إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ
kecuali Iblis. Ia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِلَّا إِبْلِيسَillaa ibliisakecuali Iblis
- اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَistakbara wa-kaana mina l-kaafiriinaia menyombongkan diri dan termasuk golongan kafir
Terjemahan per kata (6 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- إِبْلِيسَibliisaIblis
- اسْتَكْبَرَistakbaramenyombongkan diri
- وَكَانَwa-kaanadan ia adalah
- مِنَminadari
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
Inti bacaan
Kalimat (وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ, wa-stakbarta wa-kunta mina l-kaafiriina) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:59.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِلَّا إِبْلِيسَ, illaa ibliisa) yang berarti "kecuali Iblis". Kata (إِلَّا, illaa) yang berarti "kecuali" mengeluarkan satu nama dari kelompok yang disebut di 38:73, yaitu para malaikat yang tunduk semuanya. Susunan illaa ibliisa muncul tujuh kali di tujuh surah, yaitu 2:34, 7:11, 15:31, 17:61, 18:50, 20:116, dan 38:74, dan di ketujuhnya susunan itu datang sesudah kabar bahwa para malaikat tunduk. Sesudahnya keterangan berlainan di tiap surah, kecuali 2:34 dan 38:74 yang sama-sama memuat kata kerja istakbara dan sebutan golongan kafir. Di 7:11 bunyinya (لَمْ يَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ, lam yakun mina s-saajidiina) yang berarti "ia tidak termasuk orang-orang yang tunduk". Di 18:50 bunyinya (كَانَ مِنَ الْجِنِّ, kaana mina l-jinni) yang berarti "ia dari golongan jin". Di 15:31 bunyinya (أَبَىٰ أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ, abaa an yakuuna ma'a s-saajidiina) yang berarti "ia enggan bersama para yang tunduk". Di 38:74 keterangannya berupa dua kata kerja dan satu golongan, sedangkan kata (أَبَىٰ, abaa) yang ada di 2:34, 15:31, dan 20:116 tidak dipakai.
Kata kerja (اسْتَكْبَرَ, istakbara) yang berarti "menyombongkan diri" berakar ك-ب-ر, akar yang sama dengan (كَبِيرًا, kabiiran) yang berarti "besar" di 4:34 dan dengan (كِبْرٌ, kibrun) yang berarti "kesombongan" di 40:56. Bentuk persis istakbara muncul empat kali di empat surah, yaitu 2:34, 28:39, 38:74, dan 74:23, dan terjemahan memakai "menyombongkan diri" di keempatnya. Di 28:39, (وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ, wa-stakbara huwa wa-junuuduhu fii l-ardhi bi-ghayri l-haqqi) berarti "dan ia bersama bala tentaranya menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar", sehingga kesombongan itu diberi tempat dan diberi keterangan. Di 74:23, (ثُمَّ أَدْبَرَ وَاسْتَكْبَرَ, tsumma adbara wa-stakbara) berarti "kemudian dia berpaling dan menyombongkan diri", sehingga kesombongan datang sesudah satu gerak berpaling. Di 38:74 kata kerja itu berdiri tanpa tempat dan tanpa keterangan, lalu ayat berikutnya mengubahnya menjadi pertanyaan. Kata ganti "ia" pada terjemahan tersirat dalam bentuk kata kerjanya, yaitu orang ketiga tunggal, karena ayat ini tidak mengulang nama Iblis.
Bentuk penyangkal dari kata kerja yang sama dipakai untuk pihak yang berseberangan. Di 16:49, sesudah menyebut para malaikat, ayat itu memuat (وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ, wa-hum laa yastakbiruuna) yang berarti "dan mereka tidak menyombongkan diri". Karena itu 38:73 dan 38:74 dapat dibaca berpasangan: para malaikat tunduk semuanya, dan kata kerja yang di 16:49 disangkal bagi mereka dinyatakan di 38:74 bagi Iblis.
Kata (وَكَانَ, wa-kaana) yang berarti "dan ia adalah" menyambungkan sebuah golongan ke kata kerja sebelumnya. Frasa (مِنَ الْكَافِرِينَ, mina l-kaafiriina) tersusun dari (مِنَ, mina) yang berarti "dari" dan (الْكَافِرِينَ, l-kaafiriina) yang berarti "orang-orang yang kufur", sehingga pelakunya diletakkan di dalam sebuah golongan. Susunan wa-kaana mina l-kaafiriina muncul dua kali di dua surah, yaitu 2:34 dan 38:74. Pasangan yang sama dengan kata ganti "engkau" ada di 39:59, (وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ, wa-stakbarta wa-kunta mina l-kaafiriina) yang berarti "dan engkau menyombongkan diri dan engkau termasuk orang-orang kafir". Di ketiga ayat itu kesombongan disebut lebih dulu dan golongan menyusul, dan ketiganya tidak menyatakan apakah golongan itu akibat kesombongan atau sudah ada sebelumnya. Kata kaana berbentuk lampau, dan 38:74 tidak menyebut sejak kapan golongan itu berlaku bagi Iblis, sebelum perintah tunduk atau sesudah penolakannya. Terjemahan memakai "termasuk golongan kafir" untuk mina l-kaafiriina di sini.
Tafsiran
Ayat ini memuat penilaian atas Iblis dalam bentuk laporan, sebelum Iblis sempat berbicara. Rangkaian 38:71 sampai 38:85 tersusun dari tiga jenis ucapan. Ayat 38:71 dan 38:72 mengutip firman Tuhan kepada para malaikat, ayat 38:73 dan 38:74 melaporkan apa yang terjadi, dan ayat 38:75 sampai 38:85 mengutip percakapan. Di bagian laporan itu 38:73 menekankan ketaatan dengan dua kata, (كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ, kulluhum ajma'uuna) yang berarti "semuanya bersama-sama", lalu 38:74 mengeluarkan satu nama dari kata "semuanya" itu. Dua ayat pendek ini membentuk kontras yang utuh, yaitu seluruh kelompok yang tunduk berhadapan dengan satu yang tidak.
Pembaca sudah mengetahui dua penilaian atas Iblis, "menyombongkan diri" dan "termasuk golongan kafir", sebelum Iblis mengucapkan kata pertamanya di 38:76. Urutan yang sama ada di 7:11 sampai 7:12 dan 15:31 sampai 15:33, tempat keterangan tentang Iblis datang lebih dulu dan percakapan menyusul. Bedanya terletak pada isi keterangan. Di 7:11 dan 15:31 keterangan itu menyangkut hubungan Iblis dengan kelompok yang tunduk, sedangkan dari ketujuh ayat yang memuat illaa ibliisa hanya 2:34 dan 38:74 yang meneruskannya dengan sebutan golongan kafir.
Ayat 38:75 menyusul dengan pertanyaan yang memakai kata kerja yang sama, (أَسْتَكْبَرْتَ, a-stakbarta), sehingga apa yang dilaporkan di 38:74 menjadi bahan yang ditanyakan di ayat berikutnya. Dengan susunan itu pembaca mengetahui hasilnya lebih dulu daripada jalannya. Jalan menuju penilaian itu baru tampak dari jawaban Iblis di 38:76 dan dari putusan di 38:77 sampai 38:78.
Ayat 38:69 menyebut majelis tertinggi yang berbantah-bantahan, dan 38:71 membuka kisah dengan (إِذْ, idz) yang berarti "ketika". Karena itu kisah di 38:71 sampai 38:85 dapat dibaca sebagai isi bantahan itu, tetapi 38:69 tidak menyatakan hubungan tersebut.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 38:73 menulis bahwa semua malaikat tunduk, lalu 38:74 menulis satu nama yang tidak ikut. Keduanya menanggapi perintah Tuhan yang sama di 38:72, dan tanggapan atas perintah itu terbelah menjadi dua kelompok dengan jumlah yang jauh berbeda. Besarnya kelompok yang tunduk tidak mengubah apa yang dicatat tentang satu nama itu, sebab ayat menyebutnya terpisah dengan namanya sendiri. Orang yang terbiasa berada di tengah rombongan dapat memperhatikan bahwa kelompok yang semuanya tunduk di ayat sebelumnya tidak menghapus pencatatan yang berdiri sendiri bagi satu nama. Di tengah rombongan yang sedang mengerjakan sesuatu, apakah pembaca pernah memeriksa sikapnya terhadap perintah itu secara terpisah dari sikap orang lain?
- Kata (اسْتَكْبَرَ, istakbara) di ayat ini berbentuk kata kerja lampau, sehingga kata itu menggambarkan sesuatu yang dikerjakan pada suatu saat. Ayat tidak mengatakan bahwa Iblis dahulu besar kepala atau selalu begitu. Sikap membesarkan diri diceritakan di sini sebagai tindakan di hadapan sebuah perintah dari Tuhan. Tindakan itu terjadi pada waktu tertentu dan di depan perintah tertentu, sehingga pembaca dapat mengenali perintah mana dalam hidupnya yang paling mudah memancing tindakan serupa. Apa yang dikerjakan pembaca pada saat perintah semacam itu datang?
- Pembaca mengetahui penilaian atas Iblis di 38:74 sebelum mendengar satu kalimat pembelaannya. Pertanyaan Tuhan baru muncul di 38:75, dan jawaban Iblis baru tertulis di 38:76. Susunan ini memperlihatkan bahwa penilaian yang dicatat tidak menunggu kefasihan pembelaan, dan bahwa pembelaan yang menyusul tetap diberi tempat untuk diucapkan. Orang yang menyusun alasan paling rapi atas sebuah penolakan dapat bertanya apakah kerapian itu akan mengubah apa yang sudah tercatat tentang tindakannya, atau hanya menambah catatan baru di sampingnya?
- Dalam ayat ini kesombongan disebut lebih dulu dan golongan kafir menyusul, di antara dua kata yang dihubungkan dengan wa, "dan". Teksnya tidak menyatakan bahwa yang pertama menyebabkan yang kedua, dan penjelasan ini pun tidak menyatakannya. Meski begitu urutan penyebutan itu memberi pembaca bahan untuk menimbang jalannya sendiri: penolakan terhadap perintah Tuhan dapat terasa seperti keputusan yang datang tiba-tiba, sedangkan ayat ini menyebut keduanya satu demi satu. Apa yang terjadi dalam diri pembaca sebelum pembaca mengatakan tidak kepada sesuatu yang diketahuinya benar?
- Di 16:49 para malaikat digambarkan tunduk dan sekaligus tidak menyombongkan diri, dan 16:50 menambahkan bahwa mereka takut kepada Tuhan mereka yang berada di atas mereka. Dua keterangan itu ditulis berdampingan, seolah tunduk dan tidak membesarkan diri adalah dua hal yang perlu disebut sendiri-sendiri. Ayat 38:73 menyebut tindakan tunduk pada semua malaikat, dan 16:49 menambahkan keterangan tentang sikap yang menyertainya. Pembaca yang pernah menunaikan sebuah kewajiban dengan rapi dapat membedakan antara gerak yang terlihat dan sikap di belakangnya, dan memperhatikan mana yang lebih sering ia periksa.
- Penilaian terakhir di ayat ini memakai kata (مِنَ, mina) yang berarti "dari", yaitu Iblis ditempatkan di antara orang-orang yang kufur, tidak diberi satu cap tunggal. Penempatan seperti itu menyebut keanggotaan dalam sebuah kelompok yang lebih besar, dan ayat tidak mengatakan siapa saja anggota kelompok itu atau sejak kapan mereka berkumpul. Pembaca yang pernah menyebut seseorang dengan satu kata golongan dapat bertanya, seberapa jauh keanggotaan itu sudah diperiksanya sebelum menyebutnya, dan siapa yang menurut dirinya berhak menaruh orang lain di dalam sebuah kelompok.