وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Dan sungguh, Kami telah membuatkan bagi manusia dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan, agar mereka mengambil pelajaran,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍwa-la-qad dharabnaa li-n-naasi fii haadzaa l-qur'aani min kulli matsalindan sungguh, Kami telah membuatkan bagi manusia dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan
- لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَla'allahum yatadzakkaruunaagar mereka mengambil pelajaran
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
- ضَرَبْنَاdharabnaaKami membuat
- لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
- فِيfiidalam
- هَٰذَاhaadzaaini
- الْقُرْآنِl-qur'aaniAl-Qur'an
- مِنْmindari
- كُلِّkullisegala
- مَثَلٍmatsalinperumpamaan
- لَعَلَّهُمْla'allahumagar mereka
- يَتَذَكَّرُونَyatadzakkaruunamereka mengambil pelajaran
Inti bacaan
Al-Qur'an memuat 'segala macam perumpamaan', kelengkapan contoh dan ilustrasi yang dirancang menjangkau berbagai cara pemahaman manusia yang berbeda-beda.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut sebuah cara kerja, lalu menyebut tujuannya, dan tidak menyebut jumlahnya.
Kata kerjanya “Kami telah membuatkan” (ضَرَبْنَا, dharabnaa), yang dipakai khusus untuk membuat perumpamaan. Rangkaian membuat perumpamaan bagi manusia ini muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (30:58, 39:27), dan di kedua tempat itu yang disebut sesudahnya adalah tanggapan manusia, bukan mutu perumpamaannya.
Cakupannya disebut “segala macam perumpamaan”, bukan sekian banyak. Yang disediakan bukan sejumlah contoh, melainkan seluruh jenis pintu masuk yang mungkin. Cara serupa disebut juga di tempat lain dengan kata kerja yang berbeda, yaitu menjelaskan berulang dari berbagai arah (17:89).
Tujuannya dinyatakan dengan kata yang lunak, yaitu “agar mereka mengambil pelajaran”. Bukan agar mereka tunduk, bukan agar mereka percaya. Yang diharapkan sesuatu yang hanya bisa terjadi di dalam diri orangnya sendiri, dan perumpamaan memang bekerja begitu: ia tidak memaksa, ia meletakkan sesuatu di depan mata lalu menunggu.
Kata kerja yang dipakai (ضَرَبْنَا, dharabnaa) khusus untuk membuat perumpamaan, dan rangkaian membuat perumpamaan bagi manusia muncul dua kali di dalam Al-Qur'an (30:58, 39:27). Di tempat yang satu lagi, yang disebut sesudahnya adalah ramalan bahwa tanda baru pun akan ditolak. Di sini yang disebut sesudahnya harapan agar mereka mengambil pelajaran. Dua tempat, dua kelanjutan yang berlawanan nadanya.
Perbandingan itu menerangkan sesuatu. Kelengkapan penjelasan disebut dengan kalimat yang sama di dua tempat, tetapi yang menyusulnya berbeda. Yang satu menyebut kenyataan tentang tanggapan, yang satu menyebut maksud yang diharapkan. Keduanya benar sekaligus, dan tidak ada yang membatalkan yang lain.
Cakupan yang disebut, yaitu segala macam perumpamaan, memakai bentuk yang tidak menyisakan jenis. Yang disediakan bukan sejumlah contoh yang dianggap cukup, melainkan seluruh jenis pintu masuk yang mungkin. Cara serupa disebut di tempat lain dengan kata kerja yang berbeda, yaitu menjelaskan berulang dari berbagai arah (17:89, 18:54).
Tujuannya dinyatakan dengan kata yang paling lunak yang tersedia, yaitu agar mereka mengambil pelajaran. Bukan agar mereka tunduk, bukan agar mereka percaya, dan bukan pula agar mereka memahami. Yang diharapkan sesuatu yang hanya bisa terjadi di dalam diri orangnya sendiri, dan perumpamaan memang bekerja begitu: ia meletakkan sesuatu di depan mata lalu menunggu, tanpa memaksa dan tanpa menyimpulkan. Yang tidak memaksa memang lebih lambat, tetapi juga lebih sulit ditolak.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan metode wahyu: perumpamaan beragam yang dirancang agar manusia mengambil pelajaran darinya. Yang perlu diperhatikan adalah nada tujuannya, sebab ia dipilih dari kata yang paling lunak yang tersedia.
Tidak dikatakan agar mereka tunduk, agar mereka percaya, atau agar mereka memahami. Yang dikatakan agar mereka mengambil pelajaran. Kata itu menunjuk sesuatu yang hanya bisa terjadi di dalam diri orangnya sendiri, dan tidak bisa dipaksakan dari luar. Perumpamaan memang bekerja begitu: ia meletakkan sesuatu di depan mata lalu menunggu, tanpa menyimpulkan.
Cara kerja itu masuk akal kalau dipikirkan. Sebuah pernyataan langsung menuntut penerimaan atau penolakan seketika, dan orang yang belum siap akan menolak. Sebuah perumpamaan tidak menuntut apa-apa; ia memindahkan perkara ke wilayah yang sudah akrab bagi pendengarnya, dan membiarkannya bekerja di sana tanpa perlu diputuskan hari itu juga.
Kalimat yang sama dipakai di satu tempat lain (30:58), dan di sana yang menyusulnya bukan harapan melainkan ramalan bahwa tanda baru pun akan ditolak. Dua kelanjutan yang berlawanan nadanya untuk kalimat pembuka yang sama. Keduanya benar sekaligus, dan tidak ada yang membatalkan yang lain. Yang satu menyebut apa yang diharapkan, yang satu menyebut apa yang biasanya terjadi, dan jarak antara keduanya adalah ruang tempat pembacanya berdiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tujuannya, bukan jumlahnya. Bukan berapa banyak. Agar mengambil pelajaran. Menyebut tujuan dan bukan jumlah juga mengubah cara membacanya. Kalau yang penting jumlahnya, pembaca akan mengukur seberapa banyak yang sudah dilewatinya. Kalau yang penting tujuannya, ukurannya berpindah ke apa yang berubah pada dirinya, dan ukuran itu jauh lebih sulit dipalsukan.
- Yang dibuatkan segala macam, bukan satu jenis. Bukan seragam. Beragam. Keberagaman itu bukan hiasan. Ia jawaban atas kenyataan bahwa orang tidak masuk lewat pintu yang sama. Satu perumpamaan yang menembus seseorang bisa berlalu begitu saja pada orang lain, dan karena itu disediakan segala macam.
- Perumpamaan itu disebut Allah dibuat untuk manusia. Bukan untuk hiasan. Untuk yang membacanya. Menyebut sasarannya juga menutup kemungkinan membacanya sebagai bahan kajian yang berdiri di luar diri. Perumpamaan yang dibuat untuk seseorang tidak selesai dipahami; ia baru selesai ketika orang itu menemukan dirinya di dalamnya.
- Allah menyebut tujuan perumpamaan itu agar manusia mengambil pelajaran, bukan agar mereka tunduk atau percaya. Kalau yang diharapkan sesuatu yang hanya bisa terjadi di dalam diri sendiri, sudah berapa lama kita membaca tanpa sekali pun mengambil apa-apa? Yang hanya bisa terjadi di dalam diri tidak bisa dipaksakan dari luar, dan itulah sebabnya tidak ada yang bisa mengambilkannya untuk kita.
- Rangkaian وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ muncul dua kali di seluruh Al-Quran, di 30:58 dan 39:27, sama huruf demi huruf. Lanjutannya yang berbeda. Di 30:58 yang menyusul kepastian bahwa tanda apa pun akan tetap ditolak, sedangkan di sini yang menyusul harapan supaya mereka mengambil pelajaran. Allah memakai satu pembuka yang sama untuk dua ujung yang berlawanan, dan meletakkannya di dua surah yang berjauhan tanpa saling menunjuk.
- Ayat sesudahnya menyebut kitab ini berbahasa Arab yang tidak ada kebengkokan di dalamnya, supaya mereka bertakwa. Jadi dua ayat beruntun menyebut dua maksud yang berbeda dari satu pemberian yang sama: mengambil pelajaran, lalu bertakwa. Yang pertama pekerjaan pikiran, yang kedua pekerjaan seluruh hidup. Allah tidak menyebut keduanya sekaligus dalam satu kalimat, melainkan berurutan, dan urutan itu memperlihatkan bahwa yang belakangan tidak bisa dicapai dengan melompati yang pertama. Orang bisa saja bertakwa karena takut atau karena kebiasaan, dan itu tetap ada nilainya, tetapi yang digambarkan di sini takwa yang tumbuh dari mengerti. Perumpamaan diberikan supaya orang mengambil pelajaran, pelajaran itu supaya ia bertakwa, dan urutannya tidak dibalik sekali pun dalam dua ayat yang berdampingan. Mengerti lebih dahulu memang lebih lambat, tetapi cuma yang mengerti yang bertahan ketika alasan takutnya hilang, dan alasan takut selalu habis lebih cepat daripada yang diduga orang.