فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya dari roh-Ku, maka, menyungkurlah kalian kepadanya dalam keadaan tunduk.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِيfa-idzaa sawwaytuhu wa-nafakhtu fiihi min ruuhiimaka, apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya dari roh-Ku
- فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَfa-qa'uu lahu saajidiinamaka, menyungkurlah kalian kepadanya dalam keadaan tunduk
Terjemahan per kata (9 kata)
- فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
- سَوَّيْتُهُsawwaytuhuAku menyempurnakannya
- وَنَفَخْتُwa-nafakhtudan Aku meniupkan
- فِيهِfiihidi dalamnya
- مِنْmindari
- رُوحِيruuhiiruh-Ku
- فَقَعُواfa-qa'uumaka tersungkurlah kalian
- لَهُlahubaginya
- سَاجِدِينَsaajidiinaorang-orang yang tunduk
Inti bacaan
Kalimat min ruuhii muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:29 dan 38:72.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (فَإِذَا سَوَّيْتُهُ, fa-idzaa sawwaytuhu) yang berarti "maka apabila Aku telah menyempurnakannya". Kata (فَإِذَا, fa-idzaa) yang berarti "maka apabila" membuka sebuah syarat, dan (سَوَّيْتُهُ, sawwaytuhu) tersusun dari kata kerja sawwaa, akhiran -tu yang berarti "Aku", dan akhiran -hu yang berarti "-nya". Akhiran -hu menunjuk manusia yang disebut di 38:71. Kata kerja ini berakar س-و-ي. Kalimat (فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي, fa-idzaa sawwaytuhu wa-nafakhtu fiihi min ruuhii) yang berarti "maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya dari roh-Ku" muncul dua kali di dua surah, yaitu di 15:29 dan 38:72.
Kata (وَنَفَخْتُ فِيهِ, wa-nafakhtu fiihi) yang berarti "dan Aku meniupkan ke dalamnya" berakar ن-ف-خ. Kata kerja ini muncul bersama sebutan roh di lima ayat, yaitu 15:29, 21:91, 32:9, 38:72, dan 66:12, dan pelaku peniupan berubah bentuk dari ayat ke ayat: "Aku" di 15:29 dan 38:72, "Dia" di 32:9, dan "Kami" di 21:91 dan 66:12. Urutan menyempurnakan lebih dulu lalu meniupkan terbaca di tiga ayat, yaitu 15:29, 32:9, dan 38:72. Di 32:9 bunyinya (سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ, sawwaahu wa-nafakha fiihi) yang berarti "Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya". Kata (مِنْ رُوحِي, min ruuhii) yang berarti "dari roh-Ku" tersusun dari min yang berarti "dari" dan ruuh yang berarti "roh" dengan akhiran -ii yang berarti "-Ku", dan berakar ر-و-ح. Bentuk ruuhii dengan akhiran itu muncul dua kali, yaitu di 15:29 dan 38:72, dan di keduanya yang berbicara memakai kata "Aku".
Kata (فَقَعُوا, fa-qa'uu) yang berarti "maka menyungkurlah kalian" berbentuk perintah untuk banyak orang dan berakar و-ق-ع. Bentuk perintahnya muncul dua kali, yaitu di 15:29 dan 38:72. Akar yang sama bermakna jatuh pada (أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ, annahu waaqi'un bihim) yang berarti "bahwa itu akan jatuh menimpa mereka" di 7:171. Awalan fa- pada kata ini menjawab syarat yang dibuka (فَإِذَا, fa-idzaa), sehingga terjemahan memakai "maka" dua kali, di awal syarat dan di awal perintah.
Gerak menyungkur itu ditujukan (لَهُ, lahu) yang berarti "kepadanya", dan keadaannya diterangkan (سَاجِدِينَ, saajidiina) yang berarti "dalam keadaan tunduk". Kata (سَاجِدِينَ, saajidiina) berakar س-ج-د, dan pasangan (لَهُ سَاجِدِينَ, lahu saajidiina) muncul dua kali, yaitu di 15:29 dan 38:72. Bentuk saajidiina muncul lima kali di lima surah, yaitu 7:120, 12:4, 15:29, 26:46, dan 38:72. Di empat dari lima ayat itu kata tersebut didahului kata kerja yang menggerakkan tubuh ke bawah, yaitu (وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ, wa-ulqiya s-saharatu saajidiina) yang berarti "dan para penyihir itu tersungkur dalam keadaan tunduk" di 7:120, kalimat serupa di 26:46, dan kata perintah qa'uu di 15:29 dan 38:72. Di 12:100 gabungan serupa memakai kata kerja jatuh yang lain, (وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا, wa-kharruu lahu sujjadan) yang berarti "dan mereka jatuh tersungkur kepadanya dalam keadaan tunduk", sehingga gerak tubuh tetap dibawa kata kerjanya sendiri. Terjemahan memakai "tunduk" untuk akar س-ج-د dan menyerahkan gerak tubuhnya kepada kata kerja yang menyertainya, yaitu "menyungkur" di 38:72 dan "tersungkur" di 7:120 dan 26:46.
Tafsiran
Ayat ini mengubah pemberitahuan di 38:71 menjadi perintah yang bersyarat. Tuhan menyebut dua perbuatan-Nya atas manusia itu, yaitu menyempurnakan dan meniupkan roh, lalu memerintahkan para malaikat menyungkur kepadanya. Perintah itu diberikan sebelum kedua perbuatan terjadi, dan berlaku sesudah keduanya. Ayat 38:73 melaporkan hasilnya.
Di 2:34, 7:11, 17:61, 18:50, dan 20:116, perintah serupa berbunyi (اسْجُدُوا لِآدَمَ, usjuduu li-aadama) yang berarti "tunduklah kepada Adam", dengan nama yang dituju dan tanpa syarat. Di 38:72, seperti di 15:29, nama itu tidak ada dan perintahnya didahului dua perbuatan Tuhan. Dapat dibaca bahwa keduanya menuturkan peristiwa yang sama dari sudut yang berlainan, yaitu yang pertama menyebut siapa yang dituju dan yang kedua menyebut apa yang mendahuluinya. Pembacaan ini tidak dinyatakan oleh ayat.
Syarat di 38:72 memuat penyempurnaan dan peniupan roh. Tanah liat yang disebut di 38:71 tidak ikut dalam syarat itu, jadi perintah menyungkur dikaitkan dengan dua perbuatan Tuhan dan tidak dengan bahan.
Perintah ditujukan kepada "kalian", yaitu para malaikat di 38:71. Ayat 38:74 mengecualikan Iblis dari para malaikat yang tunduk di 38:73, dan 38:75 menanyakan kepada Iblis apa yang menghalanginya tunduk. Dari urutan itu perintah di 38:72 dapat dibaca juga mengenai Iblis, walaupun ayat 38:72 sendiri tidak menyebutnya.
Renungan dan Hikmah
- Perintah di 38:72 didahului dua perbuatan Tuhan atas manusia, menyempurnakan dan meniupkan roh, dan keduanya disampaikan dalam satu kalimat dengan perintahnya. Penerima perintah mendapatkan alasannya pada saat yang sama. Pembaca yang pernah memberi perintah di rumah atau di tempat kerja dapat membandingkan: kapan alasan disampaikan, bersama perintah atau sesudah perintah dijalankan? Apa yang terjadi pada orang yang menerima perintah bila alasannya baru menyusul belakangan?
- Tuhan menyebut "dari roh-Ku", dengan akhiran -Ku yang tetap melekat pada roh itu. Manusia di ayat ini menerima sesuatu yang oleh pemberinya disebut roh-Nya sendiri. Pembaca dapat memperhatikan bahwa kalimat ini diucapkan sebelum manusia itu ada, sehingga penyebutan roh sebagai milik Tuhan mendahului kehadiran penerimanya. Apa yang berubah dalam cara pembaca memandang dirinya bila mendengar Tuhan menyebut "dari roh-Ku" tentang manusia, dan apakah pandangan itu memengaruhi cara menyebut hal-hal yang ada dalam dirinya?
- Bahan manusia disebut di 38:71 dan roh di 38:72, dan syarat perintah menyungkur hanya memuat penyempurnaan dan peniupan roh. Pembaca yang menilai dirinya dan orang lain dapat memeriksa mana yang lebih sering dijadikan ukuran, asal-usul bahan atau sesuatu yang dikerjakan Tuhan. Apa yang tersisa dari penilaiannya bila ukuran asal-usul dikesampingkan dan hanya yang disebut dalam syarat ayat ini yang dipakai?
- Ayat 38:72 memisahkan gerak dari keadaan: "menyungkurlah" menyebut gerak jatuh, dan "dalam keadaan tunduk" menyebut keadaan orang yang jatuh itu. Dua hal itu disebut terpisah dalam perintah Tuhan, dan 12:100 serta 26:46 memakai gabungan serupa untuk manusia. Pembaca yang menganggap tunduk selesai ketika tubuh sudah bergerak, atau sebaliknya ketika hati sudah merasa, dapat memeriksa yang mana dikerjakannya lebih dulu. Mana dari keduanya yang tidak terlihat dari luar?
- Kata "apabila" di awal 38:72 menempatkan penyempurnaan dan peniupan roh di waktu yang belum tiba, sedangkan perintah menyungkur sudah diucapkan. Para malaikat menerima perintah untuk keadaan yang belum terjadi, dan Tuhan menyebut syaratnya lebih dulu. Pembaca yang menyusun janji atau aturan untuk keadaan mendatang dapat memperhatikan urutan ini: syarat disebut terang, lalu perintah mengikutinya. Apa yang terjadi pada janji yang menyebut perintahnya tanpa menyebut syarat yang membuatnya berlaku?
- Perintah menyungkur di 38:72 ditujukan "kepadanya", yaitu manusia yang disebut di 38:71, padahal ayat itu diucapkan Tuhan sendiri dengan kata "Aku". Arah tunduk dalam ayat ini jatuh pada ciptaan, dengan alasan yang disebut lewat dua perbuatan Tuhan atas ciptaan itu. Pembaca dapat bertanya bagaimana caranya memandang orang yang berhadapan dengannya bila ayat ini menaruh alasan perintah itu pada perbuatan Tuhan atas manusia dan tidak pada kedudukan orangnya. Apakah pandangan itu mengubah cara menyebut orang lain?