وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, “Sungguh, jika engkau menyekutukan, niscaya gugurlah amalmu, dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَwa-la-qad uuhiya ilayka wa-ilaa lladziina min qablikadan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu
  2. لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَla-in asyrakta la-yahbathanna 'amalukasungguh, jika engkau menyekutukan, niscaya gugurlah amalmu
  3. وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَwa-la-takuunanna mina l-khaasiriinadan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi

Terjemahan per kata (14 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. أُوحِيَuuhiyadiwahyukan
  3. إِلَيْكَilaykakepadamu
  4. وَإِلَىwa-ilaadan kepada
  5. الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
  6. مِنْmindari
  7. قَبْلِكَqablikasebelummu
  8. لَئِنْla-insungguh jika
  9. أَشْرَكْتَasyraktaengkau mempersekutukan
  10. لَيَحْبَطَنَّla-yahbathannasungguh akan terhapus
  11. عَمَلُكَ'amalukaamalmu
  12. وَلَتَكُونَنَّwa-la-takuunannadan sungguh engkau akan menjadi
  13. مِنَminadari
  14. الْخَاسِرِينَl-khaasiriinaorang-orang yang rugi

Inti bacaan

Kata kerja (لَيَحْبَطَنَّ, la-yahbathanna) muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:65, dengan awalan lam di depan dan akhiran penguat di belakang yang sama-sama menandai kepastian.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (أُوحِيَ, uuhiya) yang berarti "diwahyukan" berbentuk pasif, sehingga pelaku pewahyuan tidak tertulis di sini. Bersama (إِلَيْكَ, ilayka) yang berarti "kepadamu", bentuk persis ini muncul lima kali di Al-Qur'an, yaitu di 6:106, 18:27, 29:45, 39:65, dan 43:43. Di empat ayat lainnya bentuk itu berada di anak kalimat sesudah perintah, misalnya (اتَّبِعْ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ, ittabi' maa uuhiya ilayka) yang berarti "ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu" di 6:106. Hanya di 39:65 kata kerja ini membuka kalimat sendiri yang disusul kutipan langsung. Pelaku pewahyuan dinamai di ayat lain lewat bentuk aktif, (يُوحِي إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ اللَّهُ, yuuhii ilayka wa-ilaa lladziina min qablika allaahu) yang berarti "mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, Allah", di 42:3.

Frasa (وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ, wa-ilaa lladziina min qablika) yang berarti "dan kepada orang-orang sebelummu" muncul dua kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:65 dan 42:3. Keduanya menaruh penerima wahyu bersama para penerima sebelumnya dalam satu ayat, dan hanya 42:3 yang menuliskan pelakunya. Akhiran -ka pada (قَبْلِكَ, qablika) menunjuk orang yang sama dengan ilayka, jadi "engkau" di ayat ini satu orang yang diajak bicara dan namanya tidak ditulis. Isi wahyu dikutip dalam bentuk "engkau" tunggal. Apakah rumusannya sama persis bagi orang-orang sebelumnya, ayat ini membiarkannya terbuka.

Kata (لَئِنْ, la-in) yang berarti "sungguh, jika" dan (أَشْرَكْتَ, asyrakta) yang berarti "engkau menyekutukan" membentuk syarat. Akar kata kerja ini ش-ر-ك, dan bentuk persis asyrakta muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:65. Kata kerja itu tidak disusul (بِ, bi-) dan objek, sehingga dengan apa persekutuan itu dibuat tidak tertulis. Terjemahan mengikuti susunan itu dan tidak menambahkan "Allah". Pola tanpa objek ada juga di 6:88, (وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ, wa-law asyrakuu la-habitha 'anhum) yang berarti "dan sekiranya mereka mempersekutukan, pasti gugur dari mereka". Sebaliknya 31:13 menuliskan objeknya, (لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ, laa tusyrik bi-llaahi) yang berarti "janganlah engkau mempersekutukan Allah".

Kata (لَيَحْبَطَنَّ, la-yahbathanna) yang berarti "niscaya gugurlah" berakar ح-ب-ط. Awalan la dan akhiran -nna sama-sama menandai kepastian, dan bentuk persisnya muncul satu kali di Al-Qur'an, yaitu di 39:65. Akar ini ada di enam belas ayat, yaitu 2:217, 3:22, 5:5, 5:53, 6:88, 7:147, 9:17, 9:69, 11:16, 18:105, 33:19, 39:65, 47:9, 47:28, 47:32, dan 49:2. Dua belas ayat memakai bentuk dasar, yang pokok kalimatnya adalah amal itu sendiri, sedangkan empat ayat sisanya, yaitu 33:19, 47:9, 47:28, dan 47:32, memakai bentuk keempat yang membawa pelaku, seperti (فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ, fa-ahbatha llaahu a'maalahum) yang berarti "maka Allah menggugurkan amal-amal mereka" di 33:19. Kata kerja di 39:65 berbentuk dasar, jadi amalnya yang gugur, dan sebab gugurnya adalah syarat di depannya, yaitu bila persekutuan terjadi.

Kata (عَمَلُكَ, 'amaluka) yang berarti "amalmu" berakar ع-م-ل dan berbentuk tunggal. Dari enam belas ayat tadi, amal bertunggal hanya ada di dua tempat, yaitu 39:65 dan 5:5, (حَبِطَ عَمَلُهُ, habitha 'amaluhu) yang berarti "gugur amalnya". Empat belas ayat lainnya memakai jamak seperti (أَعْمَالُهُمْ, a'maaluhum) di 3:22, atau anak kalimat seperti (مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ, maa kaanuu ya'maluuna) di 6:88. Terjemahan 39:65 memakai "amalmu" sebagai satu benda dan tidak "amal-amalmu", karena yang tertulis satu.

Rangkaian (وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ, wa-la-takuunanna mina l-khaasiriina) yang berarti "dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi" memakai (مِنَ, mina) untuk menunjuk keanggotaan dalam sebuah golongan, sehingga terjemahan memakai "termasuk". Bentuk (لَتَكُونَنَّ, la-takuunanna) muncul tiga kali di Al-Qur'an, yaitu di 26:116, 26:167, dan 39:65. Di 26:116 bentuk itu ada dalam ancaman orang-orang yang menolak Nuh, (لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا نُوحُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمَرْجُومِينَ, la-in lam tantahi yaa nuuhu la-takuunanna mina l-marjuumiina) yang berarti "sungguh, jika engkau tidak berhenti, wahai Nuh, niscaya engkau termasuk orang-orang yang dirajam", dan di 26:167 dalam ancaman kepada Lut. Kerangka syarat dan jawaban itu sama dengan 39:65, tetapi golongan yang disebut berbeda. Rangkaian (مِنَ الْخَاسِرِينَ, mina l-khaasiriina) muncul sepuluh kali di delapan surah, yaitu 2:64, 3:85, 5:5, 5:30, 7:23, 7:149, 10:95, 11:47, 39:65, dan 41:23. Di 7:23 dan 7:149 kalimatnya diucapkan tentang diri sendiri, (لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ, la-nakuunanna mina l-khaasiriina) yang berarti "niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi".

Tafsiran

Ayat ini menyambung 39:64 dengan mengutip isi wahyu, tanpa menambah argumen baru. Di 39:64 ada pihak yang memerintahkan agar orang yang diajak bicara mengabdi kepada selain Allah, (أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَأْمُرُونِّي أَعْبُدُ, a-fa-ghayra llaahi ta'muruunnii a'budu), lalu 39:65 menaruh sesuatu yang sudah lebih dulu ada, yaitu wahyu yang sampai kepadanya dan kepada orang-orang sebelumnya. Susunan itu dapat dibaca sebagai sandaran bagi penolakan di 39:64, yaitu penolakan yang bersandar pada barisan panjang penerima wahyu dan tidak berdiri sebagai pendapat satu orang. Hubungan itu pembacaan, karena ayat ini tidak menyatakannya.

Isi kutipannya terdiri dari satu syarat dan dua akibat yang berbeda tempatnya. Akibat pertama menimpa amal, sedangkan akibat kedua menimpa kedudukan orangnya. Urutan itu sama dengan 5:5, yang menutup dengan (وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ, wa-huwa fii l-aakhirati mina l-khaasiriina) yang berarti "dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi". Perbedaannya ada pada waktu. Ayat 5:5 menyebut akhirat, sedangkan 39:65 tidak memberi penanda waktu apa pun, sehingga dari ayat ini saja tidak dapat dipastikan kapan gugurnya terjadi.

Dalam surah yang sama, kata rugi sudah punya takrif sebelum sampai ke ayat ini. Ayat 39:15 menyebut orang-orang rugi sebagai (الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ, lladziina khasiruu anfusahum wa-ahliihim) yang berarti "orang-orang yang merugikan diri mereka dan keluarga mereka", dan 39:63 menyebut (أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ, ulaa'ika humu l-khaasiruuna) yang berarti "merekalah orang-orang yang rugi" tentang orang-orang yang kufur kepada tanda-tanda Allah. Kedua ayat itu berbicara tentang orang ketiga. Ayat 39:65 memakai kata yang sama untuk orang kedua, sehingga golongan yang tadinya dibicarakan dari jauh sekarang disebut sebagai kemungkinan bagi yang diajak bicara.

Ayat 39:66 melanjutkan dengan perintah yang membalik arah. Terjemahan menutup kutipan wahyu di akhir 39:66, sehingga perintah itu terbaca sebagai bagian dari isi yang diwahyukan. Teks Arab tidak memuat tanda kutip, jadi batas kutipan itu pembacaan. Ayat 39:67 kemudian beralih ke orang ketiga lagi, sehingga 39:65 sampai 39:66 menjadi satu bagian yang ditujukan kepada "engkau" di antara dua bagian yang membicarakan "mereka".

Renungan dan Hikmah

  • Ayat 39:65 menyebut peringatan itu diwahyukan kepada satu orang dan kepada orang-orang sebelumnya, sedangkan 42:3 menyebut Allah sebagai pihak yang mewahyukan kepada keduanya. Barisan penerima itu membuat sebuah peringatan terbaca sebagai kalimat yang sudah lama dibawa banyak orang, jauh sebelum pembaca berdiri di depannya. Pembaca yang pernah menerima peringatan dalam hidupnya dapat memeriksa cara mendengarnya, apakah sebagai keluhan satu orang tentang dirinya atau sebagai kalimat yang juga pernah sampai kepada orang-orang di depannya. Apa yang berubah pada cara seseorang menerima teguran ketika teguran itu ternyata pernah diterima banyak orang sebelum dirinya?
  • Kata amal di ayat ini tunggal, seperti di 5:5, sedangkan empat belas ayat lain yang memuat akar gugur memakai jamak atau anak kalimat. Bentuk tunggal itu dapat dibaca sebagai pengumpul semua yang dikerjakan seseorang menjadi satu benda yang dapat gugur sekaligus. Ayat 6:88 menaruh kemungkinan serupa pada orang-orang yang menurut ayat itu diberi petunjuk oleh Allah, jadi kemungkinan itu tidak menyisihkan penerima petunjuk. Pembaca yang biasa menghitung pekerjaannya dalam potongan kecil dapat membayangkan seluruh pekerjaan itu sebagai satu kesatuan yang hanya punya satu nasib. Bagian mana dari hidupnya yang paling dulu tampak bila seluruhnya dinilai sebagai satu amal?
  • Kata kerja gugur di 39:65 berbentuk dasar, sehingga yang bergerak adalah amalnya dan penggugurnya tidak dinamai. Di 33:19 bentuk keempat dipakai dan nama Allah ditulis sebagai pelaku, sedangkan di 47:9, 47:28, dan 47:32 bentuk keempat yang sama dipakai dengan Allah sebagai pelaku yang tersirat dari kalimat sebelumnya. Dua cara bicara itu berdampingan di Al-Qur'an, yang satu menaruh sorotan pada keadaan amal dan yang lain pada pihak yang bertindak atas amal itu. Pembaca dapat melihat bahwa sebuah akibat bisa terasa sebagai sesuatu yang menimpa sendiri, padahal ayat lain menunjuk pelakunya. Bila sebuah kerugian terasa datang tanpa pelaku, siapa yang pertama kali akan ditanya?
  • Syarat di 39:65 ditujukan kepada orang yang diajak bicara, dan ayat tidak mengatakan bahwa orang itu telah menyekutukan. Dalam surah yang sama 39:63 dan 39:15 membicarakan orang-orang yang rugi dari jauh, memakai kata mereka. Ayat ini memakai kata engkau untuk golongan yang sama. Kata engkau menutup kemungkinan menaruh orang lain di dalam kalimat itu. Ketika sebuah peringatan memakai kata engkau, siapa yang pembaca bayangkan berdiri di dalamnya?
  • Rangkaian niscaya termasuk orang-orang yang rugi dipakai di 7:23 oleh dua orang yang berkata kepada Tuhan mereka, Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami, dan di 7:149 oleh kaum yang menyadari kesesatan mereka dan berbicara tentang Tuhan mereka. Kata rugi di 39:65 datang sebagai bagian dari wahyu kepada orang yang diajak bicara, sedangkan di dua ayat itu kata yang sama muncul dari mulut orang yang berbicara tentang dirinya sendiri. Kedua ucapan itu bersyarat, yaitu bila Tuhan mereka tidak mengampuni, sebagaimana peringatan di 39:65 bersyarat pula. Pembaca dapat membayangkan kata rugi yang sama diucapkan dari dua tempat, sebagai peringatan yang sampai kepadanya dan sebagai kemungkinan yang diucapkan tentang dirinya sendiri. Bagaimana rasanya mendengar kata itu dari kedua arah?
  • Kerangka syarat dan jawaban di 39:65 sama dengan ancaman di 26:116 dan 26:167, tetapi isinya berlainan. Di sana orang-orang yang menolak mengancam dengan rajam dan pengusiran, yaitu hukuman terhadap tubuh dan tempat tinggal, sedangkan di sini akibatnya gugurnya amal dan keanggotaan di antara orang-orang rugi. Pembaca yang pernah diancam kehilangan pekerjaan atau tempat tinggal dapat membandingkan kehilangan semacam itu dengan gugurnya amal. Bila daftar hal yang ditakuti ditulis lengkap, di mana letak kerugian yang disebut ayat ini?
  • Ayat 5:5 menaruh kerugian itu di akhirat, sedangkan 39:65 tidak menyebut waktu sama sekali. Dari ayat ini saja pembaca tidak dapat memastikan kapan amal itu gugur, sehingga pertanyaan tentang waktunya tinggal terbuka. Pembaca yang menunda penilaian atas pekerjaannya sampai saat yang jauh dapat memeriksa apa yang diubah oleh keterbukaan itu pada hari ini. Pembaca tidak tahu kapan gugurnya, tetapi dapat mengetahui bahwa amal yang sedang dikerjakan sekarang termasuk yang dibicarakan. Kalau saat penilaian dibiarkan terbuka, apa yang berubah pada cara menimbang pekerjaan yang sedang dikerjakan hari ini?