أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maka, apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk keberserahan, lalu, berada di atas cahaya dari Tuhannya? Maka, celakalah mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
Terjemahan bertahap (4 jeda)
- أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِa-fa-man syaraha llaahu shadrahu li-l-islaamimaka, apakah orang yang Allah lapangkan dadanya untuk keberserahan
- فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِfa-huwa 'alaa nuurin min rabbihilalu, berada di atas cahaya dari Tuhannya
- فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِfa-waylun li-l-qaasiyati quluubuhum min dzikri llaahimaka, celakalah mereka yang hatinya keras dari mengingat Allah
- أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍulaa'ika fii dhalaalin mubiininmereka itu dalam kesesatan yang nyata
Terjemahan per kata (20 kata)
- أَفَمَنْa-fa-manmaka apakah orang yang
- شَرَحَsyarahamelapangkan
- اللَّهُllaahuAllah
- صَدْرَهُshadrahudadanya
- لِلْإِسْلَامِli-l-islaamikepada Islam
- فَهُوَfa-huwamaka dia
- عَلَىٰ'alaaatas
- نُورٍnuurincahaya
- مِنْmindari
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- فَوَيْلٌfa-waylunmaka celaka
- لِلْقَاسِيَةِli-l-qaasiyatibagi yang keras
- قُلُوبُهُمْquluubuhumhati mereka
- مِنْmindari
- ذِكْرِdzikriperingatan
- اللَّهِllaahiAllah
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- فِيfiidalam
- ضَلَالٍdhalaalinkesesatan
- مُبِينٍmubiininyang nyata
Inti bacaan
Akar ق-س-و muncul di enam ayat, yaitu 2:74, 5:13, 6:43, 22:53, 39:22, dan 57:16, dan di semuanya yang mengeras adalah (قُلُوبُ, quluubu) hati.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (أَفَمَنْ, a-fa-man) yang berarti "maka, apakah orang yang". Pembuka ini muncul 15 kali di 12 surah, yaitu 9:109, 10:35, 11:17, 13:19, 13:33, 16:17, 28:61, 32:18, 35:8, 39:19, 39:22, 39:24, 41:40, 47:14, dan 67:22. Surah ini memuatnya tiga kali, di 39:19, 39:22, dan 39:24, dan di ketiganya pertanyaan itu tidak diselesaikan dengan kata pembanding seperti "sama dengan". Terjemahan 39:22 menuliskannya apa adanya, tanpa menambahkan anak kalimat yang tidak ada dalam Arabnya.
Kata kerja (شَرَحَ, syaraha) yang berarti "melapangkan" berakar ش-ر-ح dan muncul di lima ayat, yaitu 6:125, 16:106, 20:25, 39:22, dan 94:1. Di empat ayat lain terjemahan memakainya dengan "dada": "melapangkan dadanya" di 6:125, "melapangkan dada" di 16:106, "lapangkanlah dadaku" di 20:25, dan "melapangkan dadamu" di 94:1. Objeknya di ayat ini (صَدْرَهُ, shadrahu) yang berarti "dadanya", sehingga terjemahan 39:22 memakai "dada" dan tidak memakai "hati". Alasannya ada di ayat itu sendiri: bagian kedua memakai kata lain, (قُلُوبُهُمْ, quluubuhum) yang berarti "hati mereka", jadi satu ayat memuat dua anggota yang berbeda, dada untuk yang dilapangkan dan hati untuk yang mengeras. Susunan (صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ, shadrahu li-l-islaami) yang berarti "dadanya untuk keberserahan" muncul dua kali, yaitu di 6:125 dan 39:22.
Kata (الْإِسْلَامِ, l-islaami) berakar س-ل-م dan kata dasarnya tertulis di delapan ayat, yaitu 3:19, 3:85, 5:3, 6:125, 9:74, 39:22, 49:17, dan 61:7. Terjemahan memakai "keberserahan" di 3:19, 3:85, 6:125, dan 61:7, sehingga 39:22 memakai kata yang sama. Di ayat ini kata itu tidak disusul sebutan pemeluk.
Susunan (عَلَىٰ نُورٍ مِنْ رَبِّهِ, 'alaa nuurin min rabbihi) memuat (عَلَىٰ, 'alaa) yang berarti "di atas". Terjemahan memakai "berada di atas" juga di 2:5, (عَلَىٰ هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ, 'alaa hudan min rabbihim) yang berarti "berada di atas petunjuk dari Tuhan mereka", dan di 22:67. Susunan (عَلَىٰ نُورٍ, 'alaa nuurin) muncul dua kali, di 24:35 dan 39:22, dan di 24:35 susunan itu berbunyi (نُورٌ عَلَىٰ نُورٍ, nuurun 'alaa nuurin) yang berarti "cahaya di atas cahaya". Kata (نُورٍ, nuurin) yang berarti "cahaya" sendiri tertulis tiga kali dengan bentuk ini, yaitu di 24:35, 24:40, dan 39:22. Di ayat ini cahaya itu disebut berasal (مِنْ رَبِّهِ, min rabbihi) yang berarti "dari Tuhannya".
Kata (فَوَيْلٌ, fa-waylun) yang berarti "maka celakalah" muncul delapan kali, yaitu di 2:79, 19:37, 38:27, 39:22, 43:65, 51:60, 52:11, dan 107:4. Lima di antaranya diikuti (لِلَّذِينَ, li-lladziina) yang berarti "bagi orang-orang yang", yaitu 2:79, 19:37, 38:27, 43:65, dan 51:60, lalu pelakunya disebut dengan perbuatan atau sebutan, misalnya (لِلَّذِينَ كَفَرُوا, li-lladziina kafaruu) di 19:37. Dua lainnya diikuti sebutan bentuk jamak, yaitu (لِلْمُكَذِّبِينَ, li-l-mukadzdzibiina) di 52:11 dan (لِلْمُصَلِّينَ, li-l-mushalliina) di 107:4. Di antara delapan ayat itu, 39:22 menandai kelompoknya lewat keadaan anggota tubuhnya, (لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ, li-l-qaasiyati quluubuhum) yang berarti "bagi yang keras hati mereka".
Kata (الْقَاسِيَةِ, l-qaasiyati) berakar ق-س-و dan akar itu muncul di enam ayat, yaitu 2:74, 5:13, 6:43, 22:53, 39:22, dan 57:16. Di keenamnya hati yang mengeras: (قَسَتْ قُلُوبُكُمْ, qasat quluubukum) di 2:74, (قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً, quluubahum qaasiyatan) di 5:13, (قَسَتْ قُلُوبُهُمْ, qasat quluubuhum) di 6:43, (وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ, wa-l-qaasiyati quluubuhum) di 22:53, dan (فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ, fa-qasat quluubuhum) di 57:16. Terjemahan 39:22 memakai "keras" saja, sebab perbandingan dengan batu tertulis di 2:74, (فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ, fa-hiya ka-l-hijaarati) yang berarti "maka ia seperti batu", dan tidak ada di ayat ini.
Frasa (ذِكْرِ اللَّهِ, dzikri llaahi) tertulis di delapan ayat, yaitu 5:91, 13:28, 24:37, 39:22, 39:23, 57:16, 62:9, dan 63:9, dan kata depan di depannya berbeda-beda: (عَنْ, 'an) yang berarti "dari" di 5:91, 24:37, dan 63:9, (إِلَىٰ, ilaa) yang berarti "kepada" di 39:23 dan 62:9, (بِ, bi-) di 13:28, (لِ, li-) di 57:16, serta (مِنْ, min) di ayat ini. Terjemahan 39:22 memakai "dari mengingat Allah" seperti di 5:91, 24:37, dan 63:9. Bagian akhirnya, (أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, ulaa'ika fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "mereka itu dalam kesesatan yang nyata", muncul dua kali, di 39:22 dan 46:32. Kata (ضَلَالٍ, dhalaalin) dengan (مُبِينٍ, mubiinin) tertulis bersama di 18 ayat, dan terjemahan memakai "kesesatan yang nyata" di 39:22, 46:32, dan 34:24.
Tafsiran
Ayat ini menaruh dua gambaran hati berdampingan, yang pertama berbentuk pertanyaan dan yang kedua berbentuk peringatan, dan jawaban atas pertanyaan itu tidak dituliskan. Orang pertama disebut dengan kata tunggal, (مَنْ, man) dan (هُوَ, huwa), dan kelompok kedua dengan kata jamak, (قُلُوبُهُمْ, quluubuhum) dan (أُولَٰئِكَ, ulaa'ika). Kelompok pertama diberi tempat berdiri, yaitu di atas cahaya dari Tuhannya. Kelompok kedua diberi peringatan dan sebutan.
Pelaku di dua bagian itu tidak sama. Bagian pertama menyebut Allah dengan jelas sebagai pelaku pelapangan, (شَرَحَ اللَّهُ, syaraha llaahu). Bagian kedua tidak menyebut siapa yang membuat hati itu keras, hanya keadaannya. Di 5:13 kekerasan hati ditulis dengan pelaku, (وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً, wa-ja'alnaa quluubahum qaasiyatan) yang berarti "dan Kami menjadikan hati mereka keras", dan ayat itu menyebut sebabnya, yaitu pelanggaran perjanjian. Ayat 39:22 tidak memuat pelaku maupun sebab, sehingga keduanya tidak boleh ditambahkan dari 5:13. Di 6:125 pelaku disebut untuk kedua arah: Dia melapangkan dada yang satu dan menjadikan dada yang lain sempit. Ayat 39:22 hanya memuat arah pertama.
Pasangan "di atas" dan "dalam" muncul juga di 34:24, (لَعَلَىٰ هُدًى أَوْ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ, la-'alaa hudan aw fii dhalaalin mubiinin) yang berarti "pasti berada di atas petunjuk atau dalam kesesatan yang nyata". Di sana pembicaranya menaruh dirinya dan lawan bicaranya pada dua kemungkinan itu, sedangkan di 39:22 dua kelompok digambarkan tanpa pembicara yang menaruh dirinya di salah satunya. Penutup ayat ini menunjuk kelompok kedua dengan kata ulaa'ika, dan ayat tidak memuat kata yang menyebut pembaca masuk kelompok mana.
Ayat sesudahnya membicarakan hati dan mengingat Allah lagi. Di 39:22 hati yang keras berada (مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ, min dzikri llaahi) yang berarti "dari mengingat Allah", dan di 39:23 kulit beserta hati orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka menjadi tenang (إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ, ilaa dzikri llaahi) yang berarti "saat mengingat Allah". Kedua ayat itu memakai frasa yang sama dengan arah berlawanan, dan di antara keduanya tidak ada kalimat lain. Di 57:16 ketiga unsur itu, hati, mengingat Allah, dan mengeras, muncul dalam satu ayat dengan pertanyaan apakah sudah tiba waktunya hati orang-orang beriman khusyuk, dan ayat itu menyebut kekerasan hati sebagai akibat masa yang lama.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini menyebut Allah sebagai pelaku pelapangan, dengan dada seseorang sebagai objeknya. Pembaca tidak diberi cara melapangkan dada sendiri, dan usaha apa pun di pihak orang itu tidak disebut. Ayat menulis dua kenyataan berurutan: Allah melapangkan, lalu orang itu berada di atas cahaya dari Tuhannya. Orang yang pernah merasa dadanya sempit karena sebuah urusan mengenal bagaimana sulitnya melapangkan dada dengan kemauan sendiri, dan ayat ini menaruh pelapangan itu di tangan yang lain. Menurut 6:125 hal serupa terjadi pada orang yang Dia kehendaki mendapat petunjuk. Ketika dada terasa sempit pada suatu hari, ke arah mana pembaca biasa menoleh lebih dulu: ke dirinya sendiri atau ke Dia yang disebut melapangkan?
- Surah ini memuat tiga pertanyaan berpembuka sama, di 39:19, 39:22, dan 39:24, dan ketiganya tidak ditutup dengan jawaban atau pembanding. Pembaca yang membaca ketiganya berurutan akan menemukan tempat kosong yang sama di tiga ayat, dan tiap kali tempat itu disusul kalimat tentang pihak lain. Pembaca ikut menimbang sendiri. Pertanyaan retoris dalam percakapan sehari-hari sering dapat ditebak jawabannya, tetapi di sini jawaban itu tidak ditulis. Jika pertanyaan 39:22 dibaca tanpa jawaban yang tertulis, jawaban apa yang muncul di kepala pembaca lebih dulu, dan dari mana jawaban itu datang?
- Ayat ini dan ayat sesudahnya memakai frasa yang sama tentang mengingat Allah dengan arah yang berlawanan: hati yang keras berada dari mengingat Allah, sedangkan hati yang menjadi tenang berada saat mengingat Allah. Satu peringatan yang sama bisa menjadi tempat berangkat bagi sebagian hati dan tempat tiba bagi sebagian lainnya. Orang yang mendengar sebuah pengingat, entah dari bacaan, dari orang lain, atau dari keadaannya sendiri, dapat memeriksa arah geraknya sesudah itu. Ayat ini tidak memberi ukuran berapa jauh atau berapa lama, dan hanya menyebut arahnya. Setelah mendengar pengingat yang terakhir, apakah pembaca bergerak menjauh dari pengingat itu atau mendekat kepadanya, dan bagaimana hal itu diketahui?
- Orang yang dadanya dilapangkan disebut berada di atas cahaya dari Tuhannya, dan kata "di atas" menaruh cahaya itu sebagai tempat berpijak. Pijakan tidak harus dilihat langsung oleh orang yang berdiri di atasnya, seperti lantai yang dipijak tanpa dipandang. Ayat ini memakai kata yang sama dengan 2:5, tempat petunjuk yang menjadi pijakan, sehingga pijakan yang berasal dari Tuhan disebut dengan susunan yang sama di dua tempat. Pembaca yang diminta menyebutkan di atas apa dirinya berdiri hari ini mungkin harus berpikir lebih lama daripada ketika diminta menyebutkan apa yang dipegangnya. Apa yang ada di bawah kaki pembaca sekarang, dan dari siapa pijakan itu datang?
- Kata celaka di ayat ini dikaitkan dengan keadaan hati. Pada ayat-ayat lain kata yang sama dikaitkan dengan perbuatan atau sebutan. Perbuatan terlihat dan bisa dihitung, sedangkan keadaan hati tidak punya satuan. Ayat ini menaruh peringatan pada sesuatu yang tidak terlihat orang lain, dengan kekerasannya terhadap mengingat Allah sebagai sasarannya. Sebab terbentuknya hati yang keras itu tidak dituliskan, sehingga pembaca tidak memperoleh alasan untuk menyalahkan siapa pun, termasuk dirinya. Apa yang dapat dilihat seseorang pada dirinya sendiri tentang hatinya tanpa bantuan perbuatan, dan apa yang tersisa bila perbuatannya diabaikan?
- Ayat ini ditutup dengan "mereka itu dalam kesesatan yang nyata", dan kata "mereka itu" menunjuk kelompok yang hatinya keras. Kata semacam itu dapat dibaca menunjuk orang lain yang dikenal atau dibayangkan pembaca, padahal ayat tidak memuat nama atau ciri selain keadaan hati. Pembaca ayat ini tidak punya saksi yang dapat menunjuk ke kelompok mana dirinya termasuk. Ayat ini juga tidak memuat kata "kalian" atau "engkau" yang menunjuk pembaca, sehingga pertanyaan itu harus diajukan pembaca sendiri. Sebutan "nyata" di akhir ayat menyiratkan bahwa keadaan itu terlihat jelas, dan tidak berarti terlihat jelas oleh orangnya. Ketika kata "mereka itu" terbaca, siapa yang pertama kali muncul di benak pembaca, dan apakah diri sendiri pernah ikut dipertimbangkan?