أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Maka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk keberserahan, lalu, mendapat cahaya dari Tuhannya? Maka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِa-fa-man syaraha llaahu shadrahu li-l-islaamimaka, apakah orang yang Allah bukakan hatinya untuk keberserahan
  2. فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِfa-huwa 'alaa nuurin min rabbihilalu, mendapat cahaya dari Tuhannya
  3. فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِfa-waylun li-l-qaasiyati quluubuhum min dzikri llaahimaka, celakalah mereka yang hatinya membatu dari mengingat Allah
  4. أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍulaa'ika fii dhalaalin mubiininmereka itu dalam kesesatan yang nyata

Terjemahan per kata (20 kata)

  1. أَفَمَنْa-fa-manmaka apakah orang yang
  2. شَرَحَsyarahamelapangkan
  3. اللَّهُllaahuAllah
  4. صَدْرَهُshadrahudadanya
  5. لِلْإِسْلَامِli-l-islaamikepada Islam
  6. فَهُوَfa-huwamaka dia
  7. عَلَىٰ'alaaatas
  8. نُورٍnuurincahaya
  9. مِنْmindari
  10. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  11. فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
  12. لِلْقَاسِيَةِli-l-qaasiyatibagi yang keras
  13. قُلُوبُهُمْquluubuhumhati mereka
  14. مِنْmindari
  15. ذِكْرِdzikriperingatan
  16. اللَّهِllaahiAllah
  17. أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
  18. فِيfiidalam
  19. ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
  20. مُبِينٍmubiininyang nyata

Inti bacaan

Kontras 'hati yang dibukakan untuk keberserahan' dan 'hati yang membatu', keterbukaan spiritual sebagai kondisi yang bisa dikenali lewat responsnya terhadap pengingat, kontras dengan kekerasan hati yang menolak.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan '(menerima)' dan '(sama dengan orang yang hatinya membatu)' tidak dipakai: yang terakhir adalah anak kalimat perbandingan yang sama sekali dikarang, tidak ada padanan dalam teks Arab; pertanyaan retoris dibiarkan elipsis sesuai struktur aslinya.

Tafsiran

Ayat ini mengontraskan hati yang terbuka menerima cahaya dengan hati yang membatu: sebuah perbedaan mendasar yang menentukan arah hidup seseorang.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut Dia yang membukakan hati. Bukan orangnya yang membuka. Yang terbuka menerima, bukan mengusahakan.
  • Pertanyaannya dibiarkan tak selesai. Pembandingnya tak disebut. Yang tak dituliskan diserahkan kepada pembacanya untuk melengkapi.
  • Allah memakai kata membatu untuk lawannya. Bukan tertutup. Yang keras bukan pintunya, melainkan bahannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain menerjemahkan s-l-m di sini via 'Islam'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN). akar s-l-m (slm), cabang KEBERSERAHAN (aslama/islaam/muslim/mustaslim). Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini: islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'.