إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan hak. Maka, mengabdilah kepada Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّinnaa anzalnaa ilayka l-kitaaba bi-l-haqqisesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan hak
- فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَfa-'budi llaaha mukhlishan lahu d-diinamaka, mengabdilah kepada Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya
Terjemahan per kata (10 kata)
- إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
- أَنْزَلْنَاanzalnaaKami menurunkan
- إِلَيْكَilaykakepadamu
- الْكِتَابَl-kitaabaKitab
- بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
- فَاعْبُدِfa-'budimaka mengabdilah
- اللَّهَllaahaAllah
- مُخْلِصًاmukhlishandengan tulus
- لَهُlahubaginya
- الدِّينَd-diinapertanggungjawaban
Inti bacaan
Frasa (لَهُ الدِّينَ, lahu d-diina) muncul sembilan kali di Al-Qur'an, yaitu di 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 39:2, 39:11, 40:14, 40:65, dan 98:5, dan setiap kalinya didahului bentuk mukhlis.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا أَنْزَلْنَا, innaa anzalnaa) yang berarti "sesungguhnya Kami menurunkan". Kata kerja (أَنْزَلْنَا, anzalnaa) berakar ن-ز-ل, akar yang sama dengan (تَنْزِيلُ, tanziilu) di 39:1. Ayat sebelumnya menyebut asal Kitab dengan nama Allah, dan di sini penurunannya dinyatakan dengan kata "Kami". Rangkaian (أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ, anzalnaa ilayka l-kitaaba) yang berarti "Kami menurunkan Kitab kepadamu" muncul empat kali, yaitu di 4:105, 5:48, 29:47, dan 39:2. Ayat 39:2 menyebut penerima lewat kata (إِلَيْكَ, ilayka) yang berarti "kepadamu".
Kata (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "dengan hak" mengikuti kata Kitab secara langsung di tujuh ayat pada enam surah, yaitu 2:176, 2:213, 3:3, 4:105, 5:48, 39:2, dan 42:17. Rangkaian (الْكِتَابَ بِالْحَقِّ, l-kitaaba bi-l-haqqi) itu menyatakan cara Kitab diturunkan, dan ayat ini tidak merinci isi "hak" yang dimaksud, sehingga terjemahan tidak menambahkan keterangan apa pun di belakang kata hak.
Kata (فَاعْبُدِ, fa-'budi) yang berarti "maka mengabdilah" tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka" dan perintah tunggal dari akar ع-ب-د. Terjemahan memakai "mengabdilah" seperti pada perintah dari akar yang sama di 2:21, 16:36, dan 39:15. Kata kerja ini langsung diikuti nama (اللَّهَ, llaaha), dan kata "kepada" pada terjemahan dibutuhkan oleh susunan kalimat Indonesia saja. Perintah yang sama dengan objek lain ada di 39:15, (فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ, fa-'buduu maa syi'tum min duunihi) yang berarti "maka mengabdilah kepada apa yang kalian kehendaki selain Dia", tetapi konteksnya berbeda dan tidak dipakai di sini untuk menafsirkan 39:2.
Kata (مُخْلِصًا, mukhlishan) yang berarti "dengan memurnikan" berakar خ-ل-ص. Akar ini memberi petunjuk tentang artinya lewat pemakaiannya di tempat lain. Di 16:66, (لَبَنًا خَالِصًا, labanan khaalishan) yang berarti "susu murni" menyebut susu yang keluar dari antara kotoran dan darah tanpa ikut tercampur. Di 38:46, (أَخْلَصْنَاهُمْ بِخَالِصَةٍ, akhlashnaahum bi-khaalishatin) yang berarti "Kami memurnikan mereka dengan suatu kemurnian" memperlihatkan kata kerja dari akar ini dengan Allah sebagai pelaku. Bentuk (مُخْلِصًا, mukhlishan) muncul tiga kali, yaitu di 39:2, 39:11, dan 39:14, dan bentuk jamaknya (مُخْلِصِينَ, mukhlishiina) tujuh kali, yaitu di 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5.
Kata (الدِّينَ, d-diina) yang berarti "pertanggungjawaban" berakar د-ي-ن. Rangkaian (لَهُ الدِّينَ, lahu d-diina) yang berarti "pertanggungjawaban kepada-Nya" muncul sembilan kali, yaitu di 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 39:2, 39:11, 40:14, 40:65, dan 98:5, dan di setiap tempat itu rangkaian tersebut didahului bentuk mukhlis. Terjemahan memakai satu padanan untuk frasa yang identik di sembilan ayat itu. Dua ayat lain menyebut pemilik pertanggungjawaban yang dimurnikan itu: (مُخْلِصًا لَهُ دِينِي, mukhlishan lahu diinii) di 39:14, yang berarti "dengan memurnikan pertanggungjawabanku kepada-Nya", dan (وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ, wa-akhlashuu diinahum li-llaahi) di 4:146, yang berarti "dan memurnikan pertanggungjawaban mereka karena Allah". Kedua ayat itu menyebut pertanggungjawaban yang dimurnikan sebagai milik pelakunya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini mengubah surah dari keterangan menjadi perintah. Kalimat pertamanya, (إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ, innaa anzalnaa ilayka l-kitaaba bi-l-haqqi), menyatakan apa yang Kami lakukan, dan kalimat keduanya, (فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ, fa-'budi llaaha mukhlishan lahu d-diina), menyuruh dengan kata "maka". Alasan dan perintah berada dalam satu ayat, dan alasannya adalah penurunan Kitab yang di 39:1 baru disebut asalnya.
Rangkaian "Kami menurunkan Kitab kepadamu" dipakai juga di 4:105 dan 5:48, tetapi lanjutannya berbeda. Ayat 4:105 melanjutkan dengan tujuan agar yang menerima Kitab memutuskan di antara manusia, 5:48 melanjutkan dengan perintah memutuskan di antara mereka, sedangkan 39:2 melanjutkan dengan perintah mengabdi kepada Allah. Dalam surah ini bagian Kitab dan penerimanya muncul lagi di 39:41, ketika Kitab diturunkan untuk manusia, siapa yang mendapat petunjuk mendapatkannya untuk dirinya sendiri, siapa yang sesat, kesesatannya menimpa dirinya sendiri, dan penerima Kitab disebut bukan wakil atas mereka.
Perintah di 39:2 kembali dua kali di surah yang sama dengan nada berbeda. Ayat 39:11 memuatnya sebagai ucapan yang diperintahkan kepada penerimanya, yaitu bahwa penerimanya diperintah mengabdi kepada Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya. Ayat 39:14 memuatnya sebagai pernyataan bahwa pengabdian penerimanya tertuju kepada Allah dengan pertanggungjawaban yang dimurnikan itu.
Kata pemurnian di ayat ini mendapat isinya di 39:3. Ayat 39:2 meminta pemurnian dan tidak menyebut apa yang dapat bercampur dengannya, sedangkan 39:3 membuka dengan pernyataan bahwa pertanggungjawaban yang murni hanya bagi Allah, lalu mengutip orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia.
Renungan dan Hikmah
- Perintah di 39:2 tidak datang sendirian: kata "maka" menyambungnya dengan kalimat sebelumnya, yaitu bahwa Kitab diturunkan kepadamu dengan hak. Pembaca menerima alasan dan perintah dalam satu napas, sehingga perintah mengabdi kepada Allah tidak berdiri sebagai tuntutan tanpa dasar. Bagi yang pernah diperintah tanpa alasan, bedanya terasa, sebab tugas yang datang bersama sebabnya dapat dipertimbangkan, ditolak, atau diterima dengan paham. Pembaca dapat bertanya tentang sebuah kewajiban yang sedang dipikulnya, yaitu apa sebab yang menyertainya.
- Kata memurnikan menyisakan pertanyaan tentang apa yang bercampur. Ayat 39:2 menyebut tindakan memurnikan dan tidak menyebut bahan campurannya, sedangkan 39:3 baru membuka bahwa orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah berada di sisi lain pemurnian itu. Pembaca dapat memeriksa pertanggungjawabannya sendiri seperti memeriksa segelas air: apa yang terlarut di dalamnya, dan sejak kapan? Ayat tidak menjawab pertanyaan itu bagi pembaca, sehingga jawabannya dapat dicari lewat kejujuran pembaca sendiri kepada Allah.
- Pertanggungjawaban yang dimurnikan di ayat ini dapat memiliki pemilik, seperti "pertanggungjawabanku" di 39:14 dan "pertanggungjawaban mereka" di 4:146. Dapat dibaca bahwa pemurnian itu pekerjaan pemiliknya, dan tidak dapat diselesaikan oleh orang lain atas namanya. Bila pemurnian itu pernah diserahkan kepada kebiasaan keluarga, lingkungan, atau lembaga, ayat ini menyebut kata kerjanya tanpa menyebut siapa pun selain pelaku dan Allah. Pembaca dapat bertanya bagian mana dari pertanggungjawabannya yang masih dipegang orang lain.
- Perintah di 39:2 kembali dua kali di surah yang sama dengan nada berbeda: di 39:11 sebagai ucapan penerimanya sendiri bahwa dirinya diperintah, dan di 39:14 sebagai pernyataan bahwa pengabdiannya tertuju kepada Allah dengan pertanggungjawaban yang dimurnikan. Dapat dibaca bahwa perintah baru menjadi milik penerimanya ketika diucapkan ulang dengan kata "aku". Pembaca dapat membandingkan kalimat yang pernah diterimanya dengan kalimat yang pernah diucapkannya sendiri.
- Ayat 39:2 menyebut cara pengabdian, yaitu dengan memurnikan, dan tidak menyebut jumlah, waktu, atau bentuknya. Pembaca yang menghitung pengabdiannya dari banyaknya mendapati bahwa ukuran itu tidak ada di ayat ini. Ayat ini mengukur mutu, yaitu apakah ada yang bercampur di dalam pertanggungjawaban kepada Allah, dan isi ukuran semacam itu tidak tampak dari luar. Ayat 39:7 menyebut bahwa Dia berilmu akan apa yang tersimpan di dalam dada. Apakah ukuran yang tersembunyi itu mengubah cara pembaca menilai pengabdian orang lain?
- Kitab diturunkan kepadamu di 39:2, dan untuk manusia di 39:41. Dua penyebutan itu tidak saling menggantikan: yang pertama menyapa satu penerima, yang kedua membentangkan sasarannya. Pembaca yang membuka surah ini termasuk sasaran yang kedua, dan 39:41 menyebut akibatnya kembali pada diri masing-masing, yaitu petunjuk bagi dirinya sendiri dan kesesatan atas dirinya sendiri. Dengan begitu perintah mengabdi di 39:2 tidak dapat dibaca sebagai urusan orang lain yang kebetulan tertulis. Pembaca dapat menimbang seberapa dekat kata "kepadamu" itu ditaruhnya pada dirinya sendiri.