أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ

agar tidak ada jiwa yang berkata, “Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah; dan sungguh, aku benar-benar termasuk orang-orang yang mengolok-olok.”

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. أَنْ تَقُولَ نَفْسٌan taquula nafsunagar tidak ada jiwa yang berkata
  2. يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِyaa hasrataa 'alaa maa farrathtu fii janbi llaahialangkah besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah
  3. وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَwa-in kuntu la-mina s-saakhiriinadan sungguh, aku benar-benar termasuk orang-orang yang mengolok-olok

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. أَنْanagar tidak
  2. تَقُولَtaquulaengkau berkata
  3. نَفْسٌnafsunsatu jiwa
  4. يَاyaawahai
  5. حَسْرَتَاhasrataaalangkah menyesal
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. مَاmaaapa yang
  8. فَرَّطْتُfarrathtuaku lalai
  9. فِيfiidalam
  10. جَنْبِjanbilambung
  11. اللَّهِllaahiAllah
  12. وَإِنْwa-indan sungguh
  13. كُنْتُkuntuaku adalah
  14. لَمِنَla-minasungguh termasuk
  15. السَّاخِرِينَs-saakhiriinaorang-orang yang mengolok

Inti bacaan

Kata (جَنْبِ, janbi) muncul 3 kali di Al-Qur'an (4:36, 10:12, 39:56), dan bersambung dengan nama Allah hanya di 39:56.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (أَنْ تَقُولَ نَفْسٌ, an taquula nafsun) yang berarti "agar tidak ada jiwa yang berkata". Kata (أَنْ, an) dapat dibaca menyambung ayat ini dengan tiga perintah di 39:54 dan 39:55, dan teks Arabnya tidak memuat kata penolak seperti lam atau laa. Kata "tidak" dalam terjemahan datang dari pola yang sama dengan bentuk jamak (أَنْ تَقُولُوا, an taquuluu), yang muncul 7 kali di 5 surah, yaitu 2:169, 2:235, 5:19, 6:156, 7:33, 7:172, dan 61:3. Maknanya berlainan menurut ayatnya, tetapi di 5:19, 6:156, dan 7:172 pola itu menyambung sesuatu yang sudah diberikan dengan pernyataan yang hendak dicegah, dan ketiganya diterjemahkan "agar kalian tidak berkata" atau "agar kalian tidak mengatakan". Terjemahan 39:56 mengikuti ketiga ayat itu. Kata (نَفْسٌ, nafsun) berarti "jiwa" dan berbentuk tak tentu, sehingga terjemahan memakai "tidak ada jiwa yang", bukan "jiwa itu".

Seruan (يَا حَسْرَتَا, yaa hasrataa) yang berarti "alangkah besar penyesalanku" berakar ح-س-ر dan muncul 1 kali, yaitu di 39:56. Bentuk dengan kata ganti "kami", (يَا حَسْرَتَنَا, yaa hasratanaa), muncul 1 kali di 6:31, dan bentuk tanpa kata ganti, (يَا حَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِ, yaa hasratan 'alaa l-'ibaadi) yang berarti "alangkah besar penyesalan atas para hamba", ada di 36:30. Di 6:31 dan 39:56 seruan itu disusul susunan yang serupa, (عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا, 'alaa maa farrathnaa fiihaa) yang berarti "atas kelalaian kami tentangnya" di 6:31 dan (عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ, 'alaa maa farrathtu) di 39:56. Pelakunya berbeda: "kami" di 6:31 dan "aku" di 39:56.

Kata kerja (فَرَّطْتُ, farrathtu) berakar ف-ر-ط dan berbentuk kedua. Bentuk lampau kata kerja ini muncul 4 kali di 3 surah, yaitu 6:31, 6:38, 12:80, dan 39:56. Di keempatnya (فِي, fii) yang berarti "dalam" atau "tentang" menyusul langsung: fiihaa di 6:31, (فِي الْكِتَابِ, fii l-kitaabi) di 6:38, (فِي يُوسُفَ, fii yuusufa) di 12:80, dan (فِي جَنْبِ اللَّهِ, fii janbi llaahi) di 39:56. Terjemahan memakai "kelalaian" di 6:31 dan 39:56, dan "menyia-nyiakan" di 12:80 yang objeknya seseorang. Kata (جَنْبِ, janbi) berarti "sisi" dan muncul 3 kali, yaitu 4:36, 10:12, dan 39:56. Di 4:36, (بِالْجَنْبِ, bi-l-janbi) menunjuk teman di samping seseorang, dan di 10:12, (لِجَنْبِهِ, li-janbihi) menunjuk sisi tubuh orang yang berbaring. Ungkapan fii janbi llaahi hanya ada di 39:56 dan tidak diuraikan oleh ayat lain. Terjemahan memakai "terhadap Allah" tanpa kata tambahan seperti "hak" atau "perintah", karena tidak ada kata Arab yang melahirkannya.

Pengakuan kedua, (وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ, wa-in kuntu la-mina s-saakhiriina), berarti "dan sungguh, aku benar-benar termasuk orang-orang yang mengolok-olok". Gabungan (إِنْ, in) dan (لَ, la) di sini menegaskan pengakuan itu, sehingga terjemahan memakai "sungguh" dan "benar-benar". Kata (السَّاخِرِينَ, s-saakhiriina) berupa pelaku dari akar س-خ-ر dan muncul 1 kali, yaitu di 39:56. Kata kerja dari akar ini ada antara lain di 9:79, 11:38, 37:12, dan 49:11, dan terjemahan 49:11 memakai "mengolok-olok" seperti di 39:56. Di surah yang sama, 39:48 memuat kata lain untuk olok-olok, (يَسْتَهْزِئُونَ, yastahzi'uuna) yang berarti "mereka olok-olokkan". Ayat 39:48 menyebut apa yang diolok-olokkan itu meliputi mereka, tanpa menyebut apa yang mereka olok-olokkan, dan 39:56 juga tidak menyebut apa yang diolok-olokkan oleh penuturnya.

Tafsiran

Ayat 39:56 membuka tiga ucapan sebuah jiwa. Ucapan pertama di 39:56 berisi penyesalan atas kelalaian dan pengakuan pernah mengolok-olok, lalu 39:57 dan 39:58 menyusul dengan ucapan yang dibuka (أَوْ تَقُولَ, aw taquula) yang berarti "atau berkata". Susunan dengan satu (أَنْ, an) dan satu (أَوْ, aw) ada di dua tempat lain, yaitu 6:156 sampai 6:157 dan 7:172 sampai 7:173, yang masing-masing memuat dua ucapan. Rangkaian di surah 39 memuat tiga ucapan, dengan dua kali aw taquula di 39:57 dan 39:58, sehingga bentuknya paling panjang dari ketiganya.

Pembicara berganti dengan jelas dari ayat sebelumnya. Di 39:54 dan 39:55 pendengarnya "kalian", sebuah kelompok, sedangkan di 39:56 satu jiwa berbicara dengan kata "aku". Di 6:31 penyesalan yang serupa diucapkan "kami", sehingga pergantian ke bentuk tunggal di 39:56 tampak sebagai pilihan teks. Ayat ini tidak menyebut nama atau kelompok jiwa itu, dan tidak menyebut kapan jiwa itu berbicara. Waktunya baru dinyatakan di 39:58.

Ucapan di 39:56 memuat dua pengakuan yang berlainan jenis. Pengakuan pertama menyangkut kelalaian yang objeknya (فِي جَنْبِ اللَّهِ, fii janbi llaahi), tanpa rincian perbuatan, dan pengakuan kedua menyangkut keanggotaan dalam kelompok orang yang mengolok-olok. Ayat 39:57 dan 39:58 juga diakhiri dengan keanggotaan dalam suatu kelompok dengan kata (مِنَ, mina) yang berarti "termasuk" ditambah sebutan kelompok. Ucapan pertama menyebut kelompok tempat penuturnya berada, dan dua ucapan berikutnya menyebut kelompok yang diinginkannya.

Renungan dan Hikmah

  • Di 6:31 penyesalan yang serupa dituturkan sesudah Saat itu datang kepada mereka secara tiba-tiba, sedangkan di 39:56 kalimat itu ditulis lebih dulu dan diberi tujuan agar tidak ada jiwa yang mengucapkannya. Dua ayat itu menuturkan peristiwa yang berbeda, satu laporan dan satu peringatan, sehingga keduanya tidak disamakan. Ayat 39:56 memberi pembaca kalimat itu dalam bentuk jadi, lengkap dengan kata-katanya, termasuk kata kelalaian terhadap Allah. Dapat dibaca bahwa kalimat yang sudah dikenal lebih sulit diabaikan daripada kalimat yang belum ada. Bila kalimat penyesalan itu dihafal sekarang, bagian mana yang paling terasa janggal diucapkan pembaca?
  • Penyesalan di 6:31 memakai kata kami, sedangkan di 39:56 memakai kata aku. Dalam ucapan di 39:56 tidak ada orang lain yang dipersalahkan dan tidak ada nama lain yang disebut. Dua ayat itu menuturkan keadaan yang berbeda, satu kelompok dan satu jiwa, jadi keduanya tidak dilebur. Dapat dibaca bahwa bentuk tunggal membuat kalimat itu tidak punya tempat bersembunyi. Pembaca dapat mencoba mengucapkan, "Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah", lalu mencatat nama yang paling ingin ditambahkannya ke dalam kalimat itu sebagai ikut bersalah. Apakah kalimat itu masih terasa cukup tanpa nama tambahan?
  • Kelalaian di 39:56 disebut tanpa rincian: tidak ada perbuatan yang dicantumkan, hanya objeknya, yaitu terhadap Allah. Di 12:80 kata kerja yang sama dipakai untuk orang-orang yang disebut telah menyia-nyiakan Yusuf, sehingga kelalaian itu punya nama dan peristiwa. Dua ayat itu membicarakan hal yang berlainan, satu kepada manusia dan satu kepada Allah, jadi keduanya tidak disamakan. Dapat dibaca bahwa kelalaian terhadap Allah tidak datang dengan wajah yang mudah dituding. Bila pembaca diminta menuliskan kelalaiannya terhadap Allah dengan nama dan tanggal, seperti kelalaian terhadap seorang manusia, apa yang bisa ditulisnya?
  • Jiwa di 39:56 menyebut dua pengakuan berurutan: kelalaian terhadap Allah, lalu keanggotaan di antara orang-orang yang mengolok-olok. Pengakuan pertama menyangkut sesuatu yang tidak dikerjakan, dan pengakuan kedua menyangkut sikap yang pernah dipegang. Sasaran olok-olok itu tidak dinamai. Pembaca dapat menimbang, di antara hal-hal yang pernah ditertawakannya, adakah yang kemudian dipandang berbeda ketika Allah disebut dalam percakapan? Dan mana yang lebih mudah diakui kepada diri sendiri, lalai atau pernah mengolok-olok?
  • Di 39:48 apa yang dahulu mereka olok-olokkan meliputi mereka, dan di 39:56 jiwa yang mengaku termasuk orang-orang yang mengolok-olok menyesali kelalaiannya terhadap Allah. Dua ayat itu memakai kata olok-olok dari akar yang berbeda dan tidak menyebut sasaran olok-olok itu. Dapat dibaca bahwa sesuatu yang dahulu ditaruh jauh dengan tertawa, menurut 39:48, kemudian meliputi pelakunya. Pembaca dapat bertanya apa yang sudah dijauhkannya dengan tertawa atau dengan sindiran, dan apakah hal-hal itu pernah ditimbang serius sebelum ditertawakan? Adakah di antaranya yang sebenarnya menyangkut Tuhan?
  • Subjek di 39:56 adalah nafsun, jiwa yang tak tentu, tanpa nama dan tanpa kelompok. Ayat itu tidak menyebut jiwa siapa yang berbicara, sehingga kalimat penyesalannya terbuka bagi siapa pun yang membaca. Dapat dibaca bahwa ketiadaan nama itu membuat pembaca ikut berada di dalam kalimat, sebab tidak ada pagar yang menyatakan kalimat itu milik orang lain. Kalau kalimat itu harus diberi nama pengucap, nama siapa yang paling mudah ditulis di sana, dan nama siapa yang paling sulit?