اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia atas segala sesuatu adalah wakil.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍallaahu khaaliqu kulli syay'inAllah adalah pencipta segala sesuatu
  2. وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌwa-huwa 'alaa kulli syay'in wakiilundan Dia atas segala sesuatu adalah wakil

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. اللَّهُallaahuAllah
  2. خَالِقُkhaaliquPencipta
  3. كُلِّkullisegala
  4. شَيْءٍsyay'insesuatu
  5. وَهُوَwa-huwadan Dia
  6. عَلَىٰ'alaaatas
  7. كُلِّkullisegala
  8. شَيْءٍsyay'insesuatu
  9. وَكِيلٌwakiilunwakil

Inti bacaan

Kalimat (وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ, wa-huwa 'alaa kulli syay'in wakiilun) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:102 dan 39:62.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini terdiri dari dua kalimat tanpa kata kerja. Kalimat pertama, (اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ, allaahu khaaliqu kulli syay'in) yang berarti "Allah pencipta segala sesuatu", menaruh nama Allah di depan dan sebutan pelakunya sesudah itu. Karena bahasa Arabnya tidak memuat kata kerja, terjemahan menambahkan "adalah" supaya kalimat Indonesianya utuh. Kata (خَالِقُ, khaaliqu) yang berarti "pencipta" berakar خ-ل-ق dan menunjuk pelaku penciptaan, bukan peristiwanya. Rangkaian (خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ, khaaliqu kulli syay'in) muncul empat kali di empat surah, yaitu 6:102, 13:16, 39:62, dan 40:62. Dengan kata Allah di depannya, (اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ, allaahu khaaliqu kulli syay'in) muncul dua kali, yaitu di 13:16 dan 39:62.

Keempat ayat itu menyambung rangkaian tersebut dengan hal berbeda. Ayat 13:16 menyambungnya dengan (وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ, wa-huwa l-waahidu l-qahhaaru) yang berarti "dan Dialah Yang Esa, Sang Penakluk". Ayat 40:62 menyambungnya dengan (لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ, laa ilaaha illaa huwa) yang berarti "tidak ada tuhan kecuali Dia". Ayat 6:102 menyambungnya dengan (فَاعْبُدُوهُ, fa-'buduuhu) yang berarti "maka mengabdilah kepada-Nya", lalu dengan kalimat kedua yang sama dengan 39:62. Ayat 39:62 tidak memuat perintah apa pun sesudah kalimat pertama.

Kalimat kedua, (وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ, wa-huwa 'alaa kulli syay'in wakiilun) yang berarti "dan Dia atas segala sesuatu adalah wakil", muncul dua kali dengan susunan persis ini, yaitu di 6:102 dan 39:62. Rangkaian (عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ, 'alaa kulli syay'in) yang berarti "atas segala sesuatu" muncul lima puluh dua kali di tiga puluh surah. Tiga puluh lima dari kemunculan itu, di dua puluh empat surah, disusul kata (قَدِيرٌ, qadiirun) yang berarti "berkuasa", antara lain di 2:20 dan 2:106. Delapan disusul kata (شَهِيدٌ, syahiidun) yang berarti "saksi", dua disusul (حَفِيظٌ, hafiizhun) yang berarti "penjaga" di 11:57 dan 34:21, dan tiga disusul (وَكِيلٌ, wakiilun) yang berarti "wakil" di 6:102, 11:12, dan 39:62.

Kata (وَكِيلٌ, wakiilun) berakar و-ك-ل. Dengan bentuk persis ini kata tersebut muncul lima kali di lima surah, yaitu 6:102, 11:12, 12:66, 28:28, dan 39:62, dan di kelima ayat itu Allah yang disebut wakil. Di 12:66 dan 28:28 kalimatnya diucapkan seseorang kepada pihak lain pada saat sebuah janji dibuat: (اللَّهُ عَلَىٰ مَا نَقُولُ وَكِيلٌ, Allaahu 'alaa maa naquulu wakiilun) yang berarti "Allah atas apa yang kita ucapkan adalah wakil". Bentuk lawannya, (بِوَكِيلٍ, bi-wakiilin) yang berarti "sebagai wakil" dalam kalimat penyangkalan, muncul lima kali di empat surah, yaitu 6:66, 6:107, 10:108, 39:41, dan 42:6, dan di semuanya yang disangkal adalah bahwa penerima wahyu menjadi wakil atas orang lain. Ayat 39:41 ada di surah yang sama: (وَمَا أَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيلٍ, wa-maa anta 'alayhim bi-wakiilin) yang berarti "dan engkau bukanlah wakil atas mereka". Ayat 17:2 melarang hal yang sejalan, yaitu (مِنْ دُونِي وَكِيلًا, min duunii wakiilan) yang berarti "selain Aku sebagai wakil".

Terjemahan memakai "wakil" dan tidak menambahkan "pemelihara" di belakangnya. Alasannya, Al-Qur'an punya kata lain untuk memelihara, yaitu (حَفِيظٌ, hafiizhun), dan kedua kata itu muncul berdampingan tanpa saling menggantikan. Di 42:6 tertulis (اللَّهُ حَفِيظٌ عَلَيْهِمْ, allaahu hafiizhun 'alayhim) yang berarti "Allah Sang Penjaga atas mereka", lalu disusul penyangkalan bahwa orang lain adalah wakil atas mereka. Di 6:107 penyangkalan peran penjaga dan peran wakil ditulis berurutan dalam satu ayat. Karena itu "wakil" dijaga sebagai padanan tersendiri bagi akar و-ك-ل.

Tafsiran

Ayat ini beralih dari dua kelompok di 39:60 dan 39:61 ke dasar yang menaungi keduanya: Allah pencipta segala sesuatu, dan Dia wakil atas segala sesuatu. Frasa "segala sesuatu" muncul dua kali, sehingga kedua pernyataan itu berlaku tanpa pengecualian yang disebut. Wajah yang menghitam di 39:60 dan keselamatan di 39:61 dapat dibaca sebagai bagian dari "segala sesuatu" itu, meskipun ayat ini tidak menyebutnya satu per satu.

Kalimat kedua sama persis dengan 6:102, tetapi di 6:102 perintah mengabdi diselipkan di antara kedua kalimat, sedangkan di 39:62 kedua kalimat berdampingan. Perintah "maka mengabdilah" yang di 6:102 menyela kedua kalimat itu baru tertulis di 39:66, empat ayat sesudah 39:62. Di antaranya ada 39:63 tentang kunci langit dan bumi serta orang-orang yang rugi, 39:64 tentang pertanyaan menyembah selain Allah, dan 39:65 tentang peringatan menyekutukan.

Kata "wakil" di ayat ini berbalasan dengan 39:41 di surah yang sama. Di 39:41 penerima wahyu dinyatakan bukan wakil atas manusia, dan di 39:62 peran itu dipegang Allah atas segala sesuatu. Kedua ayat memakai huruf 'alaa yang berarti "atas". Peran yang disangkal dari satu pihak dan ditetapkan bagi pihak lain ini dapat dibaca sebagai dasar bagi pertanyaan di 39:64 tentang selain Allah.

Ayat ini juga memberi alasan yang tersirat bagi 39:61. Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa di ayat sebelumnya, dan ayat ini menyebut Dia sebagai wakil atas segala sesuatu. Hubungan itu tidak dinyatakan sebagai sebab, tetapi urutannya dapat dibaca demikian: tindakan Allah terhadap satu kelompok bersandar pada kedudukan-Nya atas semuanya.

Renungan dan Hikmah

  • Frasa "segala sesuatu" muncul dua kali dalam satu ayat pendek, sekali bagi penciptaan dan sekali bagi peran wakil. Tidak ada pembatas seperti "sebagian" atau "dalam urusan tertentu". Pembaca yang memiliki wilayah hidup yang dianggap urusan pribadinya, misalnya pekerjaan, uang, atau hubungan dengan seseorang, dapat memeriksa apakah wilayah itu diperlakukan sebagai bagian dari "segala sesuatu" atau sebagai pengecualian. Bila ada urusan yang dikelola seolah-olah Allah tidak menjadi wakil atasnya, apa yang membuat urusan itu lolos dari kata yang ditulis dua kali ini, dan siapa yang menetapkan pengecualian tersebut?
  • Di 12:66 dan 28:28 kalimat yang menyebut Allah wakil diucapkan seseorang kepada pihak lain pada saat sebuah janji dibuat. Kalimat itu menaruh Allah di antara dua pihak sebagai tempat urusan diserahkan. Ayat 39:62 memuat kata yang sama tanpa penutur dan tanpa janji tertentu. Penyerahan dapat berhenti di mulut bila urusan yang disebut diserahkan tetap digenggam dalam rencana harian. Pembaca dapat membandingkan dua daftar: apa yang sudah disebut diserahkan kepada Allah, dan apa yang masih dijaga sendiri dengan cemas. Adakah urusan yang tercantum di kedua daftar itu sekaligus, dan siapa yang sebenarnya bertindak sebagai wakil atasnya?
  • Ayat 39:41 menyatakan bahwa penerima wahyu bukan wakil atas manusia, dan 6:107, 10:108, serta 42:6 mengulang penyangkalan serupa. Di tempat-tempat itu peran wakil ditolak dari manusia, sedangkan di 39:62 peran itu disebut milik Allah atas segala sesuatu. Pembaca yang berusaha memastikan hasil akhir bagi orang lain, misalnya anak, pasangan, atau teman, dapat bertanya sejauh mana peran yang dalam ayat-ayat itu dinyatakan bukan peran manusia masih dipegangnya. Bagian mana dari kegelisahannya yang sebenarnya tuntutan atas urusan yang di 39:62 dinamai urusan Allah?
  • Karena Allah disebut pencipta segala sesuatu, apa pun yang dijadikan tujuan hidup selain Allah dapat dibaca sebagai salah satu dari "segala sesuatu" itu, termasuk benda, jabatan, orang, dan gagasan. Ayat 39:64 terpisah satu ayat dari ayat ini dan bertanya apakah selain Allah yang diperintahkan kepada pembicara untuk diabdi. Pembaca yang membaca keduanya berurutan mendapati bahwa dasar untuk menjawab pertanyaan di 39:64 sudah ditaruh lebih dulu di 39:62. Pembaca dapat menyusun daftar hal yang paling sering dikejarnya, lalu bertanya apakah satu pun dari daftar itu berada di luar kata "segala sesuatu". Bila semuanya termasuk ke dalamnya, apa yang membuat salah satunya layak berdiri di tempat yang di ayat ini dikaitkan dengan pencipta?
  • Allah disebut dengan dua peran dalam dua kalimat pendek: pencipta, lalu wakil. Peran pertama menunjuk asal dan peran kedua menunjuk pengurusan. Kedua kalimat itu tidak memuat penanda waktu, sehingga tidak ada kata "dahulu" atau "kelak" yang membatasi masa berlakunya. Pembaca yang mengingat Allah terutama saat membutuhkan sesuatu dapat memeriksa peran mana yang lebih sering ia sebut, pencipta atau wakil. Dalam doanya sendiri, peran mana yang paling jarang diucapkan, dan mengapa peran yang satu itu terasa lebih sulit disebut kepada Tuhan?
  • Ayat 39:62 tidak memuat satu pun perintah. Ayat ini menyatakan dua hal tentang Allah, sedangkan perintah mengabdi baru tertulis di 39:66, sesudah ayat tentang kunci langit dan bumi, ayat tentang pertanyaan menyembah selain Allah, dan ayat tentang peringatan menyekutukan. Urutan itu menaruh pernyataan di depan permintaan. Pembaca dapat memperhatikan apakah sebuah kewajiban terasa lebih masuk akal setelah dasarnya dinyatakan lebih dulu. Kewajiban mana dalam hidupnya yang selama ini diterima tanpa pernah mendengar dasarnya, dan siapa yang seharusnya menyampaikan dasar itu kepadanya?