فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Maka apabila ditimpa mudarat, manusia menyeru Kami. Kemudian, apabila Kami memberikan nikmat sebagai anugerah Kami kepadanya, dia berkata, “Sesungguhnya aku diberikan itu hanya karena pengetahuan.” Sebenarnya, itu adalah cobaan, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَانَاfa-idzaa massa l-insaana dhurrun da'aanaamaka apabila ditimpa mudarat, manusia menyeru Kami
  2. ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّاtsumma idzaa khawwalnaahu ni'matan minnaakemudian, apabila Kami memberikan nikmat sebagai anugerah Kami kepadanya
  3. قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍqaala innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmindia berkata, sesungguhnya aku diberikan itu hanya karena pengetahuan
  4. بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَbal hiya fitnatun wa-laakinna aktsarahum laa ya'lamuunasebenarnya, itu adalah cobaan, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui

Terjemahan per kata (22 kata)

  1. فَإِذَاfa-idzaamaka apabila
  2. مَسَّmassamenyentuh
  3. الْإِنْسَانَl-insaanamanusia
  4. ضُرٌّdhurrunmudarat
  5. دَعَانَاda'aanaamenyeru Kami
  6. ثُمَّtsummakemudian
  7. إِذَاidzaaapabila
  8. خَوَّلْنَاهُkhawwalnaahuKami menganugerahinya
  9. نِعْمَةًni'matannikmat
  10. مِنَّاminnaadari Kami
  11. قَالَqaalaberkata
  12. إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
  13. أُوتِيتُهُuutiituhuaku diberi
  14. عَلَىٰ'alaaatas
  15. عِلْمٍ'ilminpengetahuan
  16. بَلْbalbahkan
  17. هِيَhiyaia
  18. فِتْنَةٌfitnatunfitnah
  19. وَلَٰكِنَّwa-laakinnatetapi
  20. أَكْثَرَهُمْaktsarahumkebanyakan mereka
  21. لَاlaatidak
  22. يَعْلَمُونَya'lamuunamengetahui

Inti bacaan

Rangkaian (إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmin) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 28:78 dan 39:49.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (فَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ, fa-idzaa massa l-insaana dhurrun) yang berarti "maka apabila mudarat menimpa manusia". Huruf (فَ, fa) yang berarti "maka" menyambung ayat ini dengan 39:48, dan terjemahan memakai "maka apabila" seperti di 15:29, 16:98, dan 17:5. Kata (ضُرٌّ, dhurrun) berakar ض-ر-ر, dan bentuk persis ini ada di tiga ayat, yaitu 30:33, 39:8, dan 39:49. Terjemahan memakai "mudarat" seperti di 39:8, dan "kemudaratan" di 16:53 dan 17:67 yang memuat susunan serupa. Rangkaian (مَسَّ الْإِنْسَانَ, massa l-insaana) yang berarti "menimpa manusia" muncul tiga kali, yaitu di 10:12, 39:8, dan 39:49.

Kata kerja berikutnya adalah (دَعَانَا, da'aanaa) yang berarti "menyeru Kami", dengan akhiran -naa sebagai objek. Kata ini hanya ada di 10:12 dan 39:49. Di 39:8 objeknya "Tuhannya", (دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ, da'aa rabbahu muniiban ilayhi) yang berarti "ia menyeru Tuhannya dengan kembali kepada-Nya", dan di 10:12 seruan itu diberi keterangan sikap, (لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا, li-janbihi aw qaa'idan aw qaa'iman) yang berarti "dalam keadaan berbaring, atau duduk, atau berdiri". Di 39:49 seruan itu tidak diberi keterangan cara apa pun.

Pemberian nikmat dituturkan dengan (خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِنَّا, khawwalnaahu ni'matan minnaa) yang berarti "Kami memberikan kepadanya nikmat sebagai anugerah Kami". Kata kerja (خَوَّلْنَاهُ, khawwalnaahu) berakar خ-و-ل dan muncul di tiga ayat, yaitu 6:94, 39:8, dan 39:49. Di 6:94 bunyinya (مَا خَوَّلْنَاكُمْ, maa khawwalnaakum) yang berarti "apa yang Kami anugerahkan kepada kalian", dan di 39:8 (خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ, khawwalahu ni'matan minhu) yang berarti "Dia memberinya nikmat dari-Nya". Terjemahan 39:49 memakai "memberikan" untuk kata kerjanya. Frasa (نِعْمَةً مِنَّا, ni'matan minnaa) muncul di 39:49 saja. Kata (مِنَّا, minnaa) yang berarti "dari Kami" menyebut asal nikmat itu dalam kalimat yang sama dengan nikmatnya.

Ucapan manusia berbunyi (قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, qaala innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmin) yang berarti "dia berkata, 'Sesungguhnya aku diberikan itu hanya karena pengetahuan'". Kata kerja (أُوتِيتُهُ, uutiituhu) berbentuk pasif, "aku diberi", sehingga siapa yang memberi tidak disebut dalam ucapan itu, sedangkan kalimat penuturnya sebelum itu menyebut pemberinya dengan "Kami". Rangkaian (إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmin) muncul dua kali, yaitu di 28:78 dan 39:49, dan di 28:78 ditambah (عِنْدِي, 'indii) yang berarti "ada padaku", yang tidak ada di 39:49. Rangkaian (عَلَىٰ عِلْمٍ, 'alaa 'ilmin) lima kali ada di Al-Qur'an, yaitu di 7:52, 28:78, 39:49, 44:32, dan 45:23. Di tiga ayat yang bertindak adalah Allah atau Kami, yaitu (فَصَّلْنَاهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, fashshalnaahu 'alaa 'ilmin) di 7:52, (اخْتَرْنَاهُمْ عَلَىٰ عِلْمٍ, khtarnaahum 'alaa 'ilmin) di 44:32, dan (وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, wa-adhallahu llaahu 'alaa 'ilmin) di 45:23. Di dua ayat lainnya, 28:78 dan 39:49, rangkaian yang sama diucapkan manusia untuk menjelaskan sebab pemberian yang diterimanya.

Jawaban ayat berbunyi (بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ, bal hiya fitnatun) yang berarti "sebenarnya, itu adalah cobaan". Kata (بَلْ, bal) "sebenarnya" menolak ucapan yang baru dikutip, seperti di 4:155, (بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ, bal thaba'a llaahu 'alayhaa bi-kufrihim) yang berarti "sebenarnya Allah telah mengunci hati mereka karena kekufuran mereka", yang menjawab ucapan "Hati kami tertutup", dan seperti di 29:49. Kata ganti (هِيَ, hiya) berbentuk perempuan, sama dengan nikmat (نِعْمَةً, ni'matan) yang juga perempuan, sedangkan (عِلْمٍ, 'ilmin) dan (ضُرٌّ, dhurrun) berbentuk laki-laki menurut data morfologi. Karena itu "itu" dapat dibaca menunjuk nikmat yang diberikan, yang oleh pembicara disebut hasil pengetahuannya. Kata (فِتْنَةٌ, fitnatun) berbentuk persis ini muncul sebelas kali di delapan surah, yaitu 2:102, 2:193, 5:71, 8:28, 8:39, 8:73, 21:111, 22:11, 24:63, 39:49, dan 64:15. Terjemahan memakai "cobaan" untuk bentuk ini di 21:111, 22:11, 24:63, dan 64:15, dan di 39:49 nikmat yang disebut cobaan itu berasal dari Kami.

Kalimat terakhir adalah (وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ, wa-laakinna aktsarahum laa ya'lamuuna) yang berarti "tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui". Frasa ini ada di sembilan ayat, yaitu 6:37, 7:131, 8:34, 10:55, 28:13, 28:57, 39:49, 44:39, dan 52:47. Kata kerja (يَعْلَمُونَ, ya'lamuuna) berakar ع-ل-م, akar yang sama dengan (عِلْمٍ, 'ilmin) yang diklaim pembicara di tengah ayat. Kata kerja itu tidak punya objek, jadi yang tidak diketahui tidak dinamai. Kata (أَكْثَرَهُمْ, aktsarahum) "kebanyakan mereka" berbentuk jamak, sedangkan pembicara di awal ayat tunggal, "manusia".

Tafsiran

Ayat ini melukiskan satu alur dalam tiga gerak. Manusia ditimpa mudarat dan menyeru Kami, nikmat diberikan kepadanya, lalu dia mengaku bahwa nikmat itu miliknya karena pengetahuan. Dua gerak pertama dituturkan dengan kata Kami sebagai pelaku yang diseru dan yang memberi, dan gerak ketiga dituturkan lewat mulut manusia itu sendiri. Ayat ditutup dengan penilaian atas gerak ketiga.

Alur yang sama dituturkan di dua tempat lain dengan akhir yang berbeda. Di 10:12 manusia yang sudah dilepaskan dari kesusahannya berlalu seakan-akan tidak pernah menyeru, dan di 39:8 manusia yang sudah diberi nikmat lupa kepada apa yang dahulu diserukannya dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah. Dua dari tiga ayat itu berada dalam surah yang sama, sehingga surah 39 menaruh dua potret dari satu alur yang bermula sama: lupa dan menyekutukan di 39:8, lalu mengklaim pengetahuan di 39:49. Di 39:49 manusia berbicara sendirian, dan ucapannya disambut langsung oleh ayat tanpa kata pengantar.

Jawaban ayat tidak membantah bahwa pengetahuan itu ada. Jawabannya memberi nama baru pada nikmat itu: cobaan. Nikmat itu ditaruh dalam kelompok yang sama dengan hal-hal lain yang dinamai cobaan di ayat lain, tanpa merinci apa yang diuji. Di 28:78 ucapan yang sama ditanggapi dengan pertanyaan tentang generasi-generasi yang sudah dibinasakan, (أَوَلَمْ يَعْلَمْ, a-wa-lam ya'lam) yang berarti "tidakkah dia tahu". Di 39:49 tanggapannya pendek, dan tanggapan yang lebih panjang datang di ayat-ayat berikutnya: 39:50 menyebut bahwa orang-orang sebelum mereka pun telah mengatakan hal itu, dan 39:52 membuka dengan (أَوَلَمْ يَعْلَمُوا, a-wa-lam ya'lamuu) yang berarti "tidakkah mereka mengetahui".

Pergeseran dari manusia tunggal ke "kebanyakan mereka" di ujung ayat menaikkan potret satu orang menjadi kenyataan banyak orang. Kata kebanyakan menyebut sebagian besar, tidak semua. Akar pengetahuan muncul dua kali dengan arah berlawanan: manusia mengklaimnya di tengah ayat, dan ayat menyangkalnya di ujung untuk kebanyakan mereka.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini memuat dua ucapan dari manusia yang sama, satu ketika mudarat menimpa dan satu ketika nikmat datang. Ucapan pertama ditujukan kepada pihak yang berbicara dengan kata Kami, yaitu Dia yang juga memberi nikmat itu. Ucapan kedua berbicara tentang pengetahuan diri sendiri. Pembaca dapat membandingkan dua catatan dalam hidupnya sendiri, yaitu kata-kata yang keluar pada hari yang berat dan kata-kata yang keluar pada hari yang lapang, lalu memperhatikan apakah alamat bicaranya berpindah. Kepada siapa kalimat-kalimat pada hari lapang itu paling sering ditujukan?
  • Manusia di ayat ini berkata "aku diberi" dalam bentuk pasif, tanpa menyebut siapa yang memberi, sedangkan kalimat penutur sebelumnya menyebut pemberinya dengan jelas: Kami. Hilangnya pemberi dalam kalimat manusia tidak membuat pemberian itu hilang, hanya namanya yang tak disebut. Pembaca yang menceritakan keberhasilannya dengan kalimat seperti "dapat rezeki", "naik jabatan", atau "terpilih" dapat memperhatikan kalimat pasif itu dari dekat. Dalam kalimat-kalimat itu, nama siapa yang tidak disebut, dan apakah Dia yang disebut sebagai pemberi nikmat di ayat ini termasuk di antaranya?
  • Ayat ini tidak membantah bahwa manusia itu memiliki pengetahuan. Kalimat jawabannya berpindah ke hal lain: nikmat yang dipegang manusia itu dinamai cobaan. Sebab yang dikatakan manusia memakai kata yang membatasi, bahwa nikmat itu diterimanya hanya karena pengetahuan, dan jawaban ayat tidak membahas kebenaran batas itu satu per satu. Pembaca yang pernah menjelaskan sebuah keberhasilan dengan satu sebab tunggal, entah kerja keras, kecerdasan, atau koneksi, dapat menghitung sebab-sebab lain yang tidak masuk kalimatnya. Berapa banyak sebab yang tidak disebutnya waktu itu, dan mana yang paling mudah terlupa?
  • Alur yang bermula dari mudarat dan seruan dituturkan tiga kali dengan tiga akhir. Di 10:12 manusia berlalu seakan-akan tidak pernah menyeru. Di 39:8 manusia lupa dan menjadikan tandingan bagi Allah. Di 39:49 manusia menyebut nikmat itu hasil pengetahuannya. Ketiganya dimulai dengan kalimat yang hampir sama, sehingga awal yang sama tidak menentukan akhir yang mana. Pembaca dapat bertanya akhir mana yang paling dekat dengan kebiasaannya sendiri sehabis melewati hari yang sulit: lupa, menyekutukan, atau mengklaim? Atau ada akhir keempat yang belum tertulis dan sedang dijalaninya sekarang?
  • Akar yang sama dipakai dua kali dengan arah berlawanan: manusia mengaku punya pengetahuan, dan ayat ditutup dengan "kebanyakan mereka tidak mengetahui". Kata kerja "mengetahui" di ujung tidak punya objek, sehingga tidak tertulis apa yang tidak diketahui itu. Ketiadaan objek membuat kalimat itu terbuka bagi pembaca yang ingin mengisinya sendiri, entah dengan hal-hal yang jauh atau dengan hal-hal yang dekat. Pembaca dapat meninjau ulang sebab keberhasilannya sendiri dengan kata kerja yang tidak punya objek itu di depan matanya. Apa kira-kira yang belum diketahuinya tentang nikmat yang sedang dinikmatinya, dan siapa yang bisa ditanya?
  • Nikmat di ayat ini disebut berasal "dari Kami" dan sekaligus dinamai cobaan. Dua keterangan itu ditaruh dalam satu kalimat tentang benda yang sama. Pembaca yang memandang nikmat hanya sebagai hasil, upah, atau milik dapat menaruh keterangan ketiga di samping dua yang pertama dan melihat bagaimana bendanya berubah. Soal apa yang ditanyakan dalam cobaan itu tidak dirinci, sehingga tidak ada kunci jawaban yang bisa dicontek dari ayat ini. Bagaimana rasanya memegang sesuatu yang ditulis "dari Kami" di satu sisi dan "cobaan" di sisi lain, tanpa lembar soalnya?