أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ ۚ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Ingatlah, hanya bagi Allah pertanggungjawaban yang murni. Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia, “Kami tidak mengabdi kepada mereka, kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat kufur.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُalaa li-llaahi d-diinu l-khaalishuingatlah, hanya bagi Allah pertanggungjawaban yang murni
- وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَwa-lladziina ttakhadzuu min duunihi awliyaa'adan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia
- مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰmaa na'buduhum illaa li-yuqarribuunaa ilaa llaahi zulfaakami tidak mengabdi kepada mereka, kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya
- إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَinna llaaha yahkumu baynahum fii maa hum fiihi yakhtalifuunasesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan
- إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌinna llaaha laa yahdii man huwa kaadzibun kaffaarunsesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat kufur
Terjemahan per kata (33 kata)
- أَلَاalaaingatlah
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- الدِّينُd-diinuagama
- الْخَالِصُl-khaalishuyang murni
- وَالَّذِينَwa-lladziinadan orang-orang yang
- اتَّخَذُواttakhadzuumereka mengambil
- مِنْmindari
- دُونِهِduunihiselain-Nya
- أَوْلِيَاءَawliyaa'apara pelindung
- مَاmaatidaklah
- نَعْبُدُهُمْna'buduhumkami mengabdi kepada mereka
- إِلَّاillaakecuali
- لِيُقَرِّبُونَاli-yuqarribuunaaagar mereka mendekatkan kami
- إِلَىilaakepada
- اللَّهِllaahiAllah
- زُلْفَىٰzulfaakedekatan
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- يَحْكُمُyahkumumemutuskan
- بَيْنَهُمْbaynahumdi antara mereka
- فِيfiitentang
- مَاmaaapa yang
- هُمْhummereka
- فِيهِfiihidi dalamnya
- يَخْتَلِفُونَyakhtalifuunamereka berselisih
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- لَاlaatidak
- يَهْدِيyahdiimemberi petunjuk
- مَنْmanorang yang
- هُوَhuwaia
- كَاذِبٌkaadzibunpendusta
- كَفَّارٌkaffaarunsangat ingkar
Inti bacaan
Kalimat (وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ, wa-lladziina ttakhadzuu min duunihi awliyaa'a) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:3 dan 42:6, dan di 42:6 kalimat berikutnya menyebut Allah sebagai penjaga atas mereka.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَلَا, alaa) yang berarti "ingatlah", seruan yang meminta perhatian sebelum sebuah pernyataan. Di surah ini kata itu muncul tiga kali, yaitu di 39:3, 39:5, dan 39:15. Pernyataan yang dibukanya, (لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ, li-llaahi d-diinu l-khaalishu) yang berarti "bagi Allah pertanggungjawaban yang murni", memuat (الدِّينُ, d-diinu) dengan kata sandang dan akhiran -u. Dalam bentuk ini kata itu muncul tujuh kali, yaitu di 2:193, 8:39, 9:36, 12:40, 16:52, 30:30, dan 39:3. Di empat ayat di antaranya ia disusul sifat atau keterangan: (الْقَيِّمُ, l-qayyimu) di 9:36, 12:40, dan 30:30, serta (وَاصِبًا, waashiban) di 16:52. Sifat (الْخَالِصُ, l-khaalishu) hanya ada di 39:3.
Kata (الْخَالِصُ, l-khaalishu) yang berarti "yang murni" berakar خ-ل-ص, dan bentuk persis ini muncul sekali saja, di 39:3. Akar yang sama memberi dua petunjuk tentang artinya. Di 16:66, (لَبَنًا خَالِصًا, labanan khaalishan) yang berarti "susu murni" menyebut susu yang keluar dari antara kotoran dan darah tanpa ikut tercampur. Di 2:94, (خَالِصَةً مِنْ دُونِ النَّاسِ, khaalishatan min duuni n-naasi) yang berarti "khusus, bukan untuk manusia lain" menyebut sesuatu yang dimiliki satu pihak tanpa pihak yang lain. Di 39:3 kedua petunjuk itu bertemu, dan kalimat berikutnya langsung memakai (مِنْ دُونِهِ, min duunihi) yang berarti "selain Dia", rangkaian yang sama dengan (مِنْ دُونِ, min duuni) di 2:94. Akar ini juga yang ada pada (مُخْلِصًا, mukhlishan) di 39:2, sehingga pemurnian yang diminta di ayat sebelumnya mendapat sifatnya di sini.
Kata (اتَّخَذُوا, ttakhadzuu) yang berarti "mereka mengambil" dan (أَوْلِيَاءَ, awliyaa'a) yang berarti "pelindung-pelindung" membentuk (وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ, wa-lladziina ttakhadzuu min duunihi awliyaa'a) yang berarti "dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia". Kalimat dengan kata-kata persis begini muncul dua kali, yaitu di 39:3 dan 42:6. Tanpa "dan orang-orang yang" di depannya, rangkaian itu muncul tiga kali di dua surah, yaitu di 39:3, 42:6, dan 42:9. Di 42:6 kalimat berikutnya (حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ, hafiizhun 'alayhim) yang berarti "penjaga atas mereka", dan 42:9 memuat (فَاللَّهُ هُوَ الْوَلِيُّ, fa-llaahu huwa l-waliyyu) yang berarti "maka Allah, Dialah Sang Pelindung". Kata awliyaa' adalah bentuk jamak dari waliyy, kata yang di 42:9 menjadi sebutan bagi Allah, sehingga terjemahan memakai "pelindung" untuk yang pertama dan "Sang Pelindung" untuk yang kedua. Ayat 39:3 sendiri tidak menyebut siapa atau apa yang diambil sebagai pelindung.
Ucapan orang-orang itu dikutip tanpa kata kerja pengantar: sesudah (أَوْلِيَاءَ, awliyaa'a) langsung datang (مَا نَعْبُدُهُمْ, maa na'buduhum), sehingga terjemahan menaruh koma lalu tanda kutip. Kata (نَعْبُدُهُمْ, na'buduhum) yang berarti "kami mengabdi kepada mereka" tersusun dari kata kerja akar ع-ب-د, awalan "kami", dan akhiran (هُمْ, -hum) yang berarti "mereka". Akarnya sama dengan (فَاعْبُدِ, fa-'budi) di 39:2. Ayat 39:2 menyuruh mengabdi kepada Allah, dan ayat ini mengutip orang yang mengabdi kepada pihak lain, dengan objek langsung di kedua tempat. Bentuk persis (نَعْبُدُهُمْ, na'buduhum) hanya muncul di 39:3, dan terjemahan memakai "mengabdi" seperti untuk akar ini di 39:2.
Kata (لِيُقَرِّبُونَا, li-yuqarribuunaa) yang berarti "agar mereka mendekatkan kami" berakar ق-ر-ب, dan (زُلْفَىٰ, zulfaa) yang berarti "sedekat-dekatnya" muncul empat kali, yaitu di 34:37, 38:25, 38:40, dan 39:3. Di 38:25 dan 38:40 bunyinya (وَإِنَّ لَهُ عِنْدَنَا لَزُلْفَىٰ, wa-inna lahu 'indanaa la-zulfaa) yang berarti "dan sesungguhnya baginya di sisi Kami ada kedekatan", diucapkan Allah sendiri. Di 34:37, (بِالَّتِي تُقَرِّبُكُمْ عِنْدَنَا زُلْفَىٰ, bi-llatii tuqarribukum 'indanaa zulfaa) yang berarti "yang mendekatkan kalian di sisi Kami sedekat-dekatnya" dinafikan bagi harta dan anak-anak, dengan pengecualian orang yang beriman dan beramal saleh. Ketiga ayat itu memakai (عِنْدَنَا, 'indanaa) yang berarti "di sisi Kami". Di 39:3 kata zulfaa tidak disertai "di sisi Kami" dan keluar dari mulut orang-orang yang mencarinya.
Kata (يَحْكُمُ, yahkumu) yang berarti "memberi putusan" bersama (بَيْنَهُمْ, baynahum) yang berarti "di antara mereka" muncul empat kali, yaitu di 2:113, 16:124, 22:56, dan 39:3. Di 2:113 dan 16:124 rangkaian itu langsung disusul (يَوْمَ الْقِيَامَةِ, yawma l-qiyaamati) yang berarti "pada hari kiamat", sedangkan 39:3 tidak memuat keterangan waktu. Rangkaian (هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ, hum fiihi yakhtalifuuna) yang berarti "mereka berselisih tentangnya" muncul dua kali, yaitu di 27:76 dan 39:3, sedangkan enam ayat lain memakai (كَانُوا, kaanuu) yang berarti "dahulu mereka" di tengahnya, yaitu 2:113, 10:93, 16:124, 32:25, 39:46, dan 45:17. Pokok perselisihan itu tidak disebut di ayat ini.
Dua sifat penutup, (كَاذِبٌ, kaadzibun) yang berarti "pendusta" dan (كَفَّارٌ, kaffaarun) yang berarti "sangat kufur", mengikuti (لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ, laa yahdii man huwa) yang berarti "tidak memberi petunjuk kepada siapa pun yang". Rangkaian itu muncul dua kali, yaitu di 39:3 dan 40:28, dan di 40:28 sifatnya (مُسْرِفٌ كَذَّابٌ, musrifun kadzdzaabun). Bentuk persis kaadzibun muncul dua kali, yaitu di 11:93 dan 39:3, dan kaffaarun dua kali, yaitu di 14:34 dan 39:3. Bentuk kaffaar dalam kedudukan lain ada di 2:276, 50:24, dan 71:27. Terjemahan memakai "sangat" pada kaffaarun seperti pada (لَظَلُومٌ كَفَّارٌ, la-zhaluumun kaffaarun) di 14:34, yang berarti "benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur".
Tafsiran
Ayat ini terdiri atas empat pernyataan yang berurutan: pertanggungjawaban yang murni bagi Allah, kutipan alasan orang-orang yang mengambil pelindung, putusan Allah atas perselisihan mereka, dan penolakan petunjuk bagi pendusta lagi sangat kufur. Kutipan alasan itu berada di tengah, diapit satu pernyataan tentang Allah di depannya dan dua di belakangnya.
Alasan yang dikutip menyebut Allah sendiri sebagai tujuan, dan jalan yang ditempuh lewat orang-orang atau pihak yang diambil sebagai pelindung. Ayat tidak memuat kalimat yang membantah alasan itu secara langsung. Tanggapannya terletak pada pernyataan yang mengapitnya: kemurnian bagi Allah di depan kutipan, lalu putusan dan penolakan petunjuk di belakangnya. Ayat 39:2 memberi dasar susunan itu, sebab perintah memurnikan pertanggungjawaban di sana mendapat sifatnya di sini, dan kutipan memperlihatkan apa yang bagi pembicara dianggap bercampur.
Surah ini kembali ke soal yang sama lewat kata lain. Ayat 39:43 bertanya (أَمِ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ شُفَعَاءَ, ami ttakhadzuu min duuni llaahi syufa'aa'a) yang berarti "ataukah mereka mengambil pemberi-pemberi syafaat selain Allah", dan 39:44 menjawab (لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا, li-llaahi sy-syafaa'atu jamii'an) yang berarti "bagi Allah syafaat seluruhnya". Ayat 10:18 mengutip ucapan yang mirip, (هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ, haa'ulaa'i syufa'aa'unaa 'inda llaahi) yang berarti "mereka ini pemberi syafaat kami di sisi Allah". Kata yang dipakai berbeda-beda, yaitu pelindung dan kedekatan di 39:3, serta syafaat di 39:43, 39:44, dan 10:18, dan ayat-ayat itu tidak saling menafsirkan. Satu pokok yang sama tampak dibahas dari beberapa arah.
Kata kerja yang dipakai untuk "mengambil" di ayat ini kembali di 39:4, dengan Allah sebagai subjek dalam sebuah pengandaian. Ayat 39:3 tidak menyebut kapan putusan itu dijatuhkan dan tidak merinci pokok perselisihannya, sehingga yang dinyatakan hanya siapa yang memutuskan.
Renungan dan Hikmah
- Alasan yang dikutip di 39:3 menyebut Allah sebagai tujuan: orang-orang itu tidak mengatakan bahwa mereka menuju tempat lain, mereka mengatakan bahwa mereka ingin lebih dekat kepada-Nya. Ayat tidak membantah tujuan itu dengan satu kalimat langsung, dan menaruh tanggapannya pada pernyataan kemurnian di depan serta putusan di belakang. Pembaca yang pernah membela sebuah kebiasaan dengan tujuan yang baik dapat mengenali nada alasan ini. Pertanyaannya, apakah tujuan yang baik sudah cukup untuk memastikan bahwa jalannya tidak ikut mencampuri apa yang hendak dimurnikan?
- Perintah di 39:2 ditujukan kepada satu orang, "kepadamu", sedangkan alasan di 39:3 diucapkan bersama, "kami". Kata "kami" membuat sebuah alasan terasa dipikul banyak orang dan membuat beban pembuktiannya terasa menyebar. Ayat 39:11 mengembalikan kalimat serupa ke bentuk "aku", yaitu "aku diperintah". Pembaca dapat mengucapkan ulang alasan yang selama ini dibela bersama dengan kata "aku" di depannya, lalu mendengarkan apakah kalimat itu masih terdengar sama ketika dibawa ke hadapan Allah.
- Ayat 39:3 menyebut bahwa Allah yang akan memberi putusan di antara orang-orang itu tentang apa yang mereka perselisihkan, tanpa menyebut kapan dan tanpa merinci pokok perselisihannya. Pembaca yang berada dalam perselisihan tentang cara mendekat kepada Allah mendapati bahwa kursi hakim tidak ditawarkan kepadanya. Ayat ini menaruh putusan pada pihak yang memutuskan dan membiarkan pembaca di posisi pihak yang berselisih. Pembaca dapat menimbang bagaimana sikapnya terhadap perselisihan yang putusannya tidak berada di tangannya.
- Penutup ayat menyatakan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa pun yang pendusta lagi sangat kufur, tanpa menunjuk kelompok yang baru saja dikutip. Rumusan semacam itu bekerja ke segala arah, sebab sifat disebut sebagai sifat. Pembaca yang membaca ayat ini untuk menilai orang lain dapat mendapati bahwa pertanyaan yang sama ditujukan juga kepada dirinya: adakah kedustaan atau kekufuran yang dipeliharanya tanpa pernah dinamai demikian? Ayat 11:93 memakai rumusan "siapa yang pendusta" untuk sesuatu yang baru diketahui kemudian.
- Di 38:25 dan 38:40 kedekatan diucapkan Allah sendiri dengan kata "di sisi Kami", dan di 34:37 kedekatan itu dinafikan bagi harta dan anak-anak kecuali bagi orang yang beriman dan beramal saleh. Di 39:3 kedekatan itu diucapkan oleh orang-orang yang mencarinya, tanpa "di sisi Kami". Dari empat tempat itu dapat dibaca bahwa dalam keempat ayat ini ukuran dekat atau jauh dipegang oleh pihak yang didekati, dan ucapan pencari tidak menjadi ukurannya. Pembaca yang merasa dekat atau jauh dari Tuhan dapat bertanya siapa yang sedang mengukur.
- Pernyataan tentang kemurnian mendahului kutipan alasan, sehingga pembaca mendengar ukuran lebih dulu dan pembelaan sesudahnya. Urutan itu menempatkan setiap alasan, termasuk yang terdengar saleh, di bawah ukuran yang sudah dipasang. Pembaca yang menimbang alasannya sendiri dapat mencoba urutan ayat ini: menyebut ukuran lebih dulu, baru memasang alasan di bawahnya. Pada urutan itu alasan yang tadinya terasa cukup dapat tampak bergantung pada ukuran yang sudah lebih dulu berdiri, yaitu pertanggungjawaban yang murni bagi Allah.