وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Dan apabila mudarat menimpa manusia, ia menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian, apabila Dia memberinya nikmat dari-Nya, ia lupa apa yang dahulu ia serukan kepada-Nya, dan ia menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan dari jalan-Nya. Katakanlah, “Bersenang-senanglah dengan kekufuranmu sebentar; sesungguhnya engkau termasuk penghuni api.”
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِwa-idzaa massa l-insaana dhurrun da'aa rabbahu muniiban ilayhidan apabila mudarat menimpa manusia, ia menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya
- ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُtsumma idzaa khawwalahu ni'matan minhu nasiya maa kaana yad'uu ilayhi min qablukemudian, apabila Dia memberinya nikmat dari-Nya, ia lupa apa yang dahulu ia serukan kepada-Nya
- وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِwa-ja'ala li-llaahi andaadan li-yudhilla 'an sabiilihidan ia menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan dari jalan-Nya
- قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًاqul tamatta' bi-kufrika qaliilankatakanlah, bersenang-senanglah dengan kekufuranmu sebentar
- إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِinnaka min ashaabi n-naarisesungguhnya engkau termasuk penghuni api
Terjemahan per kata (34 kata)
- وَإِذَاwa-idzaadan apabila
- مَسَّmassamenyentuh
- الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
- ضُرٌّdhurrunmudarat
- دَعَاda'aaberdoa
- رَبَّهُrabbahuTuhannya
- مُنِيبًاmuniibanyang kembali
- إِلَيْهِilayhikepada-Nya
- ثُمَّtsummakemudian
- إِذَاidzaaapabila
- خَوَّلَهُkhawwalahumenganugerahinya
- نِعْمَةًni'matannikmat
- مِنْهُminhudarinya
- نَسِيَnasiyalupa
- مَاmaaapa yang
- كَانَkaanaadalah
- يَدْعُوyad'uumenyeru
- إِلَيْهِilayhikepada-Nya
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- وَجَعَلَwa-ja'aladan Dia menjadikan
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- أَنْدَادًاandaadantandingan-tandingan
- لِيُضِلَّli-yudhillaagar ia menyesatkan
- عَنْ'andari
- سَبِيلِهِsabiilihijalan-Nya
- قُلْqulkatakanlah
- تَمَتَّعْtamatta'bersenang-senanglah
- بِكُفْرِكَbi-kufrikadengan kekufuranmu
- قَلِيلًاqaliilansedikit
- إِنَّكَinnakasesungguhnya engkau
- مِنْmindari
- أَصْحَابِashaabipenghuni
- النَّارِn-naariapi
Inti bacaan
Susunan (مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ, massa l-insaana dhurrun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:8 dan 39:49, dan di 39:49 nikmat itu diberikan oleh pelaku yang memakai kata Kami.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ, wa-idzaa massa l-insaana dhurrun) yang berarti "dan apabila mudarat menimpa manusia". Kata kerja massa berarti menyentuh, dan terjemahan memakai "menimpa" karena pelaku sentuhannya mudarat. Susunan (مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ, massa l-insaana dhurrun) muncul dua kali, yaitu di 39:8 dan 39:49. Bentuk dhurrun tanpa kata sandang muncul tiga kali di dua surah, yaitu 30:33, 39:8, dan 39:49, dan di ketiganya didahului massa. Dengan kata sandang, bentuk adh-dhurru muncul lima kali di lima surah, yaitu 10:12, 12:88, 16:53, 17:67, dan 21:83, dan di 16:53 serta 17:67 terjemahannya "kemudaratan". Di 30:33 n-naasa, "manusia" dalam arti banyak orang, tertimpa mudarat, sedangkan di 39:8 l-insaana, satu manusia, yang tertimpa.
Kata (دَعَا رَبَّهُ, da'aa rabbahu) yang berarti "ia menyeru Tuhannya" berakar د-ع-و. Bentuk da'aa rabbahu, termasuk yang didahului fa- di 44:22 dan 54:10, muncul tiga kali, yaitu di 39:8, 44:22, dan 54:10. Di 54:10 Nuh, yang disebut di 54:9, menyeru dengan (أَنِّي مَغْلُوبٌ, annii maghluubun) yang berarti "aku dikalahkan". Di 44:22 rasul yang disebut di 44:17 menyeru dengan pengaduan bahwa mereka kaum yang berdosa. Di 39:8 isi seruan tidak dicatat. Ayat mencatat keadaan penyeru, yaitu (مُنِيبًا إِلَيْهِ, muniiban ilayhi) yang berarti "dengan kembali kepada-Nya". Kata muniiban berakar ن-و-ب dan berbentuk pelaku. Bentuk dengan pola itu muncul tujuh kali, yaitu 11:75, 30:31, 30:33, 34:9, 39:8, 50:8, dan 50:33. Ketiga ayat 30:31, 30:33, dan 39:8 bersambung ke ilayhi, sedangkan empat ayat lainnya tidak. Ayat 30:33 dan 39:8 paralel sampai kata ilayhi: massa, dhurrun, da'aa rabbahu di 39:8 dan da'aw rabbahum di 30:33, muniib, ilayhi, lalu tsumma idzaa.
Kata (ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ, tsumma idzaa khawwalahu ni'matan minhu) yang berarti "kemudian, apabila Dia memberinya nikmat dari-Nya" memakai kata kerja khawwala dari akar خ-و-ل. Akar ini muncul sebagai kata kerja tiga kali, yaitu di 6:94, 39:8, dan 39:49. Pelaku kata kerja di 39:8 ditunjuk oleh akhiran -hu pada minhu, "dari-Nya". Di dua ayat lain pelakunya "Kami", yaitu (خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا, khawwalnaahu ni'matan minnaa) yang berarti "Kami memberinya nikmat dari Kami" di 39:49, dan (خَوَّلْنَاكُمْ, khawwalnaakum) yang berarti "yang Kami berikan kepada kalian" di 6:94. Nikmat dalam bentuk ni'matan muncul lima kali di empat surah, yaitu 8:53, 39:8, 39:49, 49:8, dan 54:35, tetapi pasangan ni'matan dengan khawwala terdapat di 39:8 dan 39:49 saja.
Kata (نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ, nasiya maa kaana yad'uu ilayhi min qablu) yang berarti "ia lupa apa yang dahulu ia serukan kepada-Nya" memuat kata kerja nasiya, "lupa". Kata kerja nasiya, termasuk yang didahului wa atau fa, muncul lima kali di empat surah, yaitu 18:57, 20:88, 20:115, 36:78, dan 39:8. Dua di antaranya memuat nasiya maa, yaitu 18:57 dan 39:8. Di 18:57 bunyinya (وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ, wa-nasiya maa qaddamat yadaahu) yang berarti "dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya". Akhiran -hi pada ilayhi muncul dua kali di ayat 39:8. Yang pertama menunjuk Tuhannya, karena rabbahu mendahuluinya. Terjemahan menetapkan bahwa yang kedua menunjuk Dia juga, sehingga terjemahan membacanya sebagai seruan yang dahulu ditujukan kepada-Nya. Susunan lain terdapat di 10:12, (يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ, yad'unaa ilaa dhurrin) yang berarti "tidak pernah menyeru Kami untuk kesusahan", yang menyebut kata benda kesusahan sebagai sasaran seruan. Di 39:8 tidak ada kata benda itu sesudah yad'uu, sehingga terjemahan mengikuti ilayhi yang pertama.
Kata (وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا, wa-ja'ala li-llaahi andaadan) yang berarti "dan ia menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah" memakai kata kerja ja'ala dengan pelaku yang sama dengan nasiya, yaitu manusia tadi, sehingga terjemahan menulis "ia menjadikan". Susunan li-llaahi andaadan muncul tiga kali, yaitu di 2:22, 14:30, dan 39:8, dan bentuk andaadan sendiri muncul enam kali di lima surah, yaitu 2:22, 2:165, 14:30, 34:33, 39:8, dan 41:9. Terjemahan memakai "tandingan-tandingan" di semuanya. Sesudahnya (لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ, li-yudhilla 'an sabiilihi) yang berarti "untuk menyesatkan dari jalan-Nya" memuat li-yudhilla, yang muncul lima kali, yaitu di 6:144, 9:115, 22:9, 31:6, dan 39:8. Ketiga ayat 22:9, 31:6, dan 39:8 menyambungnya dengan 'an sabiili, "dari jalan", dan di ketiganya orang yang disesatkan tidak disebut.
Kata (قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا, qul tamatta' bi-kufrika qaliilan) yang berarti "katakanlah, bersenang-senanglah dengan kekufuranmu sebentar" memuat tamatta' dalam bentuk perintah untuk satu orang, yang hanya muncul di 39:8. Bentuk perintah untuk banyak orang, tamatta'uu, termasuk yang didahului wa atau fa, muncul enam kali, yaitu di 11:65, 14:30, 16:55, 30:34, 51:43, dan 77:46. Di antara bentuk perintah tamatta' dan tamatta'uu, hanya 39:8 dan 77:46 yang disertai qaliilan, "sebentar", dan terjemahan memakai "bersenang-senanglah sebentar" di keduanya. Frasa bi-kufrika, "dengan kekufuranmu", hanya muncul di 39:8.
Ayat ini ditutup dengan (إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ, innaka min ashaabi n-naari) yang berarti "sesungguhnya engkau termasuk penghuni api". Frasa min ashaabi n-naari muncul dua kali, yaitu di 5:29 dan 39:8, sedangkan gabungan ashaab dan n-naar, dengan harakat akhir kata diabaikan, muncul 20 kali di 12 surah, yaitu 2:39, 2:81, 2:217, 2:257, 2:275, 3:116, 5:29, 7:36, 7:44, 7:47, 7:50, 10:27, 13:5, 39:8, 40:6, 40:43, 58:17, 59:20, 64:10, dan 74:31. Kata ashaab diterjemahkan "penghuni" seperti di 40:43, (هُمْ أَصْحَابُ النَّارِ, hum ash-haabu n-naari) yang berarti "merekalah penghuni api". Akhiran -ka pada innaka sama dengan yang ada di bi-kufrika, sehingga dua kalimat terakhir ayat ini ditujukan kepada orang yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menuturkan satu manusia dalam tiga keadaan yang berurutan: tertimpa mudarat, menerima nikmat, lalu menjadikan tandingan. Ketiganya dihubungkan oleh tsumma idzaa, "kemudian apabila", sehingga pembaca mengikuti perubahan itu seperti mengikuti sebuah rekaman. Pada keadaan pertama manusia itu menyeru Tuhannya dan kembali kepada-Nya. Pada keadaan kedua manusia itu melupakan seruannya, lalu pada keadaan ketiga ia menjadikan tandingan bagi Allah. Kata kerja yang berbeda dipakai untuk tiap keadaan, tetapi pelakunya sama.
Ayat 30:33 menuturkan peristiwa yang sebangun sampai kata ilayhi, lalu berbeda pada ujungnya. Di 30:33 sesudah rahmat diberikan, sebagian dari mereka mempersekutukan Tuhannya, sedangkan di 39:8 manusia itu lupa lalu menjadikan tandingan. Ayat 39:49 mengulang pembukaan 39:8, dengan pelaku nikmat berubah menjadi "Kami", dan ujungnya berupa ucapan manusia itu bahwa nikmat itu diberikan karena pengetahuannya. Tiga ayat itu memakai kerangka yang sama untuk tiga akhir yang berbeda: mempersekutukan, menjadikan tandingan, dan mengaku nikmat itu hasil pengetahuan. Ayat 10:12 memuat kerangka yang hampir sama pula, dan akhirnya manusia itu berlalu seakan-akan tidak pernah menyeru.
Dari sisi alur surah, 39:7 berbicara kepada "kalian" tentang kufur dan syukur, dan 39:8 menurunkan pembicaraan itu ke satu orang beserta kejadiannya. Ayat 39:7 menyebut Allah tidak memerlukan kalian, dan 39:8 memperlihatkan siapa yang menyeru siapa, yakni manusia menyeru Tuhannya ketika tertimpa mudarat. Ayat 35:15 memuat kalimat yang berlawanan arah, yaitu "kalianlah yang memerlukan Allah". Sesudah 39:8, ayat 39:9 dibuka dengan am-man, "ataukah siapa", yang menaruh orang lain di sisi lain dari orang di 39:8. Ayat itu tidak menyebut keduanya dibandingkan, dan pembaca dapat membacanya sebagai kelanjutan dari ayat ini.
Dalam 39:8 sendiri ada pergantian sapaan. Sampai kalimat tentang tandingan, manusia itu disebut dengan "ia". Pada perintah qul, pembicaraan beralih kepada "engkau", sehingga kalimat tentang kekufuran dan api ditujukan langsung kepada seseorang. Ayat tidak menyebut siapa "engkau" itu, dan sesudah manusia tunggal di awal ayat, pembaca dapat menaruhnya di sana.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini mencatat seruan di saat mudarat tanpa mencela seruan itu. Ayat memakai muniiban ilayhi, dengan kembali kepada-Nya, dan penilaian baru muncul pada anak kalimat berikutnya yang memuat kata lupa. Pembaca yang pernah berdoa dengan sangat sungguh-sungguh ketika terdesak tidak diberi tuduhan bahwa doanya palsu. Ayat hanya memperlihatkan ke mana doa itu pergi sesudah keadaan berubah. Doa yang paling sungguh-sungguh yang pernah diucapkan pembaca kepada Tuhannya itu, masih beralamat sama sekarang?
- Kata kerja menyeru dan kata kerja lupa dalam ayat ini berasal dari satu manusia, dalam satu kalimat panjang yang disambung dengan tsumma idzaa. Tidak ada dua golongan, yang satu berdoa dan yang lain melupakan. Karena itu pembaca tidak bisa menaruh sifat pelupa pada orang lain dan menaruh sifat pendoa pada dirinya. Kata min qablu, dahulu, menunjuk seruan yang dikeluarkan oleh orang yang sama sebelum keadaannya berubah. Orang yang membaca ayat ini dapat bertanya, seruan apa yang dahulu keluar dari mulutnya sendiri, dan kini terdengar seperti milik orang lain?
- Dalam ayat ini tandingan bagi Allah muncul sesudah nikmat, dan nikmat itu disebut berasal dari Dia sendiri. Ayat 2:22 menyusun urutan serupa: bumi sebagai hamparan, langit sebagai atap, air dari langit, buah-buahan sebagai rezeki, lalu larangan menjadikan tandingan bagi Allah. Ayat 39:8 tidak menyebut apa bentuk tandingan itu. Kekosongan itu memberi pembaca tugas memeriksa rumahnya sendiri: barang, jabatan, atau orang apa yang semula diterima sebagai pemberian, lalu pelan-pelan diperlakukan sebagai tempat bergantung? Pemberian mana yang paling mudah membuat pembaca berhenti bertanya kepada Pemberinya?
- Kata li-yudhilla, untuk menyesatkan, tidak disertai kata yang menyebut siapa yang disesatkan. Di 22:9 dan 31:6 kalimat serupa juga tidak menyebut korbannya. Pembaca dapat membaca bahwa lupa dan tandingan dalam ayat ini menjalar ke orang lain, tetapi ayat tidak menutup kemungkinan bahwa yang tersesat adalah pelakunya sendiri. Bagaimanapun, jalan yang disebut adalah jalan Dia. Orang yang pernah mengajak orang lain mengikuti caranya mensyukuri atau menganggap nikmat dapat bertanya, jalan siapa yang sebenarnya sedang ditunjukkannya?
- Perintah bersenang-senanglah disertai kata sebentar, dan kata sebentar itu datang dari ayat sendiri sebelum api disebut. Di 77:46 kata yang sama mendampingi perintah itu juga. Pembaca yang menilai sebuah keadaan nyaman dari lamanya dapat memeriksa ukuran apa yang dipakainya, sebab ayat ini memakai ukuran yang berbeda. Ayat 14:30 menaruh perintah serupa di samping tempat kembali, yaitu api. Seberapa panjang kesenangan yang pembaca sebut lama itu bila diletakkan di samping kata sebentar dalam ayat ini?
- Sampai kalimat tentang tandingan, ayat ini berbicara tentang seorang manusia dengan kata ia. Pada perintah katakanlah, kalimatnya beralih ke engkau. Pembaca yang membaca dengan jarak, seolah-olah sedang membaca kisah orang lain, kehilangan jarak itu di sini. Ayat tidak menyebut siapa engkau itu, dan karena manusia tadi disebut tunggal, tempat kosong itu mudah terisi oleh siapa saja yang sedang membaca. Pada kata mana pembaca merasa berhenti menjadi pengamat dan mulai menjadi orang yang dibicarakan?
- Di 39:7 Allah tidak memerlukan kalian, dan di 35:15 kalianlah yang memerlukan Allah. Ayat 39:8 menaruh dua kalimat itu dalam satu adegan tentang siapa yang memanggil. Manusia memanggil Tuhannya ketika mudarat menyentuhnya, dan tidak ada kalimat yang menyebut Tuhan memanggil manusia. Hubungan itu tidak seimbang, dan ayat ini tidak mencoba menyeimbangkannya. Pembaca dapat bertanya kapan terakhir kali kebutuhannya kepada Dia terasa nyata, dan apakah kebutuhan itu sudah ada sebelum mudarat datang?