وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ

Dan sesungguhnya laknat-Ku tetap atas engkau sampai Hari Pertanggungjawaban.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِيwa-inna 'alayka la'natiidan sesungguhnya laknat-Ku tetap atas engkau
  2. إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِilaa yawmi d-diinisampai Hari Pertanggungjawaban

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. وَإِنَّwa-innadan sungguh
  2. عَلَيْكَ'alaykaatasmu
  3. لَعْنَتِيla'natiilaknat-Ku
  4. إِلَىٰilaasampai
  5. يَوْمِyawmiHari
  6. الدِّينِd-diiniPertanggungjawaban

Inti bacaan

Bentuk (لَعْنَتِي, la'natii) yang berarti "laknat-Ku" muncul satu kali di Al-Qur'an, yakni pada 38:78.

Penjelasan pilihan kata

Kalimat (وَإِنَّ عَلَيْكَ لَعْنَتِي, wa-inna 'alayka la'natii) berarti "dan sesungguhnya laknat-Ku tetap atas engkau". Kalimat ini tersusun dari (وَ, wa) yang berarti "dan", (إِنَّ, inna) yang berarti "sesungguhnya", (عَلَيْكَ, 'alayka) yang berarti "atasmu", dan (لَعْنَتِي, la'natii) yang berarti "laknat-Ku". Huruf wa menyambungkan ayat ini ke 38:77, sehingga keduanya terbaca sebagai satu ucapan. Susunan wa-inna 'alayka muncul dua kali di dua surah, yaitu 15:35 dan 38:78. Kalimat ini tidak memuat kata kerja. Kata "tetap" pada terjemahan mengisi tempat kata kerja itu supaya "atas engkau sampai ..." terbaca sebagai kalimat, dan 15:35 memakai pengisi yang sama.

Kata (لَعْنَتِي, la'natii) berakar ل-ع-ن dan berakhiran (ي, -ii) yang berarti "-Ku". Bentuk persis la'natii muncul satu kali, di 38:78. Di 15:35 kalimat yang sama memuat (اللَّعْنَةَ, l-la'nata) yang berarti "laknat itu" dengan kata sandang, dan pemiliknya tidak disebut. Di ayat lain pemilik laknat disebut dengan nama, antara lain (لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ, la'natu llaahi 'alaa zh-zhaalimiina) di 7:44 dan 11:18 yang berarti "laknat Allah atas orang-orang yang zalim", dan (عَلَيْهِمْ لَعْنَةُ اللَّهِ, 'alayhim la'natu llaahi) di 2:161 yang berarti "atas mereka laknat Allah". Kata (عَلَى, 'alaa) yang berarti "atas" ikut dipakai bersama laknat antara lain di 2:161, 3:87, 7:44, 11:18, 15:35, dan 38:78. Kata laknat sendiri muncul di empat belas ayat, yaitu 2:89, 2:161, 3:61, 3:87, 7:44, 11:18, 11:60, 11:99, 13:25, 15:35, 24:7, 28:42, 38:78, dan 40:52, dan di antaranya hanya 38:78 yang memakai akhiran orang pertama. Di 38:78 pemilik laknat itu adalah pembicara sendiri, dan pembicara itu menyebutnya lewat akhiran -ii.

Frasa (إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ, ilaa yawmi d-diini) berarti "sampai Hari Pertanggungjawaban". Kata (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "sampai" menandai batas, (يَوْمِ, yawmi) berarti "hari", dan (الدِّينِ, d-diini) berarti "Pertanggungjawaban", padanan yang dibakukan untuk akar د-ي-ن. Susunan ilaa yawmi d-diini muncul dua kali, yaitu 15:35 dan 38:78. Frasa yawm ad-diin sendiri muncul tiga belas kali di sebelas surah, yaitu 1:4, 15:35, 26:82, 37:20, 38:78, 51:12, 56:56, 70:26, 74:46, 82:15, 82:17, 82:18, dan 83:11. Di 1:4, (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, maaliki yawmi d-diini) berarti "Pemilik Hari Pertanggungjawaban", sehingga hari itu disebut memiliki pemilik. Di 82:15, (يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ, yashlawnahaa yawma d-diini) berarti "mereka memasukinya pada Hari Pertanggungjawaban", sehingga hari itu juga disebut sebagai waktu ketika sesuatu dialami. Kata ilaa menandai ujung sebuah jangka, dan 38:78 tidak menyatakan keadaan laknat sesudah ujung itu.

Tafsiran

Ayat ini menutup ucapan yang dibuka di 38:77 dengan jangka waktu. Ucapan itu memuat empat penetapan berurutan: perintah keluar, sebutan terkutuk, laknat yang dimiliki pembicara, dan batas waktunya. Dua ayat ini memakai kata ganti "engkau" dua kali, di (إِنَّكَ, innaka) pada 38:77 dan di (عَلَيْكَ, 'alayka) pada 38:78, dan tidak memuat pertanyaan baru. Tuhan bertanya kepada Iblis di 38:75, dan dua ayat sesudah jawabannya berisi penetapan.

Batas waktu di ayat ini berada dalam deretan tiga penanda hari. Sesudah (إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ, ilaa yawmi d-diini) di 38:78, Iblis meminta (إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ, ilaa yawmi yub'atsuuna) di 38:79, yang berarti "sampai hari mereka dibangkitkan", lalu 38:81 menjawab dengan (إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ, ilaa yawmi l-waqti l-ma'luumi), yang berarti "sampai hari yang waktunya telah ditentukan". Rumusan kedua muncul lima kali di lima surah, yaitu 7:14, 15:36, 23:100, 37:144, dan 38:79. Rumusan ketiga muncul dua kali, yaitu 15:38 dan 38:81. Ketiganya tersusun dalam urutan yang sama di dua surah, 15:35 sampai 15:38 dan 38:78 sampai 38:81, sehingga urutan itu merupakan bagian dari penuturan. Meski begitu tidak ada ayat yang menyamakan ketiga hari tersebut, dan terjemahan memakai tiga rumusan yang berlainan.

Permintaan Iblis di 38:79 datang langsung sesudah batas ini, dan dapat dibaca sebagai tanggapan atas jangka waktu yang baru disebut. Ayat 38:79 sendiri tidak menyatakan hubungan itu, dan menyapa pembicara dengan "Tuhanku".

Perbedaan antara 38:77 dan 38:78 terletak pada pelakunya. Sebutan terkutuk di 38:77 menggambarkan keadaan Iblis, sedangkan "laknat-Ku" di 38:78 menyatakan sesuatu yang dimiliki dan dikenakan oleh pembicara. Perintah, sebutan, dan laknat itu semuanya ditujukan kepada satu pihak yang berdiri berhadapan dengan pembicara.

Renungan dan Hikmah

  • Tuhan menyebut laknat itu "laknat-Ku", milik pembicara sendiri, dan menaruhnya di atas satu pihak yang diajak bicara langsung. Kata yang keras diucapkan oleh pihak yang memilikinya, dengan menyebut siapa sasarannya dan sampai kapan. Orang yang terbiasa memakai kata kutukan dalam amarah dapat memperhatikan bahwa di ayat ini kata itu datang sesudah pertanyaan, jawaban, perintah, dan sebutan. Atas nama siapa kata itu terucap bila pembaca mengucapkannya, dan sesudah apa?
  • Penetapan paling berat di ayat ini disertai batas, "sampai Hari Pertanggungjawaban", yang disebut sebagai bagian dari kalimat yang sama. Tuhan tidak membiarkan laknat itu menggantung tanpa ujung yang dinyatakan, meski ayat tidak menjelaskan keadaan sesudah ujung itu. Penilaian atas orang lain dapat dijatuhkan tanpa menyebut sampai kapan penilaian itu berlaku. Apakah penilaian yang dijatuhkan pembaca atas orang lain disertai batas, atau dibiarkan tinggal tanpa ujung di kepalanya?
  • Frasa yang menjadi batas laknat di 38:78, "Hari Pertanggungjawaban", muncul juga di 1:4, (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, maaliki yawmi d-diini), tempat hari itu disebut sebagai milik Sang Pemilik. Dengan frasa yang sama, ujung yang ditetapkan Tuhan bagi laknat ini dan hari yang disebut di surah pembuka dapat dibaca sebagai satu hari. Ayat 38:78 tidak membandingkan keadaan Iblis dengan keadaan pembaca. Meski begitu pembaca dapat menimbang apa artinya menyebut hari itu di 1:4 sambil mengetahui bahwa hari yang sama dinyatakan Tuhan sebagai ujung bagi satu pihak yang berdiri berhadapan dengan-Nya.
  • Di 38:77 Iblis disebut terkutuk, yaitu kata yang menggambarkan keadaannya, dan di 38:78 sebutan itu disusul laknat, yaitu sesuatu yang dikenakan oleh Tuhan kepadanya. Sebutan dan tindakan ditulis sebagai dua hal, berurutan. Orang yang menyebut orang lain dengan kata yang berat dapat memperhatikan bahwa kata sifat belum sama dengan tindakan, dan ayat ini menyusun keduanya dalam dua kalimat. Pembaca dapat bertanya, kata sifat apa dalam hidupnya yang pernah diucapkannya tanpa pernah menimbang tindakan apa yang pantas menyusulnya?
  • Tuhan menutup ucapan-Nya dengan batas waktu di 38:78, dan Iblis membuka ucapannya berikutnya di 38:79 dengan permintaan waktu. Dua pihak itu memakai kata yang sama, ilaa, "sampai", untuk menyebut ujung jangka masing-masing. Batas dari satu pihak dan permintaan dari pihak lain berdiri berdampingan dalam dua ayat berurutan. Pembaca yang pernah menunda sesuatu dapat memperhatikan bahwa waktu dapat diminta selain dijalani, dan bahwa permintaan itu disampaikan kepada pihak yang memegang ujungnya.
  • Perintah keluar dan sebutan terkutuk ada di 38:77, sedangkan laknat dan batas waktunya ada di 38:78, dan keduanya disambung oleh huruf wa, "dan". Orang yang mengutip hanya 38:77 meninggalkan separuh ucapan itu, yaitu bagian yang menyebut jangka waktu. Pembaca yang menimbang sebuah kalimat berat dari Tuhan dapat memperhatikan di mana kalimat itu berakhir sebelum memutuskan bagian mana yang sudah ia baca, dan apakah bagian yang belum dibaca memuat batas yang mengubah cara memahami bagian pertama?