إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ
sampai hari yang waktunya telah ditentukan.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَىٰ يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِilaa yawmi l-waqti l-ma'luumisampai hari yang waktunya telah ditentukan
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِلَىٰilaasampai
- يَوْمِyawmiHari
- الْوَقْتِl-waqtiwaktu
- الْمَعْلُومِl-ma'luumiyang ditentukan
Inti bacaan
Susunan (يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ, yawmi l-waqti l-ma'luumi) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:38 dan 38:81.
Penjelasan pilihan kata
Kata pertama (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "sampai" menandai batas akhir, dan kata itu tidak didahului kata kerja di ayat ini. Karena itu 38:81 terbaca sebagai sambungan dari 38:80, yaitu (فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ, fa-innaka mina l-munzhariina) yang berarti "maka sesungguhnya engkau termasuk yang ditangguhkan", dan tanda petik tutup di ujung terjemahan menutup ucapan yang dibuka di ayat itu. Kata ilaa dipakai tiga kali untuk batas hari dalam empat ayat berurutan: (إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ, ilaa yawmi d-diini) yang berarti "sampai Hari Pertanggungjawaban" di 38:78, (إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ, ilaa yawmi yub'atsuuna) yang berarti "sampai hari mereka dibangkitkan" di 38:79, dan susunan di ayat ini. Pola tiga sebutan itu muncul juga di 15:35, 15:36, dan 15:38.
Kata (يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ, yawmi l-waqti l-ma'luumi) tersusun dari tiga kata. Kata (يَوْمِ, yawmi) berarti "hari", kata (الْوَقْتِ, l-waqti) berarti "waktu", dan kata (الْمَعْلُومِ, l-ma'luumi) berarti "yang ditentukan". Terjemahan menempatkan sifat itu pada kata waktu, sehingga terbaca "hari yang waktunya telah ditentukan". Susunan lengkap ini hanya muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:38 dan 38:81. Di tempat lain sifat yang sama menempel pada kata hari yang tak tentu, seperti (لِمِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, li-miiqaati yawmin ma'luumin) yang berarti "pada hari yang telah ditentukan" di 26:38 dan (إِلَىٰ مِيقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُومٍ, ilaa miiqaati yawmin ma'luumin) yang berarti "pada waktu hari yang telah ditentukan" di 56:50. Di dua ayat itu waktu disebut dengan miiqaat, tidak dengan waqt.
Kata waqt berakar و-ق-ت dan muncul di tiga ayat saja, yaitu 7:187, 15:38, dan 38:81. Di 7:187 bentuknya (لِوَقْتِهَا, li-waqtihaa) yang berarti "waktu terjadinya", dalam kalimat yang menyatakan bahwa tidak ada yang dapat menjelaskan waktu itu selain Dia. Akar yang sama membentuk miiqaat dan bentuk jamaknya di delapan ayat, yaitu 2:189, 7:142, 7:143, 7:155, 26:38, 44:40, 56:50, dan 78:17. Terjemahan 38:81 memakai "waktu" untuk waqt dan tidak menggantinya dengan "saat" atau "tempo", karena padanan itu tidak menunjuk kata Arab yang ada di sini.
Kata (مَعْلُومٌ, ma'luumun) adalah bentuk pasif dari akar ع-ل-م, dan arti harfiahnya "yang diketahui". Kata itu muncul di tiga belas ayat, yaitu 2:197, 15:4, 15:21, 15:38, 22:28, 26:38, 26:155, 37:41, 37:164, 38:81, 56:50, 70:24, dan 77:22. Delapan di antaranya diterjemahkan "ditentukan", yaitu 15:38, 22:28, 26:38, 26:155, 37:41, 38:81, 56:50, dan 77:22. Padanan lain dipakai di ayat yang kata induknya berbeda: "diketahui" di 15:4, "tertentu" di 15:21, 37:164, dan 70:24, dan "dimaklumi" di 2:197. Padanan "ditentukan" dipakai untuk hari, hari-hari, atau waktu di tujuh dari delapan ayat itu, sehingga 38:81 mengikuti pemakaian yang sudah ada. Bentuk Arabnya tidak menyebut siapa yang mengetahui atau menentukan, dan terjemahan "telah ditentukan" mengikutinya dengan bentuk pasif tanpa pelaku.
Tafsiran
Ayat 38:81 melengkapi jawaban di 38:80 dengan batas: kedudukan sebagai yang ditangguhkan berlaku sampai hari yang waktunya telah ditentukan. Dengan ayat ini tempo itu menjadi berbatas, dan permintaan di 38:79, yang juga bertitik akhir, dijawab dengan titik akhir yang dinamai lain. Iblis meminta tempo sampai hari mereka dibangkitkan, sedangkan jawabannya menyebut hari yang waktunya telah ditentukan. Teks tidak mengatakan bahwa kedua sebutan itu menunjuk hari yang sama, dan tidak mengatakan bahwa keduanya berbeda.
Tiga sebutan hari muncul dalam empat ayat berurutan. Laknat berlaku sampai Hari Pertanggungjawaban di 38:78, tempo diminta sampai hari mereka dibangkitkan di 38:79, dan tempo diberikan sampai hari yang waktunya telah ditentukan di 38:81. Ketiganya tidak disamakan oleh ayat mana pun di dalam rangkaian ini. Urutan tiga sebutan itu sama dengan 15:35, 15:36, dan 15:38. Di 7:14 sampai 7:15 hanya ada satu sebutan hari, yaitu permintaan, dan jawaban di 7:15 berhenti pada kedudukan tanpa batas hari. Di 17:62 sampai 17:63 Iblis menyebut hari kebangkitan, dan perintah di 17:63 tidak memuat batas hari. Hanya di surah 15 dan surah 38 jawabannya memuat batas yang dinamai.
Ayat ini tidak memuat kata kerja dan tidak memuat pembicara baru. Isinya batas saja, dan jawaban menjadi lengkap sebelum Iblis berbicara lagi di 38:82. Sumpah di 38:82 dibuka dengan awalan fa, sehingga terbaca menyambung ke jawaban yang sudah lengkap bersama batasnya.
Renungan dan Hikmah
- Jawaban Allah kepada Iblis di 38:80 tidak berhenti pada pemberian tempo; 38:81 menambahkan kata sampai, dan tempo itu menjadi berbatas. Batas itu ditulis dalam kalimat yang sama dengan pemberiannya, tidak di ayat yang jauh sesudahnya. Pembaca dapat memeriksa kelonggaran yang diterimanya, dari jabatan, kesehatan, atau kesempatan kedua, untuk melihat apakah ujungnya sudah dikenali sebagai bagian dari pemberian itu. Apakah pembaca memperlakukan waktu yang masih ada sebagai sesuatu yang berpagar sampai hari tertentu, atau sebagai ruang terbuka tanpa dinding?
- Batas di 38:81 disebut waktu yang telah ditentukan, dan kalimat itu tidak memuat tanggalnya. Di 16:21 dan 27:65 pihak yang dibangkitkan digambarkan tidak menyadari kapan mereka dibangkitkan. Kedua ayat itu berbicara tentang hari dibangkitkan dan tidak disamakan dengan hari di 38:81, tetapi ketiganya memperlihatkan bahwa sebuah hari dapat disebut tanpa tanggal yang bisa dibaca. Pembaca yang hidup dengan batas tanpa tanggal menyusun rencana dengan salah satu anggapan, batas itu masih jauh atau batas itu sudah dekat. Anggapan mana yang dipakai pembaca untuk jarak ke batas yang tidak ditulis tanggalnya, dan pernahkah anggapan itu disebut kepada Tuhan?
- Dalam 38:78 sampai 38:81 tertulis tiga sebutan hari: Hari Pertanggungjawaban, hari mereka dibangkitkan, dan hari yang waktunya telah ditentukan. Pembaca yang sering memakai beberapa nama untuk satu tenggat, atau satu nama untuk beberapa tenggat, dapat memeriksa kebiasaannya: kapan sebutan yang berbeda dianggap menunjuk hari yang sama tanpa dasar tertulis. Apakah pembaca menahan diri dari menyimpulkan bahwa tiga nama itu satu hari, padahal ayat-ayat itu sendiri tidak menyimpulkannya?
- Iblis menamai batas tempo dengan sebuah peristiwa, hari mereka dibangkitkan, sedangkan jawaban di 38:81 menamainya dengan sifat waktunya, yaitu telah ditentukan. Permintaan menunjuk apa yang terjadi pada pihak lain, dan jawaban menunjuk bahwa waktunya sudah tetap. Allah tidak mengulang kata dibangkitkan di dalam jawaban-Nya. Pembaca yang pernah meminta tangguh dengan menyebut peristiwa orang lain, misalnya sampai pihak itu menjawab, dapat memperhatikan bahwa jawaban di ayat ini memakai bahasa yang berbeda dari permintaannya, yaitu bahasa tentang waktu itu sendiri. Peristiwa apa yang pembaca jadikan patokan tenggat, dan sudahkah waktunya diperiksa dari sisi yang lain?
- Ayat 38:81 terdiri dari empat kata, tanpa kata kerja, dan seluruh isinya batas. Pembaca yang berhenti pada kabar lega di 38:80, bahwa tempo diberikan, melewatkan bagian yang pendek tetapi menentukan kedudukan tempo itu. Dalam percakapan yang sama Tuhan menaruh batas di ayat yang tidak berbunyi apa-apa selain batas. Bagian mana dari sebuah kelonggaran yang paling cepat pembaca lewati karena pendek, padahal bagian itu menentukan seberapa jauh kelonggaran berlaku?
- Kata ma'luum berarti yang diketahui, dan terjemahan memilih ditentukan; kedua padanan itu tidak menyebut siapa yang mengetahui atau menetapkan. Di 7:187 pembicara menyatakan bahwa tidak ada yang menjelaskan waktu terjadinya kiamat selain Dia, dan 38:81 memakai kata waktu yang sama. Ayat ini tidak mengaitkan keduanya secara tertulis, tetapi pembaca dapat membacanya berdampingan. Pembaca yang menerima kepastian tentang suatu tenggat tanpa diberi tahu siapa yang memastikannya dapat bertanya kepada diri sendiri: apakah ketenangan itu bergantung pada tahu tanggal, atau pada kepercayaan kepada Dia yang menurut 7:187 menjelaskan waktu terjadinya kiamat tanpa ada yang lain?