فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Maka, Allah mencicipkan kepada mereka kehinaan dalam kehidupan dunia. Sungguh, azab akhirat lebih besar, sekiranya mereka mengetahui.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَأَذَاقَهُمُ اللَّهُ الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَاfa-adzaaqahumu llaahu l-khizya fii l-hayaati d-dunyaamaka, Allah mencicipkan kepada mereka kehinaan dalam kehidupan dunia
  2. وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُwa-la-'adzaabu l-aakhirati akbarusungguh, azab akhirat lebih besar
  3. لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَlaw kaanuu ya'lamuunasekiranya mereka mengetahui

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. فَأَذَاقَهُمُfa-adzaaqahumumaka Allah mencicipkan kepada mereka
  2. اللَّهُllaahuAllah
  3. الْخِزْيَl-khizyakehinaan
  4. فِيfiidalam
  5. الْحَيَاةِl-hayaatikehidupan
  6. الدُّنْيَاd-dunyaadunia
  7. وَلَعَذَابُwa-la-'adzaabudan sungguh azab
  8. الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
  9. أَكْبَرُakbarulebih besar
  10. لَوْlawsekiranya
  11. كَانُواkaanuumereka adalah
  12. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Susunan (وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ, wa-la-'adzaabu l-aakhirati akbaru) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:26 dan 68:33.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَأَذَاقَهُمُ, fa-adzaaqahumu) tersusun dari (فَ, fa) yang berarti "maka", (أَذَاقَ, adzaaqa) yang berarti "mencicipkan", dan (هُمُ, -humu) yang berarti "kepada mereka". Akarnya ذ-و-ق sama dengan (ذُوقُوا, dzuuquu) di 39:24, tetapi di sana bentuknya perintah kepada orang yang dituju, sedangkan di sini Allah menjadi pelaku yang membuat mereka merasakan. Kata kerja ini dipakai untuk dua tempat yang berbeda. Di 41:16, (لِنُذِيقَهُمْ عَذَابَ الْخِزْيِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, li-nudziiqahum 'adzaaba l-khizyi fii l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "agar Kami cicipkan kepada mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia", yang dicicipkan terjadi di dunia, dan itu sama dengan 39:26. Di 22:9, (وَنُذِيقُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَذَابَ الْحَرِيقِ, wa-nudziiquhu yawma l-qiyaamati 'adzaaba l-hariiqi) yang berarti "dan Kami cicipkan kepadanya pada hari kiamat azab yang membakar", yang dicicipkan terjadi pada hari kiamat. Terjemahan memakai "mencicipkan" seperti di 41:16 dan 22:9, sebagaimana kata per kata ayat ini, dan tidak memakai "menimpakan", sebab "menimpa" tidak memuat unsur rasa yang ada pada akar ذ-و-ق.

Kata (الْخِزْيَ, l-khizya) yang berarti "kehinaan" berakar خ-ز-ي. Bentuk dengan kata sandang dan akhiran yang sama, (الْخِزْيَ, l-khizya), muncul dua kali, yaitu di 16:27 dan 39:26. Di 16:27 kehinaan itu ditempatkan pada hari kebangkitan, (الْخِزْيَ الْيَوْمَ, l-khizya l-yawma) yang berarti "kehinaan pada hari ini", sedangkan di 39:26 kehinaan ditempatkan di dunia, (فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, fii l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "dalam kehidupan dunia". Kehinaan yang dikaitkan dengan kehidupan dunia dengan kata depan yang sama tertulis juga di 2:85, 10:98, dan 41:16. Di 41:16 dan 10:98 kehinaan menjadi sifat azab, (عَذَابَ الْخِزْيِ, 'adzaaba l-khizyi) yang berarti "azab yang menghinakan", sedangkan di 39:26 kehinaan berdiri sendiri sebagai yang dicicipkan. Terjemahan memakai "kehinaan" sebagai benda.

Rangkaian (وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ, wa-la-'adzaabu l-aakhirati akbaru) muncul dua kali, yaitu di 39:26 dan 68:33. Kata (عَذَابُ الْآخِرَةِ, 'adzaabu l-aakhirati) yang berarti "azab akhirat" muncul lima kali di lima surah, yaitu 13:34, 20:127, 39:26, 41:16, dan 68:33, dan di kelimanya diawali (وَلَ, wa-la-) yang berarti "dan sungguh". Kata pembandingnya berbeda: (أَشَقُّ, asyaqqu) yang berarti "lebih berat" di 13:34, (أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ, asyaddu wa-abqaa) yang berarti "lebih berat dan lebih kekal" di 20:127, (أَخْزَىٰ, akhzaa) yang berarti "lebih menghinakan" di 41:16, dan (أَكْبَرُ, akbaru) yang berarti "lebih besar" di 39:26 dan 68:33. Ayat 39:26 memakai "lebih besar" dengan "sungguh" di depannya, sama dengan 68:33.

Penutup (لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ, law kaanuu ya'lamuuna) yang berarti "sekiranya mereka mengetahui" muncul delapan kali di enam surah, yaitu 2:102, 2:103, 16:41, 29:41, 29:64, 34:14, 39:26, dan 68:33. Kata kerja (يَعْلَمُونَ, ya'lamuuna) berakar ع-ل-م dan di tujuh dari delapan ayat itu berdiri tanpa objek. Objek tertulis di satu ayat saja, yaitu 34:14, (الْغَيْبَ, l-ghayba) yang berarti "yang gaib". Terjemahan 39:26 memakai "sekiranya" seperti di 2:102, 2:103, 16:41, dan 68:33. Di 16:41 kalimat sebelum penutup itu berbunyi (وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ, wa-la-ajru l-aakhirati akbaru) yang berarti "dan pahala akhirat pasti lebih besar". Rangkaian (الْآخِرَةِ أَكْبَرُ, l-aakhirati akbaru) muncul tiga kali, yaitu di 16:41, 39:26, dan 68:33, jadi penutup yang sama dipakai untuk pahala di 16:41 dan untuk azab di dua ayat lain. Terjemahan tidak menambahkan objek pada ya'lamuuna, karena kata kerjanya sendiri tidak memuatnya.

Tafsiran

Ayat ini menutup kelompok ayat 39:24 sampai 39:26 dengan membandingkan dua tempat: kehinaan di dunia dan azab di akhirat, dengan akhirat disebut lebih besar. Pelaku di kalimat pertama jelas, yaitu Allah yang mencicipkan, tetapi kalimat kedua tidak memuat pelaku, hanya perbandingan, dan kalimat ketiga berupa pengandaian tentang mereka. Ayat ini tidak memerinci bentuk kehinaan di dunia itu. Di 41:16 kehinaan yang sama disebut bersama angin yang sangat dingin pada hari-hari nahas, dan di 39:26 tidak ada keterangan semacam itu.

Dunia dan akhirat di sini diberi nama yang berbeda. Bagian dunia memakai kata kehinaan, dan bagian akhirat memakai kata azab. Di 13:34 bagian dunia ikut disebut azab, (لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, lahum 'adzaabun fii l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "bagi mereka azab dalam kehidupan dunia", sedangkan di 39:26 dunia disebut kehinaan. Kata azab baru muncul untuk akhirat, sehingga perbandingan "lebih besar" membandingkan kehinaan dengan azab, dua kata yang berbeda. Ayat ini tidak mengubah kehinaan menjadi azab, dan tidak menyatakan ukuran antara keduanya selain kata akbar.

Pengandaian di akhir ayat berbicara tentang pengetahuan mereka. Di 39:9 akar ع-ل-م yang sama dipakai untuk dua kelompok, (الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ, lladziina ya'lamuuna wa-lladziina laa ya'lamuuna) yang berarti "orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui", dan ayat itu menanyakan apakah keduanya sama. Ayat 39:26 menaruh kelompok ini di sisi yang tidak mengetahui, dan perbandingan dunia-akhirat menjadi isi dari yang belum mereka ketahui. Apa persisnya yang belum diketahui tidak disebut, sehingga pengandaian ini terbaca sebagai ketukan singkat tanpa uraian.

Ayat berikutnya, 39:27, berpindah ke cara lain: Allah disebut membuat perumpamaan untuk manusia dalam Al-Qur'an ini, agar mereka mengambil pelajaran. Setelah tiga ayat tentang akibat, ayat itu memperlihatkan bahan belajar yang disediakan sebelum akibat itu tiba.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyebut Allah mencicipkan kehinaan kepada mereka dalam kehidupan dunia, lalu menyebut azab akhirat lebih besar. Kata kerja mencicipkan dan kata lebih besar dipasang berdekatan, sehingga kehinaan di dunia terbaca sebagai bagian pertama dari sesuatu yang belum selesai. Orang yang mengalami kehinaan sering menyimpulkan bahwa titik terendah sudah tercapai, padahal ayat ini meletakkannya di awal sebuah perbandingan. Pembaca tidak diberi daftar kehinaan apa yang dimaksud, dan hanya diberi urutannya: dunia lebih dulu, akhirat lebih besar. Bila sebuah kerugian yang dialami hari ini diperlakukan sebagai bagian pertama dari sebuah perbandingan, apa yang sempat dianggap pembaca sebagai ukuran terbesar yang mungkin?
  • Penutup "sekiranya mereka mengetahui" dipakai Allah untuk azab akhirat di 39:26 dan 68:33, dan untuk pahala akhirat di 16:41. Dua ayat tentang azab dan satu tentang pahala mengakhiri perbandingan akhirat dengan kata yang sama, sehingga yang belum diketahui seolah-olah berlaku bagi kedua sisi. Pembaca yang mencari tahu apa yang perlu ditakuti mungkin kurang menimbang bahwa penutup itu juga dipakai untuk yang dijanjikan. Ayat ini tidak menyebut apa objek dari pengetahuan yang belum ada, dan mengatakan bahwa jika pengetahuan itu ada, perbandingannya akan terasa. Apa yang belum diketahui pembaca tentang yang lebih besar, entah dari sisi azab atau dari sisi pahala, dan dari mana pembaca mengetahui bahwa pengetahuan itu belum ada?
  • Bagian dunia di ayat ini bernama kehinaan, dan bagian akhirat bernama azab. Kehinaan menyangkut kedudukan di hadapan orang lain, sedangkan azab menyangkut apa yang dialami diri sendiri, dan ayat memasangkan keduanya dalam satu perbandingan. Pembaca yang memikirkan akibat perbuatannya mungkin lebih sibuk dengan nama pertama, yaitu apa yang akan dikatakan atau dilihat orang, daripada nama kedua. Ayat ini tidak menyuruh memilih salah satu, dan hanya menyebut kedua nama itu berurutan sambil memberi tahu bahwa yang kedua lebih besar. Jika yang dicicipkan Allah di dunia menyangkut kedudukan dan yang di akhirat menyangkut apa yang dialami diri, nama mana yang lebih sering memenuhi kekhawatiran pembaca sekarang?
  • Di 39:9 ada pertanyaan apakah orang yang mengetahui sama dengan orang yang tidak mengetahui, dan di 39:26 pengandaian tentang pengetahuan menutup ayat. Dua ayat dari surah yang sama membuat pembaca berada di antara dua kelompok itu tanpa kata penunjuk. Orang yang merasa sudah tahu tentang akibat perbuatannya dapat menengok bagaimana pengetahuan itu bekerja dalam keputusan sehari-hari, apakah ia mengubah arah langkah atau hanya tinggal sebagai kalimat yang bisa dikutip. Ayat 39:26 menyebut kelompok yang digambarkannya belum mengetahui, tetapi tidak menyebut dari mana pengetahuan itu seharusnya datang, dan ayat 39:9 menaruh pertanyaan di tangan pembaca. Bila diminta menuliskan apa yang diketahuinya tentang perbandingan dunia dan akhirat, berapa banyak yang berubah dalam caranya hidup sesudah pengetahuan itu ditulis?
  • Ayat ini menyebut azab akhirat lebih besar tanpa memberi ukuran. Perbandingan tanpa angka memaksa pembaca memilih sendiri pembanding yang dipakainya, dan pembanding itu biasanya diambil dari hal terbesar yang pernah dialami. Orang yang pernah kehilangan sesuatu yang besar atau dipermalukan di depan banyak orang akan memakai peristiwa itu sebagai satuan. Ayat ini menaruh satuan itu di bawah kata akbar, dan karena itu pengalaman terberat pembaca menjadi bagian pertama, bukan batas atas. Allah disebut sebagai pelaku di kalimat pertama, jadi perbandingan ini diucapkan dari pihak yang mengetahui keduanya. Pengalaman terberat apa yang selama ini dipakai pembaca sebagai ukuran, dan apa yang terjadi pada ukuran itu ketika ia menjadi pembanding dan bukan puncak?
  • Ayat sesudah 39:26 menyebut bahwa Allah membuatkan manusia segala macam perumpamaan dalam Al-Qur'an, agar mereka mengambil pelajaran. Tiga ayat tentang akibat disusul satu ayat tentang cara belajar, dan susunan itu memperlihatkan bahwa kabar tentang akibat tidak ditutup dengan akibat itu sendiri. Pembaca yang menerima kabar buruk biasanya ingin segera tahu apa yang harus dilakukan, dan ayat 39:27 menyebut sarana yang telah disediakan, yaitu perumpamaan. Ayat tidak menyebut bahwa perumpamaan itu menjawab semua pertanyaan, dan hanya menyebut tujuannya. Apa yang dibawa pembaca dari kabar tentang akibat ke bahan yang disediakan untuk belajar, dan apakah perpindahan itu sempat terjadi?