وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَ
Pada hari kiamat, engkau akan melihat orang-orang yang berdusta kepada Allah, wajahnya menghitam. Bukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur?
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌwa-yawma l-qiyaamati taraa lladziina kadzabuu 'alaa llaahi wujuuhuhum muswaddatunpada hari kiamat, engkau akan melihat orang-orang yang berdusta kepada Allah, wajahnya menghitam
- أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْمُتَكَبِّرِينَa-laysa fii jahannama matswan li-l-mutakabbiriinabukankah di Jahanam ada tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur
Terjemahan per kata (14 kata)
- وَيَوْمَwa-yawmadan pada hari
- الْقِيَامَةِl-qiyaamatiKiamat
- تَرَىtaraaengkau melihat
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَذَبُواkadzabuumereka berdusta
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- وُجُوهُهُمْwujuuhuhumwajah mereka
- مُسْوَدَّةٌmuswaddatunyang menghitam
- أَلَيْسَa-laysabukankah
- فِيfiidi
- جَهَنَّمَjahannamaJahanam
- مَثْوًىmatswantempat tinggal
- لِلْمُتَكَبِّرِينَli-l-mutakabbiriinabagi orang-orang yang sombong
Inti bacaan
Rangkaian (وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى, wa-yawma l-qiyaamati taraa) hanya muncul sekali di Al-Qur'an, yaitu di 39:60, sedangkan wa-yawma l-qiyaamati sendiri muncul delapan kali, yaitu di 2:85, 4:159, 11:60, 11:99, 28:41, 28:42, 35:14, dan 39:60.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini dibuka dengan (وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ, wa-yawma l-qiyaamati) yang berarti "dan pada hari Kiamat". Rangkaian ini muncul delapan kali di enam surah, yaitu 2:85, 4:159, 11:60, 11:99, 28:41, 28:42, 35:14, dan 39:60. Jumlah surahnya lebih kecil karena surah 11 dan 28 masing-masing memuatnya dua kali. Di tujuh ayat yang lain, hari itu menjadi waktu bagi sesuatu yang dialami atau dilakukan orang, misalnya "dikembalikan kepada azab yang paling berat" di 2:85, "menjadi saksi atas mereka" di 4:159, "tidak akan ditolong" di 28:41, dan "mereka kufur terhadap kemusyrikan kalian" di 35:14. Di 39:60 hari itu disusul (تَرَى, taraa) yang berarti "engkau melihat", sehingga ayat ini menonjolkan sesuatu yang terlihat oleh seseorang. Rangkaian (وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى, wa-yawma l-qiyaamati taraa) hanya muncul di ayat ini.
Kata kerja yang sama dipakai di ayat sebelumnya pada (حِينَ تَرَى الْعَذَابَ, hiina taraa l-'adzaaba) yang berarti "ketika melihat azab", dan rangkaian (تَرَى الْعَذَابَ, taraa l-'adzaaba) hanya muncul di 39:58. Di 39:58 jiwa yang sedang berandai-andai melihat azab, sedangkan di 39:60 "engkau" melihat wajah orang lain. Terjemahan menambahkan "akan" pada "engkau akan melihat" karena ayat ini dibuka dengan hari Kiamat.
Bagian (الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ, lladziina kadzabuu 'alaa llaahi) yang berarti "orang-orang yang berdusta kepada Allah" memakai kata kerja berdusta dengan huruf 'alaa, dan rangkaian (كَذَبُوا عَلَى اللَّهِ, kadzabuu 'alaa llaahi) hanya muncul di 39:60. Untuk satu pelaku, rangkaian itu muncul di 39:32 sebagai (كَذَبَ عَلَى اللَّهِ, kadzaba 'alaa llaahi) yang berarti "ia berdusta kepada Allah", dan hanya di situ. Terjemahan ini memakai "berdusta" untuk kata kerja dasar dari akar ك-ذ-ب, dan "mendustakan" untuk penolakan terhadap sesuatu yang datang, seperti pada "mendustakannya" di 39:59. Sasaran dusta di ayat ini Allah, dan sasaran penolakan di ayat sebelumnya tanda-tanda.
Frasa (وُجُوهُهُمْ مُسْوَدَّةٌ, wujuuhuhum muswaddatun) yang berarti "wajah mereka menghitam" memuat dua kata. Kata (وُجُوهُهُمْ, wujuuhuhum) adalah bentuk jamak dari wajah dengan akhiran -hum yang berarti "mereka", dan bentuk persisnya muncul enam kali di lima surah, yaitu 3:106, 3:107, 10:27, 27:90, 33:66, dan 39:60. Surah 3 memuatnya dua kali. Di lima ayat yang lain wajah itu dilukiskan atau diperlakukan: menghitam di 3:106, memutih di 3:107, ditutupi kepingan malam di 10:27, disungkurkan di 27:90, dan dibolak-balik di 33:66. Kata (مُسْوَدَّةٌ, muswaddatun) yang berarti "yang menghitam" hanya muncul sekali, di 39:60. Kata yang sama untuk satu wajah, (مُسْوَدًّا, muswaddan) yang berarti "menghitam", muncul dua kali, yaitu di 16:58 dan 43:17. Di kedua ayat itu wajah menghitam pada saat orang yang bersangkutan sedang menahan kesedihan, sebab bunyinya (ظَلَّ وَجْهُهُ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ, zhalla wajhuhu muswaddan wa-huwa kazhiimun) yang berarti "wajahnya menjadi hitam, sedangkan ia menahan kesedihan". Ayat 39:60 tidak menyebut perasaan apa pun, dan tidak menyebut cara wajah itu menjadi hitam. Di 3:106 kata wajah juga mewakili orangnya, sebab (فَأَمَّا الَّذِينَ اسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُمْ, fa-ammaa lladziina swaddat wujuuhuhum a-kafartum) yang berarti "adapun orang-orang yang wajah mereka menghitam, 'apakah kalian kufur'" berpindah dari "wajah mereka" ke sapaan "kalian" dalam satu kalimat.
Kalimat tanya (أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى, a-laysa fii jahannama matswan) yang berarti "bukankah di Jahanam ada tempat tinggal" muncul tiga kali, yaitu di 29:68, 39:32, dan 39:60. Di 29:68 dan 39:32 kalimat itu berakhir dengan (لِلْكَافِرِينَ, li-l-kaafiriina) yang berarti "bagi orang-orang kafir", sedangkan di 39:60 berakhir dengan (لِلْمُتَكَبِّرِينَ, li-l-mutakabbiriina) yang berarti "bagi orang-orang yang takabur". Kata (مَثْوًى, matswan) yang berarti "tempat tinggal" berakar ث-و-ي dan bentuk tak tentunya ini muncul lima kali di empat surah, yaitu 29:68, 39:32, 39:60, 41:24, dan 47:12. Kata dari akar yang sama dipakai di 12:21 pada (مَثْوَاهُ, matswaahu) yang berarti "tempat tinggalnya" dalam kalimat "muliakanlah tempat tinggalnya", dan di 12:23 pada (مَثْوَايَ, matswaaya) yang berarti "tempat tinggalku". Di dua ayat itu kata tersebut menyebut tempat seseorang tinggal di rumah tuannya, dan 39:60 memakai kata yang sama untuk Jahanam.
Kata (لِلْمُتَكَبِّرِينَ, li-l-mutakabbiriina) berasal dari akar ك-ب-ر, akar yang sama dengan (وَاسْتَكْبَرْتَ, wa-stakbarta) di ayat sebelumnya. Bentuk jamak dengan akhiran -iina ini muncul empat kali di tiga surah, yaitu 16:29, 39:60, 39:72, dan 40:76, dan keempatnya berdampingan dengan kata "tempat tinggal". Bentuk tunggalnya muncul di 40:27 dan 40:35 untuk manusia, dan di 59:23 pada (الْمُتَكَبِّرُ, l-mutakabbiru) yang berarti "Sang Pemilik Kebesaran", yaitu salah satu sebutan Allah. Ayat 39:60 tidak membahas hubungan kedua pemakaian itu, dan terjemahan di sini memakai "takabur", sama dengan 39:72.
Tafsiran
Ayat ini memindahkan rangkaian dari jawaban kepada gambaran masa depan: sesudah tiga perbuatan yang sudah selesai di 39:59, ayat 39:60 memperlihatkan apa yang akan tampak. Isinya satu pemandangan yang dilihat oleh "engkau" dan satu pertanyaan penutup. Pemandangannya wajah yang menghitam. Api, rantai, dan suara tidak diuraikan, dan Jahanam muncul di dalam pertanyaan sebagai tempat tinggal.
Kelompok pertama dikenali dari apa yang mereka lakukan, yaitu berdusta kepada Allah, dan kelompok kedua dari sifat yang melekat, yaitu takabur. Keduanya tersambung ke ayat sebelumnya: berdusta memakai akar yang sama dengan mendustakan di 39:59, dan takabur memakai akar yang sama dengan menyombongkan diri di ayat itu. Ayat 39:60 memberi nama bagi dua dari tiga perbuatan di 39:59, sedangkan golongan yang disebut kafir di 39:59 tidak disebut lagi di sini.
Pertanyaan penutupnya berbentuk sama dengan 39:32. Di 39:32 pertanyaan itu menutup kalimat tentang siapa yang lebih zalim daripada orang yang berdusta kepada Allah dan mendustakan kebenaran, dan golongan yang dipasangkan dengan Jahanam adalah orang-orang kafir. Di 39:60 pertanyaan yang sama menutup gambaran wajah, dan golongannya orang-orang yang takabur. Surah ini kemudian kembali ke golongan itu di 39:72 dengan seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang takabur. Pertanyaan yang dibuka a-laysa di 6:30 dan 46:34 dijawab "balaa" oleh orang-orang yang ditanya, sehingga pertanyaan di 39:60 dapat dibaca sebagai pertanyaan yang jawabannya sudah dimiliki pendengarnya.
Ayat 39:61 menjawab pemandangan ini dengan kelompok lain, yaitu orang-orang yang bertakwa dan diselamatkan. Di 3:106 dan 3:107 wajah yang menghitam disandingkan dengan wajah yang memutih, tetapi 39:60 dan 39:61 tidak menyebut wajah bagi kelompok yang diselamatkan. Kedua ayat itu berlawanan pada hal lain, yaitu tempat tinggal bagi satu kelompok dan keselamatan bagi kelompok lain.
Renungan dan Hikmah
- Di 16:58 dan 43:17 wajah menghitam saat orang yang bersangkutan sedang menahan kesedihan, sehingga wajah itu terbaca padahal mulutnya tertutup. Ayat 39:60 tidak menyebut perasaan apa pun; ayat itu mengatakan bahwa wajah orang-orang yang berdusta kepada Allah menghitam di depan mata "engkau". Dari dua pemakaian itu tampak bahwa wajah dapat menyampaikan keadaan yang tidak diucapkan. Orang yang pandai mengatur kalimat di depan orang lain dapat menimbang bagian mana dari dirinya yang tetap terbaca meski semua kata sudah dijaga. Bila wajahnya sendiri diminta bersaksi tentang kalimat-kalimat yang diucapkan atas nama Allah, kalimat mana yang paling cepat terbaca di sana?
- Kata kerja melihat dipakai dua kali berturut-turut. Di 39:58 jiwa yang melihat azab berkata, "Seandainya aku dapat kembali", dan di 39:60 "engkau" melihat wajah orang-orang yang berdusta kepada Allah, lalu ayat ini tidak mencatat satu kata pun dari yang melihat. Pemandangan pertama menimpa diri sendiri dan disertai ucapan, sedangkan pemandangan kedua dilihat dari luar dan tidak disertai ucapan yang dicatat. Pembaca dapat mengingat saat pernah melihat sesuatu yang membuatnya tidak punya kalimat, lalu menimbang apa yang dilakukannya dengan diam itu. Apakah diam itu disimpan sebagai pelajaran, atau segera diisi dengan kata-kata yang menenangkan?
- Pertanyaan tentang tempat tinggal di Jahanam diajukan kepada dua golongan berbeda: orang-orang kafir di 29:68 dan 39:32, lalu orang-orang yang takabur di 39:60. Bentuk kalimatnya sama dan golongannya berganti, sehingga golongan kedua dikenali dari sifatnya, tidak dari sebutan keyakinannya. Pembaca yang merasa jauh dari golongan pertama karena tidak memakai sebutan itu bagi dirinya dapat memeriksa golongan kedua, yang tidak menunjuk keyakinan tertentu. Bila pertanyaan itu ditujukan kepadanya, apakah ada sifat dalam dirinya yang cocok dengan salah satu dari dua kalimat itu, dan siapa yang dapat menilainya dengan lebih jernih daripada Allah?
- Akar ك-ب-ر yang menjadi dasar kata takabur di 39:60 juga dipakai di 59:23 pada sebutan Allah, yang diterjemahkan Sang Pemilik Kebesaran. Kata yang sama berdiri di dua posisi: sebagai sebutan bagi Allah, dan sebagai sifat manusia yang dikaitkan dengan tempat tinggal di Jahanam. Ayat 39:60 tidak membandingkan keduanya, jadi pembacaan ini hanya mencatat bahwa akarnya sama dan konteksnya jauh berbeda. Orang yang merasa dirinya besar, dalam pekerjaan, ilmu, atau keturunan, dapat menanyakan ukuran apa yang dipakainya. Dari mana ukuran itu berasal, dan apakah ukuran itu pernah diuji terhadap 59:23, yang menaruh sebutan itu pada Allah?
- Alamat dusta di 39:32 dan 39:60 adalah Allah, dan 39:32 menaruh pelakunya pada pertanyaan tentang siapa yang lebih zalim. Ayat 39:60 kemudian menunjukkan wajah orang-orang itu. Pembaca dapat memeriksa kalimat-kalimatnya sendiri yang memakai nama Allah untuk mendukung keinginannya, misalnya bahwa Allah menghendaki sesuatu yang kebetulan sama dengan kemauannya. Ayat ini tidak menyebut contoh seperti itu, dan pembacaan ini hanya bertumpu pada sasarannya yang tertulis, yaitu Allah. Dari mana kehendak itu diketahui, dan adakah ayat yang dapat ditunjuk, atau kemauan sendiri yang meminjam nama Allah?
- Ayat 39:56 sampai 39:58 penuh dengan ucapan yang dikutip, sedangkan 39:60 tidak memuat satu pun ucapan dari orang-orang yang diperlihatkan. Ayat ini tidak mencatat pembelaan atau pengandaian dari mereka, dan pertanyaan penutupnya tidak diikuti jawaban yang dikutip. Pembaca dapat membayangkan seluruh kalimat pembelaan yang dikumpulkannya hari ini, tentang mengapa ia gagal dan siapa yang seharusnya disalahkan. Seandainya semua kalimat itu tidak dicatat dan wajahnya yang terlihat sendirian, apa yang masih bisa ditunjukkannya di hadapan Allah tanpa sepatah kata pun?