مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِ وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ

siapa yang akan didatangi azab yang menghinakannya, dan ditimpa azab yang kekal.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. مَنْ يَأْتِيهِ عَذَابٌ يُخْزِيهِman ya'tiihi 'adzaabun yukhziihisiapa yang akan didatangi azab yang menghinakannya
  2. وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌwa-yahillu 'alayhi 'adzaabun muqiimundan ditimpa azab yang kekal

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. مَنْmanorang yang
  2. يَأْتِيهِya'tiihidatang kepadanya
  3. عَذَابٌ'adzaabunazab
  4. يُخْزِيهِyukhziihimenghinakannya
  5. وَيَحِلُّwa-yahilludan menimpa
  6. عَلَيْهِ'alayhiatasnya
  7. عَذَابٌ'adzaabunazab
  8. مُقِيمٌmuqiimunyang kekal

Inti bacaan

Susunan ('adzaabun yukhziihi) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 11:39, 11:93, dan 39:40.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini meneruskan kalimat yang dibuka di ujung 39:39, yaitu (فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ, fa-sawfa ta'lamuuna) yang berarti "kelak kalian akan mengetahui". Apa yang akan diketahui itu baru tertulis di 39:40, dibuka dengan (مَنْ, man) yang berarti "siapa". Karena kata "mengetahui" dan kata "siapa" terpisah oleh batas ayat, terjemahan 39:40 diawali huruf kecil dan ditutup tanda kutip yang menutup ucapan yang dimulai di 39:39. Rangkaian (تَعْلَمُونَ مَنْ, ta'lamuuna man) yang berarti "kalian akan mengetahui siapa" muncul lima kali di empat surah, yaitu 6:135, 11:39, 11:93, 20:135, dan 67:29; di 39:39 dan 39:40 rangkaian itu terbelah oleh batas ayat.

Frasa (مَنْ يَأْتِيهِ, man ya'tiihi) yang berarti "siapa yang akan didatangi" tersusun dari man, kata kerja ya'tii yang berakar ا-ت-ي dan berarti "datang", serta akhiran -hi yang berarti "-nya". Terjemahan memakai "didatangi" karena orang yang ditunjuk man berada di pihak yang menerima kedatangan. Frasa (يَأْتِيهِ عَذَابٌ, ya'tiihi 'adzaabun) yang berarti "datang kepadanya azab" muncul tiga kali di dua surah, yaitu 11:39, 11:93, dan 39:40. Di surah yang sama, 39:25 memuat kata kerja dari akar itu dengan azab sebagai pelakunya, (فَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ, fa-ataahumu l-'adzaabu) yang berarti "maka azab datang kepada mereka", dan 39:54 serta 39:55 memuat bentuk lain dari kata kerja itu dengan azab sebagai pelakunya, sehingga azab yang datang disebut di 39:25, 39:40, 39:54, dan 39:55 dalam surah 39.

Kata kerja (يُخْزِيهِ, yukhziihi) yang berarti "menghinakannya" berakar خ-ز-ي, dan akhiran -hi di ujungnya menunjuk orang yang didatangi azab. Bentuk persis yukhziihi muncul tiga kali di dua surah, yaitu 11:39, 11:93, dan 39:40, dan di ketiganya pelakunya azab. Di 16:27 bunyinya (يُخْزِيهِمْ, yukhziihim) yang berarti "menghinakan mereka", dan pelakunya Dia. Akar yang sama dipakai untuk kehinaan di dunia, (الْخِزْيَ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا, l-khizya fii l-hayaati d-dunyaa) yang berarti "kehinaan dalam kehidupan dunia" di 39:26, dan untuk hari kiamat di 16:27 dan 3:194. Karena akar ini dipakai untuk kedua waktu itu, kata yukhziihi sendiri tidak menentukan kapan penghinaan di 39:40 terjadi, dan ayat ini pun tidak menyebut waktunya.

Terjemahan memakai "menghinakan" juga untuk (مُهِينٌ, muhiinun) di 2:90 dan 3:178, padahal akarnya lain, yaitu ه-و-ن. Dua kata itu dapat dibedakan dari bentuknya. Muhiinun adalah kata sifat yang langsung menyertai kata azab, sedangkan yukhziihi adalah kata kerja yang membawa akhiran -hi dan menunjuk orang yang didatangi. Terjemahan 39:40 mengikuti akhiran itu dengan "menghinakannya".

Kata kerja (يَحِلُّ, yahillu) berakar ح-ل-ل, akar yang sama dengan kata yang diterjemahkan "tidak halal" di 2:228 dan 4:19. Bila disusul (عَلَيْهِ, 'alayhi) yang berarti "atasnya", kata kerja itu menunjuk sesuatu yang jatuh ke atas seseorang. Kata kerja dari akar ini disusul 'alaa beserta akhiran kata ganti di empat ayat, yaitu 11:39, 20:81, 20:86, dan 39:40. Pelaku di 11:39 dan 39:40 adalah azab, sedangkan di 20:81 dan 20:86 adalah kemurkaan, (غَضَبِي, ghadhabii) yang berarti "kemurkaan-Ku" di 20:81. Terjemahan memakai "menimpa" atau "ditimpa" di keempat ayat itu. Frasa (وَيَحِلُّ عَلَيْهِ عَذَابٌ مُقِيمٌ, wa-yahillu 'alayhi 'adzaabun muqiimun) yang berarti "dan menimpanya azab yang kekal" hanya muncul di 11:39 dan 39:40.

Kata (مُقِيمٌ, muqiimun) berakar ق-و-م dan terjemahannya "kekal" bila menerangkan azab atau kenikmatan, yaitu di 5:37, 9:21, 9:68, 11:39, 39:40, dan 42:45. Di 15:76 kata yang sama menerangkan jalan, (سَبِيلٍ مُقِيمٍ, sabiilin muqiimin) yang berarti "jalan yang tetap", sehingga arti dasarnya menetap, dan pilihan "kekal" mengikuti benda yang diterangkannya. Di 4:162 dan 14:40 kata ini berpasangan dengan salat dan terjemahannya "yang menegakkan". Azab bersama muqiim muncul lima kali di lima surah, yaitu 5:37, 9:68, 11:39, 39:40, dan 42:45; bentuk (عَذَابٌ مُقِيمٌ, 'adzaabun muqiimun) persis empat di antaranya, sedangkan 42:45 berbunyi (عَذَابٍ مُقِيمٍ, 'adzaabin muqiimin) dengan akhiran lain.

Tafsiran

Ayat ini mengisi pertanyaan yang dijanjikan di 39:39. Orang yang diajak bicara memerintahkan kaumnya berbuat menurut kedudukan mereka, menyatakan bahwa dirinya pun berbuat, lalu menjanjikan pengetahuan kelak, dan 39:40 menyebut isi pengetahuan itu: siapa yang akan didatangi azab yang menghinakan dan ditimpa azab yang kekal. Ayat ini menyebut satu pihak saja, yaitu pihak yang menerima azab. Di 11:93 pihak lain ditulis berdampingan dengan azab, (وَمَنْ هُوَ كَاذِبٌ, wa-man huwa kaadzibun) yang berarti "dan siapa yang pendusta", sedangkan di 6:135 pertanyaan "siapa" bergeser ke pihak yang menerima kesudahan negeri akhirat. Ketiga ayat memakai kerangka yang sama, dan isi 39:40 adalah azab.

Di dalam ayat, orang yang ditunjuk man muncul tiga kali lewat akhiran -hi, yaitu pada ya'tiihi, yukhziihi, dan 'alayhi, sedangkan azab muncul dua kali sebagai kata benda tak tentu. Pengulangan 'adzaabun itu dapat dibaca sebagai dua perkara yang dipisahkan huruf wa, dan terjemahan membacanya demikian. Perkara pertama dikaitkan dengan kata kerja yang menunjuk sasarannya, yaitu menghinakan orang itu, dan perkara kedua dikaitkan dengan sifat menetap. Ayat ini tidak menyatakan bahwa yang kedua menyusul yang pertama atau menggantikannya, dan tidak menyebut siapa yang mendatangkannya. Pembaca dapat membandingkannya dengan 39:26, yang menyebut Allah sebagai pihak yang menimpakan kehinaan dan menambahkan bahwa azab akhirat lebih besar.

Pengetahuan di 39:26 dan di 39:39 sampai 39:40 diletakkan dengan cara berbeda. Di 39:26 bunyinya (لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ, law kaanuu ya'lamuuna) yang berarti "kalau mereka mengetahui", yaitu pengandaian tentang bangsa-bangsa yang sudah lewat. Di 39:39 dan 39:40 pengetahuan itu dijanjikan sebagai sesuatu yang akan tiba, tanpa pengandaian. Ayat ini tidak menuntut jawaban sekarang dan tidak menyebut kapan pengetahuan itu datang.

Letak ayat ini juga menjelaskan arah ayat berikutnya. Sesudah tantangan ditutup dengan azab, 39:41 kembali kepada Kitab dan tanggung jawab tiap orang, dan menyatakan bahwa orang yang diajak bicara bukan wakil atas mereka. Urutan itu dapat dibaca sebagai batas: azab di 39:40 tidak berada di tangan orang yang diajak bicara. Pembacaan ini bertumpu pada urutan ayat, dan kedua ayat tidak menghubungkan isinya secara tertulis.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanyaan "siapa" di 39:40 baru terjawab sesudah pembaca melewati batas dari 39:39, tempat kalimat pembukanya, "kelak kalian akan mengetahui", berhenti. Pembaca yang berhenti di ujung 39:39 hanya mendapat janji bahwa pengetahuan akan datang, dan isi janji itu baru tampak di ayat sesudahnya. Orang yang menerima kabar setengah jalan seperti itu dapat memperhatikan apa yang dilakukannya di titik jeda: mengisi sendiri kelanjutannya, atau menunggu ayat berikutnya selesai berbicara. Ketika janji dan isinya berada di dua ayat yang berbeda, apakah jeda di antaranya ruang untuk menebak, atau ruang untuk mendengarkan?
  • Ayat 39:40 menulis kata azab dua kali, sekali dengan sifat menghinakan dan sekali dengan sifat kekal, sehingga pembaca diajak membedakan dua hal yang mudah dianggap satu. Sifat pertama menyangkut penghinaan terhadap orang itu, sifat kedua menyangkut lamanya. Di 3:194 sebuah doa memohon kepada Tuhan agar tidak dihinakan pada hari kiamat, jadi kehinaan disebut sebagai hal yang dimohonkan perlindungannya secara tersendiri. Seseorang dapat memeriksa mana dari dua hal itu yang lebih ditakutinya, dipermalukan atau menanggung sesuatu yang berkepanjangan. Ayat ini menyebut keduanya dalam satu kalimat, dan pembaca yang hanya mengingat salah satunya mungkin perlu bertanya mengapa yang lain terlewat dari ingatannya.
  • Ayat ini menyebut satu pihak saja, yaitu orang yang didatangi azab, sedangkan 11:93 menaruh pendusta di sampingnya. Karena pihak lain tidak ditulis, pembaca yang membuka 39:40 tidak diberi kolom tempat orang lain dapat dimasukkan. Kata "siapa" tetap terbuka, dan tiap pembaca menjawabnya untuk dirinya sendiri sebelum menyimpulkan apa pun tentang tetangga atau lawan debatnya. Seseorang yang terbiasa membaca ayat peringatan sebagai kalimat tentang orang lain dapat bertanya, jika kata pertama ayat ini adalah "siapa" dan tidak ada nama kelompok di dalamnya, di mana pembaca menempatkan dirinya sebelum menunjuk siapa pun?
  • Di 11:38 Nuh berkata bahwa kaumnya yang mengejek akan dibalas ejekan, lalu 11:39 menutup dengan azab yang menghinakan dan azab yang kekal. Di 39:39 pembicara meminta kaumnya berbuat menurut kedudukan mereka dan memanggil mereka "wahai kaumku", lalu 39:40 menutup dengan kalimat yang sama dengan penutup 11:39. Bunyi penutupnya sama, tetapi suasana pembukanya berbeda: ejekan di 11:38, panggilan kepada kaum di 39:39. Orang yang sedang berselisih dapat memperhatikan bahwa kabar berat dapat disampaikan sambil tetap menyebut lawan bicara sebagai bagian dari kaumnya. Dalam perselisihan yang dihadapinya sendiri, apakah bobot sebuah peringatan bergantung pada nada penyampainya?
  • Kata muqiim yang menerangkan azab di 39:40 juga menerangkan kesenangan di 9:21, tempat Tuhan mereka memberi kabar gembira kepada mereka dengan rahmat, keridaan, dan taman-taman, yang di dalamnya kesenangan mereka kekal. Satu kata yang sama dipakai untuk dua nasib yang berlawanan, azab di 39:40 dan kesenangan di 9:21. Seseorang yang sedang menimbang suatu pilihan dapat bertanya apakah akibat pilihan itu akan bertahan atau lewat, dan apakah akibat itu sudah ditimbang sebelum keputusan diambil?
  • Azab di 39:40 digambarkan dengan dua gerak: datang kepada seseorang, lalu menimpanya. Di 39:25 azab datang kepada orang-orang terdahulu dari arah yang tidak mereka sadari, dan 39:26 mencatat bahwa Allah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia. Ayat 39:40 tidak menyebut arah kedatangannya, tetapi kata kerja dari akar yang sama dipakai di kedua tempat. Pembaca dapat memperhatikan bahwa di 39:25 orang yang menerima azab tidak sedang menunggunya. Seseorang yang merasa dirinya jauh dari ayat ini dapat bertanya, jika azab di 39:25 datang dari arah yang tidak disadari, apa yang dapat diperiksanya tentang arah yang selama ini tidak dilihatnya?