قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas dirinya sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih,

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْqul yaa 'ibaadiya lladziina asrafuu 'alaa anfusihimkatakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas dirinya sendiri
  2. لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِlaa taqnathuu min rahmati llaahijanganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah
  3. إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًاinna llaaha yaghfiru dz-dzunuuba jamii'ansesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya
  4. إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُinnahu huwa l-ghafuuru r-rahiimusesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih

Terjemahan per kata (21 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. يَاyaawahai
  3. عِبَادِيَ'ibaadiyahamba-hamba-Ku
  4. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  5. أَسْرَفُواasrafuumereka melampaui batas
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. أَنْفُسِهِمْanfusihimdiri mereka sendiri
  8. لَاlaajanganlah
  9. تَقْنَطُواtaqnathuukalian berputus asa
  10. مِنْmindari
  11. رَحْمَةِrahmatirahmat
  12. اللَّهِllaahiAllah
  13. إِنَّinnasesungguhnya
  14. اللَّهَllaahaAllah
  15. يَغْفِرُyaghfirumengampuni
  16. الذُّنُوبَdz-dzunuubadosa-dosa
  17. جَمِيعًاjamii'ansemuanya
  18. إِنَّهُinnahusesungguhnya
  19. هُوَhuwaDialah
  20. الْغَفُورُl-ghafuuruMaha Pengampun
  21. الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih

Inti bacaan

Sapaan hangat di larik ini, wahai hamba-hamba-Ku, terdengar berbeda jauh dari nada sebuah aturan yang dingin dan formal. Kehangatan semacam itu gampang membuat pembaca melompat cepat ke kata 'semuanya' tanpa sempat menimbang keterangan yang menyertainya di awal kalimat, padahal justru keterangan itulah yang memberi arah pada seluruh maksud ayat ini.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan perintah berbicara, "katakanlah" (قُلْ, qul), diikuti sapaan langsung, "wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas atas dirinya sendiri" (يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ, yaa 'ibaadiya lladziina asrafuu 'alaa anfusihim). Kata "asrafuu" (أَسْرَفُوا) berarti melampaui batas, dan kata sesudahnya, "'alaa anfusihim" (عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ), "atas diri mereka sendiri", menempel langsung pada kata itu tanpa jeda. Rangkaian persis ini, "asrafuu 'alaa anfusihim", hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini saja.

Sapaan ini disusul larangan berputus asa, "janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah" (لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ, laa taqnathuu min rahmati llaahi), lalu pernyataan yang menjadi inti ayat ini, "sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya" (إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا, inna llaaha yaghfiru dz-dzunuuba jamii'an). Rangkaian persis ini juga hapax, hanya muncul di ayat ini. Kata "jamii'an" (جَمِيعًا), "semuanya", adalah kata yang menegaskan cakupan tanpa kecuali yang disebutkan secara eksplisit di dalam ayat itu sendiri.

Dibaca berdiri sendiri, kalimat "Allah mengampuni dosa semuanya" tidak menyebutkan kekecualian apa pun. Namun ayat ini tidak berdiri sendiri di dalam Al-Qur'an. Dua ayat lain, 4:48 dan 4:116, menyatakan hal yang berbeda dengan rangkaian kata yang juga persis sama di keduanya, "sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni jika Dia dipersekutukan" (إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ). Dua ayat itu secara eksplisit mengecualikan satu dosa dari cakupan ampunan Allah, mempersekutukan-Nya.

Membaca ketiga ayat ini bersama menghadirkan dua kemungkinan bacaan yang sama-sama berpijak pada teks. Bacaan pertama membaca "dosa semuanya" di ayat ini apa adanya, sebagai cakupan yang benar-benar tanpa kecuali, tanpa mempertimbangkan ayat lain. Bacaan kedua memperhatikan sapaan yang membuka ayat ini, "yang melampaui batas atas dirinya sendiri". Sapaan ini secara eksplisit menyebut jenis pelanggaran tertentu, pelanggaran yang mengenai diri sendiri, dan bacaan kedua ini membaca cakupan "dosa semuanya" sebagai dosa dalam kategori itu, diselaraskan dengan pengecualian eksplisit di 4:48 dan 4:116 yang menyebut mempersekutukan Allah sebagai pelanggaran atas kedudukan Allah, bukan atas diri sendiri semata. Ayat ini sendiri tidak menyebutkan secara eksplisit mana dari dua bacaan itu yang dimaksudkan, dan kedua bacaan itu sama-sama layak dicatat sebagai pembacaan yang mungkin.

Ayat ini ditutup dengan penegasan sifat Allah, "sesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih" (إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ, innahu huwa l-ghafuuru r-rahiimu). Dua kata sifat ini, "al-ghafuur" dan "ar-rahiim", berulang di banyak ayat lain dalam Al-Qur'an sebagai pasangan yang menutup pesan tentang pengampunan, sebuah pola yang menegaskan bahwa seruan di ayat ini sejalan dengan pola yang lebih luas.

Tafsiran

Ayat ini adalah salah satu seruan rahmat paling terbuka dalam Al-Qur'an. Ia disampaikan sebagai ajakan, bukan sebagai penjelasan hukum yang dingin. Larangan berputus asa yang mendahului pernyataan tentang ampunan menunjukkan bahwa tujuan utama ayat ini adalah menahan seseorang dari keputusasaan, bukan menetapkan rincian teknis tentang dosa mana saja yang termasuk di dalamnya.

Namun pertanyaan tentang cakupan "dosa semuanya" tetap layak diajukan, sebab Al-Qur'an sendiri menyebutkan satu pengecualian yang eksplisit di dua tempat lain, mempersekutukan Allah. Ada dua cara membaca hal ini tanpa mengabaikan salah satu ayat. Cara pertama membiarkan ayat ini berlaku seluas kata-katanya, "semuanya" berarti benar-benar semua, tanpa kekecualian apa pun disebutkan di sini. Cara kedua memperhatikan bahwa sapaan ayat ini secara khusus ditujukan kepada mereka "yang melampaui batas atas dirinya sendiri", sebuah kategori pelanggaran yang berbeda dari mempersekutukan Allah, yang justru merupakan pelanggaran atas kedudukan Allah sendiri, bukan sekadar atas diri sendiri.

Kedua bacaan ini sama-sama bertumpu pada teks, dan Al-Qur'an sendiri tidak menyatakan secara eksplisit di ayat ini mana yang dimaksudkan. Yang bisa dipastikan dari membaca ketiga ayat bersama adalah bahwa nasib seseorang tidak ditentukan oleh satu dosa yang berdiri sendiri, melainkan oleh keseluruhan yang ditimbang, keimanan dan kebaikan di satu sisi, dosa-dosa yang pernah dilakukan di sisi lain, termasuk dosa yang paling berat sekalipun. Ayat ini tidak menjanjikan bahwa dosa tidak punya konsekuensi, ia menjanjikan bahwa pintu kembali tidak pernah tertutup selama seseorang belum berhenti berusaha.

Renungan dan Hikmah

  • Allah membuka ayat ini dengan larangan berputus asa sebelum menyebut pengampunan-Nya. Urutan ini menunjukkan tujuan utamanya, menahan seseorang dari keputusasaan, bukan menetapkan rincian teknis tentang dosa mana yang termasuk. Sebuah ajakan untuk kembali biasanya tidak dibuka dengan daftar pengecualian, ia dibuka dengan pintu yang dibiarkan terbuka lebar. Urutan kalimat yang mendahulukan larangan berputus asa daripada rincian hukum menunjukkan ke mana perhatian ayat ini sesungguhnya diarahkan.
  • Kata 'semuanya' di ayat ini bisa dibaca apa adanya, cakupan tanpa kekecualian sama sekali. Bisa juga dibaca bersama dua ayat lain yang menyebutkan pengecualian eksplisit atas mempersekutukan Allah, diselaraskan lewat sapaan ayat ini sendiri kepada mereka yang melampaui batas atas dirinya sendiri. Kedua bacaan ini sama-sama bertumpu pada teks yang ada, dan ayat ini sendiri tidak menyatakan secara eksplisit mana yang dimaksudkan, sehingga keduanya layak dicatat berdampingan tanpa memaksakan salah satunya sebagai satu-satunya jawaban yang sah.
  • Sapaan yang membuka ayat ini secara khusus ditujukan kepada mereka yang melampaui batas atas dirinya sendiri, bukan sapaan umum tanpa keterangan. Rangkaian kata ini hanya muncul satu kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu di sini. Keterangan yang menyertai sapaan bukan hiasan tanpa makna, ia menandai jenis pelanggaran yang sedang dibicarakan, dan keterangan sekhusus itu jarang dipasang Allah tanpa alasan yang berkaitan dengan isi pesan yang menyusul.
  • Membaca ayat ini bersama dua ayat lain yang menyebut pengecualian atas mempersekutukan Allah menunjukkan satu hal yang bisa dipastikan, nasib seseorang tidak ditentukan oleh satu dosa yang berdiri sendiri. Yang menentukan adalah keseluruhan yang ditimbang, keimanan dan kebaikan di satu sisi, dosa-dosa yang pernah dilakukan di sisi lain. Allah tidak menjanjikan dosa tanpa konsekuensi, Dia menjanjikan pintu yang tidak pernah tertutup selama seseorang belum berhenti berusaha mengetuknya.
  • Ayat ini ditutup dengan dua sebutan bagi Allah, Sang Pengampun dan Sang Pengasih, pasangan kata yang berulang di banyak ayat lain sebagai penutup pesan tentang pengampunan. Pengulangan ini menegaskan bahwa seruan di ayat ini sejalan dengan pola yang lebih luas, bukan pernyataan yang berdiri sendiri dan terpisah dari seluruh Al-Qur'an. Pasangan sebutan yang sama juga menutup rangkaian ayat lain yang membahas pertobatan, sebuah pola penutup yang dipakai Al-Qur'an di banyak konteks berbeda.
  • Larangan berputus asa bukan berarti dosa boleh terus dilakukan tanpa beban. Seruan luas ini adalah jalan kembali, bukan pembenaran untuk terus melampaui batas. Bagaimana seseorang membedakan antara memegang harapan yang sungguh-sungguh dan menjadikan harapan itu sebagai alasan untuk tidak pernah benar-benar berhenti dari apa yang sudah diketahuinya keliru? Pertanyaan ini tidak pernah dijawab tuntas oleh siapa pun selain orang itu sendiri, lewat pilihan yang benar-benar dijalaninya.