قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Ia berkata, “Tuhanku, maka tangguhkanlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِيqaala rabbi fa-anzhirniiia berkata, Tuhanku, maka tangguhkanlah aku
  2. إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَilaa yawmi yub'atsuunasampai hari mereka dibangkitkan

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. رَبِّrabbiTuhan
  3. فَأَنْظِرْنِيfa-anzhirniimaka berilah aku tangguh
  4. إِلَىٰilaasampai
  5. يَوْمِyawmiHari
  6. يُبْعَثُونَyub'atsuunamereka dibangkitkan

Inti bacaan

Susunan (فَأَنْظِرْنِي, fa-anzhirnii) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:36 dan 38:79, dan keduanya diucapkan Iblis.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قَالَ رَبِّ, qaala rabbi) yang berarti "ia berkata, Tuhanku". Kata kerja (قَالَ, qaala) menunjuk satu pembicara laki-laki, dan ayat ini tidak menyebut namanya; pergantian pembicara dari 38:78 ditandai oleh kata kerja itu. Seruan (رَبِّ, rabbi) berakar ر-ب-ب dan berakhiran -i yang berarti "-ku", sehingga terjemahannya "Tuhanku". Susunan (قَالَ رَبِّ, qaala rabbi) muncul di 36 ayat dalam 17 surah, dan tiga di antaranya diucapkan Iblis, yaitu 15:36, 15:39, dan 38:79. Dalam empat percakapan tentang sujud kepada Adam, yaitu 7:12 sampai 7:18, 15:32 sampai 15:42, 17:61 sampai 17:65, dan 38:75 sampai 38:83, ucapan Iblis memuat seruan rabbi hanya di tiga ayat itu. Di 38:76 jawabannya memakai (خَلَقْتَنِي, khalaqtanii) yang berarti "Engkau menciptakanku", dan di 38:82 sumpahnya memakai (فَبِعِزَّتِكَ, fa-bi-'izzatika) yang berarti "maka demi kedigdayaan-Mu", keduanya tanpa gelar. Di surah yang sama, 38:35 membuka ucapan Sulaiman dengan susunan yang sama, (قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي, qaala rabbi ghfir lii) yang berarti "ia berkata, Tuhanku, ampunilah aku".

Kata (فَأَنْظِرْنِي, fa-anzhirnii) yang berarti "maka tangguhkanlah aku" tersusun dari awalan (فَ, fa) yang berarti "maka", kata kerja perintah (أَنْظِرْ, anzhir) yang berarti "tangguhkanlah", dan akhiran (نِي, -nii) yang berarti "aku". Akar ن-ظ-ر dalam bentuk dasarnya dipakai untuk melihat, misalnya (انْظُرُوا, nzhuruu) di 6:11 dan 3:137 yang diterjemahkan "perhatikanlah". Kata di ayat ini memakai bentuk lain dari akar yang sama, dengan hamzah di awal, dan artinya memberi tangguh. Kata kerja dengan arti itu muncul di dua belas ayat. Tiga ayat memuat permintaan Iblis, yaitu (أَنْظِرْنِي, anzhirnii) di 7:14 serta (فَأَنْظِرْنِي, fa-anzhirnii) di 15:36 dan 38:79. Sembilan ayat lainnya semuanya berpenyangkal: (وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ, wa-laa hum yunzharuuna) yang berarti "dan mereka tidak diberi penangguhan" ada di 2:162, 3:88, 16:85, 21:40, dan 32:29; 6:8 memuat bentuk yang sama sesudah "kemudian"; dan 7:195, 10:71, 11:55 memuat perintah kepada lawan bicara agar tidak menangguhkan. Dalam dua belas ayat itu kata kerja memberi tangguh tanpa penyangkal hanya ada di tiga permintaan tadi. Terjemahan memakai "maka" karena awalan fa ada di Arabnya. Kalimat yang sama bunyinya di 15:36 diterjemahkan "Tuhanku, maka tangguhkanlah aku", dan 23:94 menerjemahkan fa sesudah seruan rabbi dengan "maka" juga. Di 7:14 seruan dan awalan itu tidak ada, sehingga terjemahannya "Berilah aku penangguhan" tanpa kata "Tuhanku".

Kata (إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ, ilaa yawmi yub'atsuuna) yang berarti "sampai hari mereka dibangkitkan" memuat (يُبْعَثُونَ, yub'atsuuna), kata kerja berakar ب-ع-ث dalam bentuk pasif untuk beberapa orang, "mereka dibangkitkan". Susunan lengkapnya muncul di lima ayat, yaitu 7:14, 15:36, 23:100, 37:144, dan 38:79. Bentuk yub'atsuuna sendiri muncul di delapan ayat, dan tiga ayat sisanya, yaitu 16:21, 26:87, dan 27:65, memuat bentuk yang sama di luar susunan itu. Di 16:21 dan 27:65 bentuk itu bergandengan dengan (أَيَّانَ يُبْعَثُونَ, ayyaana yub'atsuuna) yang berarti "kapan mereka dibangkitkan", dan kedua ayat itu menyatakan bahwa mereka tidak menyadari kapan hari itu tiba. Subjek "mereka" pada yub'atsuuna tidak dijelaskan di ayat ini; kata ganti itu tidak diberi nama oleh 38:79 maupun oleh 7:14 dan 15:36. Kata kerjanya pasif, sehingga pelaku yang membangkitkan juga tidak disebut. Terjemahan "dibangkitkan" tidak menambahkan pelaku dan tidak menambahkan "dari kubur", karena tak satu kata Arab di ayat ini yang melahirkannya.

Tafsiran

Ayat 38:79 membuka rangkaian permintaan dan jawaban tentang tempo sesudah putusan di 38:77 dan 38:78, tempat Iblis diperintah keluar, disebut terkutuk, dan dikenai laknat sampai Hari Pertanggungjawaban. Isi permintaannya tunggal: tempo, dengan batas yang dinamai peristiwa. Ayat ini tidak memuat bantahan atas putusan itu, tidak memuat permintaan agar laknat diringankan, dan tidak memuat kata penyesalan. Susunan serupa di 15:34 sampai 15:36 berjalan dengan urutan yang sama, yaitu perintah keluar, laknat, lalu permintaan tempo.

Bentuk rangkaiannya berbeda-beda antarsurah. Di 7:14 sampai 7:17 permintaan dan tekad Iblis tersambung dalam satu rangkaian pendek, dan tekadnya didahului alasan "Engkau telah menyesatkanku". Di 17:62 permintaan dan tekad berada dalam satu kalimat bersyarat: bila Iblis diberi tangguh sampai hari kebangkitan, tekadnya menguasai keturunan Adam berlaku bagi semua kecuali sebagian kecil. Di surah 38 dan di 15:36 sampai 15:39 permintaan berdiri sendiri, jawaban menyusul di ayat berikutnya, dan tekad baru terbaca di 38:82. Dengan susunan ini 38:79 menampilkan tempo sebagai permintaan yang terpisah dari tujuannya. Alasan permintaan itu tidak dinyatakan di 38:79 sendiri; 38:82 memuat sumpah yang dapat dibaca sebagai arah tempo itu, dan sumpah itu dibuka dengan awalan fa yang menyambungnya ke jawaban di 38:80 dan 38:81.

Hari yang dijadikan batas di 38:79 berbeda namanya dari hari di 38:78. Laknat berlaku "sampai Hari Pertanggungjawaban", sedangkan tempo diminta "sampai hari mereka dibangkitkan". Ayat 38:81 kemudian menyebut hari ketiga, "hari yang waktunya telah ditentukan". Ketiga nama itu tidak disamakan oleh teks, dan 38:79 tidak menyamakan hari yang diminta dengan batas laknat.

Renungan dan Hikmah

  • Permintaan di 38:79 dibuka dengan seruan Tuhanku, padahal dua ayat sebelumnya memuat perintah keluar, sebutan terkutuk, dan laknat yang berlaku sampai Hari Pertanggungjawaban. Ucapan Iblis tidak membantah putusan itu dan tidak meminta agar putusan itu dicabut; ayat langsung masuk ke soal tempo. Gelar yang pantas bagi Allah tetap terucap dari mulut yang sedang meminta tempo, dan 38:82 memuat rencana yang menyusul sesudahnya. Karena itu sebutan Tuhanku di lidah belum menjadi ukuran tentang isi permintaan yang menyusulnya. Kapan terakhir pembaca memanggil Tuhan dengan gelar yang pantas sementara tujuan permintaannya belum pernah diceritakan kepada-Nya?
  • Seluruh ucapan di 38:79 berisi permintaan tempo sampai hari tertentu. Tidak ada permintaan agar laknat di 38:78 diringankan, dan tidak ada permintaan untuk kembali ke tempat yang di 38:77 diperintahkan untuk ditinggalkan. Pembaca dapat memeriksa permintaannya sendiri dengan pola yang sama: permintaan yang menambah waktu dan membiarkan keadaan berjalan, sementara hal yang sudah diputuskan atas diri pembaca tidak disentuh. Doa mana milik pembaca yang meminta waktu dan melewatkan putusan yang sedang berlaku?
  • Iblis menamai batas tempo dengan peristiwa, hari mereka dibangkitkan, sedangkan 16:21 dan 27:65 menyatakan bahwa mereka yang dibangkitkan tidak menyadari kapan hari itu tiba. Ayat 38:79 tidak mengatakan apakah peminta tempo mengetahui jarak ke hari itu. Pembaca yang pernah menyebut tenggat untuk diri sendiri, misalnya sampai urusan tertentu selesai, dapat memperhatikan hal yang sama: sebuah batas yang dinamai dengan peristiwa belum tentu berarti jaraknya dipegang oleh yang menyebutnya. Apakah tenggat yang pernah pembaca ucapkan di hadapan Tuhan punya jarak yang pembaca ketahui, atau nama yang terdengar pasti saja?
  • Dalam urutan tertulis, tempo diminta di 38:79, diberikan di 38:80 sampai 38:81, dan tujuannya baru terbaca di sumpah 38:82. Pembaca yang berhenti di 38:79 melihat permintaan yang tampak sederhana karena isinya soal waktu saja. Susunan itu memperlihatkan bahwa permintaan tempo dapat disampaikan terpisah dari alasannya, dan alasan itu baru kelihatan beberapa ayat kemudian. Tempo yang sampai kepada pembaca dari anak, rekan kerja, atau diri sendiri dapat diperiksa dengan urutan yang sama: apa yang tertulis sebagai alasannya sekarang, dan apa yang baru terbaca sesudah waktunya terpakai? Sudahkah pembaca menanyakan untuk apa tempo itu sebelum memberikannya?
  • Surah yang sama memuat dua ucapan yang dibuka dengan susunan yang sama, yaitu berkata dengan seruan Tuhanku. Di 38:35 isinya permintaan ampun dan permintaan kerajaan yang tidak patut bagi siapa pun sesudahnya, sedangkan di 38:79 isinya tempo sampai hari kebangkitan, dan tidak ada kata ampun di dalamnya. Pembaca yang menelaah doa sendiri dapat mencari isi yang menyertai kata Tuhanku: ampunankah di dalamnya, atau tempo saja? Mana yang lebih menentukan arti sebuah doa, bentuknya yang rapi atau isinya?
  • Di 38:78 pembicara menyebut laknat dengan akhiran -Ku, dan di 38:79 permintaan tempo diajukan dengan seruan Tuhanku. Permintaan itu diarahkan kepada Tuhan yang menetapkan, dengan perintah satu kata, tangguhkanlah, dan ayat tidak memuat usaha mencari pihak lain. Pembaca dapat memperhatikan ke mana permintaan tempo biasanya dialamatkan ketika sebuah putusan sudah turun atas keadaan pembaca, kepada orang yang paling mungkin melunak atau kepada Tuhan yang menetapkan. Pihak mana yang pembaca datangi lebih dulu ketika waktunya terasa kurang?