قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ

Katakanlah, “Wahai kaumku, berbuatlah menurut kedudukan kalian! Sesungguhnya aku pun berbuat. Kelak kalian akan mengetahui

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْqul yaa qawmi 'maluu 'alaa makaanatikumkatakanlah, wahai kaumku, berbuatlah menurut kedudukan kalian
  2. إِنِّي عَامِلٌinnii 'aamilunsesungguhnya aku pun berbuat
  3. فَسَوْفَ تَعْلَمُونَfa-sawfa ta'lamuunakelak kalian akan mengetahui

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. يَاyaawahai
  3. قَوْمِqawmikaumku
  4. اعْمَلُوا'maluuberamallah kalian
  5. عَلَىٰ'alaaatas
  6. مَكَانَتِكُمْmakaanatikumkedudukan kalian
  7. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  8. عَامِلٌ'aamilunyang beramal
  9. فَسَوْفَfa-sawfamaka kelak
  10. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Kalimat (قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ, qul yaa qawmi 'maluu 'alaa makaanatikum innii 'aamilun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:135 dan 39:39.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قُلْ يَا قَوْمِ, qul yaa qawmi) yang berarti "katakanlah, wahai kaumku". Kata (قُلْ, qul) adalah perintah kepada satu orang untuk berkata, dan (يَا قَوْمِ, yaa qawmi) muncul empat puluh tujuh kali di enam belas surah. Dengan qul langsung di depannya, susunan qul yaa qawmi hanya ada dua, yaitu 6:135 dan 39:39. Akhiran -i pada qawmi menyatakan "-ku", sehingga terjemahan "kaumku" mengikat kaum itu pada orang yang diperintahkan berkata. Seluruh bunyi (قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ, qul yaa qawmi 'maluu 'alaa makaanatikum innii 'aamilun) muncul dua kali di dua surah, yaitu di 6:135 dan 39:39.

Perintah (اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ, 'maluu 'alaa makaanatikum) berarti "berbuatlah menurut kedudukan kalian". Kata kerja (اعْمَلُوا, 'maluu) berakar ع-م-ل, berbentuk perintah untuk banyak orang, dan terjemahan memakai "berbuat" untuk akar yang bermakna melakukan sesuatu tanpa menentukan keterampilannya. Susunan 'maluu 'alaa makaanatikum muncul empat kali di tiga surah, yaitu 6:135, 11:93, 11:121, dan 39:39. Kata (مَكَانَتِكُمْ, makaanatikum) berakhiran "-kum" yang berarti "kalian", dan bentuk dengan akhiran orang ketiga, (عَلَىٰ مَكَانَتِهِمْ, 'alaa makaanatihim), muncul sekali di 36:67. Di 36:67 terjemahan memakai "di tempat mereka" karena ayat itu menyebut mereka tidak sanggup maju dan tidak dapat kembali, sedangkan di empat ayat yang didahului perintah berbuat terjemahan memakai "kedudukan", kata yang mencakup tempat berdiri dan martabat. Ayat 39:39 tidak menyebut kedudukan macam apa yang dimaksud, apakah keyakinan, tempat, atau keadaan.

Klaim pembicara berbunyi (إِنِّي عَامِلٌ, innii 'aamilun) yang berarti "sesungguhnya aku pun berbuat". Kata (عَامِلٌ, 'aamilun) berakar sama dengan 'maluu dan berbentuk pelaku tunggal, dan susunan innii 'aamilun muncul tiga kali, yaitu 6:135, 11:93, dan 39:39. Di 11:121 bentuk jamaknya, (إِنَّا عَامِلُونَ, innaa 'aamiluuna), diterjemahkan "Kami pun berbuat". Kata "pun" di semua ayat itu tidak punya kata Arab sendiri, dan menandai bahwa pelaku kedua memakai akar yang sama dengan perintah kepada pelaku pertama. Terjemahan tidak menambahkan objek, seperti "demikian", karena kata kerjanya berdiri tanpa objek.

Penutup ayat berbunyi (فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ, fa-sawfa ta'lamuuna) yang berarti "kelak kalian akan mengetahui". Kata (سَوْفَ, sawfa) menunda pengetahuan itu ke waktu yang belum ditentukan, dan huruf fa- menyambungnya dengan klaim sebelumnya. Susunan fa-sawfa ta'lamuuna muncul enam kali di enam surah, yaitu 6:135, 7:123, 11:39, 16:55, 30:34, dan 39:39, sedangkan sawfa ta'lamuuna dengan awalan apa pun muncul sebelas kali di delapan surah. Kata kerja ta'lamuuna di 39:39 belum punya objek. Terjemahan menghentikan kalimat tanpa tanda baca akhir karena objeknya ada di 39:40, yang dibuka dengan kata man, "siapa yang". Di 6:135 objeknya juga diawali man, tetapi isinya kesudahan negeri, dan di 11:39 isinya sama dengan 39:40.

Tafsiran

Ayat 39:39 menyerahkan giliran kepada lawan bicara setelah dua perintah berkata di 39:38. Tiga perintah qul muncul berurutan di dua ayat, dua di 39:38 dan satu di 39:39, dan ketiganya mengubah isi pembicaraan: pertama menguji apa yang diseru selain Allah, kedua menyatakan cukupnya Allah, ketiga mengajak setiap pihak berbuat menurut kedudukannya. Pembicara berhenti membantah dan mulai mengundang. Undangan itu tidak menyuruh siapa pun meninggalkan posisinya lebih dulu, karena perintahnya adalah berbuat menurut kedudukan yang ada.

Pembicara menaruh dirinya di sisi yang sama dengan lawan bicara pada tindakan berbuat. Perintah "berbuatlah" ditujukan kepada kaum, lalu disusul "aku pun berbuat", sehingga kedua pihak digambarkan bekerja, dan perbedaan mereka belum disebut di ayat ini. Panggilan "kaumku" tetap dipakai di tengah tantangan, dan jarak antara pembicara dan lawan bicara tidak diputus di dalam ayat.

Ayat 39:15 di surah yang sama memuat bentuk perintah yang serupa, (فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ, fa-'buduu maa syi'tum min duunihi) yang berarti "maka mengabdilah kepada apa yang kalian kehendaki selain Dia". Di 39:15 isi perintahnya dibebaskan pada kehendak lawan bicara, dan di 39:39 pada kedudukan mereka. Sesudah 39:15 menyusul pernyataan tentang orang-orang yang rugi, dan sesudah 39:39 menyusul "kelak kalian akan mengetahui". Kedua ayat itu menyerahkan isi perintah kepada pihak yang diperintah, dan keduanya menunda penilaian sampai sesudahnya.

Penutup ayat menggantungkan hasil pada waktu dan pengetahuan. Empat ayat memuat kalimat tentang pengetahuan dengan arah lain, yaitu (وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ, wa-llaahu ya'lamu wa-antum laa ta'lamuuna) di 2:216, 2:232, 3:66, dan 24:19, yang berarti "dan Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui". Di sana kalian disebut tidak mengetahui, dan di 39:39 kalian akan mengetahui. Ayat tidak menyelaraskan keduanya, dan perbedaan itu dicatat tanpa disimpulkan. Objek pengetahuan itu baru tertulis di 39:40, dengan bunyi yang sama seperti objek di 11:39.

Renungan dan Hikmah

  • Setelah 39:38 menutup dengan cukuplah Allah bagiku, ayat 39:39 tidak melanjutkan dengan dalil baru. Ayat itu meminta lawan bicara berbuat, dan pembicara menyatakan dirinya pun berbuat. Pembaca yang biasa menjawab perbedaan pendapat dengan argumen tambahan dapat memperhatikan bahwa ayat ini beralih ke pekerjaan, sebab pekerjaan dapat dilihat dan dinilai belakangan. Apa yang sedang dikerjakan pembaca hari ini yang sanggup diperiksa orang lain tanpa penjelasan darinya, dan apakah pekerjaan itu sejalan dengan kalimat cukuplah Allah bagiku?
  • Ayat 39:39 meminta setiap pihak berbuat menurut kedudukannya, dan tidak mengisi apa kedudukan itu. Pembaca dapat mengisinya dari hidupnya sendiri: pekerjaan, peran dalam keluarga, tempat di sebuah kelompok, atau keadaan batin pada hari ini. Ayat tidak mengatakan satu di antaranya yang dimaksud. Kedudukan yang dibawa pembaca ke dalam pekerjaannya ikut menentukan apa yang dikerjakannya, sebab perintahnya berbuat menurut kedudukan itu. Kedudukan mana yang sedang ditempatinya sekarang, dan pekerjaan apa yang pantas lahir darinya menurut kalimat yang baru diucapkan di 39:38, cukuplah Allah bagiku?
  • Pembicara di 39:39 tidak berdiri di luar perintah yang diberikannya. Setelah berkata berbuatlah, pembicara berkata aku pun berbuat, dan dua kata kerja itu memakai akar yang sama. Pembaca yang pernah menasihati orang lain dapat menimbang apakah kalimat nasihatnya juga memuat kalimat tentang dirinya sendiri. Di 39:38 pembicara lebih dulu menyatakan cukuplah Allah bagiku, jadi pernyataan aku pun berbuat datang dari orang yang sudah menaruh sandarannya. Apakah nasihat yang pernah diberikan pembaca kepada orang lain disertai pekerjaan serupa yang dilakukannya sendiri, dengan sandaran yang sama seperti pembicara di 39:38, yaitu Allah?
  • Kata kerja mengetahui di 39:39 belum punya objek, dan objeknya baru tertulis di ayat berikutnya. Ayat 2:216, 2:232, 3:66, dan 24:19 menyatakan bahwa Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui, dan 39:39 menyatakan kalian kelak akan mengetahui. Pembaca yang sedang menunggu hasil sebuah perbedaan pandangan memegang dua kalimat sekaligus tentang pengetahuan: pengetahuan yang sekarang tidak dimiliki, dan pengetahuan yang kelak datang. Bagian mana dari perselisihannya yang sebaiknya menunggu pengetahuan itu, dan bagian mana yang tidak perlu ditunda?
  • Ayat 39:39 menyebut lawan bicara dengan kaumku pada saat yang sama dengan tantangannya. Panggilan itu mempertahankan hubungan di dalam kalimat yang berisi perbedaan jalan. Pembaca yang pernah berbeda keyakinan atau pilihan dengan keluarga, tetangga, atau rekan kerja dapat memperhatikan bahwa tantangan di ayat ini tidak mengusir lawan bicara dari sebutan kaum. Panggilan apa yang dipakai pembaca ketika sedang tidak sependapat dengan orang yang dekat, dan apakah panggilan itu masih memuat kata kaumku ketika pembaca berbicara kepada mereka tentang jalan yang berbeda?
  • Ayat 39:15 memerintahkan mengabdi kepada apa yang dikehendaki selain Dia, dan 39:39 memerintahkan berbuat menurut kedudukan masing-masing. Dalam kedua perintah itu isi tindakan diserahkan kepada pihak yang diperintah, lalu penilaiannya ditunda: pernyataan tentang orang-orang yang rugi di 39:15 dan kata kelak di 39:39. Perintah semacam itu tidak sama dengan persetujuan, karena kelanjutannya menaruh hasil pada waktu. Pembaca yang pernah merasa dibiarkan menempuh jalannya sendiri dapat bertanya apakah pembiaran itu berarti diterima, atau baru bagian awal dari sebuah pertanyaan yang jawabannya menyusul. Bagaimana pembaca membedakan keduanya dalam hidupnya?
  • Setelah dua pertanyaan di 39:38, ayat 39:39 tidak menawarkan jawaban segera, dan menyebut waktu sebagai penentu. Kata kelak menangguhkan pengetahuan, sehingga pembicara tidak menuntut lawan bicaranya mengaku sekarang. Pembaca yang tidak sabar menunggu hasil sebuah pilihan akan menemukan bahwa ayat ini menjadwalkan pengetahuan, dan tidak menyingkatnya. Ketika pembaca menunggu, apa yang dikerjakannya selama masa itu, dan kepada siapa penantiannya disandarkan?