فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ

Maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya? Bukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللَّهِfa-man azhlamu mimman kadzaba 'alaa llaahimaka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang berdusta terhadap Allah
  2. وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُwa-kadzdzaba bi-sh-shidqi idz jaa'ahudan mendustakan kebenaran ketika ia datang kepadanya
  3. أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَa-laysa fii jahannama matswan li-l-kaafiriinabukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  2. أَظْلَمُazhlamulebih zalim
  3. مِمَّنْmimmandari orang yang
  4. كَذَبَkadzababerdusta
  5. عَلَى'alaaatas
  6. اللَّهِllaahiAllah
  7. وَكَذَّبَwa-kadzdzabadan mendustakan
  8. بِالصِّدْقِbi-sh-shidqidengan kebenaran
  9. إِذْidzketika
  10. جَاءَهُjaa'ahudatang kepadanya
  11. أَلَيْسَa-laysabukankah
  12. فِيfiidi
  13. جَهَنَّمَjahannamaJahanam
  14. مَثْوًىmatswantempat tinggal
  15. لِلْكَافِرِينَli-l-kaafiriinabagi orang-orang yang kufur

Inti bacaan

Kata (مَثْوًى, matswan) muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 29:68, 39:32, 39:60, 41:24, dan 47:12.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ, fa-man azhlamu mimman) yang berarti "maka, siapakah yang lebih zalim daripada orang yang". Huruf (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambung pertanyaan ini dengan perbantahan di 39:31. Kata (أَظْلَمُ, azhlamu) yang berarti "lebih zalim" berakar ظ-ل-م, dan pertanyaan "siapakah yang lebih zalim daripada" muncul di lima belas ayat, yaitu 2:114, 2:140, 6:21, 6:93, 6:144, 6:157, 7:37, 10:17, 11:18, 18:15, 18:57, 29:68, 32:22, 39:32, dan 61:7. Delapan dari lima belas itu, yaitu 6:21, 6:93, 6:144, 7:37, 10:17, 11:18, 18:15, dan 29:68, melengkapi pertanyaan dengan (افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا, ftaraa 'alaa llaahi kadziban) yang berarti "mengada-adakan kebohongan terhadap Allah". Ayat 39:32 tidak memakai kata kerja itu. Rangkaian persis fa-man azhlamu mimman hanya ada dua kali, yaitu di 6:157 dan 39:32.

Kata kerja (كَذَبَ, kadzaba) yang berarti "berdusta" muncul di 39:32 dan 53:11, bentuk perempuannya muncul di 12:27, dan bentuk jamaknya (كَذَبُوا, kadzabuu) muncul di 6:24, 9:90, 11:18, dan 39:60. Terjemahan memakai "berdusta" di semua tempat itu. Di 39:32 kata kerja ini diikuti (عَلَى اللَّهِ, 'alaa llaahi) yang berarti "terhadap Allah", sama seperti (كَذَبُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ, kadzabuu 'alaa anfusihim) di 6:24 yang berarti "berdusta terhadap diri mereka sendiri". Di 39:60, (كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ, kadzabuu 'alaa llaahi) berarti "berdusta kepada Allah" dan menunjuk Allah sebagai sasaran dusta yang sama.

Kata (كَذَّبَ, kadzdzaba) yang berarti "mendustakan" adalah bentuk kedua dari akar ك-ذ-ب, yang menyangkut penolakan atas sesuatu yang datang dari pihak lain. Di 6:157, (كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ, kadzdzaba bi-aayaati llaahi) yang berarti "mendustakan tanda-tanda Allah" dan di 29:68, (أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ, aw kadzdzaba bi-l-haqqi) yang berarti "atau mendustakan kebenaran", pola ini sama dengan 39:32. Bedanya, 29:68 menghubungkan dua perbuatan dengan "atau", sedangkan 39:32 menghubungkannya dengan huruf wa yang berarti "dan", jadi dua perbuatan itu dikenakan pada satu orang. Kata kerja dasar kadzaba dan bentuk kedua kadzdzaba berdampingan di 39:32 dan menyebut dua hal yang berbeda, yaitu berdusta tentang Allah dan menolak sesuatu yang datang.

Kata (الصِّدْقِ, sh-shidqi) yang berarti "kebenaran" berakar ص-د-ق, dan bentuk bertanda sandang ini muncul tiga kali, yaitu di 39:32, 39:33, dan 46:16, dengan (وَعْدَ الصِّدْقِ, wa'da sh-shidqi) di 46:16 yang berarti "sebagai janji yang benar". Rangkaian (بِالصِّدْقِ, bi-sh-shidqi) muncul dua kali, yaitu di 39:32 dan 39:33. Terjemahan memakai "kebenaran" untuk shidq di 39:32 dan juga untuk (الْحَقِّ, l-haqqi) di 29:68, jadi perbedaan kedua kata Arab itu terlihat pada kutipan Arab dan tidak pada kata Indonesianya. Di 39:32 shidq dipasangkan dengan kata kerja yang berseberangan dengannya, yaitu kadzdzaba, dan di 39:33 dengan jaa'a bi- serta shaddaqa.

Frasa (إِذْ جَاءَهُ, idz jaa'ahu) yang berarti "ketika ia datang kepadanya" dipakai di sini. Pelaku kata kerja datang di 39:32 adalah kebenaran, sedangkan -hu menunjuk orang yang mendustakan. Rangkaian dengan lammaa, (لَمَّا جَاءَهُ, lammaa jaa'ahu), juga diterjemahkan "ketika" dan dipakai di 29:68.

Pertanyaan penutup (أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ, a-laysa fii jahannama matswan li-l-kaafiriina) yang berarti "bukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang kafir" muncul tiga kali, yaitu di 29:68, 39:32, dan 39:60. Di 39:60 bagian akhirnya (لِلْمُتَكَبِّرِينَ, li-l-mutakabbiriina) yang berarti "bagi orang-orang yang takabur". Kata (مَثْوًى, matswan) berakar ث-و-ي dan muncul lima kali, yaitu di 29:68, 39:32, 39:60, 41:24, dan 47:12. Terjemahan 39:32 memakai "tempat tinggal" seperti 39:60, 41:24, dan 47:12. Huruf (أَ, a) di awal adalah huruf tanya dan laysa berarti "bukan", sehingga terjemahan memakai "bukankah".

Tafsiran

Ayat ini menyambung perbantahan di 39:31 dengan sebuah pertanyaan, yaitu siapa yang lebih zalim daripada orang yang berdusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran ketika datang. Ayat 39:31 menaruh pihak-pihak yang berbantah di hadapan Tuhan, dan 39:32 menyebut dua perbuatan yang dikenakan pada satu orang. Hubungan keduanya ditandai huruf fa di awal ayat, dan ayat tidak menyatakan bahwa dua perbuatan itu pokok perbantahannya. Pertanyaan itu tidak dijawab di dalam ayat, sama seperti pertanyaan di 39:29, dan jawabannya dibiarkan diisi pendengar.

Susunan ayat ini tiga langkah. Langkah pertama pertanyaan tentang kezaliman, langkah kedua dua perbuatan yang digabung dengan huruf wa, dan langkah ketiga pertanyaan lain tentang tempat tinggal. Pertanyaan kedua tidak menyebut orangnya lagi, tetapi menyebut tempatnya, jadi ayat bergerak dari pelaku ke tempat tinggal tanpa menyatakan hubungan sebab di antara keduanya. Di 29:68 dua perbuatan itu dihubungkan dengan "atau", sehingga yang dinilai adalah salah satu dari dua. Di 39:32 keduanya disatukan pada orang yang sama, dan ayat tidak membahas apakah orang yang hanya melakukan salah satunya termasuk.

Pertanyaan yang sama muncul di 39:60 dengan sasaran lain. Di sana kalimatnya menyebut orang yang berdusta kepada Allah pada hari kiamat dengan wajah menghitam, dan pertanyaan penutupnya menyebut orang yang takabur, bukan orang kafir. Surah ini karena itu memakai kerangka pertanyaan yang sama dua kali, di 39:32 untuk orang kafir dan di 39:60 untuk orang yang takabur, dan menaruh tempat tinggal yang sama bagi keduanya. Ayat 39:3 sebelumnya sudah menyebut bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat kufur, sehingga tiga ayat dalam satu surah menyentuh dusta dan kufur dengan sudut yang berlainan.

Ayat 39:32 menggambarkan sisi yang menerima, yaitu orang yang didatangi kebenaran lalu mendustakannya, dan 39:33 menggambarkan sisi yang membawa dan membenarkan. Kata kebenaran yang dipakai sama di dua ayat itu, sehingga 39:32 dan 39:33 memperlihatkan dua tanggapan terhadap satu kedatangan. Ayat 39:32 tidak menyebut dari mana kebenaran itu datang, dan ayat berikutnya menyebut pembawanya dengan kata orang yang membawa saja.

Renungan dan Hikmah

  • Perbuatan pertama dalam ayat ini adalah berdusta terhadap Allah. Kalimat itu menyangkut apa yang diucapkan atas nama-Nya, dan ayat tidak membatasi siapa pelakunya. Orang yang pernah menyebut nama Allah untuk menguatkan pendapat yang berasal dari dirinya sendiri dapat bertanya apakah pendapat itu sungguh bersandar pada apa yang tertulis. Ayat 39:32 memasukkan sandaran palsu semacam itu ke dalam pertanyaan tentang kezaliman. Seberapa sering seseorang mengucapkan atas nama-Nya sesuatu yang belum pernah diperiksa kebenarannya?
  • Kata ketika dalam ayat ini menaruh kejadiannya pada saat kebenaran datang. Pelaku kata kerja datang adalah kebenaran, dan orang yang disebut menerimanya. Seseorang dapat memeriksa momen tiba itu pada dirinya, ketika sesuatu yang benar masuk ke pendengarannya dan belum sempat diolah menjadi pendapat. Tanggapan terhadap sesuatu yang benar dapat berupa menerima, menunda, atau mendustakan, dan ayat ini menyebut yang terakhir saja. Apakah tanggapan pertamanya biasanya mencari celah, atau menimbang isinya?
  • Ayat 29:68 memakai atau di antara dua perbuatan, sedangkan 39:32 memakai dan. Dengan dan, orang yang digambarkan berdusta tentang Allah sekaligus mendustakan kebenaran yang tiba. Ayat tidak menjelaskan bagaimana dua perbuatan itu berhubungan, dan hanya menyebut keduanya sebagai milik satu orang. Pembaca dapat menimbang apakah ada pendapat dalam dirinya yang pernah dibela dengan menolak sesuatu yang menantangnya. Apa yang akan dilakukannya bila kebenaran yang datang menuntut pendapat itu dilepas?
  • Pertanyaan pertama menyebut orang, dan pertanyaan kedua menyebut tempat. Ayat tidak menjelaskan hubungan sebab di antara keduanya, tetapi meletakkannya berdampingan. Pembaca yang membaca dua pertanyaan itu berurutan melihat bahwa pertanyaan tentang kezaliman berlanjut ke gambaran tempat tinggal. Orang yang sering menilai orang lain dapat memperhatikan bahwa ayat ini menyampaikan penilaian lewat pertanyaan, tanpa kalimat putusan. Apakah penilaian yang selama ini diucapkan seseorang pernah berbentuk pertanyaan yang jujur?
  • Di 39:60 pertanyaan tentang tempat tinggal kembali muncul dengan sasaran orang yang takabur, sesudah menyebut orang yang berdusta kepada Allah pada hari kiamat. Dua ayat itu memakai kerangka sama untuk dua sifat yang berlainan, kufur dan takabur. Kedua sifat itu tidak disebut sebagai satu sifat yang sama. Seseorang dapat bertanya sifat mana yang lebih akrab dengannya, menolak secara terbuka atau menolak karena merasa terlalu besar untuk dikoreksi, dan apakah keduanya dapat dibedakan dalam dirinya sendiri.
  • Pertanyaan siapakah yang lebih zalim diisi tiap ayat dengan perbuatan yang berbeda, misalnya menyembunyikan kesaksian di 2:140, berpaling dari tanda-tanda Tuhannya di 18:57, dan berdusta terhadap Allah di 39:32. Dengan begitu pertanyaan ini tidak menyusun satu daftar peringkat tetap, dan tiap ayat menyebut perbuatan yang sedang dibicarakannya sendiri. Pembaca dapat bertanya ukuran apa yang selama ini dipakainya untuk menyebut sebuah perbuatan paling buruk, dan apakah ukuran itu sama dengan ukuran yang dipakai ayat-ayat ini.