قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ

Katakanlah, “Maka, apakah selain Allah yang kalian perintahkan aku untuk mengabdi kepadanya, wahai orang-orang yang bodoh?”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُqul a-fa-ghayra llaahi ta'muruunnii a'budukatakanlah, maka, apakah selain Allah yang kalian perintahkan aku untuk mengabdi kepadanya
  2. أَيُّهَا الْجَاهِلُونَayyuhaa l-jaahiluunawahai orang-orang yang bodoh

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. قُلْqulkatakanlah
  2. أَفَغَيْرَa-fa-ghayramaka apakah selain
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. تَأْمُرُونِّيta'muruunniikalian menyuruhku
  5. أَعْبُدُa'buduaku mengabdi
  6. أَيُّهَاayyuhaasekalian
  7. الْجَاهِلُونَl-jaahiluunaorang-orang bodoh

Inti bacaan

Kata (الْجَاهِلُونَ, l-jaahiluuna) muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 25:63 dan 39:64.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini dibuka dengan (قُلْ, qul) yang berarti "katakanlah", perintah kepada satu orang untuk mengucapkan kalimat sesudahnya. Rangkaian (قُلْ أَفَغَيْرَ اللَّهِ, qul a-fa-ghayra llaahi) yang berarti "katakanlah, maka apakah selain Allah" hanya muncul di 39:64. Bagian (أَفَغَيْرَ اللَّهِ, a-fa-ghayra llaahi) tersusun dari huruf tanya a, huruf fa yang berarti "maka", dan kata ghayra yang berarti "selain" dengan Allah sebagai pasangannya. Rangkaian itu muncul tiga kali di tiga surah, yaitu 6:114, 16:52, dan 39:64, sedangkan tanpa huruf fa, yaitu (أَغَيْرَ اللَّهِ, a-ghayra llaahi), muncul empat kali di dua surah, yaitu 6:14, 6:40, 6:164, dan 7:140. Kata "selain Allah" membuka sebuah pertanyaan di tujuh ayat. Isi pertanyaannya berbeda-beda: menjadikan pelindung di 6:14, menyeru di 6:40, mencari hakim di 6:114, mencari tuhan di 6:164 dan 7:140, serta bertakwa di 16:52. Di enam ayat itu yang dikenai pertanyaan adalah perbuatan si pembicara sendiri atau perbuatan pendengarnya. Di 39:64 yang ditanyakan adalah perintah dari pihak lain kepada si pembicara.

Kata (تَأْمُرُونِّي, ta'muruunnii) yang berarti "kalian memerintahkan aku" muncul sekali, di 39:64. Kata ini tersusun dari kata kerja memerintahkan untuk beberapa orang dan akhiran -nii yang berarti "aku" sebagai penerima perintah, dan keduanya menyatu dalam tulisan. Akarnya أ-م-ر, yang juga ada di 39:11 pada (أُمِرْتُ, umirtu) yang berarti "aku diperintahkan". Di 39:11 kalimatnya (إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ, innii umirtu an a'buda llaaha) yang berarti "sesungguhnya aku diperintahkan untuk mengabdi kepada Allah", dan pemberi perintahnya tidak ditulis. Di 39:64 pemberi perintahnya ditulis sebagai "kalian".

Kata (أَعْبُدُ, a'budu) yang berarti "aku mengabdi" berakar ع-ب-د dan bentuk persis ini muncul tujuh kali di empat surah, yaitu 10:104, 36:22, 39:14, 39:64, 109:2, 109:3, dan 109:5. Terjemahan memakai "mengabdi", bukan "menyembah", karena akar ini menyangkut kedudukan seorang hamba terhadap tuannya. Di surah yang sama akar ini menghasilkan kata hamba, misalnya (عِبَادِ, 'ibaadi) di 39:10, (عَبْدَهُ, 'abdahu) di 39:36, dan (عِبَادِيَ, 'ibaadiya) di 39:53, dan di 109:2 bunyi (لَا أَعْبُدُ, laa a'budu) yang berarti "aku tidak mengabdi" diterjemahkan dengan padanan yang sama. Perintah di 39:2 dan 39:66, yaitu (فَاعْبُدْ, fa-'bud) yang berarti "maka mengabdilah", memakai padanan itu juga.

Susunan ayat ini punya kembaran di 39:14, yaitu (قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ, quli llaaha a'budu) yang berarti "katakanlah, Allah yang aku abdi". Rangkaian (قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ, quli llaaha a'budu) hanya muncul di 39:14. Kedua ayat dibuka perintah "katakanlah", menaruh yang diabdi di depan kata kerja, dan memuat "aku mengabdi". Isi bagian depan berganti: Allah di 39:14 dan selain Allah di 39:64. Ayat 39:15 menyusul 39:14 dengan perintah (فَاعْبُدُوا, fa-'buduu) yang berarti "maka mengabdilah kalian" kepada apa yang dikehendaki selain Dia, sedangkan 39:66 menjawab 39:64 dengan (بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ, bali llaaha fa-'bud) yang berarti "sebaliknya, mengabdilah kepada Allah".

Frasa (أَيُّهَا الْجَاهِلُونَ, ayyuhaa l-jaahiluuna) yang berarti "wahai orang-orang yang bodoh" muncul sekali, di 39:64. Kata (الْجَاهِلُونَ, l-jaahiluuna) yang berarti "orang-orang yang bodoh" berakar ج-ه-ل dan muncul dua kali, yaitu di 25:63 dan 39:64. Bentuk (الْجَاهِلِينَ, l-jaahiliina) muncul enam kali di enam surah, yaitu 2:67, 6:35, 7:199, 11:46, 12:33, dan 28:55. Di enam ayat itu kata tersebut menjadi peringatan atau sesuatu yang dihindari, misalnya Musa berlindung agar tidak termasuk golongan itu di 2:67, Yusuf berdoa agar tidak termasuk di 12:33, dan penerima wahyu serta Nuh diperingatkan agar tidak termasuk di 6:35 dan 11:46. Di 25:63 orang-orang itu menyapa hamba-hamba Ar-Rahman. Di 39:64 kata itu menjadi sapaan langsung kepada orang yang memerintah. Terjemahan memakai "bodoh", sama dengan 25:63, 6:35, 11:46, 12:33, dan 28:55.

Tafsiran

Ayat ini menjawab 39:62 dan 39:63 dengan sebuah pertanyaan, bukan pernyataan. Dua ayat itu menyebut Allah pencipta dan wakil atas segala sesuatu serta pemilik kunci langit dan bumi. Pertanyaan di 39:64 meletakkan hal itu di hadapan pihak yang memerintah, tanpa mengutip perintah mereka sendiri. Perintahnya hanya terbaca lewat kata kerja "kalian memerintahkan aku", dan jawaban mereka tidak dicatat.

Ayat 39:11, 39:14, dan 39:15 memuat tiga kalimat tentang pengabdian: aku diperintahkan mengabdi kepada Allah, Allah yang aku abdi, dan mengabdilah kepada apa yang kalian kehendaki selain Dia. Ayat 39:64 memuat sisi yang berkebalikan. Di 39:14 pembicara menyebut Allah yang diabdinya, dan di 39:64 pembicara menyebut perintah dari orang lain untuk mengabdi kepada selain Allah. Ayat 39:15 menaruh perintah yang ditujukan kepada orang-orang yang menghendaki selain Dia, sedangkan 39:64 menaruh perintah dari orang-orang yang menghendaki hal itu kepada pembicara. Teksnya tidak menyatakan bahwa mereka yang dimaksud di kedua ayat itu sama.

Susunan ayat 39:64 dan 39:66 simetris: yang diabdi diletakkan di depan kata kerja, yaitu selain Allah di 39:64 dan Allah di 39:66, sedangkan kata sebaliknya di 39:66 menjadi jawaban atas pertanyaan di sini. Di antara keduanya, 39:65 memuat peringatan yang ditujukan kepada "engkau", yaitu bahwa jika menyekutukan, amal gugur dan orangnya termasuk yang rugi.

Sapaan "wahai orang-orang yang bodoh" memutus nada deskriptif ayat-ayat sebelumnya. Di 39:60 sampai 39:63, kelompok-kelompok dilukiskan dengan kata berdusta, takabur, bertakwa, dan rugi dalam bentuk orang ketiga. Di 39:64 lawan bicara disapa langsung dengan satu sebutan, sedangkan di 39:59 sapaan hanya memakai kata ganti "engkau" tanpa sebutan.

Renungan dan Hikmah

  • Di 39:11 pemberi perintah mengabdi tidak ditulis, sedangkan di 39:64 ayat menulis pemberi perintahnya: "kalian". Pembaca dapat mempertimbangkan bahwa perintah untuk mengabdi kepada selain Allah dapat datang sebagai tuntutan orang di sekitar tentang kepada siapa jadwal, ucapan, dan keputusan disesuaikan. Pihak mana yang paling sering memerintahnya tanpa pernah memakai kata perintah? Dan di antara pihak-pihak itu, adakah yang jawabannya dicari lebih dulu daripada jawaban Allah?
  • Ayat ini memerintahkan pembicara menjawab dengan pertanyaan: "maka apakah selain Allah yang kalian perintahkan aku ...?" Ayat tidak mengutip sanggahan panjang, hanya sebuah kalimat tanya yang memantulkan perintah kepada pemberinya. Cara itu dapat membuat pemberi perintah mendengar isi perintahnya sendiri diucapkan kembali. Pembaca yang pernah diminta melakukan sesuatu yang diragukannya dapat mengingat bagaimana jawabannya waktu itu: dengan penolakan keras, dengan diam, atau dengan pertanyaan yang menyebut isi permintaan itu apa adanya. Seandainya pertanyaan di 39:64 diucapkan di hadapan orang-orang yang pernah menyuruhnya, kalimat mana dari permintaan mereka yang akan terdengar paling aneh setelah diulang?
  • Kata yang di 39:64 menjadi sapaan kepada pemberi perintah dipakai di 6:35 dan 11:46 sebagai peringatan bagi penerima wahyu dan bagi Nuh agar tidak termasuk golongan itu, dan di 2:67 serta 12:33 sebagai sesuatu yang ingin dihindari Musa dan Yusuf dalam doanya. Kata itu bergerak ke dua arah: keluar sebagai sapaan, dan ke dalam sebagai kewaspadaan terhadap diri. Pembaca yang cepat menyebut orang lain bodoh dapat memperhatikan bahwa ayat-ayat lain memakai kata itu sebagai sesuatu yang dijauhi dari diri sendiri. Kapan terakhir pembaca meminta kepada Allah agar dijauhkan dari golongan yang dengan mudah disapanya itu?
  • Ayat 39:14 dan 39:64 memakai kerangka yang sama: perintah "katakanlah", yang diabdi di depan kata kerja, lalu "aku mengabdi". Di 39:14 bagian depannya Allah, dan di 39:64 selain Allah. Kalimat "aku mengabdi" belum selesai sebelum bagian depannya diisi, dan surah yang sama memuat dua isian untuk kalimat itu. Pembaca dapat memeriksa kalimat "aku mengabdi kepada ..." yang paling sering ditulis hidupnya lewat kebiasaan, bukan lewat ucapan. Apa isian yang ditemukan bila daftar jam dan pengeluarannya dibaca sebagai kalimat itu, dan di mana Allah ditempatkan dalam daftar tersebut?
  • Pertanyaan di 39:64 tidak diikuti jawaban dari pihak yang ditanya. Jawabannya tertulis dua ayat kemudian, yaitu "sebaliknya, mengabdilah kepada Allah". Di antaranya ada peringatan yang tertuju kepada "engkau" tentang amal yang gugur. Pertanyaan yang tidak dijawab lawan bicara bukan pertanyaan yang gagal, sebab jawabannya sudah tersedia dalam rangkaian ayat. Pembaca yang menunggu pengakuan dari orang yang ditanyainya dapat menimbang apakah jawabannya perlu datang dari mulut mereka atau dari tempat lain. Seandainya jawaban itu sudah tertulis dalam kitab yang dibaca, apa yang masih ditunggu dari lawan bicara?
  • Ayat 39:36 menyebut bahwa pembicara ditakut-takuti dengan yang lain selain Allah, dan 39:64 menyebut bahwa ia diperintahkan mengabdi kepada selain Allah. Dua ayat itu berjarak dua puluh delapan ayat, dan keduanya menyebut tekanan dari pihak yang tidak disebut namanya. Tekanan itu datang dalam dua bentuk, ancaman dan perintah, dan 39:36 sendiri menjawabnya dengan pertanyaan tentang kecukupan: bukankah Allah cukup bagi hamba-Nya? Pembaca dapat menimbang tekanan mana yang lebih sering dirasakannya, ancaman atau perintah, lalu bertanya apakah pernah ia menjawabnya dengan pertanyaan tentang kecukupan Allah bagi dirinya.