وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ ۗ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ
Siapa yang Allah tunjuki, tidak satu pun yang menyesatkannya. Bukankah Allah digdaya, memiliki pembalasan?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّwa-man yahdi llaahu fa-maa lahu min mudhillinsiapa yang Allah tunjuki, tidak satu pun yang menyesatkannya
- أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍa-laysa llaahu bi-'aziizin dzii ntiqaaminbukankah Allah digdaya, memiliki pembalasan
Terjemahan per kata (12 kata)
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- يَهْدِyahdimemberi petunjuk
- اللَّهُllaahuAllah
- فَمَاfa-maamaka tidak
- لَهُlahubaginya
- مِنْmindari
- مُضِلٍّmudhillinyang menyesatkan
- أَلَيْسَa-laysabukankah
- اللَّهُllaahuAllah
- بِعَزِيزٍbi-'aziizindigdaya
- ذِيdziimemiliki
- انْتِقَامٍntiqaaminpembalasan
Inti bacaan
Bentuk (ذِي انْتِقَامٍ, dzii ntiqaamin) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:37, sedangkan (ذُو انْتِقَامٍ, dzuu ntiqaamin) muncul tiga kali, yaitu di 3:4, 5:95, dan 14:47.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ, wa-man yahdi llaahu) yang berarti "dan siapa yang Allah tunjuki". Kata kerja (يَهْدِ, yahdi) berakar ه-د-ي dan bersubjek Allah, yang disebut terang sesudah kata kerjanya. Susunan wa-man yahdi llaahu muncul dua kali saja, yaitu di 17:97 dan 39:37. Di 17:97 kelanjutannya adalah (فَهُوَ الْمُهْتَدِ, fa-huwa l-muhtadi) yang berarti "maka dialah yang mendapat petunjuk", sedangkan di 39:37 kelanjutannya adalah penolakan atas adanya penyesat. Bunyi itu mencerminkan 39:36, tempat (وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ, wa-man yudhlili llaahu fa-maa lahu min haadin) berarti "dan siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada baginya seorang pemberi petunjuk". Dua kata kerjanya bertukar, yudhlili menjadi yahdi, dan dua kata bendanya bertukar, haadin menjadi mudhillin.
Bagian kedua kalimat itu adalah (فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ, fa-maa lahu min mudhillin) yang berarti "maka tidak satu pun yang menyesatkannya". Kata (مُضِلٍّ, mudhillin) berakar ض-ل-ل dan berbentuk pelaku dari kata kerja yang membuat orang menjadi sesat. Bentuk pelaku ini muncul tiga kali, yaitu di 18:51, 28:15, dan 39:37. Di 28:15, (إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ, innahu 'aduwwun mudhillun mubiinun) yang berarti "sesungguhnya dia musuh yang jelas-jelas menyesatkan" menunjuk setan yang disebut pada kalimat sebelumnya. Di 18:51 bentuk jamaknya, (الْمُضِلِّينَ, l-mudhilliina) yang berarti "orang-orang yang menyesatkan", ditolak sebagai penolong. Di 39:37 pelaku itu disangkal ada bagi orang yang ditunjuki, dan ayat tidak menyebut siapa yang dimaksud sebagai pelaku. Susunan fa-maa lahu min muncul sepuluh kali di tujuh surah, yaitu 13:33, 22:18, 24:40, 39:23, 39:36, 39:37, 40:33, 42:44, 42:46, dan 86:10. Di sembilan ayat pertama kalimatnya diawali wa-man dengan Allah sebagai pelaku, dan kata yang menyusul min berbeda-beda, antara lain mukrimin di 22:18 dan nuurin di 24:40.
Pertanyaan penutup ayat ini adalah (أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي انْتِقَامٍ, a-laysa llaahu bi-'aziizin dzii ntiqaamin) yang berarti "bukankah Allah digdaya, memiliki pembalasan". Kata (بِعَزِيزٍ, bi-'aziizin) berakar ع-ز-ز dan tidak memakai kata sandang al-, sehingga terjemahan memakai "digdaya" tanpa "Sang". Padanan ini sama dengan (عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ, 'aziizun dzuu ntiqaamin) di 3:4, 5:95, dan 14:47, yang diterjemahkan "digdaya, memiliki pembalasan". Dengan kata sandang, (الْعَزِيزُ, al-'aziizu) diterjemahkan "Sang Digdaya", seperti di 35:2. Kata (ذِي, dzii) yang berarti "pemilik" diterjemahkan "memiliki" mengikuti dzuu di ketiga ayat tadi. Kata (انْتِقَامٍ, ntiqaamin) berakar ن-ق-م dan muncul empat kali, yaitu 3:4, 5:95, 14:47, dan 39:37, semuanya sesudah dzuu atau dzii. Bentuk dzii ntiqaamin hanya ada di 39:37, dan tiga ayat lainnya memakai dzuu ntiqaamin.
Bi-'aziizin juga muncul di 11:91, 14:20, dan 35:17. Di 11:91 bunyinya "dan engkau pun bukan orang yang digdaya atas kami", sehingga padanan "digdaya" untuk bentuk ini sudah ada di ayat itu. Di 14:20 dan 35:17 bunyinya "tidak sulit" bagi Allah, memakai kata penghubung yang lain, 'alaa. Di 39:37 tidak ada 'alaa, dan bi-'aziizin mengikuti a-laysa llaahu seperti sifat-sifat lain di 6:53 dan 95:8.
Tafsiran
Ayat 39:36 dan 39:37 dibaca sebagai pasangan. Ayat 39:36 membuka dengan pertanyaan, memuat laporan ancaman, dan menutup dengan separuh kaidah petunjuk. Ayat 39:37 membuka dengan separuh kaidah yang lain dan menutup dengan pertanyaan. Dua kaidah itu berada di tengah, dan dua pertanyaan berada di kedua ujungnya. Pertanyaan pertama bertanya tentang kecukupan, dan pertanyaan kedua tentang kedigdayaan beserta pembalasan. Tidak ada jawaban yang dikutip untuk keduanya.
Pertanyaan kedua menaruh dua sifat berdampingan. Ayat 3:4 menaruh frasa sifat yang sama sesudah azab bagi orang-orang yang kufur terhadap tanda-tanda Allah, ayat 5:95 sesudah ancaman bagi yang mengulangi pelanggaran, dan ayat 14:47 sesudah larangan mengira Allah mengingkari janji kepada rasul-rasul-Nya. Frasa itu tidak terikat pada satu macam konteks karena muncul di sebelah azab, ancaman, dan janji. Di 39:37 frasa itu muncul sesudah kalimat tentang orang yang ditunjuki. Ayat tidak menghubungkan secara eksplisit pembalasan di sini dengan pihak yang menakut-nakuti di 39:36.
Kaidah di tengah ayat ini membicarakan orang yang ditunjuki Allah dan tidak menyebut ukuran penunjukan itu. Kata mudhillin menamai pelaku penyesatan, dan 28:15 menyebut setan sebagai musuh yang menyesatkan. Ayat 39:37 tidak menyebut setan, dan tidak menjelaskan bagaimana pelaku di 28:15 terhubung dengan bagian ini. Ayat hanya memperlihatkan bahwa bagi orang yang ditunjuki Allah tidak ada penyesat, dan pembaca tidak diberi daftar siapa saja yang tercakup dalam kata "tidak satu pun".
Ayat 39:38 menyusul dengan pertanyaan yang jawabannya dikutip, yaitu siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan mereka menjawab "Allah". Dua pertanyaan di 39:36 dan 39:37 dibiarkan tanpa jawaban kutipan, lalu pertanyaan di ayat berikutnya disertai jawaban.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 39:37 menyatakan bahwa bagi orang yang ditunjuki Allah tidak ada yang menyesatkannya, dengan kata tidak satu pun yang tidak dirinci. Pembaca yang pernah merasa digiring ke arah yang tidak diinginkannya oleh lingkungan, kebiasaan, atau bujukan menemukan bahwa ayat ini tidak mengakui adanya pelaku penyesatan bagi orang yang sudah ditunjuki. Kalimat itu menyatakan bahwa penyesat tidak berlaku atas orang yang Allah tunjuki, dan tidak membahas ada atau tidaknya godaan. Pembaca dapat bertanya sudah ditunjuki atau belumkah dirinya, dan dari mana hal itu diketahuinya?
- Kata kerja di awal 39:37 bersubjek Allah dan berobjek siapa pun yang ditunjuki. Pembaca yang menyebut arah hidupnya sebagai hasil pilihannya sendiri mendapati ayat ini menaruh petunjuk sebagai tindakan Allah atas seseorang. Ayat tidak menyebut bagaimana atau kapan tindakan itu terjadi. Orang yang membaca dapat mengingat saat-saat arahnya berubah, lalu menimbang apakah perubahan itu terasa seperti sesuatu yang ditemukannya atau sesuatu yang ditunjukkan kepadanya. Siapakah yang disebutnya ketika ditanya dari mana petunjuk itu datang?
- Ayat 28:15 menyebut setan sebagai musuh yang menyesatkan dengan jelas, dan 39:37 menyatakan bahwa orang yang ditunjuki Allah tidak punya penyesat. Dua ayat itu berbicara di tempat berbeda dan tidak dirangkai oleh satu kata penghubung, tetapi pembaca memegang keduanya. Pembaca yang membaca 28:15 mendapati penyesat itu ada dan terang, dan pembaca yang membaca 39:37 mendapati bahwa bagi sebagian orang penyesat itu tidak berlaku. Kenyataan mana yang lebih sering mengisi percakapan batinnya, yang pertama atau yang kedua, dan apa yang membuatnya lebih akrab dengan satu di antaranya?
- Frasa digdaya dan memiliki pembalasan muncul di 3:4 sesudah azab bagi orang-orang yang kufur, di 5:95 sesudah ancaman bagi yang mengulangi pelanggaran, dan di 14:47 sesudah larangan mengira Allah mengingkari janji kepada rasul-rasul-Nya. Di 39:37 frasa itu muncul sesudah kalimat tentang orang yang ditunjuki. Satu frasa menemani peringatan dan janji sekaligus, sehingga pembaca yang mendengar kata pembalasan tidak otomatis mendengar ancaman saja. Dalam keadaan hidup yang mana pembaca lebih dulu mengingat frasa itu, ketika sedang takut, ketika sedang berharap, atau ketika sedang diam?
- Ayat 39:36 membuka dengan pertanyaan tentang kecukupan Allah, dan 39:37 menutup dengan pertanyaan tentang kedigdayaan dan pembalasan-Nya, tanpa jawaban yang dikutip untuk keduanya. Pembaca menjadi pihak yang menjawab dua kali dalam waktu singkat. Jawaban atas pertanyaan pertama terdengar mudah ketika ancaman belum datang, sedangkan jawaban atas pertanyaan kedua menguji apakah pembaca bisa menerima kedigdayaan dan pembalasan sebagai sifat Allah yang disebut berdampingan. Apakah jawaban pembaca atas kedua pertanyaan itu sama kerasnya, dan bila tidak, pertanyaan mana yang lebih sulit diucapkan?
- Ungkapan tidak satu pun di 39:37 menutup semua pintu bagi penyesat tanpa menyebut satu pintu pun. Ayat tidak memberi daftar bentuk penyesatan, dan tidak menyebut siapa saja yang termasuk. Pembaca yang terbiasa mencari satu penyebab bagi kesesatan, entah orang tertentu, tempat tertentu, atau masa tertentu, mendapati kalimat ini menolak mencatat satu pun penyebab bagi orang yang ditunjuki Allah. Ketika pembaca ingin menyalahkan sesuatu atas arah yang pernah salah, apakah kata ini mengubah apa yang ditudingnya, dan siapa yang ditinggalkannya sebagai penjawab pertanyaan tentang arahnya?