أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِ أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِ
Maka, apakah orang yang telah pasti baginya perkataan azab, apakah engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam api?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَفَمَنْ حَقَّ عَلَيْهِ كَلِمَةُ الْعَذَابِa-fa-man haqqa 'alayhi kalimatu l-'adzaabimaka, apakah orang yang telah pasti baginya perkataan azab
- أَفَأَنْتَ تُنْقِذُ مَنْ فِي النَّارِa-fa-anta tunqidzu man fii n-naariapakah engkau akan menyelamatkan orang yang berada di dalam api
Terjemahan per kata (10 kata)
- أَفَمَنْa-fa-manmaka apakah orang yang
- حَقَّhaqqabenar
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- كَلِمَةُkalimatukalimat
- الْعَذَابِl-'adzaabiazab
- أَفَأَنْتَa-fa-antamaka apakah engkau
- تُنْقِذُtunqidzuengkau menyelamatkan
- مَنْmanorang yang
- فِيfiidi
- النَّارِn-naariapi
Inti bacaan
Akar (ن-ق-ذ, n-q-dz) muncul lima kali di Al-Qur'an (3:103, 22:73, 36:23, 36:43, 39:19), dan bentuk (تُنْقِذُ, tunqidzu) hanya ada di 39:19.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَفَمَنْ, a-fa-man) yang berarti "maka apakah orang yang", susunan pertanyaan yang diikuti kata sambung maka. Rangkaian a-fa-man terdapat di lima belas ayat pada dua belas surah, yaitu 9:109, 10:35, 11:17, 13:19, 13:33, 16:17, 28:61, 32:18, 35:8, 39:19, 39:22, 39:24, 41:40, 47:14, dan 67:22. Tiga di antaranya berada dalam surah ini: 39:19 tentang orang yang telah pasti baginya perkataan azab, 39:22 tentang orang yang dadanya Allah lapangkan untuk keberserahan, dan 39:24 tentang orang yang menangkis azab dengan wajahnya. Bagian pertama ayat ini tidak memuat kata kerja yang menyelesaikannya, dan pertanyaan baru langsung dibuka dengan a-fa. Terjemahan menaruh koma di antara kedua bagian itu dan tidak menambahkan kata yang mengisi bagian pertama.
Kata kerja (حَقَّ, haqqa) berakar ح-ق-ق dan berarti "telah pasti" atas pihak yang disebut sesudah (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "atasnya". Dalam arti itu haqqa dan bentuk perempuannya haqqat terdapat di banyak ayat, dan hal yang telah pasti berganti-ganti. Perkataan, (الْقَوْلُ, l-qawlu), terdapat di 17:16, 28:63, 32:13, 36:7, 36:70, 41:25, dan 46:18. Kalimat Tuhanmu, (كَلِمَتُ رَبِّكَ, kalimatu rabbika), terdapat di 10:33, 10:96, dan 40:6. Kesesatan, (الضَّلَالَةُ, dh-dhalaalatu), terdapat di 7:30 dan 16:36. Perkataan azab terdapat di 39:19 dan 39:71, sedangkan azab sendiri disebut langsung di 22:18, dan 37:31, 38:14, serta 50:14 menyebut perkataan Tuhan kami, hukuman, dan ancaman. Pihak yang dikenai berbentuk tunggal laki-laki hanya di tiga ayat, yaitu 16:36, 22:18, dan 39:19, sedangkan ayat lain memakai bentuk jamak atau menyebut golongan.
Kata (كَلِمَةُ, kalimatu) berakar ك-ل-م, dan dalam susunan (كَلِمَةُ الْعَذَابِ, kalimatu l-'adzaabi) menyebut sesuatu yang diucapkan dan isinya azab. Susunan ini terdapat di dua ayat, yaitu 39:19 dan 39:71. Di 39:71, (حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ, haqqat kalimatu l-'adzaabi 'alaa l-kaafiriina) yang berarti "telah pasti perkataan azab atas orang-orang kafir" diucapkan oleh orang-orang yang digiring ke Jahanam sebagai jawaban atas pertanyaan para penjaganya. Di 39:19 kalimat itu menjadi bagian dari sebuah pertanyaan. Terjemahan di ayat ini memakai "perkataan".
Pertanyaan kedua dibuka dengan (أَفَأَنْتَ, a-fa-anta) yang berarti "maka apakah engkau". Rangkaian ini terdapat di enam ayat pada empat surah, yaitu 10:42, 10:43, 10:99, 25:43, 39:19, dan 43:40. Pertanyaannya selalu menyangkut kemampuan orang yang disapa: (تُسْمِعُ الصُّمَّ, tusmi'u sh-shumma) yang berarti "menjadikan yang tuli mendengar" di 10:42 dan 43:40, (تَهْدِي الْعُمْيَ, tahdii l-'umya) yang berarti "memberi petunjuk kepada yang buta" di 10:43 dan 43:40, (تُكْرِهُ النَّاسَ, tukrihu n-naasa) yang berarti "memaksa manusia" di 10:99, dan (تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا, takuunu 'alayhi wakiilan) yang berarti "menjadi wakil atasnya" di 25:43. Di 39:19 kata kerjanya (تُنْقِذُ, tunqidzu) yang berarti "engkau menyelamatkan".
Kata tunqidzu berakar ن-ق-ذ dan akar ini terdapat di lima ayat, yaitu 3:103, 22:73, 36:23, 36:43, dan 39:19. Di 3:103, (فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا, fa-anqadzakum minhaa) yang berarti "lalu Dia menyelamatkan kalian darinya" memakai Allah sebagai pelaku, dan yang diselamatkan berada di (عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ, 'alaa syafaa hufratin mina n-naari) yang berarti "di tepi jurang api". Tiga ayat lain memuat penyangkalan: (وَلَا يُنْقِذُونِ, wa-laa yunqidzuuni) di 36:23 yang berarti "dan mereka tidak dapat menyelamatkanku" untuk sembahan selain Dia, (لَا يَسْتَنْقِذُوهُ, laa yastanqidzuuhu) di 22:73 yang berarti "mereka tidak dapat merebutnya kembali" untuk yang diseru selain Allah, dan (وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ, wa-laa hum yunqadzuuna) di 36:43 yang berarti "dan mereka tidak diselamatkan". Bentuk persis tunqidzu hanya ada di 39:19.
Kata sasaran penyelamatan, (مَنْ فِي النَّارِ, man fii n-naari), yang berarti "orang yang berada di dalam api", terdapat di dua ayat, yaitu 27:8 dan 39:19. Di 27:8, (بُورِكَ مَنْ فِي النَّارِ, buurika man fii n-naari) menjadikan frasa itu sasaran pemberkatan, dan di 39:19 frasa yang sama menjadi sasaran pertanyaan tentang penyelamatan.
Tafsiran
Ayat ini menyela rangkaian kabar baik dengan satu pertanyaan tentang orang yang telah pasti baginya perkataan azab. Ayat 39:17 menyampaikan kabar gembira bagi orang yang menjauhi tagut, 39:18 memuji mereka yang mendengar dan mengikuti yang terbaik, lalu 39:20 dibuka (لَٰكِنِ, laakini) yang berarti "tetapi" dan menyambung kembali ke orang-orang yang bertakwa. Pertanyaan 39:19 berdiri di tengah sebagai satu bagian yang berbeda dari kedua sisinya, dan kedua sisi itu tidak menyebut orang yang dibicarakan di sini.
Orang yang ditanya adalah penerima wahyu, yang di 39:11 sampai 39:15 menerima perintah qul berulang kali, sehingga dapat dibaca bahwa orang yang tadi mengucapkan takutnya dan pengabdiannya kini ditanya tentang batas kemampuannya. Surah yang sama menulis batas itu sekali lagi di 39:41, (وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ, wa-maa anta 'alayhim bi-wakiilin) yang berarti "dan engkau bukanlah wakil atas mereka". Pertanyaan di 39:19 dan penyangkalan di 39:41 menuliskan batas yang bersangkutan dalam dua bentuk, dan kedua ayat sama-sama tidak menghubungkan batas itu dengan kekuasaan Allah secara tertulis.
Di surah ini a-fa-man dipakai tiga kali. Ayat 39:19 menanyakan orang yang telah pasti baginya perkataan azab, 39:22 menanyakan orang yang dadanya Allah lapangkan untuk keberserahan, sehingga (فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ, fa-huwa 'alaa nuurin min rabbihi) yang berarti "lalu berada di atas cahaya dari Tuhannya", dan 39:24 menanyakan orang yang menangkis azab dengan wajahnya. Di 41:40 pertanyaan semacam itu berbentuk perbandingan, (أَفَمَنْ يُلْقَىٰ فِي النَّارِ خَيْرٌ, a-fa-man yulqaa fii n-naari khayrun) yang berarti "apakah orang yang dilemparkan ke dalam api lebih baik", sedangkan 39:19 meminta sesuatu dari penerima wahyu dan tidak membandingkan dua keadaan.
Renungan dan Hikmah
- Pertanyaan di ayat ini dialamatkan kepada penerima wahyu dengan kata engkau, dan menanyakan apakah ia mampu menyelamatkan orang yang berada di dalam api. Di 39:41 surah yang sama menulis dan engkau bukanlah wakil atas mereka, sehingga batas peran itu tertulis dua kali dengan bentuk berbeda, sebagai pertanyaan dan sebagai penyangkalan. Pembaca yang pekerjaannya mengajak, mengingatkan, atau membimbing orang lain dapat bertanya, bagian mana dari akhir sebuah ajakan yang selama ini diperlakukannya seolah berada di tangannya, dan bagian mana yang ayat ini letakkan di luar jangkauan penyampai?
- Di 3:103 orang-orang yang diselamatkan digambarkan berada di tepi jurang api, dan Allah disebut sebagai yang menyelamatkan mereka dari sana. Di 39:19 orang yang dibicarakan berada di dalam api, dan pertanyaan penyelamatan diajukan kepada penerima wahyu. Dua ayat itu berbeda konteksnya dan tidak saling menafsirkan, tetapi letak orang itu, di tepi atau di dalam, dicatat berbeda. Pembaca yang pernah berusaha menolong orang lain dapat bertanya, orang yang dibantunya sedang berada di tepi atau sudah di dalam, dan siapa yang menurut ayat-ayat ini dapat menolong pada tiap keadaan?
- Di 39:19 perkataan azab menjadi bagian dari pertanyaan kepada penerima wahyu, sedangkan di 39:71 kalimat yang sama keluar dari mulut orang-orang yang digiring ke Jahanam, ketika para penjaga bertanya apakah rasul-rasul yang membacakan tanda-tanda Tuhan kalian belum datang. Pernyataan bahwa perkataan azab telah pasti atas orang-orang kafir dengan demikian terdengar dari dua posisi, sebagai uraian pihak lain dan sebagai pengakuan pihak yang bersangkutan. Pembaca dapat bertanya, kalimat apa tentang dirinya yang lebih sering didengar dari orang lain daripada diucapkan sendiri, dan apa yang berubah ketika kalimat itu keluar dari mulutnya sendiri?
- Pertanyaan di ayat ini tidak diikuti jawaban eksplisit pada ayat yang sama, seperti pertanyaan berawalan a-fa-anta di 10:42, 10:43, 10:99, 25:43, dan 43:40. Ayat-ayat itu menaruh pertanyaan tentang batas kemampuan di hadapan pendengar tanpa menulis kata tidak. Dapat dibaca bahwa kekosongan itu membuat pembaca menjawab sendiri, dan jawabannya tampak dari arah pertanyaannya. Pembaca yang menerima pertanyaan retoris dapat bertanya, jawaban mana yang diberikan dalam hati, dan apakah jawaban itu berubah bila pertanyaannya diajukan kepada pembaca sendiri, tidak kepada penerima wahyu?
- Bagian pertama ayat ini berhenti tanpa kata kerja, dan pertanyaan kedua langsung dibuka. Kalimat yang terpotong itu menaruh orang yang telah pasti baginya perkataan azab di depan pembaca tanpa kesimpulan, lalu memindahkan fokus ke penerima wahyu dan kemampuannya. Perhatian pembaca dipindahkan dari nasib orang itu ke batas orang yang diajak bicara. Pembaca yang mendengar nasib orang lain diceritakan tanpa kesimpulan dapat bertanya, kesimpulan apa yang cenderung ditambahkannya sendiri, dan atas dasar apa kesimpulan itu ditambahkan?
- Hal yang dinyatakan telah pasti di ayat ini berbentuk perkataan, dan peristiwanya baru muncul lewat kata api di kalimat berikutnya. Di 10:33, 10:96, dan 40:6 hal yang telah pasti disebut kalimat Tuhanmu, sehingga bentuk ucapan itu muncul pula di ayat-ayat tersebut, sedangkan di 39:19 ayat tidak menamai pengucapnya. Sesuatu yang berbentuk perkataan memiliki pembicara, dan ayat ini membiarkan pembicara itu tidak disebut. Pembaca dapat bertanya, bila yang telah pasti adalah sebuah perkataan, siapa yang dibayangkan sebagai pengucapnya, dan dari mana bayangan itu berasal?