قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي
Katakanlah, “Hanya Allah yang aku abdi dengan memurnikan pertanggungjawabanku kepada-Nya,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُquli llaaha a'budukatakanlah, hanya Allah yang aku abdi
- مُخْلِصًا لَهُ دِينِيmukhlishan lahu diiniidengan memurnikan pertanggungjawabanku kepada-Nya
Terjemahan per kata (6 kata)
- قُلِqulikatakanlah
- اللَّهَllaahaAllah
- أَعْبُدُa'buduaku mengabdi
- مُخْلِصًاmukhlishandengan tulus
- لَهُlahubaginya
- دِينِيdiiniiagamaku
Inti bacaan
Frasa (مُخْلِصًا لَهُ, mukhlishan lahu) muncul tiga kali di Al-Qur'an (39:2, 39:11, 39:14), dan hanya di 39:14 sambungannya memakai kata ganti milik, diinii.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (أَعْبُدُ, a'budu) berakar ع-ب-د dan berbentuk sekarang untuk orang pertama tunggal, sehingga artinya "aku mengabdi". Bentuk ini terdapat di tujuh ayat pada empat surah, yaitu 10:104, 36:22, 39:14, 39:64, 109:2, 109:3, dan 109:5. Terjemahan 39:14 memakai "mengabdi" untuk akar ini, seperti pada (نَعْبُدُ, na'budu) di 1:5 yang berarti "kami mengabdi" dan pada (فَاعْبُدُوا, fa-'buduu) di 39:15 yang berarti "maka mengabdilah".
Allah disebut sebelum kata kerjanya: (اللَّهَ أَعْبُدُ, llaaha a'budu) yang berarti "Allah yang aku abdi". Rangkaian ini hanya terdapat di 39:14. Di 10:104 urutannya terbalik, (وَلَٰكِنْ أَعْبُدُ اللَّهَ, wa-laakin a'budu llaaha), dengan kata kerja lebih dulu. Terjemahan menandai urutan Allah-lebih-dulu di 39:14 dengan kata "hanya", seperti pada (إِيَّاكَ نَعْبُدُ, iyyaaka na'budu) di 1:5 yang berarti "hanya kepada-Mu kami mengabdi" dan (إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ, iyyaahu ta'buduuna) di 2:172, 16:114, dan 41:37 yang diterjemahkan "jika kalian hanya menyembah kepada-Nya". Urutan yang sama di 39:66, (اللَّهَ فَاعْبُدْ, llaaha fa-'bud) yang berarti "kepada Allah, mengabdilah", diterjemahkan tanpa "hanya", dan di 39:64 objek (غَيْرَ اللَّهِ, ghayra llaahi) yang berarti "selain Allah" juga mendahului kata kerja tanpa kata itu. Terjemahan belum memakai "hanya" di setiap ayat yang urutannya sama, jadi urutan Arab tidak menentukan kata itu dengan sendirinya.
Kata (مُخْلِصًا, mukhlishan) berakar خ-ل-ص dan menyebut pelaku yang sedang memurnikan, sehingga terjemahan memakai "dengan memurnikan". Bentuk tunggal ini muncul tiga kali, semuanya dalam surah ini, yaitu 39:2, 39:11, dan 39:14. Bentuk jamaknya, (مُخْلِصِينَ, mukhlishiina), muncul di tujuh ayat pada enam surah, yaitu 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 40:14, 40:65, dan 98:5. Di tiga ayat surah ini, mukhlishan disusul (لَهُ, lahu) yang berarti "kepada-Nya", lalu kata terakhir. Di 39:2 dan 39:11 kata terakhir itu (الدِّينَ, d-diina) yang berarti "pertanggungjawaban", sedangkan di 39:14 kata terakhirnya (دِينِي, diinii) yang berarti "pertanggungjawabanku".
Terjemahan memakai "pertanggungjawaban" untuk kata yang berakar د-ي-ن di 39:2 dan 39:11, sehingga diinii memakai kata yang sama dengan tambahan -ku. Bentuk diinii terdapat di dua ayat, yaitu 10:104 dan 39:14. Di 10:104, (مِنْ دِينِي, min diinii) muncul dalam kalimat "jika kalian masih dalam keraguan tentang pertanggungjawabanku". Bentuk yang kehilangan huruf ya di ujungnya, (وَلِيَ دِينِ, wa-liya diini), terdapat di 109:6 yang berarti "dan untukku pertanggungjawabanku". Di sembilan ayat yang memuat (لَهُ الدِّينَ, lahu d-diina), yaitu 7:29, 10:22, 29:65, 31:32, 39:2, 39:11, 40:14, 40:65, dan 98:5, kata terakhirnya selalu memakai kata sandang al- dan tidak memakai kata ganti milik. Dari tiga ayat yang memuat mukhlishan lahu, kata ganti itu terdapat di 39:14 saja.
Tanda koma di ujung terjemahan dan tidak adanya tanda kutip penutup menandai bahwa kutipan yang dibuka (قُلِ, quli) berlanjut ke 39:15, yang dibuka dengan (فَاعْبُدُوا, fa-'buduu) yang berarti "maka mengabdilah".
Tafsiran
Ayat ini memuat pernyataan pelaksanaan dari sebuah perintah yang sudah dua kali muncul dalam surah ini. Frasa mukhlishan lahu, "dengan memurnikan kepada-Nya", muncul tiga kali dan selalu bersama kata kerja akar ع-ب-د dalam tiga bentuk yang berbeda. Di 39:2 bentuknya perintah (فَاعْبُدِ, fa-'budi) yang berarti "maka mengabdilah", ditujukan kepada penerima Kitab. Di 39:11 bentuknya (أَنْ أَعْبُدَ, an a'buda), sebagai isi perintah yang dilaporkan pembicara. Di 39:14 bentuknya (أَعْبُدُ, a'budu) yang berarti "aku mengabdi", sebagai sesuatu yang dinyatakan sedang dikerjakan. Perintah itu bergeser dari seruan kepada penerima Kitab menjadi laporan pembicara tentang perintah yang diterimanya, lalu menjadi pernyataan tentang perbuatannya sendiri, dan kata ganti milik baru muncul pada tahap terakhir.
Dalam urutan ayat, pernyataan ini datang sesudah 39:13, tempat pembicara menyebut takutnya bila durhaka kepada Tuhannya, dan sebelum 39:15, yang membuka perintah kepada orang lain untuk mengabdi kepada apa yang mereka kehendaki selain Dia. Pembicara menyatakan sikapnya sendiri lebih dulu, lalu berbicara kepada pendengar dengan kata maka.
Pernyataan ini kembali di bagian akhir surah dalam keadaan diuji. Di 39:64 para pendengar disebut memerintahkan pembicara mengabdi kepada selain Allah, dan pembicara menjawab dengan pertanyaan yang memakai kata kerja yang sama dan objek yang juga mendahuluinya, (أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ, a-fa-ghayra llaahi ta'muruunnii a'budu). Di 39:66, (بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ, bali llaaha fa-'bud) yang berarti "sebaliknya, kepada Allah, mengabdilah", kata kerjanya kembali menjadi perintah dengan Allah di depan, seperti di 39:14. Dapat dibaca bahwa ketiga ayat itu membentuk satu lingkaran dari pernyataan, ujian, dan perintah, tetapi ayat-ayat itu tidak menuliskan hubungan tersebut.
Renungan dan Hikmah
- Di 39:2 dan 39:11 pertanggungjawaban yang dimurnikan disebut tanpa kata ganti milik, sedangkan di 39:14 pembicara menyebutnya pertanggungjawabanku. Dengan kata ganti itu, urusan yang diperintahkan dinyatakan sebagai urusan yang ditanggung pembicara sendiri di hadapan Allah. Perubahannya kecil, yaitu kata sandang al- diganti kata ganti milik, dan terjadi pada tahap ketiga dari tiga ayat yang memuat frasa yang sama. Pembaca yang pernah menerima sebuah tugas dapat bertanya, pada titik mana tugas itu mulai diucapkan dengan kata milikku, dan apakah kata itu sudah menyentuh urusannya di hadapan Allah?
- Ayat ini menyebut Allah sebelum menyebut perbuatan pembicara: Allah lebih dulu, kata aku mengabdi kemudian. Di 10:104 urutannya terbalik, perbuatan lebih dulu dan Allah sesudahnya. Urutan di 39:14 membuat pendengar mendengar nama yang dituju sebelum mendengar pekerjaan yang dilakukan untuknya. Dapat dibaca bahwa pada urutan seperti itu pekerjaan menjawab pertanyaan kepada siapa pekerjaan itu ditujukan. Pembaca yang sedang sibuk dapat bertanya, bila ditanya kepada siapa pekerjaannya tertuju, apakah nama itu terlintas lebih dulu daripada pekerjaannya sendiri?
- Kata yang diterjemahkan dengan memurnikan menyebut pelaku yang sedang memurnikan, sehingga memurnikan menjadi perbuatan pembicara yang menyertai pengabdiannya, dan ayat ini tidak menyebut pihak lain yang memurnikan untuknya. Pengabdian dan pemurnian berjalan bersamaan, dan kalimatnya tidak menaruh pemurnian sebagai tahap sesudah pengabdian selesai. Pembaca dapat bertanya, bagian mana dari pengabdian yang sedang dijalaninya perlu dimurnikan hari ini, dan apakah pemurnian itu berjalan bersama pekerjaannya atau menunggu sampai pekerjaan itu rampung?
- Pembicara menyatakan pengabdiannya sendiri di 39:14, lalu berpaling kepada pendengar di 39:15 dengan kata maka dan menyampaikan perintah mengabdi kepada apa yang mereka kehendaki selain Dia. Urutan itu menaruh pernyataan tentang diri sendiri lebih dulu daripada ajakan kepada orang lain, dan ayat tidak memberi alasan mengapa urutannya demikian. Orang yang terbiasa mengajak lebih dulu sebelum menyatakan sikap sendiri dapat bertanya, bagaimana kalimatnya terdengar bila urutannya dibalik, dan mana yang lebih dulu didengar orang, sikapnya atau ajakannya, ketika pembicaraan menyangkut Allah?
- Pernyataan bahwa Allah saja yang diabdi tidak berhenti di 39:14. Di 39:64 para pendengar disebut memerintahkan pembicara mengabdi kepada selain Allah, sehingga sikap yang diucapkan di bagian awal surah bertemu permintaan yang berlawanan di bagian belakangnya. Ayat 39:14 hanya mencatat sikapnya, dan jawaban atas permintaan itu baru tertulis jauh sesudahnya. Pembaca yang pernah menyatakan sebuah pegangan dapat bertanya, kapan pegangan itu terakhir diminta untuk diganti oleh orang di sekitarnya, dan apakah jawaban yang diberikan masih sama dengan yang pernah diucapkan?
- Ayat 39:13 dan 39:14 sama-sama memakai bentuk sekarang untuk kata kerja pokoknya, aku takut dan aku mengabdi. Salah satunya tidak diletakkan sebagai tahap sebelum yang lain, dan keduanya diucapkan berdampingan oleh pembicara yang sama dalam dua ayat berurutan. Dapat dibaca bahwa takut akan akibat durhaka kepada Tuhan dan mengabdi kepada Allah hadir bersamaan pada pembicara. Pembaca dapat bertanya, bila keduanya diucapkan berdampingan, apakah rasa takut ikut terdengar dalam pengabdiannya, atau terpisah di ruang lain?