لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌ ۚ ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ۚ يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ

Bagi mereka dari atas mereka ada lapisan-lapisan api, dan dari bawah mereka ada lapisan-lapisan pula. Demikianlah Allah menakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Wahai hamba-hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ وَمِنْ تَحْتِهِمْ ظُلَلٌlahum min fawqihim zhulalun mina n-naari wa-min tahtihim zhulalunbagi mereka dari atas mereka ada lapisan-lapisan api, dan dari bawah mereka ada lapisan-lapisan pula
  2. ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُdzaalika yukhawwifu llaahu bihi 'ibaadahudemikianlah Allah menakuti hamba-hamba-Nya dengannya
  3. يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِyaa 'ibaadi fa-ttaquuniwahai hamba-hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. لَهُمْlahumbagi mereka
  2. مِنْmindari
  3. فَوْقِهِمْfawqihimatas mereka
  4. ظُلَلٌzhulalunnaungan
  5. مِنَminadari
  6. النَّارِn-naariapi
  7. وَمِنْwa-mindan dari
  8. تَحْتِهِمْtahtihimbawah mereka
  9. ظُلَلٌzhulalunnaungan
  10. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  11. يُخَوِّفُyukhawwifumenakut-nakuti
  12. اللَّهُllaahuAllah
  13. بِهِbihidengannya
  14. عِبَادَهُ'ibaadahuhamba-hamba-Nya
  15. يَاyaawahai
  16. عِبَادِ'ibaadihamba-hamba-Ku
  17. فَاتَّقُونِfa-ttaquunimaka bertakwalah kepada-Ku

Inti bacaan

Rangkaian (تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ, tahti arjulihim) muncul dua kali di Al-Qur'an (5:66, 29:55), sedangkan 39:16 menulis sisi bawah dengan tahtihim tanpa kata kaki.

Penjelasan pilihan kata

Gambaran api dibuka dengan (لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ مِنَ النَّارِ, lahum min fawqihim zhulalun mina n-naari) yang berarti "bagi mereka dari atas mereka ada lapisan-lapisan api". Kata (ظُلَلٌ, zhulalun) berakar ظ-ل-ل dan muncul dua kali dalam ayat ini, sekali untuk yang di atas dan sekali untuk yang di bawah, pada (وَمِنْ تَحْتِهِمْ, wa-min tahtihim) yang berarti "dan dari bawah mereka". Kata zhulal dan bentuk tunggalnya terdapat di lima ayat, yaitu 2:210, 7:171, 26:189, 31:32, dan 39:16. Di 2:210 bentuknya (فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ, fii zhulalin mina l-ghamaami) yang berarti "dalam naungan awan", dan di 31:32 (كَالظُّلَلِ, ka-zh-zhulali) yang berarti "seperti naungan-naungan". Keduanya menyebut sesuatu yang menaungi dari atas atau menutupi. Karena kata yang sama dipakai di 39:16 untuk yang di atas dan yang di bawah, terjemahan memilih "lapisan-lapisan", yang bisa diletakkan di kedua arah, dan tidak memakai "naungan". Di 7:41 kedua arah itu dibedakan dengan dua kata, (مِهَادٌ, mihaadun) yang berarti "alas" dan (غَوَاشٍ, ghawaasyin) yang berarti "selubung", sedangkan 39:16 memakai satu kata untuk keduanya.

Rangkaian (مِنْ فَوْقِهِمْ, min fawqihim) terdapat di enam ayat, yaitu 5:66, 7:41, 16:26, 16:50, 29:55, dan 39:16. Rangkaian wa-min tahtihim hanya ada di 39:16. Di 29:55 sisi bawah ditulis lebih rinci, (وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ, wa-min tahti arjulihim) yang berarti "dan dari bawah kaki mereka", dalam kalimat bahwa azab menutupi mereka dari dua arah itu, memakai (يَغْشَاهُمُ, yaghsyaahumu) yang berarti "menutupi mereka". Rangkaian min tahti arjulihim terdapat di dua ayat, yaitu 5:66 dan 29:55. Ayat 39:16 menulis tahtihim tanpa kata kaki.

Penutup gambaran berbunyi (ذَٰلِكَ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ, dzaalika yukhawwifu llaahu bihi 'ibaadahu) yang berarti "demikianlah Allah menakuti hamba-hamba-Nya dengannya". Kata kerja (يُخَوِّفُ, yukhawwifu) berakar خ-و-ف, akar yang sama dengan akhaafu di 39:13, tetapi di sini pelakunya menjadikan orang lain takut, sedangkan di 39:13 pembicara sendiri yang takut. Bentuk yukhawwifu terdapat di dua ayat, yaitu 3:175 dan 39:16. Di 3:175, (يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ, yukhawwifu awliyaa'ahu) yang berarti "menakut-nakuti para pengikutnya" memakai setan sebagai pelaku. Kata kerja berakar sama dengan awalan atau akhiran lain terdapat di 39:36, (وَيُخَوِّفُونَكَ, wa-yukhawwifuunaka) yang berarti "dan mereka menakut-nakutimu", dan di 17:60, (وَنُخَوِّفُهُمْ, wa-nukhawwifuhum) yang berarti "dan Kami menakut-nakuti mereka". Pelaku yang menakuti dengan demikian berganti-ganti antar ayat, dan di 39:16 pelakunya Allah.

Kata ganti (بِهِ, bihi) pada "dengannya" berbentuk tunggal laki-laki, sama dengan (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "itu", dan berbeda dari zhulalun yang jamak. Karena itu -hi pada bihi tertaut pada dzaalika, yang merangkum gambaran di depannya, tidak pada kata lapisan-lapisan saja, dan terjemahan "dengannya" mengikuti hal itu.

Seruan terakhir (يَا عِبَادِ فَاتَّقُونِ, yaa 'ibaadi fa-ttaquuni) yang berarti "wahai hamba-hamba-Ku, bertakwalah kepada-Ku" memakai kata (عِبَادِ, 'ibaadi) yang berakar ع-ب-د, akar yang sama dengan kata kerja mengabdi di 39:14 dan 39:15, sehingga terjemahan memakai "hamba". Sapaan yaa 'ibaadi tanpa huruf ya di ujung terdapat di tiga ayat, yaitu 39:10, 39:16, dan 43:68, sedangkan bentuk dengan ya, (يَا عِبَادِيَ, yaa 'ibaadiya), terdapat di 29:56 dan 39:53. Kata (فَاتَّقُونِ, fa-ttaquuni) berakar و-ق-ي dan terdapat di empat ayat, yaitu 2:41, 16:2, 23:52, dan 39:16. Di 16:2 seruan itu mengikuti pernyataan bahwa tidak ada tuhan kecuali Aku, di 23:52 mengikuti pernyataan Aku Tuhan kalian, dan di 2:41 didahului (وَإِيَّايَ, wa-iyyaaya) yang berarti "dan hanya kepada-Ku". Di 39:16 seruan itu mengikuti gambaran api.

Tafsiran

Ayat ini menyebut sendiri maksud gambarannya: lapisan api dari atas dan bawah diperkenalkan sebagai cara Allah menakuti hamba-hamba-Nya, lalu ditutup dengan seruan bertakwa kepada-Ku. Kalimat tentang cara menakuti menyebut Allah dengan nama-Nya, dan kalimat terakhir berbicara sebagai Allah dengan kata Aku, dalam satu ayat tanpa qul di antaranya. Perpindahan itu mengubah gambaran menjadi sapaan: kata mereka di awal ayat berganti menjadi wahai hamba-hamba-Ku di akhir.

Susunan ayat ini dipantulkan di 39:20. Kedua ayat dibuka dengan (لَهُمْ, lahum) yang berarti "bagi mereka", dan masing-masing menyebut sisi atas dan sisi bawah. Di 39:16 bunyinya (لَهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ ظُلَلٌ, lahum min fawqihim zhulalun) dan wa-min tahtihim, sedangkan di 39:20 bunyinya (لَهُمْ غُرَفٌ مِنْ فَوْقِهَا غُرَفٌ, lahum ghurafun min fawqihaa ghurafun) dan (مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ, min tahtihaa l-anhaaru) yang berarti "dari bawahnya sungai-sungai". Rangkaian lahum min fawqihim hanya ada di 39:16, dan rangkaian min fawqihaa ghurafun hanya ada di 39:20. Di antara keduanya, 39:17 sampai 39:19 menyela dengan kabar gembira, uraian orang yang diberi petunjuk, dan pertanyaan tentang orang yang telah pasti baginya perkataan azab.

Seruan bertakwa di ujung 39:16 juga bersambung dengan 39:20. Akar و-ق-ي pada fa-ttaquuni muncul lagi di 39:20 pada (اتَّقَوْا, ttaqaw) yang berarti "mereka bertakwa", dalam (الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ, lladziina ttaqaw rabbahum) yang berarti "orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka". Sasaran takwa berganti dari ayat ke ayat: di 39:10 (اتَّقُوا رَبَّكُمْ, ttaquu rabbakum) yang berarti "bertakwalah kepada Tuhan kalian", di 39:16 fa-ttaquuni yang berarti "bertakwalah kepada-Ku", dan di 39:20 ttaqaw rabbahum. Dapat dibaca bahwa perintah di 39:16 mendapat uraian akibatnya di 39:20, tetapi ayat 39:20 tidak menyebut dirinya jawaban atas 39:16.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini mengatakan sendiri untuk apa gambaran apinya dipakai, yaitu Allah menakuti hamba-hamba-Nya dengannya. Tujuan itu tidak disembunyikan di balik gambarannya, dan dicantumkan sebagai bagian dari ayat yang sama. Peringatan yang menyebut maksudnya terus terang memberi pendengar kesempatan menimbang apakah maksud itu pantas diterima. Pembaca yang pernah menyampaikan peringatan kepada orang lain dapat bertanya, apakah tujuan peringatannya pernah disebutkan, atau gambarannya dibiarkan bekerja sendiri tanpa penjelasan untuk apa gambaran itu diberikan?
  • Sapaan di ujung ayat adalah hamba-hamba-Ku, tanpa keterangan yang memilah pendengar. Di 39:10 sapaan yang sama diikuti sifat orang-orang beriman, dan di 39:53 diikuti sifat orang-orang yang melampaui batas atas diri sendiri, sedangkan di 39:16 tidak ada sifat apa pun sesudahnya. Sesudah gambaran yang berat, Allah memakai sebutan yang memuat kata ganti milik, dan tidak menambahkan penilaian. Pembaca dapat bertanya, dalam teguran yang pernah diterima atau disampaikannya, sebutan akrab apa yang tetap dipakai sesudah kalimat yang paling keras selesai diucapkan?
  • Di awal ayat orang-orang itu disebut mereka, dan di akhir ayat sapaan wahai hamba-hamba-Ku ditujukan langsung kepada pendengar. Dapat dibaca bahwa pembaca yang semula menaruh dirinya sebagai penonton gambaran tentang mereka mendapati bahwa sapaan di ujung tidak memilih siapa yang disapa. Ayat tidak menyebut mereka yang dimaksud di awal sama dengan hamba-hamba yang disapa di akhir. Pembaca yang membaca kata mereka dalam sebuah peringatan dapat bertanya, pada kalimat mana pembacaan tentang orang lain berhenti dan pembaca mulai dibicarakan, dan apa yang membuatnya bertahan sebagai penonton?
  • Seruan penutup berbunyi bertakwalah kepada-Ku, sehingga sasaran takwa adalah Allah sendiri, tidak api yang baru digambarkan. Gambaran dua arah itu tidak ditutup dengan perintah menghindari api; kalimat terakhir menunjuk kepada yang berbicara. Dengan susunan itu gambaran api berfungsi sebagai pengantar menuju sebuah hubungan, dan ayat tidak memuat petunjuk menghindari api yang terlepas dari hubungan tersebut. Pembaca yang sering menjaga diri dari akibat dapat bertanya, kepada siapa penjagaan itu diarahkan, kepada akibatnya atau kepada pihak yang menetapkan akibat itu?
  • Ayat ini hanya menyebut dua arah, atas dan bawah, dan sesudah gambaran itu tidak ada uraian jalan keluar. Kalimat berikutnya menyebut tujuan gambaran lalu menyeru, sehingga perhatian pembaca dibawa dari lapisan api ke sebuah panggilan. Lapisan disebut jamak untuk kedua arah, yang menambah kesan tebal tanpa memerinci bentuknya. Pembaca yang membayangkan gambaran itu dapat bertanya, ke mana pikirannya berjalan sesudah dua arah itu disebut, ke arah mencari celah di gambarannya atau ke arah kalimat yang menyapa dari Allah di ujung ayat?
  • Kata dengannya menjadikan rasa takut sebagai sarana menuju sesuatu, dan seruan terakhir menyambungkannya ke perintah bertakwa. Gambaran api, rasa takut, lalu takwa tersusun dalam satu urutan di ayat yang sama. Dapat dibaca bahwa rasa takut yang digambarkan ayat ini adalah yang meneruskan pendengar ke arah yang disebut sesudahnya. Pembaca dapat bertanya, rasa takut yang datang kepadanya diteruskan ke mana, ke menghindar saja atau ke arah sapaan Allah kepada hamba-hamba-Nya?