بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِي فَكَذَبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ
Tidak begitu! Sebenarnya tanda-tanda-Ku telah datang kepadamu, tetapi engkau mendustakannya, menyombongkan diri, dan termasuk orang-orang kafir.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ آيَاتِيbalaa qad jaa'atka aayaatiitidak begitu! Sebenarnya tanda-tanda-Ku telah datang kepadamu
- فَكَذَبْتَ بِهَا وَاسْتَكْبَرْتَ وَكُنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَfa-kadzabta bihaa wa-stakbarta wa-kunta mina l-kaafiriinatetapi engkau mendustakannya, menyombongkan diri, dan termasuk orang-orang kafir
Terjemahan per kata (10 kata)
- بَلَىٰbalaaya
- قَدْqadsungguh
- جَاءَتْكَjaa'atkadatang kepadamu
- آيَاتِيaayaatiitanda-tanda-Ku
- فَكَذَبْتَfa-kadzabtamaka engkau berdusta
- بِهَاbihaapadanya
- وَاسْتَكْبَرْتَwa-stakbartadan engkau menyombongkan diri
- وَكُنْتَwa-kuntadan engkau adalah
- مِنَminadari
- الْكَافِرِينَl-kaafiriinaorang-orang yang kufur
Inti bacaan
Rangkaian (وَكُنْتَ مِنَ, wa-kunta mina) muncul dua kali di Al-Qur'an, pada 10:91 dan 39:59.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (بَلَىٰ, balaa) yang berarti "tidak begitu". Kata ini muncul dua puluh dua kali di enam belas surah, yaitu 2:81, 2:112, 2:260, 3:76, 3:125, 6:30, 7:172, 16:28, 16:38, 34:3, 36:81, 39:59, 39:71, 40:50, 43:80, 46:33, 46:34, 57:14, 64:7, 67:9, 75:4, dan 84:15. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 2 memuatnya tiga kali, sedangkan surah 3, 16, 39, dan 46 masing-masing dua kali. Pemakaiannya terbagi dua. Di sebagian ayat kata ini menjawab pertanyaan berbentuk "bukankah ...?" dan membenarkannya, misalnya di 39:71, 40:50, 57:14, dan 67:9. Di ayat lain kata ini menolak ucapan yang menyangkal. Ayat 2:81 menyusul ucapan di 2:80 bahwa api tidak akan menyentuh mereka kecuali beberapa hari, 16:38 menyusul sumpah bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati, 34:3 menyusul ucapan bahwa Kiamat tidak akan datang, 64:7 menyusul dugaan bahwa mereka tidak akan dibangkitkan, dan 84:15 menyusul dugaan bahwa orang itu tidak akan kembali. Ayat 39:59 masuk kelompok kedua, karena dua ayat sebelumnya memuat pengandaian, dan pengandaian di 39:57 itu mengandaikan petunjuk belum sampai. Terjemahan memakai "tidak begitu", sejajar dengan "tidak demikian" di 43:80 dan 84:15. Padanan "ya" ditinggalkan karena dalam bahasa Indonesia kata itu terbaca menyetujui kalimat sebelumnya, sedangkan ayat ini menolaknya.
Setelah kata pembuka itu, bunyi awal ayat ini sama dengan 67:9. Di 67:8 para penjaga Jahanam bertanya kepada rombongan yang dilemparkan ke dalamnya apakah pemberi peringatan belum datang, dan di 67:9 mereka menjawab (بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا, balaa qad jaa'anaa) yang berarti "benar, sungguh telah datang kepada kami". Ayat 39:59 memuat (بَلَىٰ قَدْ جَاءَتْكَ, balaa qad jaa'atka) yang berarti "tidak begitu, sungguh telah datang kepadamu". Rangkaian (بَلَىٰ قَدْ, balaa qad) hanya muncul di dua ayat itu. Di 67:9 kalimatnya bersambung ke (فَكَذَّبْنَا, fa-kadzdzabnaa) yang berarti "lalu kami mendustakan", dan di 39:59 bersambung ke kata kerja "engkau mendustakannya".
Kata kerja (جَاءَتْكَ, jaa'atka) yang berarti "datang kepadamu" tersusun dari kata kerja datang dan akhiran -ka yang berarti "-mu" untuk satu orang. Bentuk persis ini muncul sekali, di 39:59. Pelaku kata kerja itu, (آيَاتِي, aayaatii) yang berarti "tanda-tanda-Ku", muncul sebagai rangkaian huruf empat belas kali di sebelas surah, yaitu di 2:41, 5:44, 6:130, 7:35, 7:146, 18:56, 18:106, 20:42, 21:37, 23:66, 23:105, 27:84, 39:59, dan 45:31. Surah 7, 18, dan 23 memuatnya dua kali. Dua dari ayat itu memakai kata kerja lain bagi tanda-tanda itu. Di 23:105 dan 45:31 tanda-tanda-Ku dibacakan, dan sesudahnya kalian disebut mendustakannya di 23:105 serta menyombongkan diri di 45:31. Di 39:59 tanda-tanda itu datang, cara datangnya tidak disebut, dan kedua tanggapan itu muncul berdampingan dalam satu ayat.
Kata (فَكَذَبْتَ, fa-kadzabta) yang berarti "maka engkau mendustakan" disusul (بِهَا, bihaa) yang berarti "padanya", yaitu awalan bi- dan kata ganti -haa yang kembali ke tanda-tanda tadi. Kata kerja yang diikuti awalan bi- seperti ini diterjemahkan "mendustakan", yaitu menolak kebenaran yang datang dari pihak lain. Susunan yang sama ada di 39:32 pada (وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ, wa-kadzdzaba bi-sh-shidqi) yang berarti "dan mendustakan kebenaran". Ayat 39:60 memakai kata kerja yang berbeda, yaitu (كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ, kadzabuu 'alaa llaahi) yang berarti "mereka berdusta kepada Allah", dengan huruf 'alaa dan Allah sebagai sasarannya. Di 39:59 sasaran penolakan adalah tanda-tanda lewat huruf bi-, sedangkan di 39:60 sasaran dustanya adalah Allah lewat 'alaa. Terjemahan menjaga perbedaan itu dengan "mendustakannya" dan "berdusta kepada Allah".
Kata (وَاسْتَكْبَرْتَ, wa-stakbarta) yang berarti "dan engkau menyombongkan diri" berakar ك-ب-ر. Bentuk persis ini muncul sekali, di 39:59. Kata kerja yang sama untuk satu pelaku laki-laki, (اسْتَكْبَرَ, istakbara) yang berarti "ia menyombongkan diri", muncul empat kali di empat surah, yaitu 2:34, 28:39, 38:74, dan 74:23. Dua di antaranya, 2:34 dan 38:74, menyusulkan kalimat yang juga ada di 39:59, yaitu (وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ, wa-kaana mina l-kaafiriina) yang berarti "dan ia termasuk orang-orang kafir". Pelakunya dalam kedua ayat itu Iblis, dan 2:34 menulis bahwa Iblis menolak dan menyombongkan diri sebelum kalimat itu. Ayat 39:59 memuat dua hal itu dalam urutan yang sama, tetapi untuk "engkau" dan dengan kata kerja (وَكُنْتَ, wa-kunta) yang berarti "dan engkau adalah".
Rangkaian (وَكُنْتَ مِنَ, wa-kunta mina) yang berarti "dan engkau termasuk" muncul dua kali, yaitu di 10:91 dan 39:59. Huruf (مِنَ, mina) yang berarti "dari" di sini bermakna "termasuk dalam golongan". Di 10:91 anggota golongannya adalah (الْمُفْسِدِينَ, l-mufsidiina) yang berarti "orang-orang yang berbuat kerusakan", dan di 39:59 (الْكَافِرِينَ, l-kaafiriina) yang berarti "orang-orang kafir". Terjemahan memakai "kafir" bagi kata itu, sama dengan 39:32 dan 39:71 di surah yang sama. Teksnya tidak menyebutkan sejak kapan atau lewat perbuatan mana orang itu masuk ke golongan tersebut, selain dua kata kerja yang mendahuluinya.
Tafsiran
Ayat ini menjawab pengandaian di 39:57 dengan tiga perbuatan yang sudah selesai: engkau mendustakan, engkau menyombongkan diri, dan engkau termasuk orang-orang kafir. Tiga ucapan di 39:56 sampai 39:58 masing-masing menaruh pembicaranya dalam sebuah golongan, dan golongannya berbeda-beda. Di 39:56 pembicara berkata (وَإِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ, wa-in kuntu la-mina s-saakhiriina) yang berarti "dan sungguh, aku benar-benar termasuk orang-orang yang mengolok-olok", di 39:57 (لَكُنْتُ مِنَ الْمُتَّقِينَ, la-kuntu mina l-muttaqiina) yang berarti "tentu aku termasuk orang-orang yang bertakwa", dan di 39:58 (فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ, fa-akuuna mina l-muhsiniina) yang berarti "tentu aku termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan". Ayat 39:59 membalas dengan susunan yang sama, yaitu kata kerja "menjadi", huruf mina, lalu sebuah golongan. Golongan yang disebutnya lain, dan pelakunya berpindah dari "aku" ke "engkau".
Pengandaian di 39:57 menaruh Allah sebagai pihak yang tidak memberi petunjuk, dan bagian itu paling dekat dengan bantahan ayat 39:59. Dasar bantahannya adalah kejadian, yaitu tanda-tanda sudah datang; cara Allah memberi petunjuk, wujud tanda-tanda, dan waktu datangnya tidak diuraikan. Permintaan untuk kembali di 39:58 juga tidak dijawab dengan ya atau tidak, sebab ayat 39:59 tidak memuat kata yang berarti kembali. Ayat ini menjawab alasan di balik permintaan itu.
Ayat 39:59 tidak diawali kalimat pengantar seperti "Dia berkata". Pembicara di 39:56 sampai 39:58 adalah seorang jiwa yang disebut dalam bentuk orang ketiga, lalu ayat ini beralih ke sapaan orang kedua. Siapa yang berbicara tidak dinyatakan. Kata ganti pertama pada "tanda-tanda-Ku" menunjukkan bahwa pembicaranya pemilik tanda-tanda itu. Ayat 39:60 kemudian memakai kata kerja "engkau akan melihat", sehingga sapaan itu dapat dibaca berlanjut.
Perbandingan dengan 67:9 memperlihatkan arah ayat ini. Di 67:9 orang-orang yang sudah dilemparkan ke Jahanam mengakui bahwa pemberi peringatan sudah datang dan mereka mendustakannya. Di 39:59 isi pengakuan semacam itu dikatakan kepada orang yang masih mengandai-andai, dan yang datang di sini berupa tanda-tanda, tidak berupa pemberi peringatan. Tiga kata kerjanya bergerak dari perbuatan terhadap tanda-tanda, ke sikap terhadap diri sendiri, lalu ke penggolongan, dan ayat 39:60 sampai 39:63 melanjutkannya dengan wajah yang menghitam, keselamatan orang-orang bertakwa, Allah sebagai pemilik segala sesuatu, dan orang-orang yang rugi.
Renungan dan Hikmah
- Di 39:57 pembicara menyebut Allah dalam sebuah pengandaian: seandainya Dia memberiku petunjuk, tentu aku termasuk orang-orang yang bertakwa. Kalimat itu menaruh Allah pada satu sisi timbangan yang dianggap kurang, sementara pembicara sendiri tidak ikut ditimbang. Jawaban di 39:59 tidak memperdebatkan apa yang kurang pada Allah, karena pokok bahasannya tanda-tanda yang sudah datang. Orang yang menyusun cerita tentang kegagalan dapat memeriksa bagian ceritanya yang memakai nama Allah sebagai alasan, lalu menimbang apakah nama itu ditaruh di sana karena ada bukti atau karena kalimatnya membutuhkan pihak lain. Bila bagian itu dihapus dari ceritanya, apa yang masih bisa dikatakan tentang diri sendiri?
- Ayat 39:59 menyebut tiga hal tentang orang itu dalam urutan tertentu: mendustakan tanda-tanda, menyombongkan diri, lalu termasuk orang-orang kafir. Dua hal pertama berupa perbuatan, sedangkan hal ketiga berupa keanggotaan, seperti nama golongan yang dilekatkan sesudah semua itu terjadi. Urutan tersebut membuat penggolongan tampak sebagai hasil dari perbuatan yang mendahuluinya. Seseorang yang pernah memberi cap kepada dirinya, misalnya orang yang selalu terlambat atau orang yang tidak berbakat, dapat menelusuri urutannya sendiri: cap itu muncul lebih dulu lalu perbuatannya mengikuti, atau perbuatan yang berulang meninggalkan cap itu. Kapan terakhir tindakan pertama di balik cap itu ditelusuri kembali, dan adakah saksinya selain dirinya sendiri?
- Kata ganti dalam ayat ini tunggal: tanda-tanda telah datang kepadamu, dan engkau yang mendustakan. Ayat 39:56 membuka rangkaian dengan seorang jiwa yang berkata, bukan dengan sekelompok orang, dan ayat 39:59 tetap berbicara kepada satu orang. Ayat ini tidak menyatakan bahwa tanda-tanda itu datang dengan cara yang sama kepada semua orang. Pembaca yang biasa memakai kata "kita" untuk membagi-bagi kesalahan dapat mencoba menggantinya dengan "aku" dan melihat kalimat mana yang menjadi sulit diucapkan. Kalimat apa tentang dirinya yang terdengar lebih jujur ketika Tuhan menjadi pihak yang mendengar, dan bukan teman sebaya yang bisa dihibur dengan cerita serupa?
- Permintaan di 39:58 untuk kembali dan menjadi orang yang berbuat baik tidak dijawab ayat 39:59 dengan penolakan ataupun persetujuan. Ayat 39:59 meluruskan premis di 39:57, yaitu bahwa petunjuk tidak datang. Cara ini memperlihatkan bahwa sebuah permohonan bisa tertahan karena dasarnya keliru, tidak karena permohonannya sendiri ditolak. Seseorang yang berulang kali meminta kesempatan lain dapat bertanya apakah alasan yang disiapkannya untuk meminta itu sendiri benar, sebab ayat ini menunjukkan bahwa alasan yang salah dapat dibantah lebih dulu sebelum permintaan disentuh. Bila setiap alasan di hadapan Tuhan bisa dibantah satu per satu, permintaan apa yang masih tegak tanpa alasan itu?
- Kata kerja bagi tanda-tanda di 39:59 adalah datang, tidak mencari dan tidak ditemukan. Di 23:105 dan 45:31 kata kerjanya dibacakan, sehingga tanda-tanda itu sampai lewat suara. Dalam kedua cara, pihak yang menerima berada pada posisi menerima, dan tanggapannya ditentukan di sana. Orang yang sering berkata bahwa tidak ada yang memberi tahu dapat menimbang berapa banyak pemberitahuan yang pernah sampai kepadanya sebelum mulai berkata begitu, misalnya teguran, bacaan, atau peristiwa yang memaksanya berhenti. Seandainya semuanya dihitung, apakah hitungan itu lebih mendukung kalimat "tidak ada yang datang" atau kalimat "telah datang, lalu aku mendustakannya"?
- Ucapan penyesalan di 39:56 menyebut dirinya lalai dan mengolok-olok, tetapi tidak menyebut dirinya menyombongkan diri. Ayat 39:59 memakai kata menyombongkan diri, sehingga terdapat jarak antara cara orang itu menyebut kegagalannya dan cara jawaban ini menyebutnya. Kata yang dipilih untuk menggambarkan kegagalan sendiri dapat lebih ringan daripada kata yang dipakai pihak yang menyaksikan seluruh kejadiannya dari awal. Pembaca dapat membandingkan kata "lalai" dengan kata "mendustakan" dan "menyombongkan diri" untuk satu peristiwa yang pernah dialaminya. Bila peristiwa itu ditimbang dengan ketiga kata sekaligus, kata mana yang paling sulit diakui di hadapan Allah?