قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Katakanlah, “Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu apa yang selalu mereka perselisihkan.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِquli llaahumma faathira s-samaawaati wa-l-ardhikatakanlah, Ya Allah, Pencipta langit dan bumi
  2. عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ'aalima l-ghaybi wa-sy-syahaadatiyang mengetahui yang gaib dan yang nyata
  3. أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَanta tahkumu bayna 'ibaadika fii maa kaanuu fiihi yakhtalifuunaEngkaulah yang memutuskan di antara hamba-hamba-Mu apa yang selalu mereka perselisihkan

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. قُلِqulikatakanlah
  2. اللَّهُمَّllaahummaya Allah
  3. فَاطِرَfaathiraPencipta
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  6. عَالِمَ'aalimaYang Mengetahui
  7. الْغَيْبِl-ghaybiyang gaib
  8. وَالشَّهَادَةِwa-sy-syahaadatidan yang tampak
  9. أَنْتَantaEngkau
  10. تَحْكُمُtahkumuEngkau memutuskan
  11. بَيْنَbaynadi antara
  12. عِبَادِكَ'ibaadikahamba-hamba-Mu
  13. فِيfiitentang
  14. مَاmaaapa yang
  15. كَانُواkaanuumereka selalu
  16. فِيهِfiihidi dalamnya
  17. يَخْتَلِفُونَyakhtalifuunamereka berselisih

Inti bacaan

Rangkaian (قُلِ اللَّهُمَّ, quli llaahumma) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 3:26 dan 39:46.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قُلِ اللَّهُمَّ, quli llaahumma) yang berarti "katakanlah, ya Allah". Kata kedua terdiri dari nama Allah dan akhiran seruan -mma, sehingga terjemahan menaruh "ya" di depan nama itu. Bentuk (اللَّهُمَّ, llaahumma) muncul lima kali, yaitu di 3:26, 5:114, 8:32, 10:10, dan 39:46. Di 5:114 yang berseru adalah Isa putra Maryam, di 8:32 orang-orang yang meminta hujan batu dari langit, dan di 10:10 orang-orang beriman yang berada di taman-taman kenikmatan. Rangkaian dengan perintah "katakanlah" di depannya hanya ada di dua ayat, yaitu 3:26 dan 39:46.

Sebutan pertama bagi Allah adalah (فَاطِرَ, faathira) yang berarti "Pencipta", berakar ف-ط-ر. Kata fathir diikuti "langit dan bumi" sebanyak enam kali, yaitu di 6:14, 12:101, 14:10, 35:1, 39:46, dan 42:11, dan terjemahan memakai "Pencipta" di keenamnya. Akhiran -a pada faathira hanya muncul dua kali, di 12:101 dan 39:46, dan di kedua tempat itu Allah disapa langsung: di 12:101 sesudah (رَبِّ, rabbi) yang berarti "Tuhanku", di 39:46 sesudah "ya Allah". Empat ayat yang lain membicarakan Allah dari luar, tanpa menyapa-Nya. Akar yang sama dipakai untuk kata kerja (فَطَرَ, fathara) yang berarti "menciptakan" di 6:79, dan untuk langit di 82:1, (إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ, idzaa s-samaa'u nfatharat) yang berarti "apabila langit terbelah". Padanan Indonesianya mengikuti siapa yang menjadi pelaku: bila Allah pelakunya, "Pencipta" dan "menciptakan"; bila langit sendiri yang menjadi pokok kalimat, "terbelah".

Sebutan kedua adalah (عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, 'aalima l-ghaybi wa-sy-syahaadati) yang berarti "yang mengetahui yang gaib dan yang nyata". Pasangan ghayb dan syahaadah itu muncul sepuluh kali di sembilan surah, yaitu 6:73, 9:94, 9:105, 13:9, 23:92, 32:6, 39:46, 59:22, 62:8, dan 64:18, dan surah 9 memuatnya dua kali. Akhiran -a pada 'aalima hanya ada di 39:46. Di 9:94, 9:105, dan 62:8 sebutan ini datang sesudah kata "dikembalikan", (إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ, ilaa 'aalimi l-ghaybi wa-sy-syahaadati) yang berarti "kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata", lalu disusul pemberitaan tentang apa yang dahulu dikerjakan. Di 39:46 sebutan yang sama disusul kalimat keputusan. Terjemahan tidak menambahkan "segala" di depan "yang gaib" karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya, dan mengulang "yang" di depan "nyata" seperti di 6:73, 9:105, 13:9, 32:6, 59:22, 62:8, dan 64:18.

Kalimat terakhir memuat (تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ, tahkumu bayna 'ibaadika) yang berarti "memutuskan di antara hamba-hamba-Mu", dengan pelaku (أَنْتَ, anta) yang berarti "Engkau". Kata kerja tahkumu berakar ح-ك-م, dan rangkaian tahkumu bayna hanya ada di 39:46. Pelaku keputusan di antara manusia disebut dengan tiga cara di tempat lain. Allah disebut dalam kalimat orang ketiga, (يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ, yahkumu baynahum), dengan kata ganti yang menyesuaikan, tujuh kali di enam surah, yaitu 2:113, 4:141, 16:124, 22:56, 22:69, 39:3, dan 60:10. Penerima wahyu menjadi pelakunya di 4:105, (لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ, li-tahkuma bayna n-naasi) yang berarti "agar engkau memutuskan di antara manusia", dan Daud di 38:26, (فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ, fa-hkum bayna n-naasi) yang berarti "maka berilah keputusan di antara manusia". Di 21:112 akar yang sama ditujukan kepada Allah sebagai permintaan, (رَبِّ احْكُمْ, rabbi hkum) yang berarti "Tuhanku, berilah keputusan". Di 39:46 isinya pernyataan.

Kata (عِبَادِكَ, 'ibaadika) yang berarti "hamba-hamba-Mu" muncul tiga kali, yaitu di 4:118, 27:19, dan 39:46. Di 4:118 pihak yang dilaknat Allah berkata akan mengambil bagian (مِنْ عِبَادِكَ, min 'ibaadika) yang berarti "dari hamba-hamba-Mu", dan di 27:19 Sulaiman memohon masuk (فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ, fii 'ibaadika sh-shaalihiina) yang berarti "ke dalam hamba-hamba-Mu yang saleh". Di 27:19 kata itu diberi sifat "yang saleh", sedangkan di 39:46 tidak ada sifat tambahan, sehingga terjemahan tidak membatasi hamba-hamba itu pada golongan tertentu.

Frasa penutup ayat adalah (فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ, fii maa kaanuu fiihi yakhtalifuuna) yang berarti "tentang apa yang selalu mereka perselisihkan". Rangkaian (كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ, kaanuu fiihi yakhtalifuuna) muncul enam kali, yaitu di 2:113, 10:93, 16:124, 32:25, 39:46, dan 45:17. Lima ayat lainnya menaruh (يَوْمَ الْقِيَامَةِ, yawma l-qiyaamati) yang berarti "pada hari kiamat" tepat di depan frasa itu dan membicarakan Allah atau Tuhan dalam kalimat orang ketiga, sedangkan 39:46 tidak memuat penanda hari. Di 39:3 kata kerja yang sama dipakai dengan bentuk lain, (فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ, fii maa hum fiihi yakhtalifuuna) yang berarti "tentang apa yang mereka perselisihkan", yaitu hum "mereka" menggantikan kaanuu "dahulu". Terjemahan 39:46 memakai "selalu" untuk kaanuu yang diikuti kata kerja sedang, seperti di 10:93 dan 45:17.

Tafsiran

Ayat ini memberi doa yang seluruhnya berupa pernyataan. Sesudah seruan kepada Allah datang dua sebutan dan satu kalimat keputusan, tanpa satu kata kerja permintaan pun. Bentuk yang sama ada di 3:26, yang juga dibuka dengan perintah "katakanlah" dan seruan "ya Allah", lalu berisi pernyataan tentang kekuasaan Allah. Doa yang diucapkan para pelakunya sendiri berbeda: di 5:114 isinya permintaan (أَنْزِلْ, anzil) yang berarti "turunkanlah", dan di 8:32 permintaan (فَأَمْطِرْ, fa-amthir) yang berarti "maka hujanilah".

Dua ayat sebelumnya membentuk latar. Ayat 39:44 juga dibuka dengan "katakanlah" dan menaruh syafaat seluruhnya pada Allah, lalu 39:45 menggambarkan hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat menjadi kesal ketika Allah disebut sendirian. Isi 39:46 seluruhnya berputar pada Allah sebagai pihak yang diseru, disebut, dan bertindak, sehingga ayat ini dapat dibaca sebagai contoh ucapan yang menyebut Allah sendirian. Teksnya tidak menyatakan bahwa ayat ini dimaksudkan sebagai jawaban atas 39:45.

Perkara perselisihan dibawa surah ini berkali-kali, dengan sudut yang berganti. Ayat 39:3 membicarakan keputusan atas orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah dari luar, dalam kalimat orang ketiga. Ayat 39:31 menunjukkan para pihak berbantah-bantahan di hadapan Tuhan mereka. Ayat 39:46 mengucapkan keputusan itu langsung kepada Allah. Ayat 39:69 dan 39:75 kemudian menuturkan bahwa keputusan telah diambil dengan kata kerja pasif (وَقُضِيَ, wa-qudhiya) yang berarti "dan diputuskan", tanpa menyebut pelakunya. Dari 39:3 sampai 39:75 keputusan itu bergerak dari kabar, ke perbantahan, ke ucapan kepada Allah, lalu ke peristiwa.

Dua sebutan di ayat ini langsung disusul kalimat keputusan tanpa kata sambung. Dapat dibaca bahwa pengetahuan atas yang gaib dan yang nyata disebut sebagai dasar keputusan, tetapi ayat tidak menyatakan hubungan sebab itu secara eksplisit. Ayat 39:47 dan 39:48 kemudian menuturkan keadaan orang-orang yang zalim: mereka akan menebus diri, dan keburukan perbuatan mereka tampak. Doa di 39:46 terbaca sebagai pintu masuk ke gambaran itu.

Renungan dan Hikmah

  • Doa di ayat ini berisi seruan, dua sebutan, dan satu kalimat keputusan, tanpa satu pun kata permintaan. Pembaca yang terbiasa menyusun doa sebagai daftar kebutuhan dapat melihat bahwa ucapan yang diajarkan lewat kata "katakanlah" di sini tidak memuat daftar itu. Daftar permintaan sendiri tidak ditolak di sini, sebab doa Isa di 5:114 memuat permintaan dan sama-sama tertulis dalam Al-Qur'an. Pembaca dapat memperhatikan doanya sendiri pekan ini: berapa kalimat yang menyebut siapa yang diseru, dan berapa kalimat yang langsung meminta? Bila Dia disebut lebih dulu dan lebih lama, apa yang berubah pada permintaan yang menyusul?
  • Kalimat keputusan di ayat ini menyebut "hamba-hamba-Mu" tanpa sifat tambahan, dan perselisihan yang diputuskan terjadi di antara mereka. Pembaca yang sedang berselisih dengan seseorang, dalam keluarga, pekerjaan, atau urusan harta, mendapati lawannya berada dalam sebutan yang sama dengan dirinya. Kata yang dipakai ayat itu tidak memisahkan satu pihak sebagai hamba dan pihak lain sebagai sesuatu yang lain. Ayat ini tidak menyatakan siapa yang benar di antara mereka, dan tidak menyebut perselisihan mana yang dimaksud. Bagaimana perselisihan itu terasa bila lawannya dibaca sebagai hamba Allah yang sama sedang berdiri di sisinya?
  • Dua sebutan Allah di ayat ini bertemu di kalimat keputusan: Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan. Pembaca yang yakin bukti di pihaknya sudah lengkap berhadapan dengan sebutan bahwa pengetahuan Allah mencakup dua sisi, yang nyata dan yang gaib. Bukti pihak mana pun tidak dinilai kurang; yang disebut ayat adalah siapa yang memutuskan, yaitu Dia yang mengetahui keduanya. Bagian mana dari perkara yang sedang diperselisihkan, entah niat orang lain atau akibat yang belum terjadi, berada di sisi yang tidak pernah bisa dibawa ke meja perdebatan?
  • Perkara yang menyita sebuah malam di meja makan atau di ruang rapat disebut, dalam ayat ini, di hadapan Pencipta langit dan bumi. Kedua ukuran itu disandingkan oleh satu ayat tanpa penjelasan. Pembaca dapat menaruh perselisihannya sendiri di sebelah sebutan itu dan memperhatikan bagian mana yang mengecil dan bagian mana yang tetap. Ayat menjejerkan Dia yang menciptakan langit dan bumi dengan segala yang diperselisihkan hamba-hamba-Nya, tanpa menimbang besar kecilnya perkara. Apa yang tersisa dari argumen yang disiapkan untuk besok, bila dibacakan dengan sebutan itu di depannya?
  • Lima ayat lain yang memuat frasa perselisihan yang sama menaruh "pada hari kiamat" di depannya, sedangkan ayat ini tidak memuat penanda hari. Pembaca yang sedang menunggu kejelasan atas sebuah sengketa dapat bertanya, bagaimana doa tanpa tanggal terdengar di telinga orang yang menghitung hari? Bagaimana pula kalimat itu terdengar ketika Dia disebut sebagai pemutus perkara?
  • Ayat sebelumnya, 39:45, menggambarkan hati yang kesal ketika Allah disebut sendirian. Ayat ini kemudian terdiri dari kalimat yang hanya memuat Allah: seruan kepada-Nya, dua sebutan bagi-Nya, dan satu pernyataan tentang tindakan-Nya. Pembaca dapat membaca ayat ini sampai habis dan memperhatikan apa yang terjadi di dalam dirinya pada kata pertama, pada sebutan kedua, dan pada kalimat keputusan di ujung. Hati yang tenang di kata pertama dan gelisah di kalimat terakhir menyimpan keterangan yang berbeda dari hati yang gelisah sejak awal. Di bagian mana ayat ini mulai terasa berat?