إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّ ۖ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۖ وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab untuk manusia dengan hak; maka, siapa yang mendapat petunjuk, untuk dirinya sendiri; dan siapa yang sesat, sesungguhnya ia sesat atas dirinya sendiri; dan engkau bukanlah wakil atas mereka.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. إِنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّinnaa anzalnaa 'alayka l-kitaaba li-n-naasi bi-l-haqqisesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu Kitab untuk manusia dengan hak
  2. فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِfa-mani htadaa fa-li-nafsihimaka, siapa yang mendapat petunjuk, untuk dirinya sendiri
  3. وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَاwa-man dhalla fa-innamaa yadhillu 'alayhaadan siapa yang sesat, sesungguhnya ia sesat atas dirinya sendiri
  4. وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍwa-maa anta 'alayhim bi-wakiilindan engkau bukanlah wakil atas mereka

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. إِنَّاinnaasesungguhnya Kami
  2. أَنْزَلْنَاanzalnaaKami menurunkan
  3. عَلَيْكَ'alaykaatasmu
  4. الْكِتَابَl-kitaabaKitab
  5. لِلنَّاسِli-n-naasikepada manusia
  6. بِالْحَقِّbi-l-haqqidengan kebenaran
  7. فَمَنِfa-manimaka orang yang
  8. اهْتَدَىٰhtadaamendapat petunjuk
  9. فَلِنَفْسِهِfa-li-nafsihimaka untuk dirinya
  10. وَمَنْwa-mandan orang yang
  11. ضَلَّdhallasesat
  12. فَإِنَّمَاfa-innamaamaka sesungguhnya hanyalah
  13. يَضِلُّyadhillusesat
  14. عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
  15. وَمَاwa-maadan tidaklah
  16. أَنْتَantaengkau
  17. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  18. بِوَكِيلٍbi-wakiilinpenjaga

Inti bacaan

Rangkaian (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi) muncul empat kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:104, 39:41, 41:46, dan 45:15.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (إِنَّا أَنْزَلْنَا, innaa anzalnaa) yang berarti "sesungguhnya Kami telah menurunkan". Kata innaa tersusun dari inna yang berarti "sesungguhnya" dan naa yang berarti "Kami", sedangkan anzalnaa berakar ن-ز-ل dan memuat naa yang sama. Rangkaian (أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ, anzalnaa 'alayka l-kitaaba) yang berarti "Kami menurunkan kepadamu Kitab" muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 16:64, 29:51, dan 39:41. Di surah yang sama, 39:2 membuka dengan (إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ, innaa anzalnaa ilayka l-kitaaba bi-l-haqqi) yang berarti "sesungguhnya Kami menurunkan Kitab kepadamu dengan hak", dan di luar surah 39 rangkaian itu hanya ada di 4:105. Arab memakai ilaa di 39:2 dan 'alaa di 39:41, sedangkan terjemahan memakai satu padanan, "kepadamu", untuk keduanya.

Kata (لِلنَّاسِ, li-n-naasi) yang berarti "untuk manusia" tersusun dari huruf lam yang berarti "untuk" dan an-naas, "manusia", yang berakar ن-و-س. Rangkaian (الْكِتَابَ لِلنَّاسِ, l-kitaaba li-n-naasi) hanya muncul di 39:41. Kata Kitab dan (بِالْحَقِّ, bi-l-haqqi) yang berarti "dengan hak" berdampingan langsung di tujuh ayat, yaitu 2:176, 2:213, 3:3, 4:105, 5:48, 39:2, dan 42:17, dan di 39:41 kata li-n-naasi menyela di antara keduanya. Kata haqq berakar ح-ق-ق. Rangkaian bi-l-haqqi muncul lima kali di surah 39, yaitu 39:2, 39:5, 39:41, 39:69, dan 39:75. Terjemahan memakai "dengan hak" di empat di antaranya, sedangkan 39:69 berbunyi "dengan benar". Di 2:176, 2:213, 3:3, 5:48, dan 42:17 kata yang sama bersama Kitab diterjemahkan "dengan kebenaran". Terjemahan 39:41 mengikuti padanan yang dipakai di 39:2, dan ayat ini tidak memuat keterangan yang memutuskan antara "hak" dan "kebenaran".

Frasa (فَمَنِ اهْتَدَىٰ, fa-mani htadaa) yang berarti "maka, siapa yang mendapat petunjuk" muncul tiga kali, yaitu 10:108, 27:92, dan 39:41, dan kata kerja ihtadaa berakar ه-د-ي. Kelanjutannya (فَلِنَفْسِهِ, fa-li-nafsihi) yang berarti "maka untuk dirinya" tidak memuat kata kerja. Rangkaian fa-li-nafsihi muncul empat kali, yaitu 6:104, 39:41, 41:46, dan 45:15, dan di keempatnya tidak ada kata kerja sesudah huruf lam. Terjemahan mengikuti susunan itu dan tidak menambahkan kata kerja. Di 10:108, 17:15, dan 27:92 bunyinya (فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ, fa-innamaa yahtadii li-nafsihi) yang berarti "sesungguhnya ia mendapat petunjuk untuk dirinya sendiri", dengan kata kerja yang disebut lengkap. Kata nafs berakar ن-ف-س dan di sini diterjemahkan "diri" dengan tambahan "sendiri" karena akhiran -hi. Di 39:42 kata yang sama dalam bentuk jamak, (الْأَنْفُسَ, l-anfusa), diterjemahkan "jiwa-jiwa".

Pasangan sesat memakai huruf yang berbeda. Kalimat (وَمَنْ ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا, wa-man dhalla fa-innamaa yadhillu 'alayhaa) yang berarti "dan siapa yang sesat, sesungguhnya ia sesat atas dirinya sendiri" muncul tiga kali, yaitu 10:108, 17:15, dan 39:41. Kata 'alayhaa memuat huruf 'alaa yang berarti "atas" dan akhiran -haa yang berjenis perempuan, sama seperti kata nafs. Di 6:104, 41:46, dan 45:15 pasangan fa-li-nafsihi memang disusul fa-'alayhaa, dan huruf lam menyertai pihak yang melihat atau beramal saleh sedangkan 'alaa menyertai pihak lawannya. Terjemahan 39:41 menerjemahkan lam dengan "untuk" dan 'alaa dengan "atas", seperti di 10:108, 17:15, 41:46, dan 45:15, supaya pasangan itu tetap terlihat.

Kata (بِوَكِيلٍ, bi-wakiilin) yang berarti "wakil" berakar و-ك-ل. Rangkaian (وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ, wa-maa anta 'alayhim bi-wakiilin) yang berarti "dan engkau bukanlah wakil atas mereka" muncul tiga kali, yaitu 6:107, 39:41, dan 42:6, sedangkan kata bi-wakiilin sendiri muncul lima kali, yaitu 6:66, 6:107, 10:108, 39:41, dan 42:6, dan di kelimanya berada dalam kalimat yang menyangkal. Kata wakiilun tanpa huruf bi- muncul lima kali dan pelakunya selalu Allah, yaitu di 6:102, 11:12, 12:66, 28:28, dan 39:62. Di 39:62 bunyinya (وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ, wa-huwa 'alaa kulli syay'in wakiilun) yang berarti "dan Dia atas segala sesuatu adalah wakil". Terjemahan memakai "wakil" untuk kata ini di 6:107, 10:108, 39:41, 39:62, dan 42:6, dan tidak menambahkan "pengurus" atau "penjamin".

Tafsiran

Ayat ini membawa pembicaraan dari tantangan di 39:39 dan 39:40 kembali ke Kitab, dan isinya tiga langkah yang berurutan. Pertama, Kitab diturunkan kepada orang yang diajak bicara untuk manusia dengan hak. Kedua, petunjuk dan kesesatan masing-masing dikaitkan dengan diri orang yang bersangkutan. Ketiga, penerima Kitab itu dinyatakan bukan wakil atas mereka.

Pembukaan ayat ini mengulang pembukaan surahnya. Seperti 39:2, ayat ini dibuka dengan innaa anzalnaa dan menyebut Kitab dengan hak. Ayat 39:2 melanjutkannya dengan perintah mengabdi kepada Allah, sedangkan 39:41 melanjutkannya dengan pembagian tanggung jawab. Kedua kelanjutan itu berbeda isi dan tidak dihubungkan satu sama lain oleh teksnya. Di antara dua ayat itu, 39:36 mengajukan pertanyaan tentang kecukupan Allah bagi hamba-Nya, 39:38 mencatat jawaban "Allah" atas pertanyaan siapa yang menciptakan langit dan bumi, dan 39:39 sampai 39:40 memuat tantangan.

Dua pernyataan tentang kesesatan berada berdekatan di surah ini. Di 39:36 tertulis bahwa siapa yang Allah sesatkan tidak punya pemberi petunjuk, dan di 39:41 tertulis bahwa kesesatan seseorang jatuh atas dirinya sendiri. Kedua ayat itu dipisahkan empat ayat, dan teks tidak menerangkan bagaimana keduanya berjalan bersama. Menyambungkannya dengan penjelasan dari luar teks berarti menambahkan hal yang tidak tertulis, jadi keduanya dibaca apa adanya: satu menyebut Allah sebagai pihak yang menyesatkan, satu menyebut tempat jatuhnya kesesatan, dan keduanya tertulis.

Kata nafs dari ayat ini muncul kembali di ayat berikutnya dalam bentuk jamak. Di 39:42 pelakunya Allah, yaitu yang menggenggam jiwa-jiwa pada saat kematian dan ketika tidur. Dapat dibaca bahwa diri yang di 39:41 menerima petunjuk atau kesesatan adalah jiwa yang di 39:42 berada dalam genggaman itu, karena kedua ayat memakai akar yang sama, tetapi teks tidak menyatakan hubungan itu secara tertulis.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 39:41 menyebut penerima Kitab dengan kata engkau dan sasarannya dengan kata manusia, sehingga Kitab itu diterima satu orang dan ditujukan kepada orang banyak. Surah ini mencatat di 39:23 bahwa Allah menurunkan sebaik-baik tuturan, dan 39:41 menaruh pembaca di barisan manusia yang menjadi tujuannya. Orang yang membuka ayat ini dapat memperhatikan bagaimana kata manusia terbaca olehnya: sebagai kelompok yang jauh dari dirinya, atau sebagai kata yang sudah mencakup dirinya sebelum nama kaum atau golongan mana pun disebut. Jika kata manusia di ayat ini mencakup pembaca sejak awal, apa yang masih membuatnya merasa sebagai pihak ketiga?
  • Petunjuk dikaitkan dengan huruf yang berarti untuk, dan kesesatan dengan huruf yang berarti atas, sehingga dua jalan itu menyentuh diri yang sama dengan arah yang berbeda. Di 17:15 kalimat yang sama diikuti pernyataan bahwa seorang pemikul beban tidak memikul beban orang lain. Pembaca dapat mengamati bahwa dalam ayat ini tidak ada pihak lain yang menerima petunjuk menggantikan seseorang atau menanggung kesesatannya. Orang yang terbiasa menaruh kesalahan pada lingkungan dan keberhasilan pada dirinya sendiri dapat bertanya, jika petunjuk dan kesesatan sama-sama jatuh pada diri, ke mana lagi urusan itu dapat dipindahkan?
  • Penerima Kitab di ayat ini dinyatakan bukan wakil atas mereka, sedangkan 39:62 menyebut Allah sebagai wakil atas segala sesuatu. Kata yang sama dipakai dalam dua ayat di surah yang sama, sekali untuk menyangkal dan sekali untuk menyatakan. Orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain, entah nasihat, pekerjaan, atau kabar, dapat memperhatikan di mana batas antara menyampaikan dan menjamin diletakkannya. Ayat ini menaruh batas itu di luar tanggung jawab penerima Kitab, sedangkan 39:62 menaruh kedudukan sebagai wakil atas segala sesuatu pada Allah. Jika seseorang gelisah karena hasil sebuah penyampaian ada di luar kendalinya, apakah kegelisahan itu timbul dari tugas yang diberikan kepadanya, atau dari kedudukan yang menurut dua ayat ini bukan miliknya?
  • Kata bi-l-haqqi di surah 39 muncul di lima ayat dan menyertai tiga urusan berbeda: Kitab di 39:2 dan 39:41, penciptaan langit dan bumi di 39:5, serta keputusan di antara manusia di 39:69 dan 39:75. Ayat 39:75 berlanjut dengan pernyataan bahwa segala puji bagi Allah, Tuhan seisi alam. Pembaca dapat menaruh kelima ayat itu berdampingan dan melihat bahwa kata yang sama dipakai ketika Kitab diterima, ketika langit dan bumi diciptakan, dan ketika perkara diputuskan. Seseorang yang membaca Kitab hari ini dapat bertanya, bila kata hak menyertai Kitab dan menyertai keputusan di antara manusia, dengan apa pilihannya ditimbang sebelum hari keputusan itu?
  • Ayat 39:40 menggambarkan akibat yang datang dari luar: azab yang datang kepada seseorang dan menimpanya. Ayat 39:41 menggambarkan akibat yang tertulis pada diri, yaitu petunjuk untuk dirinya dan kesesatan atas dirinya. Kedua ayat itu tidak mengatakan hal yang sama dan tidak ditulis sebagai satu penjelasan, tetapi keduanya berdekatan. Pada kesesatan, ayat 39:41 hanya menyebut kata atas diri dan tidak menyebut apa pun yang datang dari luar. Dapat dibaca bahwa sebagian akibat sebuah pilihan sudah berada pada orang yang memilih sebelum ada yang datang kepadanya. Jika begitu, apa yang sudah dapat dilihat seseorang pada dirinya hari ini, sebelum akibat dari luar mana pun tiba?
  • Di 39:36 tertulis bahwa siapa yang Allah sesatkan tidak punya pemberi petunjuk, dan di 39:41 bahwa kesesatan seseorang jatuh atas dirinya sendiri. Kedua kalimat tertulis berdekatan dan teks tidak menyambungkannya. Pembaca yang menemukan dua pernyataan seperti itu mungkin tergoda mencari kalimat penghubung, padahal kedua ayat sama-sama tertulis dan sama-sama dibaca. Orang yang menahan diri dari menyambungkan hal yang tidak disambungkan teks dapat belajar membiarkan dua kalimat bersebelahan tanpa meremehkan salah satunya. Apakah dua kalimat itu perlu diselaraskan sebelum keduanya dipercaya, atau cukup dipegang berdampingan sebagaimana tertulis?