لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
Seandainya Allah hendak mengambil anak, pasti Dia memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang Dia ciptakan. Mahasuci Dia; Dialah Allah Yang Esa, Sang Penakluk.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- لَوْ أَرَادَ اللَّهُ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًاlaw araada llaahu an yattakhidza waladanseandainya Allah hendak mengambil anak
- لَاصْطَفَىٰ مِمَّا يَخْلُقُ مَا يَشَاءُla-shthafaa mimmaa yakhluqu maa yasyaa'upasti Dia memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang Dia ciptakan
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُhuwa llaahu l-waahidu l-qahhaaruDialah Allah Yang Esa, Sang Penakluk
Terjemahan per kata (16 kata)
- لَوْlawsekiranya
- أَرَادَaraadamaksudkan
- اللَّهُllaahuAllah
- أَنْanuntuk
- يَتَّخِذَyattakhidzamengangkat
- وَلَدًاwaladananak
- لَاصْطَفَىٰla-shthafaasungguh Dia akan memilih
- مِمَّاmimmaadari apa yang
- يَخْلُقُyakhluqumenciptakan
- مَاmaaapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- هُوَhuwaDialah
- اللَّهُllaahuAllah
- الْوَاحِدُl-waahiduYang Maha Esa
- الْقَهَّارُl-qahhaaruYang Mahaperkasa
Inti bacaan
Pasangan (الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, l-waahidu l-qahhaaru) muncul enam kali di Al-Qur'an, yaitu di 12:39, 13:16, 14:48, 38:65, 39:4, dan 40:16, dan kata qahhaar tidak pernah muncul tanpa waahid di sebelahnya.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (لَوْ أَرَادَ اللَّهُ, law araada llaahu) yang berarti "seandainya Allah hendak". Kata (لَوْ, law) membuka pengandaian, dan rangkaian (لَوْ أَرَادَ, law araada) hanya muncul di ayat ini. Isi pengandaiannya, (أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا, an yattakhidza waladan) yang berarti "mengambil anak", muncul dua kali, yaitu di 19:92 dan 39:4. Di 19:92 rangkaian itu berada dalam penyangkalan, dan di 39:4 dalam pengandaian. Pernyataan bahwa Allah mengambil anak dikutip sebagai ucapan orang lain tiga kali dengan (اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا, ttakhadza llaahu waladan), yaitu di 2:116, 10:68, dan 18:4, sedangkan 39:4 tidak mengutip ucapan itu. Kata kerja (يَتَّخِذَ, yattakhidza) sama dengan (اتَّخَذُوا, ttakhadzuu) di 39:3, yang di sana dipakai untuk orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia, dan terjemahan memakai "mengambil" di kedua ayat.
Kata (لَاصْطَفَىٰ, la-shthafaa) yang berarti "pasti Dia memilih" tersusun dari (لَ, la-) yang berarti "pasti", jawaban bagi pengandaian, dan kata kerja (اصْطَفَىٰ, shthafaa) yang berarti "memilih", berakar ص-ف-و. Bentuk persis (اصْطَفَىٰ, shthafaa) muncul empat kali, yaitu di 2:132, 3:33, 27:59, dan 39:4. Di tiga ayat lain pelaku yang memilih adalah Allah, dan yang dipilih berbeda-beda: di 2:132 (اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ, shthafaa lakumu d-diina) yang berarti "memilih pertanggungjawaban bagi kalian", di 3:33 orang-orang yang disebut namanya, dan di 27:59 (الَّذِينَ اصْطَفَىٰ, lladziina shthafaa) yang berarti "mereka yang Dia pilih". Akar yang sama muncul dalam pembicaraan tentang anak laki-laki dan perempuan di 17:40, 37:153, dan 43:16. Contohnya (أَصْطَفَى الْبَنَاتِ عَلَى الْبَنِينَ, a-shthafaa l-banaati 'alaa l-baniina) di 37:153, yang berarti "apakah Dia memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak lelaki", dan (وَأَصْفَاكُمْ بِالْبَنِينَ, wa-ashfaakum bi-l-baniina) di 43:16, yang berarti "dan memilihkan bagi kalian anak-anak lelaki".
Rangkaian (مِمَّا يَخْلُقُ, mimmaa yakhluqu) yang berarti "dari apa yang Dia ciptakan" muncul dua kali, yaitu di 39:4 dan 43:16. Di 43:16 bunyinya (أَمِ اتَّخَذَ مِمَّا يَخْلُقُ بَنَاتٍ, ami ttakhadza mimmaa yakhluqu banaatin) yang berarti "ataukah Dia mengambil anak-anak perempuan dari apa yang Dia ciptakan", sehingga kedua ayat menaruh sumber anak yang dibicarakan di dalam ciptaan. Rangkaian (يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ, yakhluqu maa yasyaa'u) yang berarti "Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki" muncul enam kali, yaitu di 3:47, 5:17, 28:68, 30:54, 39:4, dan 42:49. Di 39:4 kedua kata itu berurutan, sehingga ada dua cara membacanya: terjemahan memakai (مَا يَشَاءُ, maa yasyaa'u) "apa yang Dia kehendaki" sebagai sasaran "memilih", dan pembacaan lain menyambungnya dengan "menciptakan" seperti di lima ayat lain. Kedua pembacaan sampai pada arti yang sama, yaitu bahwa yang dipilih berasal dari ciptaan dan menurut kehendak. Ayat 28:68 menaruh "menciptakan", "kehendak", dan "memilih" dalam satu kalimat, (وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ, wa-rabbuka yakhluqu maa yasyaa'u wa-yakhtaaru), lalu menyusulinya dengan (مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ, maa kaana lahumu l-khiyaratu) yang berarti "tidak ada pilihan bagi mereka" dan (سُبْحَانَ اللَّهِ, subhaana llaahi) yang berarti "Mahasuci Allah".
Kata (سُبْحَانَهُ, subhaanahu) yang berarti "Mahasuci Dia" muncul empat belas kali di sebelas surah, yaitu di 2:116, 4:171, 6:100, 9:31, 10:18, 10:68, 16:1, 16:57, 17:43, 19:35, 21:26, 30:40, 39:4, dan 39:67. Delapan di antaranya berada di ayat yang membicarakan anak atau keturunan yang dikaitkan dengan Allah, yaitu 2:116, 4:171, 6:100, 10:68, 16:57, 19:35, 21:26, dan 39:4. Pada dua dari delapan itu, yaitu 10:68 dan 39:4, (سُبْحَانَهُ, subhaanahu) langsung disusul kata (هُوَ, huwa) yang berarti "Dialah" dan sebuah sebutan. Di 10:68 sebutannya (الْغَنِيُّ, l-ghaniyyu) yang berarti "yang berkecukupan", sedangkan di 39:4 sebutannya nama Allah beserta dua sebutan lagi.
Penutup ayat, (هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, huwa llaahu l-waahidu l-qahhaaru) yang berarti "Dialah Allah Yang Esa, Sang Penakluk", memuat pasangan (الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, l-waahidu l-qahhaaru) yang muncul enam kali, yaitu di 12:39, 13:16, 14:48, 38:65, 39:4, dan 40:16. Kata (الْقَهَّارُ, l-qahhaaru) tidak pernah muncul tanpa (الْوَاحِدُ, l-waahidu) di sebelahnya. Di 12:39 pasangan itu menjawab pertanyaan (أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ, a-arbaabun mutafarriquuna khayrun) yang berarti "apakah tuhan-tuhan yang berpecah-pecah lebih baik", dan di 13:16 pasangan itu menutup pertanyaan (أَفَاتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ, a-fa-ttakhadztum min duunihi awliyaa'a) yang berarti "apakah kalian mengambil pelindung selain Dia". Di 40:16 pasangan itu menjawab pertanyaan tentang milik siapa kerajaan pada hari itu, (لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ, li-llaahi l-waahidi l-qahhaari) yang berarti "milik Allah Yang Esa, Sang Penakluk".
Tafsiran
Ayat ini membantah pengambilan anak dengan jalan masuk ke dalam pengandaian itu sendiri. Jika Allah hendak mengambil anak, ayat menyebut dari mana anak itu akan datang, yaitu dari apa yang Dia ciptakan menurut kehendak-Nya. Pengandaian itu dengan demikian berakhir di dalam ciptaan, dan ayat tidak menyisakan tempat di luar ciptaan bagi anak yang dibicarakan. Bantahannya tidak mengutip ucapan lawan bicara, berbeda dari 2:116, 10:68, dan 18:4 yang mengutipnya lebih dulu.
Ayat 39:3 dan 39:4 bertemu pada kata kerja yang sama. Di 39:3 manusia yang mengambil pelindung selain Dia, dan di 39:4 Allah yang dalam pengandaian mengambil anak. Pasangan Yang Esa dan Sang Penakluk di penutup ayat ini hadir dengan cara yang sama di 13:16: pertanyaan tentang pelindung selain Dia ditutup dengan pasangan itu, dan di 39:4 pengandaian tentang anak ditutup dengan pasangan itu. Di kedua tempat pasangan itu muncul sesudah pembicaraan tentang sesuatu yang ditambahkan di sisi Allah.
Ayat 10:68 menjawab pernyataan yang sama dengan jalan lain. Sesudah "Mahasuci Dia", ayat itu menyebut bahwa Dia berkecukupan dan bahwa isi langit dan bumi milik-Nya. Ayat 39:4 menjawab dengan pengandaian dan dua sebutan. Dua ayat itu memakai alat berbeda untuk pernyataan yang sama, dan tidak ada yang menggantikan yang lain.
Dalam urutan 39:1 sampai 39:5, ayat ini adalah tempat sebutan Yang Esa dan Sang Penakluk, di antara Sang Digdaya dan Sang Penuh Hikmah di 39:1 dan Sang Digdaya dan Sang Pengampun di 39:5. Ayat ini tidak menyebut siapa yang mengucapkan klaim anak, dan tidak menyebut apa yang akan dipilih Allah seandainya pengandaian itu berlaku.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 39:4 mengikuti pengandaian lawan bicara sampai ujung: andaikan Allah hendak mengambil anak, anak itu harus berasal dari ciptaan-Nya. Pembaca yang pernah berhadapan dengan klaim yang tidak disetujuinya dapat melihat bahwa menelusuri akibat sebuah klaim kadang lebih terang daripada menolaknya mentah-mentah. Ayat ini tidak menyatakan bahwa setiap klaim harus diperlakukan demikian. Pembaca dapat bertanya klaim mana yang selama ini ditolaknya tanpa pernah diikuti sampai ke akibatnya?
- Segala yang dapat dipilih Allah, menurut ayat ini, berasal dari apa yang Dia ciptakan. Setiap calon pendamping yang dapat ditunjuk pembaca, entah seseorang, sesuatu, atau gagasan, dengan begitu sudah berada di dalam kumpulan yang diciptakan, dan ayat tidak menyebut tempat di luarnya. Dapat dibaca bahwa ayat ini menyempitkan semua pilihan ke dalam satu kumpulan, yang pembaca sendiri termasuk di dalamnya. Harapan yang digantungkan pada sesuatu dari kumpulan itu dapat diukur ulang dengan kenyataan tersebut.
- Argumen di 39:4 berhenti sebentar untuk berkata "Mahasuci Dia" sebelum selesai. Pengagungan dan nalar berada dalam satu ayat, dan yang satu tidak menunggu yang lain rampung. Pembaca yang memisahkan dua sikap itu, berargumen dingin di satu tempat dan mengagungkan di tempat lain, mendapati ayat ini mencampurnya. Jeda itu jatuh persis sesudah pengandaian tentang anak selesai diucapkan, sebelum nama Allah disebut lagi. Pembaca dapat memperhatikan kapan jeda semacam itu hilang dari pembicaraannya sendiri tentang Tuhan.
- Ayat ini memakai kata hendak dan kehendak, dan tidak memakai kata butuh. Ayat 10:68 menyebut Dia berkecukupan sesudah "Mahasuci Dia", dan membuat pengandaian tentang anak terbaca sebagai sesuatu yang tidak lahir dari kekurangan. Pembaca yang sedang menginginkan sesuatu dapat memisahkan dua pertanyaan: apakah itu kebutuhan atau kehendak, dan siapa yang akan kehilangan bila tidak terpenuhi. Keinginan yang terasa seperti kebutuhan dapat terbaca lebih jelas ketika dipasangkan dengan pertanyaan tersebut.
- Ayat 13:16 menaruh pertanyaan tentang pelindung selain Dia sebelum Yang Esa, Sang Penakluk, dan 12:39 menaruh pertanyaan tentang tuhan-tuhan yang berpecah-pecah. Ayat 39:4 menaruh pengandaian tentang anak. Tiga ayat itu mempertemukan pembaca dengan banyak kemungkinan lebih dulu, lalu menutup dengan satu sebutan. Pembaca yang sedang menimbang banyak tempat bersandar dapat mengikuti susunan itu: menyebut kemungkinan-kemungkinannya satu per satu, baru kemudian bertanya sebutan mana yang tersisa untuk Allah.
- Ayat ini ditutup dengan "Dialah Allah Yang Esa, Sang Penakluk", sebuah nama yang disebut kembali sesudah pengandaian. Pembicaraan tentang kemungkinan, pilihan, dan kehendak berakhir pada pengenalan yang paling sederhana. Pembaca yang pernah tersesat dalam argumen yang terlalu rumit dapat membayangkan kelegaan kembali ke satu nama. Di antara perdebatan yang menyita pikiran pembaca, adakah yang sebenarnya berhenti bila ayat ini dijadikan titik pulang?