اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Allah menggenggam jiwa-jiwa pada saat kematiannya dan yang belum mati ketika ia tidur. Dia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَاallaahu yatawaffaa l-anfusa hiina mawtihaaAllah menggenggam jiwa-jiwa pada saat kematiannya
- وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَاwa-llatii lam tamut fii manaamihaadan yang belum mati ketika ia tidur
- فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَfa-yumsiku llatii qadhaa 'alayhaa l-mawtaDia menahan nyawa yang telah Dia tetapkan kematiannya
- وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّىwa-yursilu l-ukhraa ilaa ajalin musammandan Dia melepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan
- إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَinna fii dzaalika la-aayaatin li-qawmin yatafakkaruunasesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir
Terjemahan per kata (26 kata)
- اللَّهُallaahuAllah
- يَتَوَفَّىyatawaffaamewafatkan
- الْأَنْفُسَl-anfusajiwa
- حِينَhiinaketika
- مَوْتِهَاmawtihaamatinya
- وَالَّتِيwa-llatiidan perempuan yang
- لَمْlamtidak
- تَمُتْtamutmati
- فِيfiidalam
- مَنَامِهَاmanaamihaatidurnya
- فَيُمْسِكُfa-yumsikumaka Dia menahan
- الَّتِيllatiiyang
- قَضَىٰqadhaamemutuskan
- عَلَيْهَا'alayhaaatasnya
- الْمَوْتَl-mawtakematian
- وَيُرْسِلُwa-yursiludan Dia mengirim
- الْأُخْرَىٰl-ukhraayang lain
- إِلَىٰilaasampai
- أَجَلٍajalinajal
- مُسَمًّىmusammanyang ditentukan
- إِنَّinnasesungguhnya
- فِيfiipada
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- لَآيَاتٍla-aayaatinbenar-benar tanda-tanda
- لِقَوْمٍli-qawminbagi kaum
- يَتَفَكَّرُونَyatafakkaruunamereka merenungkan
Inti bacaan
Frasa (إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى, ilaa ajalin musamman) muncul sebelas kali di Al-Qur'an, yaitu di 2:282, 11:3, 14:10, 16:61, 22:5, 22:33, 31:29, 35:45, 39:42, 42:14, dan 71:4.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan kata kerja (يَتَوَفَّى, yatawaffaa) yang berarti "menggenggam" dan berakar و-ف-ي. Satu kata kerja ini mempunyai dua objek yang disambung huruf wa: (الْأَنْفُسَ, l-anfusa) yang berarti "jiwa-jiwa" pada saat kematiannya, dan (وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ, wa-llatii lam tamut) yang berarti "dan yang belum mati", yaitu jiwa yang berada dalam tidurnya. Karena satu kata kerja menaungi kematian dan tidur sekaligus, terjemahan memakai kata yang tidak menyebut salah satunya. Bentuk (يَتَوَفَّاكُمْ, yatawaffaakum) yang berarti "mewafatkan kalian" muncul empat kali di empat surah, yaitu 6:60, 10:104, 16:70, dan 32:11. Di 6:60 bunyinya (وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُمْ بِاللَّيْلِ, wa-huwa lladzii yatawaffaakum bi-l-layli) yang berarti "dan Dialah yang menidurkan kalian pada malam hari", dan terjemahan memakai "menidurkan" karena ayat itu menyebut malam. Di 16:70 dan 32:11 terjemahan memakai "mewafatkan", dan di 10:104 "mematikan". Pelakunya Allah di 6:60, 10:104, dan 16:70, sedangkan di 32:11 malaikat maut. Di 39:42 kedua keadaan itu ada dalam satu ayat dengan pelaku Allah, sehingga kata "menggenggam" dipilih supaya tidak condong ke tidur maupun ke mati.
Kata (الْأَنْفُسَ, l-anfusa) berakar ن-ف-س dan bentuk tunggalnya, nafs, diterjemahkan "diri" di 39:41. Di sini bentuk jamaknya diterjemahkan "jiwa-jiwa" karena tidak ada akhiran yang menjadikannya "diri seseorang". Kata (مَوْتِهَا, mawtihaa) yang berarti "kematiannya" berakar م-و-ت, dan akhiran -haa berjenis perempuan tunggal sehingga terjemahan memakai -nya. Kata (مَنَامِهَا, manaamihaa) yang berarti "tidurnya" berakar ن-و-م dan juga memakai -haa. Kata manaam muncul empat kali, yaitu 8:43, 30:23, 37:102, dan 39:42. Di 8:43 bunyinya (فِي مَنَامِكَ, fii manaamika) dan di 37:102 (فِي الْمَنَامِ, fii l-manaami), dan terjemahan memakai "mimpi" karena kedua ayat itu menyebut sesuatu yang dilihat selama tidur. Di 30:23 dan 39:42 yang dibicarakan keadaan tidur itu sendiri, dan terjemahan memakai "tidur".
Kata kerja (فَيُمْسِكُ, fa-yumsiku) yang berarti "maka Dia menahan" berakar م-س-ك. Bentuk yumsiku muncul enam kali di lima surah, yaitu 16:59, 16:79, 22:65, 35:41, 39:42, dan 67:19, dan pelakunya Allah atau Ar-Rahman di lima ayat di antaranya; di 16:59 pelakunya seseorang yang menahan sesuatu. Di surah yang sama, 39:38 memuat akar ini dalam pertanyaan tentang sembahan selain Allah, (هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ, hal hunna mumsikaatu rahmatihi). Pasangan menahan dan melepaskan ada juga di 35:2, (فَلَا مُمْسِكَ لَهَا, falaa mumsika lahaa) yang berarti "tidak ada yang dapat menahannya" dan (فَلَا مُرْسِلَ لَهُ, falaa mursila lahu) yang berarti "tidak ada yang sanggup melepaskannya".
Kata (وَيُرْسِلُ, wa-yursilu) yang berarti "dan Dia melepaskan" berakar ر-س-ل dan muncul tiga kali dengan huruf wa di depannya, yaitu 6:61, 13:13, dan 39:42. Terjemahan memakai "melepaskan" di 13:13, 35:2, dan 39:42, dan "mengirim" di 6:61 karena objeknya para penjaga. Objek di 39:42 adalah (الْأُخْرَىٰ, l-ukhraa) yang berarti "yang lain", kata berjenis perempuan yang menunjuk jiwa yang tidak ditahan. Kata ukhraa muncul lima kali di empat surah, yaitu 2:282, 39:42, 49:9, 53:20, dan 53:47. Arabnya tidak mengulang kata nafs, sedangkan terjemahan mengisi (الَّتِي, llatii) dan al-ukhraa dengan "nyawa" supaya kalimatnya terbaca.
Kata (قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ, qadhaa 'alayhaa l-mawta) yang berarti "menetapkan kematian atasnya" berakar ق-ض-ي dan hanya ada di 39:42. Bentuk yang paling dekat, (قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ, qadhaynaa 'alayhi l-mawta) yang berarti "Kami tetapkan kematian atasnya", ada di 34:14. Terjemahan memakai "tetapkan" di kedua ayat. Akar yang sama dipakai di 6:60, (لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُسَمًّى, li-yuqdhaa ajalun musamman) yang berarti "agar disempurnakan suatu ajal yang ditentukan", sehingga akar ini menyertai kematian di 39:42 dan 34:14 dan menyertai ajal di 6:60.
Frasa (إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى, ilaa ajalin musamman) yang berarti "sampai waktu yang ditentukan" muncul sebelas kali di sepuluh surah, yaitu 2:282, 11:3, 14:10, 16:61, 22:5, 22:33, 31:29, 35:45, 39:42, 42:14, dan 71:4. Kata musamman berakar س-م-و dan berarti "yang ditentukan". Di surah yang sama, 39:5 memuat (لِأَجَلٍ مُسَمًّى, li-ajalin musamman) untuk matahari dan bulan yang beredar. Penutup ayat memuat (لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ, li-qawmin yatafakkaruuna) yang berarti "bagi kaum yang berpikir", dan frasa itu muncul tujuh kali di enam surah, yaitu 10:24, 13:3, 16:11, 16:69, 30:21, 39:42, dan 45:13. Di 30:23 tidur sendiri disebut sebagai tanda, (مَنَامُكُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ, manaamukum bi-l-layli wa-n-nahaari) yang berarti "tidurmu pada waktu malam dan siang", dengan penutup bagi kaum yang mendengarkan, (لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ, li-qawmin yasma'uuna), sedangkan 39:42 menutup dengan kaum yang berpikir.
Tafsiran
Ayat ini menyebut tiga hal yang berurutan. Allah menggenggam jiwa-jiwa pada dua keadaan, yaitu pada saat kematian dan ketika tidur. Sesudah itu Dia menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya dan melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Ayat ditutup dengan pernyataan bahwa pada hal itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. Dua keadaan di awal dan dua tindakan sesudahnya disusun berpasangan, sehingga tidur dan kematian dibicarakan dengan kerangka yang sama.
Ayat ini berbagi akar kata dengan pertanyaan di 39:38. Di 39:38 sembahan selain Allah ditanyai apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya, dan ayat itu tidak memuat jawaban. Di 39:42 kata kerja menahan dipakai dengan Allah sebagai pelakunya dan jiwa sebagai objeknya. Ayat 39:41 sebelumnya menyebut diri yang menerima petunjuk atau kesesatan, dan 39:42 menyebut jiwa-jiwa yang berada dalam genggaman Allah. Kedua ayat memakai akar yang sama, tetapi tidak ada kalimat yang menyatakan bahwa keduanya menunjuk hal yang sama.
Pelaku kata kerja tawaffaa berbeda-beda di Al-Qur'an. Di 6:60 dan 10:104 pelakunya Allah, di 32:11 malaikat maut, dan di 6:61 utusan-utusan Kami. Ayat 39:42 menyebut Allah sebagai pelaku dan tidak membicarakan perantara. Ayat ini tidak menjelaskan hubungan antara pelaku di ayat ini dengan pelaku di ayat lain, dan pembaca tidak perlu menyambungkannya.
Ayat ini juga membedakan dua nasib jiwa, dan dapat dibaca bahwa pemilahan itu menyangkut jiwa yang tidur, karena huruf fa menyambungnya dengan kalimat tentang tidur. Jiwa yang kematiannya telah ditetapkan ditahan, dan jiwa yang lain dilepaskan sampai waktu yang ditentukan. Ayat tidak menyebut dasar pemilahan itu dan tidak menyebut kapan waktu yang ditentukan itu tiba. Di 6:60 hal serupa dikaitkan dengan malam dan siang: Allah menidurkan pada malam hari, lalu membangunkan agar suatu ajal disempurnakan. Ayat 39:42 tidak menyebut malam, dan hubungannya dengan 6:60 terletak pada kata kerja yang sama dan pada ajal yang ditentukan.
Renungan dan Hikmah
- Dalam ayat ini tidur dan kematian dibicarakan dengan satu kata kerja yang sama, dan pelakunya Allah. Tidur adalah keadaan yang dapat dicocokkan pembaca dengan pengalamannya sendiri. Orang yang berbaring dan menutup mata dapat memperhatikan bahwa pada saat itu, menurut ayat ini, jiwanya berada dalam genggaman Allah, dan bahwa keadaan itu disebut dengan kata kerja yang sama dengan yang dipakai untuk kematian. Ketika jiwa digenggam dalam tidur, dapatkah seseorang mengatakan bahwa jaga adalah miliknya sendiri?
- Orang yang bangun disebut dalam ayat ini sebagai jiwa yang dilepaskan, dan batas pelepasan itu disebut dengan kata sampai waktu yang ditentukan. Kata sampai menandai sebuah batas, jadi hari yang dijalani sesudah bangun dibaca sebagai waktu yang berada di antara pelepasan dan batas itu. Seseorang yang melangkah keluar rumah pagi hari dapat bertanya apakah hari itu dijalaninya sebagai sesuatu yang sudah menjadi haknya, atau sebagai sesuatu yang dilepaskan kepadanya dengan batas yang tidak diketahuinya. Jika Dia yang melepaskan juga yang menahan, seberapa sering pelepasan itu diingat sebelum hari berjalan?
- Di 39:38 sembahan selain Allah ditanyai apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya, dan di 39:42 Allah disebut sebagai yang menahan jiwa yang telah Dia tetapkan kematiannya. Pembaca dapat meletakkan kedua ayat itu berdampingan dan bertanya pada dirinya sendiri: apa yang dimintainya pertolongan, lalu apakah yang dimintai itu pernah menahan atau melepaskan jiwa seorang pun ketika tidur? Ayat 39:42 tidak membantah siapa pun secara langsung, dan tidak menyebut sembahan apa pun. Ayat itu hanya menaruh daftar tindakan Allah, yaitu menggenggam, menahan, dan melepaskan, di samping pertanyaan yang tadinya tidak dijawab. Apa yang tersisa dari daftar yang dipercayainya bila dibandingkan dengan tiga kata kerja itu?
- Di 30:23 tidur disebut sebagai salah satu tanda, dengan penutup bagi kaum yang mendengarkan, sedangkan di 39:42 tanda-tanda itu bagi kaum yang berpikir. Satu keadaan yang sama, tidur, mendapat dua kelompok pembaca yang berbeda dalam dua ayat. Pembaca yang melihat tidur sebagai urusan jasmani dapat memperhatikan bahwa ayat ini mengundang renungan tentang apa yang terjadi ketika kesadaran padam, tetapi tidak mengatakan apa yang harus disimpulkan. Jika tidur disebut tanda bagi kaum yang berpikir, apa yang dapat dipikirkan seseorang tentang keadaan yang dialaminya tetapi tidak pernah disaksikannya?
- Ayat ini menyebut waktu yang ditentukan, dan tidak menyebut kapan waktu itu tiba. Pembaca dapat memperhatikan bahwa ayat ini memastikan adanya batas, sedangkan letak batas itu tidak disebutkan. Di 6:60 ajal disempurnakan setelah bangun, dan di 39:5 matahari serta bulan beredar menurut waktu yang ditentukan, sehingga kata yang sama dipakai untuk manusia dan benda langit. Seseorang yang menunda hal penting dengan alasan masih ada waktu dapat memperhatikan bahwa ayat ini tidak menjanjikan waktu itu. Bila batas itu sudah ditentukan dan tidak diumumkan, apa arti kata nanti dalam rencana seseorang?
- Dua jiwa dalam ayat ini diperlakukan berbeda: satu ditahan karena kematiannya telah ditetapkan, satu dilepaskan. Ayat tidak menyebut dasar pemilahannya. Pembaca yang terbiasa mencari sebab dari setiap hasil mungkin ingin menjelaskan mengapa dirinya bangun pagi ini dan orang lain tidak. Teks tidak memberi bahan untuk itu, jadi pertanyaannya tetap terbuka dan tidak perlu diisi. Seseorang dapat memperhatikan perasaan yang timbul ketika sebuah hasil tidak punya sebab yang bisa ditunjuk: rasa syukur, rasa takut, atau keinginan untuk membuat alasan. Jika Allah yang menahan dan melepaskan tanpa menyebut dasarnya, bagaimana seseorang menjalani hari yang bukan hasil jasanya?