قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Katakanlah, “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ إِنِّي أُمِرْتُqul innii umirtukatakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan
  2. أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَan a'buda llaaha mukhlishan lahu d-diinauntuk menyembah Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  3. أُمِرْتُumirtuaku diperintahkan
  4. أَنْanuntuk
  5. أَعْبُدَa'budaaku mengabdi
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. مُخْلِصًاmukhlishandengan tulus
  8. لَهُlahubaginya
  9. الدِّينَd-diinapertanggungjawaban

Inti bacaan

Susunan (أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ, umirtu an a'buda llaaha) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 13:36 dan 39:11.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ, qul innii umirtu) yang berarti "katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan". Kata umirtu berakar أ-م-ر, berbentuk pasif, dan menunjuk satu orang yang berbicara tentang dirinya. Bentuk umirtu, termasuk yang didahului huruf wa, ada di 10 ayat pada 7 surah, yaitu 6:14, 6:163, 10:72, 10:104, 13:36, 27:91, 39:11, 39:12, 40:66, dan 42:15. Susunan qul innii umirtu ada dua kali, yaitu di 6:14 dan 39:11. Karena bentuknya pasif, pemberi perintah tidak disebut di kalimat ini. Perintah dengan isi yang sama sudah muncul di 39:2 dalam bentuk perintah langsung, (فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ, fa-'budi llaaha mukhlishan lahu d-diina) yang berarti "maka, mengabdilah kepada Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya", dan 39:2 didahului pernyataan bahwa Kitab diturunkan kepada penerima ayat.

Kata (أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ, an a'buda llaaha) yang berarti "untuk menyembah Allah" memuat kata kerja a'buda dari akar ع-ب-د. Susunan an a'buda llaaha muncul 2 kali, yaitu di 13:36 dan 39:11, sedangkan an a'buda dengan objek lain muncul di 6:56, 27:91, dan 40:66. Bentuk umirtu an a'buda muncul 3 kali, yaitu di 13:36, 27:91, dan 39:11. Di 13:36 perintah itu disusul kalimat bahwa pembicara tidak mempersekutukan-Nya, dan di 27:91 objeknya adalah Tuhan negeri tertentu. Di 40:66 kata kerja yang sama muncul dalam larangan, (نُهِيتُ أَنْ أَعْبُدَ, nuhiitu an a'buda) yang berarti "aku dilarang menyembah". Terjemahan di 13:36, 27:91, dan 39:11 memakai "menyembah", sedangkan bentuk perintah fa-'budi di 39:2 diterjemahkan "mengabdilah".

Kata (مُخْلِصًا, mukhlishan) yang berarti "dengan memurnikan" berakar خ-ل-ص dan berbentuk pelaku. Bentuk tunggal mukhlishan muncul 3 kali, semuanya di surah ini, yaitu 39:2, 39:11, dan 39:14. Bentuk jamak mukhlishiina muncul 7 kali di 6 surah, yaitu 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5. Kata sifat dari akar yang sama, (الدِّينُ الْخَالِصُ, d-diinu l-khaalishu) yang berarti "pertanggungjawaban yang murni", ada di 39:3, delapan ayat sebelum 39:11 dalam surah yang sama. Terjemahan memakai "memurnikan" untuk mukhlish di 39:2, 39:11, 39:14, 40:14, dan 40:65, sehingga akar khaalish di 39:3 dan akar mukhlish tetap terlihat berkerabat. Di 7:29, 10:22, dan 98:5 terjemahannya "mengikhlaskan", dan di 29:65 serta 31:32 "dengan tulus".

Kata (لَهُ الدِّينَ, lahu d-diina) yang berarti "kepada-Nya pertanggungjawaban" memuat lahu, "bagi-Nya" atau "kepada-Nya", dan d-diina, kata dari akar د-ي-ن yang diterjemahkan "pertanggungjawaban". Susunan lahu d-diina muncul 9 kali di 7 surah, yaitu 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 39:2, 39:11, 40:14, 40:65, dan 98:5. Dalam sembilan ayat itu terjemahan memakai "pertanggungjawaban" untuk d-diina. Susunan mukhlishan lahu d-diina dengan bentuk tunggal hanya ada di 39:2 dan 39:11, sedangkan di 39:14 kata yang sama memakai akhiran milik, (مُخْلِصًا لَهُ دِينِي, mukhlishan lahu diinii) yang berarti "dengan memurnikan pertanggungjawabanku kepada-Nya". Di tiga ayat dari sembilan itu, yaitu 10:22, 29:65, dan 31:32, pelakunya berdoa di tengah laut sebelum diselamatkan, sedangkan di 39:11 tidak ada keadaan semacam itu.

Tafsiran

Ayat ini melaporkan sebuah perintah dari mulut orang yang menerimanya. Isinya dua hal yang bersambung dalam satu kalimat: menyembah Allah, dan melakukannya dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya. Kalimat itu tidak berhenti di 39:11. Terjemahan menutupnya dengan koma karena 39:12 melanjutkan dengan perintah kedua, 39:13 dengan rasa takut, dan 39:14 dengan pernyataan bahwa perintah itu dikerjakan.

Perintah yang sama dalam bentuk lain sudah ada di 39:2. Di sana perintah itu ditujukan kepada penerima ayat, yaitu "mengabdilah kepada Allah dengan memurnikan pertanggungjawaban kepada-Nya", dan di 39:11 isinya dilaporkan sebagai ucapan penerima itu tentang dirinya, dan kalimat pembukanya adalah qul, "katakanlah". Perintah yang semula berbunyi kepada engkau menjadi pengakuan yang berbunyi aku diperintahkan. Pergeseran itu menaruh penyampai di bawah perintah yang sama dengan yang disampaikannya.

Dari sisi alur surah, 39:10 memerintahkan hamba-hamba yang beriman untuk bertakwa, dan 39:11 sampai 39:12 menaruh perintah kepada penyampai sendiri. Sesudahnya 39:13 menyebut rasa takut terhadap azab jika penyampai durhaka kepada Tuhanku, dan kalimat itu menunjuk Tuhan sebagai pihak yang perintah-Nya dapat didurhakai. Dengan begitu pembaca dapat menelusuri pemberi perintah di 39:11 lewat dua ayat: 39:2 di awal surah dan 39:13 dua ayat sesudahnya.

Ayat 39:14 mengulang isi ayat ini dalam bentuk pernyataan, "Hanya Allah yang aku abdi dengan memurnikan pertanggungjawabanku kepada-Nya". Urutannya membuat perintah dilaporkan lebih dulu, lalu dikerjakan di depan pembaca. Frasa yang sama di 10:22, 29:65, dan 31:32 menggambarkan orang yang memurnikan pertanggungjawaban pada saat terdesak di laut. Di 39:11 frasa itu hadir tanpa keadaan terdesak, sebagai perintah yang dilaporkan oleh penyampainya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini dibuka dengan penyampai yang mengatakan bahwa dirinya sendiri diperintahkan. Perintah yang di 39:2 ditujukan kepada penerima ayat berubah di sini menjadi pengakuan tentang diri sendiri. Pembaca yang biasa menyuruh dapat memeriksa urutan kalimatnya: apakah pembaca lebih dulu berkata aku diperintahkan sebelum berkata kalian harus? Dalam hal apa pembaca sendiri berada di bawah perintah yang ia sampaikan kepada orang lain, dan apakah pembaca mengatakannya terang-terangan?
  • Kata umirtu berbentuk pasif, jadi kalimat ini tidak menyebut siapa yang memerintah. Pemberi perintah baru terbaca dari 39:13, ketika rasa takut terhadap azab disambungkan dengan durhaka kepada Tuhanku, dan kalimat itu menunjuk Tuhan sebagai pihak yang perintah-Nya dapat didurhakai. Hubungan antara perintah dan pihak yang memberinya dibiarkan tersebar di beberapa ayat, dan pembaca diminta menyusunnya sendiri. Sebuah perintah dapat dikerjakan karena isinya, atau karena siapa yang memberinya. Apa yang membuat pembaca bergerak ketika membaca kalimat ini: bunyi perintahnya, atau Dia yang disebut dua ayat sesudahnya?
  • Kata memurnikan mengandaikan bahan yang dapat bercampur. Pertanggungjawaban yang murni hanya mungkin dibicarakan karena ada pertanggungjawaban yang tidak murni, dan 39:3 memberi contohnya, yaitu orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah. Pembaca memiliki beberapa pihak yang kepadanya merasa wajib menjawab: atasan, keluarga, tetangga, dan penilaian orang. Ayat ini menaruh satu pihak sebagai tujuan pertanggungjawaban yang murni. Kepada pihak mana saja pembaca merasa harus menjawab hari ini, dan mana yang paling sering menentukan keputusan pembaca?
  • Frasa memurnikan pertanggungjawaban muncul di 10:22, 29:65, dan 31:32 pada orang yang sedang di laut dan terdesak, lalu di 29:65 mereka mempersekutukan setelah selamat. Di 39:11 frasa itu muncul sebagai perintah yang dilaporkan, tanpa laut dan tanpa ancaman. Orang bisa sangat murni ketika terdesak, dan kemurnian itu tidak otomatis ada ketika keadaan baik. Ayat ini menaruh kemurnian di keadaan biasa. Kemurnian pembaca terhadap Allah, di keadaan yang tidak sedang genting hari ini, tampak seperti apa?
  • Menyembah dan memurnikan berada dalam satu kalimat tanpa kata penghubung di antaranya. Memurnikan menerangkan cara menyembah. Ibadah yang dilakukan lengkap tetapi bercampur dengan tujuan lain, menurut susunan ini, belum memenuhi perintah yang dilaporkan. Pembaca dapat memeriksa satu kebiasaan ibadahnya dan bertanya apakah ada tujuan lain yang ikut menumpang di dalamnya. Tujuan apa itu, dan apakah Allah masih menjadi alamat doa pembaca ketika tujuan itu hadir?
  • Terjemahan ayat ini berakhir dengan koma, sebab ucapan penyampai belum selesai. Perintah pertama dilaporkan di 39:11 dan perintah kedua menyusul di 39:12. Pembaca yang berhenti di titik ini hanya mendapat setengah laporan, dan 39:12 belum terbaca. Sebuah perintah yang dilaporkan sebagian dapat menimbulkan kesan bahwa isinya sudah cukup, padahal ayat berikutnya menambahkan sesuatu yang mengubah letak perintah pertama. Perintah mana yang dalam hidup pembaca baru dilaporkan setengah, dan sisanya menunggu apa dari Tuhan pembaca?