قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Ia berkata, “Maka demi kedigdayaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قَالَ فَبِعِزَّتِكَqaala fa-bi-'izzatikaia berkata, maka demi kedigdayaan-Mu
- لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَla-ughwiyannahum ajma'iinapasti aku akan menyesatkan mereka semuanya
Terjemahan per kata (4 kata)
- قَالَqaalaberkata
- فَبِعِزَّتِكَfa-bi-'izzatikamaka demi kedigdayaan-Mu
- لَأُغْوِيَنَّهُمْla-ughwiyannahumsungguh aku akan menyesatkan mereka
- أَجْمَعِينَajma'iinaseluruhnya
Inti bacaan
Susunan (لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ, la-ughwiyannahum ajma'iina) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 15:39 dan 38:82, dan keduanya diucapkan Iblis.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (قَالَ فَبِعِزَّتِكَ, qaala fa-bi-'izzatika) yang berarti "ia berkata, maka demi kedigdayaan-Mu". Kata (فَبِعِزَّتِكَ, fa-bi-'izzatika) tersusun dari awalan (فَ, fa) yang berarti "maka", awalan (بِ, bi) yang berarti "demi", kata (عِزَّةِ, 'izzati) yang berarti "kedigdayaan", dan akhiran (كَ, -ka) yang berarti "-Mu". Awalan fa menyambungkan sumpah ini ke jawaban di 38:80 dan 38:81. Terjemahan menulis "maka" karena kata Arab itu ada, seperti (فَوَرَبِّكَ, fa-wa-rabbika) di 15:92 dan 19:68 yang diterjemahkan "Maka demi Tuhanmu". Pembicaranya tidak disebut namanya, dan susunan percakapan menunjuk pihak yang meminta tempo di 38:79, sehingga terjemahan memakai "Ia" dan "aku" berhuruf kecil, dan "-Mu" berhuruf besar bagi lawan bicaranya.
Akar ع-ز-ز pada kata 'izzah menjadi kata benda di sembilan ayat, yaitu 2:206, 4:139, 10:65, 26:44, 35:10, 37:180, 38:2, 38:82, dan 63:8. Kata itu diterjemahkan "kedigdayaan" di semuanya. Lima ayat menyatakan siapa pemilik kedigdayaan: (فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا, fa-li-llaahi l-'izzatu jamii'an) yang berarti "maka kedigdayaan itu semuanya milik Allah" di 35:10, kalimat sejenis di 4:139, 10:65, dan 63:8, dan (رَبِّ الْعِزَّةِ, rabbi l-'izzati) yang berarti "Tuhan pemilik kedigdayaan" di 37:180. Ayat 63:8 menyebut Rasul-Nya dan orang-orang mukmin sebagai pemilik bersama. Ayat 26:44 dan 38:2 mengaitkan kata itu dengan pihak lain, yaitu (بِعِزَّةِ فِرْعَوْنَ, bi-'izzati fir'awna) yang berarti "demi kedigdayaan Firaun" dan (فِي عِزَّةٍ, fii 'izzatin) yang berarti "dalam kedigdayaan" bagi orang-orang yang kufur. Awalan bi- di depan kata ini hanya ada dua kali, yaitu di 26:44 dan 38:82, dan akhiran -ka sesudah kata ini hanya ada di 38:82.
Kata (لَأُغْوِيَنَّهُمْ, la-ughwiyannahum) yang berarti "pasti aku akan menyesatkan mereka" tersusun dari awalan (لَ, la) dan akhiran penekan (نَّ, -nna) yang bersama-sama menegaskan sumpah, kata kerja (أُغْوِيَ, ughwiya) yang berarti "aku menyesatkan", dan akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Akarnya غ-و-ي. Kata bendanya (الْغَيِّ, l-ghayyi) berlawanan dengan rusyd, sebab 2:256 menyebut (الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ, r-rusydu mina l-ghayyi) yang berarti "jalan yang benar dari jalan yang sesat", dan 7:146 memasangkan kedua jalan itu. Bentuk kata kerja yang membuat pihak lain berada dalam keadaan itu muncul di enam ayat, yaitu 7:16, 11:34, 15:39, 28:63, 37:32, dan 38:82. Karena itu terjemahan memakai "menyesatkan". Kalimat (وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ, wa-la-ughwiyannahum ajma'iina) muncul di 15:39 dengan bunyi yang sama. Dalam percakapan Iblis dan Allah di 7:16 dan 15:39 Iblis memakai kata kerja ini untuk perbuatan Allah terhadapnya, yaitu (أَغْوَيْتَنِي, aghwaytanii) yang berarti "Engkau telah menyesatkanku", sedangkan di 38:82 kata kerja itu dipakai untuk perbuatan Iblis sendiri dan ucapan itu tidak didahului kalimat yang menunjuk perbuatan Allah sebagai sebab.
Kata (أَجْمَعِينَ, ajma'iina) yang berarti "semuanya" menegaskan bahwa -hum tidak berkecuali. Kata ini muncul di 23 ayat, dan di percakapan Iblis dan Allah kata itu ada di lima ayat, yaitu 7:18, 15:39, 15:43, 38:82, dan 38:85. Kata ganti -hum di ayat ini tidak diberi nama. Ayat 38:82 tidak menyebut siapa yang dimaksud dengan "mereka", dan kata mereka di 38:79 juga tidak diberi nama. Tanda koma di ujung terjemahan menandai bahwa kalimat sumpah ini belum selesai dan berlanjut ke ayat berikutnya.
Tafsiran
Ayat 38:82 memuat tekad Iblis yang diucapkan sesudah tempo diberikan, dan tekad itu dirumuskan sebagai sumpah. Isi sumpahnya menyangkut semua pihak yang disebut "mereka", tanpa pengecualian di dalam ayat ini. Tekad semacam itu muncul dalam setiap percakapan antara Iblis dan Allah tentang sujud kepada Adam, tetapi susunannya berbeda-beda. Di 7:16 dan 15:39 tekad didahului kalimat yang menunjuk perbuatan Allah sebagai sebab, yaitu "karena Engkau telah menyesatkanku", sedangkan di 17:62 tekad berada dalam kalimat bersyarat tentang tempo. Di surah 38 tekad dibuka dengan sumpah dengan kedigdayaan Allah, dan tidak ada kalimat yang menunjuk sebab pada pihak lain.
Awalan fa di (فَبِعِزَّتِكَ, fa-bi-'izzatika) menaruh ayat ini sebagai kelanjutan dari 38:80 dan 38:81: tempo yang dijawab lebih dulu, tekad menyusul. Urutan itu tertulis, dan kata "karena" tidak terdapat di antara keduanya. Iblis berbicara tiga kali dalam surah ini: alasan penolakan di 38:76, permintaan tempo di 38:79, dan tekad di 38:82. Ketiga ucapan itu bergeser isinya dari alasan ke permintaan, lalu ke rencana.
Ayat ini belum selesai. Kalimat tekad berhenti pada koma, dan pengecualian baru ada di ayat berikutnya. Karena itu 38:82 sendiri terbaca sebagai pernyataan tanpa batas, dan pembaca baru dapat menimbang ruang lingkupnya sesudah 38:83. Jawaban atas sumpah ini tertulis di 38:84 dan 38:85 dan tidak termasuk dalam ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Iblis bersumpah dengan kedigdayaan Allah, sifat yang menurut 10:65, 35:10, dan 37:180 dimiliki Allah atau Tuhan sebagai pemiliknya. Sumpah memanggil sebuah nama yang diakui lebih besar daripada pembicara, dan di ayat ini nama itu menjadi jaminan bagi rencana menyesatkan, padahal 38:72 dan 38:74 telah mencatat perintah sujud dari pemilik nama yang sama dan penolakan Iblis atasnya. Pembaca dapat menimbang apakah ada kalimat dalam ucapan atau doanya sendiri yang menyebut sifat Tuhan sebagai jaminan atas rencana yang belum pernah diceritakan kepada-Nya. Seberapa jauh jarak antara nama yang disebut dan arah yang sebenarnya dituju?
- Tekad di 38:82 tertulis sesudah tempo diberikan di 38:80 dan 38:81, dengan awalan yang menyambungkannya, maka. Urutan tertulisnya jelas: waktu diterima lebih dulu, lalu rencana disebut. Pembaca yang menerima waktu tambahan dari Tuhan, entah dalam bentuk usia, kesempatan, atau kelonggaran, dapat memperhatikan apa yang pertama kali diucapkannya sesudah menerima. Pernyataan apa yang pembaca keluarkan sesudah kelonggaran terakhir yang diterimanya, dan kepada siapa pernyataan itu ditujukan?
- Ayat 38:82 mencatat sebuah tekad dengan kata pasti dan kata semuanya, tetapi ayat ini tidak menyatakan bahwa tekad itu akan terlaksana. Ayat memuat ucapan Iblis lengkap dengan sumpah yang menyertainya, tanpa pembenaran dari pembicara lain di dalam ayat ini. Pembaca dapat membedakan dua hal yang dapat tercampur ketika membaca kalimat yang kuat: apa yang diucapkan pembicara dengan penuh keyakinan dan apa yang dikatakan teks tentang kenyataan. Apakah pembaca pernah menerima janji yang disumpahkan sebagai kabar tentang apa yang pasti terjadi, padahal itu hanya catatan tentang niat pembicaranya?
- Tekad yang sama dibenarkan dengan dua cara. Di 7:16 dan 15:39 Iblis lebih dulu menunjuk perbuatan Allah sebagai sebab, karena Engkau telah menyesatkanku, sedangkan di 38:82 Iblis bersumpah dengan kedigdayaan-Nya tanpa kalimat penunjuk sebab. Pembaca dapat menaruh kedua cara itu di samping rencana-rencananya sendiri: sebagian dibenarkan dengan menunjuk pihak lain yang dianggap menjadi sebabnya, sebagian dengan memanggil sesuatu yang lebih besar sebagai jaminan. Cara membenarkan rencana yang mana yang paling sering dipakai pembaca, menunjuk sebab pada pihak lain atau menjaminkan sesuatu yang lebih besar?
- Kata mereka di 38:82 tidak diberi nama, dan di 38:79 juga tidak. Ayat yang berbicara tentang menyesatkan semuanya tidak menunjuk siapa pun secara tertentu, sehingga setiap pembaca dapat bertanya di mana diri sendiri berdiri dalam kata itu. Pembaca dapat menempatkan diri sendiri di antara mereka atau di luar mereka, dan ayat ini tidak memutuskan. Ayat berikutnya memuat sebuah pengecualian, tetapi ayat ini belum memuatnya. Apakah pembaca lebih cepat menganggap diri berada di luar kata mereka, dan atas dasar apa anggapan itu diambil?
- Di 26:44 para penyihir bersumpah dengan kedigdayaan Firaun lalu menyatakan bahwa merekalah yang menang, dan di 38:82 Iblis bersumpah dengan kedigdayaan Allah lalu menyatakan akan menyesatkan semuanya. Pada dua ayat itu sumpah dengan kedigdayaan mendahului pernyataan menang atau menguasai, tetapi pemilik kedigdayaan yang disebut berbeda. Kedua ayat tidak dibandingkan oleh teks. Kedigdayaan milik siapa yang pembaca sebut ketika menjamin sebuah rencana?