أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya? Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَوَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُa-wa-lam ya'lamuu anna llaaha yabsuthu r-rizqa li-man yasyaa'u wa-yaqdirutidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya
- إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَinna fii dzaalika la-aayaatin li-qawmin yu'minuunasesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman
Terjemahan per kata (15 kata)
- أَوَلَمْa-wa-lamdan tidakkah
- يَعْلَمُواya'lamuumereka mengetahui
- أَنَّannabahwa
- اللَّهَllaahaAllah
- يَبْسُطُyabsuthumelapangkan
- الرِّزْقَr-rizqarezeki
- لِمَنْli-manbagi siapa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- وَيَقْدِرُwa-yaqdirudan Dia menyempitkan
- إِنَّinnasesungguhnya
- فِيfiipada
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- لَآيَاتٍla-aayaatinbenar-benar tanda-tanda
- لِقَوْمٍli-qawminbagi kaum
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
Inti bacaan
Pasangan (يَبْسُطُ الرِّزْقَ, yabsuthu r-rizqa) dan (وَيَقْدِرُ, wa-yaqdiru) muncul bersama sembilan kali di Al-Qur'an (13:26, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, 42:12), dan hanya 30:37 yang memakai kalimat penutup yang sama dengan 39:52.
Penjelasan pilihan kata
Pertanyaan pembuka (أَوَلَمْ يَعْلَمُوا, a-wa-lam ya'lamuu) yang berarti "tidakkah mereka mengetahui" tersusun dari huruf tanya, kata sambung "dan", kata penolak (لَمْ, lam) yang berarti "tidak", dan kata kerja (يَعْلَمُوا, ya'lamuu) dari akar ع-ل-م. Bentuk utuh ini hanya muncul di 39:52. Kalimat yang hampir sama, (أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ, a-wa-lam yaraw anna llaaha) yang berarti "tidakkah mereka memperhatikan bahwa Allah", muncul empat kali di empat surah, yaitu 17:99, 30:37, 41:15, dan 46:33. Dari keempatnya, 30:37 disusul isi yang sama dengan 39:52, dan seluruh kalimat sesudah kata kerja pertamanya sama dengan 39:52 sampai kata terakhir. Perbedaannya satu kata kerja: 30:37 memakai (يَرَوْا, yaraw) dari akar ر-أ-ي yang diterjemahkan "memperhatikan", sedangkan 39:52 memakai ya'lamuu. Terjemahan 39:52 memakai "mengetahui" dan tidak meniru 30:37. Dalam tuturan yang berdekatan dengan kalimat rezeki, akar yang sama muncul sebagai (لَا يَعْلَمُونَ, laa ya'lamuuna) yang berarti "tidak mengetahui" di 34:36 dan 39:49.
Susunan (يَبْسُطُ الرِّزْقَ, yabsuthu r-rizqa) yang berarti "melapangkan rezeki" berakar ب-س-ط dan muncul 9 kali di 8 surah, yaitu 13:26, 17:30, 28:82, 29:62, 30:37, 34:36, 34:39, 39:52, dan 42:12. Surah 34 memuatnya dua kali, jadi angka sembilan dan delapan sama-sama benar. Di kesembilan tempat itu (وَيَقْدِرُ, wa-yaqdiru) yang berarti "dan menyempitkan" menyusul, dan keduanya digantungkan pada (لِمَنْ يَشَاءُ, li-man yasyaa'u) yang berarti "bagi siapa yang Dia kehendaki". Tiga ayat menambahkan (مِنْ عِبَادِهِ, min 'ibaadihi) yang berarti "di antara hamba-hamba-Nya", yaitu 28:82, 29:62, dan 34:39, sedangkan 39:52 tidak membatasi penerimanya dengan tambahan itu. Dua ayat menambahkan objek pada kata kerja kedua, (وَيَقْدِرُ لَهُ, wa-yaqdiru lahu) yang berarti "dan menyempitkan baginya", yaitu 29:62 dan 34:39. Di 39:52 kata kerja itu berdiri tanpa objek. Akhiran -nya pada "menyempitkannya" mengikuti kebutuhan bahasa Indonesia, sedangkan teks Arabnya tidak memuatnya.
Akar ق-د-ر pada wa-yaqdiru dipakai juga untuk ukuran. Di 42:27, (وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ, wa-law basatha llaahu r-rizqa li-'ibaadihi) yang berarti "dan seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya" disusul (يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ, yunazzilu bi-qadarin) yang berarti "Dia menurunkan dengan ukuran". Di 65:7, (قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ, qudira 'alayhi rizquhu) yang berarti "disempitkan rezekinya" menempatkan rezeki sebagai hal yang dikenai kata kerja itu. Di 2:245 pasangan sejenis memakai kata kerja lain dengan urutan terbalik, (يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ, yaqbidhu wa-yabsuthu) yang berarti "menyempitkan dan melapangkan", dan tidak menyebut rezeki.
Penutup (إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ, inna fii dzaalika la-aayaatin li-qawmin yu'minuuna) yang berarti "sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang beriman" memuat (لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ, la-aayaatin li-qawmin yu'minuuna) yang muncul enam kali di enam surah, yaitu 6:99, 16:79, 27:86, 29:24, 30:37, dan 39:52. Penutup itu dipasang pada hal yang berlainan: tumbuhan dan buah di 6:99, burung di 16:79, malam dan siang di 27:86, penyelamatan dari api di 29:24, dan di 30:37 serta 39:52 pada rezeki yang dilapangkan dan disempitkan. Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) yang berarti "yang demikian itu" di 39:52 menunjuk pada pasangan melapangkan dan menyempitkan yang baru disebut. Kata (يُؤْمِنُونَ, yu'minuuna) berupa kata kerja dan berbeda dari kata benda (الْمُؤْمِنِينَ, l-mu'miniina), sehingga terjemahan memakai "kaum yang beriman" dengan "beriman" sebagai kata kerja dalam anak kalimat. Akar ا-ي-ي pada (آيَاتٍ, aayaatin) diterjemahkan "tanda-tanda" tanpa tambahan "kebesaran" atau "kekuasaan", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.
Tafsiran
Pertanyaan di 39:52 menjawab ucapan di 39:49. Di sana manusia yang baru diberi nikmat berkata (إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ, innamaa uutiituhu 'alaa 'ilmin) yang berarti "sesungguhnya aku diberikan itu hanya karena pengetahuan", dan bentuk persis itu muncul dua kali, yaitu 28:78 dan 39:49. Ayat 39:50 menyebut orang-orang sebelum mereka sudah mengatakan hal yang sama tanpa hasil, 39:51 menyebut akibat perbuatan mereka, lalu 39:52 bertanya apakah mereka tidak mengetahui sesuatu. Akar yang dipakai untuk pertanyaan itu sama dengan akar yang dipakai manusia untuk membela diri, jadi ucapan "karena pengetahuan" dijawab dengan pertanyaan tentang pengetahuan yang lain: apa yang dilakukan Allah terhadap rezeki.
Kalimat rezeki itu muncul dalam urutan berbeda di 28:82. Di surah 28, ucapan yang sama dengan 39:49 dituturkan di 28:78, lalu 28:81 menuturkan akibatnya, dan sesudah itu orang-orang yang kemarin menginginkan kedudukan itu berkata (وَيْكَأَنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ, wayka'anna llaaha yabsuthu r-rizqa) yang berarti "aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki". Di 28:82 kalimat itu diucapkan sesudah kejadian oleh orang-orang yang menyaksikannya, sedangkan di 39:52 kalimat itu berupa pertanyaan yang diajukan sebelum akibatnya tertulis. Bagian ini tidak menyebut apakah orang-orang di 39:49 akhirnya menjawab pertanyaan itu.
Ayat ini juga membagi dua pihak. Pertanyaan ditujukan kepada "mereka", sedangkan tanda-tanda disebut berada pada kejadian itu bagi "kaum yang beriman". Teks tidak menyebut bahwa pihak pertama termasuk pihak kedua, dan juga tidak menyebut bahwa mereka tidak termasuk. Ayat 39:53 setelah ini membuka dengan perintah berbicara dan sapaan baru, sehingga pertanyaan di 39:52 menutup bagian yang dimulai dari ucapan manusia di 39:49.
Renungan dan Hikmah
- Ayat 39:52 menaruh melapangkan dan menyempitkan sebagai dua perbuatan Allah dalam satu kalimat, tanpa menyebut salah satunya hukuman dan satunya hadiah. Di 89:15 manusia yang diuji lalu dimuliakan berkata, "Tuhanku telah memuliakanku", dan di 89:16 manusia yang rezekinya dibatasi berkata, "Tuhanku telah menghinaku". Ayat 89:17 menyambung dengan "Sekali-kali tidak!", lalu menyebut anak yatim. Ayat 89:15 sampai 89:16 berbicara tentang ujian dan 39:52 tentang tanda, sehingga keduanya tidak disamakan. Satu pembacaan dapat dicoba: kata penolakan itu menolak kedua kesimpulan sekaligus, sehingga ukuran yang dipakai manusia untuk menilai dirinya dari isi dompet adalah ukuran yang dibantah oleh teks yang sama. Ketika rezekinya menipis, kalimat apa yang pertama terbentuk di dalam diri pembaca, dan apakah kalimat itu pernah ditimbang dengan 89:17?
- Kata pengetahuan dipakai sebagai alasan manusia di 39:49 dan sebagai pertanyaan di 39:52. Di 28:78 alasan yang sama diucapkan seorang pemilik harta, dan di 28:80 orang-orang yang dianugerahi ilmu menjawabnya dengan, "Pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh." Dalam satu surah yang sama, ilmu dipakai dua kelompok untuk dua kesimpulan yang berlawanan. Pembaca dapat menimbang ilmu macam apa yang disebutnya ketika menjelaskan keberhasilannya sendiri: ilmu tentang cara kerjanya, atau ilmu tentang siapa yang melapangkan jalan itu. Adakah yang diketahuinya tentang rezekinya yang tidak bisa dikatakan tanpa menyebut Allah?
- Kalimat tentang melapangkan dan menyempitkan rezeki dituturkan di 28:82 oleh orang-orang yang menyaksikan akibatnya, sedangkan di 39:52 kalimat itu menjadi pertanyaan sebelum akibat apa pun tertulis. Perbedaan waktu ini memberi bahan renungan: kalimat itu di 28:82 baru diucapkan sesudah keadaan pemilik harta itu berbalik, sedangkan di 39:52 kalimat itu ditawarkan lebih dulu. Dua tuturan itu berasal dari konteks yang berbeda, satu tentang penonton sebuah kejatuhan dan satu tentang orang yang sedang membela diri, jadi keduanya tidak dilebur. Dapat dibaca bahwa kalimat yang sama bisa menjadi pengantar yang tenang atau seruan yang terlambat, tergantung kapan kalimat itu diucapkan. Kapan terakhir pembaca mengucapkannya, sebelum atau sesudah keadaan berbalik?
- Ayat ini membagi pembicaraannya: pertanyaan untuk mereka yang bertanya-tanya, tanda-tanda untuk kaum yang beriman. Kejadian yang disebut sama, yaitu rezeki yang lapang dan rezeki yang sempit, dan yang berbeda ialah siapa yang menamainya tanda. Ayat 39:52 menyebut kaum yang beriman sebagai pihak yang membaca kelapangan dan kesempitan itu sebagai tanda. Dua orang dapat menerima gaji yang sama besar pada bulan yang sama, satu menyebutnya hasil kerjanya dan satu menyebutnya sesuatu yang dilapangkan Tuhannya. Dalam keadaan yang sama persis, pembaca berada di pihak mana ketika menyebut apa yang diterimanya?
- Di 65:7 orang yang rezekinya disempitkan diminta memberi nafkah dari apa yang dianugerahkan Allah kepadanya, dan ayat itu melanjutkan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan dengan apa yang dianugerahkan-Nya, lalu menutup dengan janji kelapangan sesudah kesempitan. Ayat 65:7 berbicara tentang nafkah dan 39:52 tentang tanda, jadi keduanya tidak dipertukarkan. Dipasang berdampingan, 39:52 menyebut kesempitan sebagai perbuatan Allah dan 65:7 menyebutnya sebagai keadaan yang tetap dihitung menurut kadar yang ada. Orang yang merasa tidak punya apa-apa dapat menghitung ulang: apa yang sebenarnya masih ada di tangannya, dan kepada siapa itu bisa sampai?
- Ayat 42:27 mengaitkan kelapangan rezeki bagi semua hamba dengan kemungkinan mereka melampaui batas di bumi, lalu menyebut bahwa Allah menurunkan rezeki dengan ukuran yang Dia kehendaki. Ayat 42:27 membicarakan keadaan seandainya semua hamba dilapangkan, sedangkan 39:52 membicarakan dua keadaan yang dibagi, sehingga kedua ayat tidak diperlakukan sama. Dapat dibaca bahwa ukuran menjadi bagian dari cara rezeki sampai kepada manusia, dan 42:27 tidak menyebutnya penahanan. Pembaca yang sedang menunggu kelapangan dapat bertanya apa yang akan dilakukannya dengan kelapangan itu, dan apakah pembaca tahu seberapa jauh dirinya sanggup menjaga batas bila kelapangan datang lebih besar dari ukurannya sekarang?