بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ

Diturunkannya Kitab dari Allah, Sang Digdaya, Sang Penuh Hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِtanziilu l-kitaabi mina llaahiditurunkannya Kitab dari Allah
  2. الْعَزِيزِ الْحَكِيمِal-'aziizi l-hakiimiSang Digdaya, Sang Penuh Hikmah

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. تَنْزِيلُtanziiluturunnya
  2. الْكِتَابِl-kitaabiKitab
  3. مِنَminadari
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. الْعَزِيزِal-'aziiziSang Digdaya
  6. الْحَكِيمِl-hakiimiyang penuh hikmah

Inti bacaan

Pasangan (الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ, al-'aziizi l-hakiimi) dengan harakat persis begini muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (تَنْزِيلُ, tanziilu) yang berarti "diturunkannya", kata benda dari akar ن-ز-ل. Seluruh ayat tidak memuat satu kata kerja pun, isinya rangkaian kata benda: diturunkannya, Kitab, dari Allah, Sang Digdaya, dan Sang Penuh Hikmah. Terjemahan mengikuti susunan itu dan tidak menyisipkan "adalah" atau "ini". Kata (تَنْزِيلُ, tanziilu) berdampingan dengan kata Kitab di lima ayat, yaitu 32:2, 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2. Asal Kitab di kelima ayat itu disebut dengan dua cara: (مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ, min rabbi l-'aalamiina) yang berarti "dari Tuhan seisi alam" di 32:2, dan (مِنَ اللَّهِ, mina llaahi) yang berarti "dari Allah" di 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2. Bentuk yang sama dengan awalan lam ada di 26:192, (لَتَنْزِيلُ, la-tanziilu) yang berarti "benar-benar diturunkannya", tanpa kata Kitab sesudahnya.

Kata (الْكِتَابِ, l-kitaabi) yang berarti "Kitab" memakai kata sandang al-, dan ayat ini tidak memuat kata penunjuk atau keterangan yang menyebut Kitab yang mana. Karena itu terjemahan tidak memakai "ini" dan tidak menambahkan keterangan dalam kurung. Ayat 39:2 mengulang kata (الْكِتَابَ, l-kitaaba) dan menambahkan penerimanya lewat kata (إِلَيْكَ, ilayka) yang berarti "kepadamu", sedangkan ayat ini belum menyebut penerima, waktu, atau tempat.

Kata (مِنَ, mina) yang berarti "dari" menunjuk asal, dan nama (اللَّهِ, llaahi) yang menyusul menyebut asal itu dengan namanya sendiri, tanpa kata ganti. Rangkaian (مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ, mina llaahi al-'aziizi) yang berarti "dari Allah Sang Digdaya" muncul empat kali, yaitu di 39:1, 40:2, 45:2, dan 46:2.

Dua sebutan penutup, (الْعَزِيزِ, al-'aziizi) yang berarti "Sang Digdaya" dan (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) yang berarti "Sang Penuh Hikmah", sama-sama memakai kata sandang, sehingga terjemahan memberi "Sang" pada keduanya. Pasangan (الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ, al-'aziizi l-hakiimi) dengan harakat persis begini muncul lima kali, yaitu di 3:126, 39:1, 45:2, 46:2, dan 62:1. Seluruh ayat 39:1, dari kata pertama sampai kata terakhir, sama dengan 45:2 dan 46:2. Ayat 40:2 sama sampai nama Allah, lalu memakai (الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, al-'aziizi l-'aliimi) yang berarti "Sang Digdaya, Sang Berilmu"; pasangan itu muncul empat kali, yaitu di 6:96, 36:38, 40:2, dan 41:12.

Kedua sebutan itu dipakai juga bagi Kitab sendiri. Kata (عَزِيزٌ, 'aziizun) menyifati Kitab di 41:41, (لَكِتَابٌ عَزِيزٌ, la-kitaabun 'aziizun) yang berarti "benar-benar kitab yang digdaya". Kata (الْحَكِيمِ, l-hakiimi) menyifati Kitab di 10:1 dan 31:2, (الْكِتَابِ الْحَكِيمِ, l-kitaabi l-hakiimi) yang berarti "Kitab yang penuh hikmah". Jadi dua sebutan bagi asal Kitab di ayat ini juga dipakai bagi Kitab itu di tiga ayat lain.

Tafsiran

Ayat ini membuka Surah Az-Zumar tanpa huruf pembuka. Empat surah lain memuat kata (تَنْزِيلُ, tanziilu) tepat di ayat kedua, sesudah huruf pembuka di ayat pertama: Alif Laam Miim di 32:1, lalu Haa Miim di 40:1, 45:1, dan 46:1. Di 39:1 kata itu menjadi kata pertama surah, sehingga pembaca langsung berhadapan dengan asal Kitab. Sebab perbedaan itu tidak diterangkan teks.

Isi ayat ini adalah keterangan asal, tanpa perintah, larangan, ancaman, atau janji. Perintah pertama surah baru datang di 39:2, sesudah penurunan Kitab disebut sekali lagi dengan kata "Kami", dan perintah itu disambung dengan "maka" pada (فَاعْبُدِ, fa-'budi). Dengan begitu perintah mengabdi di 39:2 bertumpu pada keterangan asal di 39:1. Nama Allah juga berpindah kedudukan di antara dua ayat itu: di 39:1 Allah disebut dengan nama sebagai pihak ketiga, di 39:2 penurunan dinyatakan dengan "Kami", lalu perintahnya memakai nama Allah lagi.

Kalimat yang sama muncul sesudah huruf pembuka di 45:2 dan 46:2, tetapi lanjutannya berbeda. Ayat 46:3 menyebut penciptaan langit dan bumi dengan hak dan waktu yang ditentukan, 45:3 menyebut tanda-tanda di langit dan bumi, sedangkan 39:2 menyebut penurunan Kitab dengan hak lalu perintah mengabdi. Di surah ini penciptaan langit dan bumi dengan hak serta waktu yang ditentukan baru datang di 39:5.

Nama Sang Digdaya muncul lagi di 39:5, berpasangan dengan Sang Pengampun. Ayat 39:2 sampai 39:4, yang berisi perintah, kutipan alasan sekelompok orang, dan pengandaian tentang anak, berada di antara dua penyebutan Sang Digdaya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 39:1 menyebut dari siapa Kitab diturunkan sebelum menyebut satu pun isinya. Pembaca yang membuka surah ini belum diberi tahu apa yang harus dipercaya atau dikerjakan; yang lebih dulu diberitahukan ialah bahwa Kitab itu datang dari Allah. Urutan semacam itu mengubah cara sebuah halaman dibaca, sebab nama pengirim sudah tertanam sebelum bunyi kabarnya sampai. Pembaca dapat menimbang apa yang diperiksa lebih dulu ketika menerima kabar penting, nama pengirimnya atau isinya, dan apa yang terjadi pada penilaian bila urutan itu ditukar?
  • Ayat ini menyebut Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah berdampingan, dan tidak memilih salah satu. Pembaca yang membayangkan pengirim Kitab sebagai penguasa saja akan kehilangan nama kedua, dan pembaca yang membayangkannya sebagai penasihat saja akan kehilangan nama pertama. Dapat dibaca bahwa kedua nama itu disebut bersama sehingga kedua bayangan sepihak itu sama-sama tidak cukup. Pada saat sebuah perintah terasa berat, pembaca dapat bertanya nama mana yang sedang diingat tentang Allah, dan nama mana yang tertinggal.
  • Ayat 39:1 tidak memuat satu perintah pun, dan perintah pertama surah baru muncul di 39:2. Satu ayat penuh dipakai untuk memberi tahu siapa yang akan memerintah, dan baru sesudah itu perintahnya datang. Pembaca yang pernah menerima tugas dari pihak yang namanya tidak dikenalnya dapat membandingkan pengalaman itu dengan urutan ini, sebab perintah yang datang sesudah perkenalan terasa lain dari perintah yang datang tanpa nama. Tinggal pertanyaan apakah perkenalan dengan Allah sudah selesai pada pembaca ketika perintahnya terdengar.
  • Sebutan Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah dipakai bagi pengirim Kitab di ayat ini, dan dipakai pula bagi Kitab itu sendiri di 41:41, 10:1, dan 31:2. Pembaca dengan begitu memegang dua hal yang berbagi nama, dan dapat mengujinya satu terhadap yang lain. Ayat 4:82 menyebut satu ukuran uji, yaitu bahwa Al-Qur'an yang berasal dari selain Allah akan memuat banyak pertentangan. Ayat 39:1 sendiri menyatakan asal dan tidak menyebut cara menguji, dan kedua ayat itu tidak saling menafsirkan. Pembaca dapat bertanya apa yang ditemukannya ketika membaca sehalaman dengan pertanyaan itu di tangan.
  • Di 39:1 Allah dibicarakan sebagai pihak ketiga, tanpa seorang pembicara pun diperkenalkan, dan baru di 39:2 terdengar kata "Kami" serta sapaan "kepadamu". Pembaca mengalami dua tahap berurutan: lebih dulu mendengar sesuatu tentang Allah, kemudian merasa disapa. Urutan itu menyisakan bahan renungan tentang dua cara berhubungan dengan Tuhan, yaitu mengetahui sesuatu tentang-Nya dan bercakap dengan-Nya. Pembaca dapat menimbang yang mana dari keduanya lebih sering mengisi harinya, dan apa yang akan berubah bila ayat kedua yang lebih sering diingat.
  • Kalimat 39:1 muncul huruf demi huruf di 45:2 dan 46:2. Pembaca yang menemukannya untuk ketiga kali tahu bahwa tidak ada kata baru yang menandai perbedaan, dan perbedaannya terletak pada apa yang mendahului serta menyusulnya. Di sini kalimat itu tidak didahului huruf apa pun dan disusul perintah mengabdi, sedangkan di dua surah lain ia disusul ayat tentang langit dan bumi. Sebuah kalimat yang sudah dikenal dapat terbaca baru karena letaknya berubah. Di antara kalimat yang sudah lama dihafal pembaca, adakah yang pernah terbaca lain ketika dijumpai di tempat yang berbeda?