besar: 38:66 menyebut Tuhan langit dan bumi, 38:67 menyebut berita yang agung, 38:68 menyebut pendengar yang berpaling, dan 38:69 menyebut batas pengetahuan pembicara. Peran pembicara ditulis dua kali, di 38:65 dan 38:70, dengan dua kata dari akar yang sama, sehingga rangkaian itu terbaca seperti bingkai: peran disebut, isi yang besar dibentangkan, lalu peran disebut lagi dengan tambahan kata (مُبِينٌ, mubiinun). Peran itu sudah disebut sejak pembukaan surah, di 38:4, tempat para penolak heran karena datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka.
Pola yang mirip terbaca di 29:50 dan 67:26. Di dua ayat itu pembicara menyatakan bahwa tanda-tanda dan ilmu berada di sisi Allah, lalu menutup dengan kalimat peran yang sama seperti di sini. Pada 38:69 sampai 38:70 urutannya sama dalam dua ayat: ada sesuatu yang ditiadakan dari pembicara, yaitu pengetahuan tentang majelis yang tertinggi, lalu peran disebut sebagai isi wahyu. Perbedaannya, 29:50 dan 67:26 menyebut dengan jelas siapa yang memegang bagian pertama, sedangkan 38:69 hanya menyebut bahwa pembicara tidak memegangnya.
Ayat 38:71 langsung memuat firman Tuhan kepada para malaikat, dan teks tidak menyatakan bagaimana penuturan itu berhubungan dengan isi wahyu yang disebut di 38:70. Satu pembacaan mungkin: penuturan sesudahnya termasuk bahan peringatan yang dijalankan peran itu. Pembacaan lain juga mungkin, yaitu penuturan itu berdiri sendiri sebagai kisah. Ayat-ayat ini tidak memilih salah satunya.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 38:70 merumuskan peran pembicara dengan empat kata, "pemberi peringatan yang nyata", sesudah empat ayat yang berisi hal besar: Tuhan langit dan bumi, berita yang agung, majelis yang tertinggi. Besarnya isi tidak membuat perannya ikut dibesarkan. Pembaca yang pernah mengemban tugas, entah di pekerjaan, di keluarga, atau di kelompoknya, dapat mencoba merumuskan tugas itu dalam kalimat sependek ini. Apakah rumusan yang keluar masih bisa dipegang ketika isi yang dibawanya besar, dan apakah perannya terasa lebih sempit atau lebih tenang setelah dirumuskan?
- Di 29:50 tanda-tanda disebut berada di sisi Allah dan di 67:26 ilmu disebut berada di sisi-Nya, lalu keduanya ditutup dengan kalimat peran yang sama seperti 38:70. Dari pola itu terlihat dua sisi: yang berada di sisi Allah dan yang berada di tangan pembicara. Tiga ayat itu tidak mencampur kedua sisi, dan di 38:69 pembicara menaruh pengetahuan tentang majelis di luar tangannya. Pembaca dapat meletakkan urusannya sendiri di atas dua sisi itu: apa yang dapat disampaikannya dan apa yang tidak dipegangnya, termasuk pengetahuan tentang hal yang tidak disaksikannya. Bagian mana dari urusannya yang selama ini diperlakukan sebagai miliknya, padahal ayat-ayat itu menaruh tanda dan ilmu di sisi Allah?
- Ayat 38:70 tidak memuat kata lakum, "bagi kalian", yang dipakai di lima ayat lain dengan rangkaian kata yang sama. Peringatan di sini tidak ditujukan kepada kelompok yang disebut, dan karena itu dapat terbaca sebagai peringatan yang sampai kepada siapa pun yang membacanya. Pembaca yang menutup ayat ini dapat memperhatikan apakah segera mengalamatkan peringatan itu kepada orang lain, kepada kaum yang berpaling di 38:68 atau kepada pihak yang dikenalnya. Bagaimana rasanya membaca "pemberi peringatan yang nyata" tanpa nama penerima, dan menyadari bahwa tempat penerima itu kosong?
- Ucapan di 38:65 sampai 38:70 dibuka dan ditutup dengan peran pembicara, sedangkan di tengahnya terletak Allah Yang Esa, Tuhan langit dan bumi, dan berita yang agung. Susunan itu menaruh pembicara di tepi, tidak di tengah. Pembaca yang menyampaikan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, entah kabar, pelajaran, atau pekerjaan, dapat melihat bagaimana ayat ini menjaga tengahnya tetap diisi oleh yang disampaikan. Siapa yang menempati tengah dalam ucapannya sendiri, isi yang dibawanya atau dirinya?
- Kata kerja "diwahyukan" di 38:70 tidak menyebut pelaku, dan 7:203 melengkapinya dengan sebutan "dari Tuhanku". Pembaca dapat membandingkan dua bentuk itu: yang satu memusatkan perhatian pada isi yang diterima, dan yang lain menyebut dari mana isi itu datang. Dua ayat itu bersama-sama memperlihatkan penerima yang mengikuti apa yang diwahyukan kepadanya menurut 7:203, dan yang isi wahyunya dirumuskan terbatas menurut 38:70. Pembaca yang menerima sebuah kabar tanpa sempat menanyakan dari siapa datangnya dapat bertanya, apa yang berubah dalam caranya memegang kabar itu begitu asalnya disebut, dan apakah sebutan "dari Tuhanku" di 7:203 ikut terbawa ketika membaca 38:70?
- Kata "yang nyata" di 38:70 menaruh ukuran pada kejelasan peringatan itu sendiri. Pendengar di 38:68 berpaling, dan ayat ini merumuskan tugas pembicara sebagai peringatan yang jelas, sementara suara dan isinya tidak ditambah. Pembaca yang pernah memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang penting dapat menimbang apakah ukuran keberhasilannya terletak pada kejelasan penyampaiannya atau pada penerimaan pendengarnya, dan siapa yang menanggung bagian yang kedua?