قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Katakanlah, “Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang agung, jika aku durhaka kepada Tuhanku.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلْ إِنِّي أَخَافُqul innii akhaafukatakanlah, sesungguhnya aku takut
- إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍin 'ashaytu rabbii 'adzaaba yawmin 'azhiiminjika aku durhaka kepada Tuhanku, azab pada hari yang agung
Terjemahan per kata (9 kata)
- قُلْqulkatakanlah
- إِنِّيinniisesungguhnya aku
- أَخَافُakhaafuaku takut
- إِنْinjika
- عَصَيْتُ'ashaytuaku mendurhakai
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- عَذَابَ'adzaabaazab
- يَوْمٍyawminhari
- عَظِيمٍ'azhiiminyang besar
Inti bacaan
Bentuk 'adzaaba yawmin 'azhiimin muncul tujuh kali di Al-Qur'an (6:15, 7:59, 10:15, 26:135, 26:189, 39:13, 46:21), dan hanya 6:15 dan 39:13 yang membukanya dengan qul innii akhaafu.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat ini dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah", lalu (إِنِّي أَخَافُ, innii akhaafu) yang berarti "sesungguhnya aku takut". Kata kerja (أَخَافُ, akhaafu) berakar خ-و-ف dan berbentuk sekarang untuk orang pertama tunggal, sehingga rasa takut itu milik pembicara sendiri. Rangkaian innii akhaafu terdapat di delapan belas ayat pada tiga belas surah, yaitu 5:28, 6:15, 7:59, 8:48, 10:15, 11:3, 11:26, 11:84, 19:45, 26:12, 26:135, 28:34, 39:13, 40:26, 40:30, 40:32, 46:21, dan 59:16. Sesudah rangkaian itu ada empat jenis lanjutan. Delapan ayat melanjutkannya dengan (أَخَافُ عَلَيْكُمْ, akhaafu 'alaykum) yang berarti "aku takut atas kalian", yaitu 7:59, 11:3, 11:26, 11:84, 26:135, 40:30, 40:32, dan 46:21. Tiga ayat menyebut Allah sebagai yang ditakuti, yaitu 5:28, 8:48, dan 59:16. Empat ayat menyebut hal yang dicemaskan akan terjadi, yaitu azab yang menyentuh di 19:45, pendustaan di 26:12 dan 28:34, serta penukaran pertanggungjawaban di 40:26. Tiga ayat sisanya menaruh sebuah syarat pada pembicara sendiri, yaitu 6:15, 10:15, dan 39:13.
Syaratnya berbunyi (إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي, in 'ashaytu rabbii) yang berarti "jika aku durhaka kepada Tuhanku". Kata (إِنْ, in) berarti "jika", sedangkan (عَصَيْتُ, 'ashaytu) berakar ع-ص-ي dan berbentuk lampau untuk orang pertama tunggal. Karena didahului "jika", durhaka itu menjadi pengandaian, dan teks tidak memuat pernyataan bahwa pembicara pernah atau akan melakukannya. Susunan in 'ashaytu rabbii persis sama terdapat di tiga ayat, yaitu 6:15, 10:15, dan 39:13, dan ketiganya langsung disusul azab hari yang agung. Pembicara sebagai pelaku kata kerja yang sama muncul sekali lagi di 11:63, dalam bentuk (عَصَيْتُهُ, 'ashaytuhu) yang berarti "aku mendurhakai-Nya", pada ayat yang bertanya siapa yang akan menolong dari Allah bila hal itu terjadi. Pihak yang didurhakai disebut (رَبِّي, rabbii) yang berarti "Tuhanku", dan nama Allah baru muncul pada ayat berikutnya, 39:14. Terjemahan menaruh azab lebih dulu dan syaratnya sesudah itu supaya kalimat Indonesia mengalir, padahal urutan di Arab adalah takut, syarat, lalu azab.
Objek ketakutannya adalah (عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ, 'adzaaba yawmin 'azhiimin) yang berarti "azab pada hari yang agung". Kata (عَظِيمٍ, 'azhiimin) berakar ع-ظ-م, dan akhirannya -in sama dengan akhiran (يَوْمٍ, yawmin), bukan dengan akhiran -a pada (عَذَابَ, 'adzaaba). Sesuai dengan itu terjemahan menaruh "agung" pada hari, tidak pada azab. Kata yawmin juga tidak memakai kata sandang al-, sehingga hari itu belum diberi nama, sedangkan 39:15 menulisnya dengan nama, (يَوْمَ الْقِيَامَةِ, yawma l-qiyaamati) yang berarti "hari kiamat". Terjemahan 39:13 karena itu tidak menambahkan kata "kiamat". Bentuk 'adzaaba yawmin 'azhiimin muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 6:15, 7:59, 10:15, 26:135, 26:189, 39:13, dan 46:21. Tiga ayat lain memuat yawmin 'azhiimin dengan susunan yang berbeda di depannya, yaitu 19:37, 26:156, dan 83:5.
Dari delapan ayat berpola akhaafu 'alaykum, tiga memakai sifat yang sama dengan 39:13, yaitu 7:59, 26:135, dan 46:21. Tiga lainnya mengganti sifat hari itu: (كَبِيرٍ, kabiirin) yang berarti "besar" di 11:3, (أَلِيمٍ, aliimin) yang berarti "pedih" di 11:26, dan (مُحِيطٍ, muhiithin) yang berarti "yang meliputi" di 11:84. Dua sisanya, 40:30 dan 40:32, menyebut nama hari yang lain.
Perintah qul, yang membuka ayat ini, terdapat lima belas kali di empat belas ayat dalam surah ini, yaitu 39:8, 39:9, 39:10, 39:11, 39:13, 39:14, 39:15, 39:38 (dua kali), 39:39, 39:43, 39:44, 39:46, 39:53, dan 39:64. Ayat berikutnya membuka ucapan baru dengan (قُلِ, quli), bentuk perintah yang sama dengan ujung yang berbeda.
Tafsiran
Ayat ini memuat ketakutan yang diucapkan penerima wahyu tentang dirinya sendiri, dan letaknya tepat sesudah 39:11 dan 39:12, tempat pembicara menyebut dua perintah yang diterimanya: memurnikan pertanggungjawaban kepada Allah dan menjadi orang pertama yang berserah diri. Kata durhaka di 39:13 baru mempunyai isi karena kedua perintah itu ada di depannya. Susunan yang sama terdapat di 6:14 dan 6:15. Ayat 6:14 memuat (أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ, umirtu an akuuna awwala man aslama) yang berarti "aku diperintahkan agar menjadi orang pertama yang berserah diri", dan ayat sesudahnya dibuka dengan qul innii akhaafu in 'ashaytu rabbii. Dari sepuluh ayat yang memuat (أُمِرْتُ, umirtu), yaitu 6:14, 6:163, 10:72, 10:104, 13:36, 27:91, 39:11, 39:12, 40:66, dan 42:15, syarat durhaka itu menyusul dalam empat ayat berikutnya hanya pada 6:14, 39:11, dan 39:12.
Ayat-ayat di sekitarnya mengarahkan peringatan kepada orang lain: 39:15 menyebut orang-orang yang rugi, dan 39:16 menyebut lapisan api bagi "mereka". Ayat 39:13 mengarahkan syaratnya kepada pembicara sendiri. Di 7:59, 26:135, dan 46:21 kalimat yang hampir sama berbunyi akhaafu 'alaykum, "aku takut atas kalian", sedangkan di 39:13 kata 'alaykum tidak ada dan kecemasannya tertuju pada akibat bagi pembicara bila durhaka. Dapat dibaca bahwa para pendengar diperlihatkan seseorang yang menaruh dirinya di bawah ukuran yang sama dengan yang mereka dengar, tetapi hal itu tidak tertulis. Ayat mencatat sebatas apa yang diperintahkan untuk diucapkan.
Akar خ-و-ف muncul lagi di 39:16, dalam bentuk (يُخَوِّفُ, yukhawwifu) yang berarti "menakuti", dengan Allah sebagai pelaku dan hamba-hamba-Nya sebagai pihak yang ditakuti. Ayat 39:13 memperlihatkan pembicara yang mengalami takut itu atas namanya sendiri, dan 39:16 memperlihatkan Allah yang menakuti hamba-hamba-Nya dengan gambaran api. Kedua ayat tidak dihubungkan secara tertulis, sehingga hubungannya hanya dapat dibaca dari akar yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 39:13 menaruh pembicaranya sendiri di dalam syarat: orang yang diperintah mengucapkannya berkata takut, dan akibat bagi dirinya bila durhaka menjadi bahan kecemasan itu. Di 7:59, 26:135, dan 46:21 kalimat serupa diarahkan kepada pendengar dengan kata atas kalian, sedangkan di sini kata itu tidak ada. Pendengar kalimat ini tidak diberi kesempatan menganggap pembicaranya mengamati bahaya dari tepi. Pembaca yang pernah memperingatkan orang lain dapat bertanya, ketika berbicara tentang akibat sebuah pilihan, apakah dirinya ditaruh di dalam syarat yang disebutkan atau dibiarkan berada di luar?
- Pihak yang mungkin didurhakai disebut dengan kata Tuhanku, sebutan yang memuat kata ganti milik, sedangkan nama Allah baru muncul di ayat sesudahnya. Pembicara mengucapkan kemungkinan kesalahannya dalam bahasa hubungan antara dirinya dan Tuhannya, tidak dalam bahasa pelanggaran terhadap aturan yang tak bernama. Bentuk itu membuat durhaka terbayang sebagai tindakan terhadap pihak yang punya ikatan dengan pembicara, dan ketakutan tertuju pada akibatnya di hadapan Tuhan. Pembaca yang menimbang kemungkinan dirinya keliru dapat bertanya, kekeliruan itu dialamatkan kepada sebuah peraturan atau kepada Tuhannya?
- Sifat agung di ayat ini menempel pada hari, karena akhirannya mengikuti kata hari dan tidak mengikuti kata azab. Ukuran yang dipakai pembicara untuk takutnya adalah bobot sebuah hari, dan azab disebut sebagai bagian dari hari itu. Ayat tidak menguraikan isi hari tersebut, dan gambaran api baru datang di 39:16. Pembaca yang menakar rasa takutnya dapat memperhatikan bahwa ayat ini mengarahkan pandangan ke sebuah hari, tidak ke sebuah hukuman saja. Bila ketakutan itu tertuju pada hari sebesar itu, pekerjaan apa dalam hidupnya sekarang yang berkaitan dengannya?
- Durhaka di ayat ini masih pengandaian, dan kata jika membuat takut yang diucapkan berbeda dari pengakuan bersalah. Pembicara tidak menyebut kesalahan yang sudah terjadi, dan menyebut sebuah kemungkinan beserta akibatnya di hadapan Tuhannya. Ayat tidak mengatakan apa yang dikerjakan pembicara untuk menjaga dirinya. Pembaca dapat bertanya, kapan terakhir kali muncul takut pada sesuatu yang belum dilakukannya, dan apakah rasa takut itu mengubah cara melangkahnya?
- Kalimat ketakutan ini dibuka dengan katakanlah, sehingga mengucapkannya di depan pendengar termasuk bagian dari yang diperintahkan. Menyatakan ketakutan sendiri kepada orang yang diajak berbicara berarti menampakkan sisi diri yang belum tentu ingin ditampakkan, dan ayat tidak memuat tanggapan pendengar, sehingga bagaimana kalimat itu diterima tetap terbuka. Ayat mencatat perintah mengucapkan dan isi ucapannya, tanpa keterangan tentang siapa saja pendengarnya. Pembaca yang biasa berbicara dengan nada pasti dapat bertanya, pernahkah ketakutannya sendiri diucapkan di hadapan orang yang diajaknya bicara, dan bagaimana rasanya kalimat itu keluar?
- Ayat ini memberi hari itu sifat sebelum memberinya nama: agung disebut di 39:13, sedangkan nama hari kiamat baru ditulis di 39:15. Nama Allah pun baru muncul di 39:14, sesudah pembicara menyebut Tuhanku di 39:13. Pembaca menerima kalimat itu dalam urutan tersebut, bobot dan ikatan lebih dulu, nama kemudian. Dapat dibaca bahwa rasa takut yang paling berat tidak selalu menunggu nama yang tepat. Dalam hal yang paling ditakuti dan paling dihormati, pembaca dapat bertanya apakah yang lebih dulu dikenali itu bobotnya atau namanya, dan apa artinya bagi cara menyebut Allah dan Tuhannya?